
~Sebuah Janji~
"Jadi, apa tujuanmu?? Siapa kau sebenarnya??" tanyaku
Yang kuingin tahu tentangnya hanya 2 yaitu tujuan dan siapa dirinya sebenarnya.
Aneh sekali, aku tidak dapat menyentuhnya. Mungkin, dia bukanlah makhluk sepertiku. Dan katanya juga, satu-satunya orang yang dapat melihat dirinya adalah aku??
Memangnya aku mempunyai byakugan?? Atau mungkin sharinganku telah aktif??
Lalu, tujuan yang sebenarnya apa? Ataukah dia ingin menjebakku?
"Aku tidak tahu." jawabnya
Aku mengedipkan mataku beberapa kali dan menatapnya beberapa detik. Dengan entengnya kah dia menjawab 'Aku tidak tahu'??
"Bagaimana bisa kau tidak tahu??" tanyaku
Semua yang terjadi memiliki sebab dan akibat. Karena itu, bagaimana bisa dia tidak tahu apa yang dialaminya selama ini??
"Bagaimana bisa aku menjawabnya kalo aku memang tidak mengetahuinya?" tanya balik kepadaku
"Jangan bohong!!"
Aku tidak boleh lengah, aku harus memojokkan dirinya supaya dia mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tidak bohong, serius deh." ucapnya dengan menunjukkan huruf V dijarinya
"Eh????" ucapku tidak percaya dan menatapnya dengan menyipitkan kedua mataku, tak percaya. Aku merasa dia seperti seorang penipu yang sedang menjalani aksi jahatnya. Aku harus membuat dia mengatakan dengan jujur apapun yang terjadi.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanyanya
"Tidak."
Aku bukanlah orang yang cepat percaya kepada orang lain apalagi orang asing sepertinya. Lagipula meskipun aku dekat dengan seseorang, aku tidak mungkin langsung percaya kepada orang tersebut. Karena didalam hatiku, aku meyakini dan bertekad bahwa terkadang rasa percaya kepada orang lain itu meyebalkan.
"Bagaimana caranya membuatmu percaya kepadaku? Apa yang harus kulakukan?" tanyanya
"Aku tidak tahu." jawabku
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu??" tanyanya
"Bagaimana bisa aku menjawabnya kalo aku memang tidak mengetahuinya?" tanyaku balik
"Itu kan kata-kataku, jangan menirunya!!!" ucapnya meninggikan suara
"Itu kan pertanyaanku, jangan menirunya!!!"
"Ih.... kamu menyebalkan sekali sih." ucapnya kesal
"Kau tidak sadar diri ya??"
"........."
Dia terlihat sangat kesal dan menyeringai kepadaku.
Dilihat darimanapun, dia seperti manusia biasa. Meskipun begitu, aku tetap curiga, dia mungkin akan melakukan hal yang buruk kepadaku. Tapi, dimata ataupun ekspresinya, sepertinya dia sedang tidak berbohong.
Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh cepat memputuskan itu dengan mudahnya. Mungkin saja dia jago berakting dan membuat lawan terkecoh.
Namun, aku menyadari bahwa meneruskan dan memperpanjang permbicaraan bodoh ini hanyalah hal yang sia-sia dan membuang-buang waktu.
Meskipun aku masih belum tahu tentang tujuannya, lebih baik aku membicarakannya secara pelan-pelan saja. Jadi, aku mencoba untuk bertanya hal-hal yang mendasar tentang dirinya.
"Sudahlah, lupakan itu. Sekarang, apakah kau ingat namamu??" tanyaku mengubah topik
"Aku juga tidak ingat namaku."
"Orang tuamu?"
"Tidak"
"Adikmu? Kakakmu? Kakekmu? Nenekmu?"
"Tidak, tidak, tidak."
"Nenekmu?"
"Tidak."
"Kau tidak mengingat apapun ya?"
"Hm... tidak juga. Aku mengingat hal-hal seperti pengetahuan. Aku hanya tidak ingat tentang siapa diriku yang sebenarnya. Dan juga, aku tidak tahu bahwa apakah aku mempunyai hubungan dengan seseorang atau tidaknya."
Dia tidak mengingat hal mendasar seperti nama ataupun keluarganya. Namun, kecerdasan tentang pengetahuannya itu tidak hilang dalam ingatan yang dia miliki.
Hmm.... Aneh sekali, kecurigaanku semakin bertambah.
Lebih baik aku langsung memberitahu atas kecurigaanku kepadanya.
"Jangan-jangan... kau adalah hantu yang menyamar dan ingin menerorku. Kalo begitu aku harus minta maaf, tolong ampuni aku!!" ucapku memohon kepadanya
"Kamu kebanyakan nonton film ya? Lagipula kamu datar sekali." Ucapnya terheran.
Aku mendesah.
__ADS_1
Huh.. Ini sulit sekali
Jawaban yang tidak diharapkan darinya. Kepalaku berputar keras, mencoba untuk menggali informasi yang tersimpan di otakku.
Tunggu dulu. Dipikir-pikir, percuma saja aku berpikir dengan akal sehat karena aku sedang berhadapan dengan hal yang mustahil.
Maksudku, makhluk seperti dia adalah salah satu hal yang tidak kupercayai didunia ini. Dengan kata lain, dia adalah salah satu makhluk yang mustahil di dunia ini. Jadi, aku akan mengganti pikiranku dengan yang lain.
"Baiklah, coba kita menggunakan kemungkinan."
"Kemungkinan?"
Jika tidak bisa dijawab oleh akal sehat, lebih baik aku berpikir secara logika. Mengaitkan hal-hal mustahil seperti makhluk yang ada di Film, Novel atau semacamnya yang mengandung fiksi. Akhirnya aku mendapatkan sebuah informasi.
"Iya, Mungkin sebenarnya kau sudah meninggal dan menjadi roh gentayangan."
"Aku sudah meninggal? Hm... jika aku sudah meninggal, kenapa aku masih di dunia ini?"
Iya, itulah yang ingin aku ketahui 'kenapa kau masih di dunia ini?'
Tidak, tidak, tidak, sebenarnya aku ingin mengatakan kepadanya 'kenapa kau dirumahku sih? pergi sana!!'.
Tetapi, percuma saja aku mengharapkan hal yang seperti itu. Ini sudah terlanjur, dia tidak akan pergi. Jadi aku memikirkan cara untuk membuat dia pergi.
Dengan cara ini mungkin bisa membuat dia pergi selamanya. Namun, ini hanyalah sebuah kemungkinan saja. Dengan kata lain, ini belum tentu berhasil.
"Dalam dunia film, seseorang menjadi roh gentayangan karena ada sesuatu yang hal diinginkan, namun keinginan tersebut belum tercapai. Jadi, mungkin itulah alasannya kenapa kau masih berada didunia ini."
"Sesuatu yang diinginkan?"
"Iya."
Ya, itu adalah mengabulkan permintaanya yang belum tercapai di dunia ini.
Untuk saat ini, aku menganggap dia adalah roh gentayangan. Meskipun rencana ini hanyalah kemungkinan, setidaknya, aku harus mencobanya terlebih dahulu. Mengusir dia selamanya di dunia ini adalah tujuanku untuk saat ini.
Namun, ekspresinya terlihat seperti sedang kebingungan.
"Tapi, aku tidak tahu keingininanku karena aku sama sekali tidak ingat apapun hehe." ucapnya sembari mengusap rambutnya sendiri
"Lalu, bagaimana caranya aku untuk membantumu?"
Aku sedikit kesal dan bernada seperti sedang marah. Aku tidak bisa membantunya jika dia tidak tahu apa yang dia inginkan.
Huh... Hidup ini memang tidak selalu sesuai dengan rencana.
"Cara ya? Hmm.... Oh iya, mungkin kamu dapat mengajakku untuk berkeliling kota. Dengan cara itu mungkin dapat mengembalikan ingatanku ini."
"Benar. Kau dapat bekeliling kota untuk mencari ingatanmu. Rencanamu memang bagus."
"Benar kan?"
Dia berkata seperti menyombongkan dirinya dan mengatakan dengan isyarat 'Aku memang pintar'.
"Eh??"
"Kau bisa melakukan sendiri untuk mencari ingatanmu. Bukankah ada aku atau tidaknya itu tidak berpengaruh dan hasilnya sama saja?? Tenang saja, aku akan membantu untuk menunjukkan rute yang akan kau lewati dengan google map. Setelah itu, kau bisa melakukannya sendiri."
Setelah aku mengatakan itu, dia mengerutkan alisnya.
Dia perlahan mendekatkan dirinya kepadaku.
"Kamu jahat sekali, tidak mau menemani seorang gadis yang tidak tahu sama sekali di daerah sini. Bagaimana kalau aku tersesat?"
Dia mendekat!!!
"Bagaimana kalau aku diculik sama makhluk yang kejam??"
Sangat dekat!!!
"Apa kamu seorang laki-laki??"
Sangat sangat dekat!!!
"Hei, apakah kamu seorang laki-laki!!"
Sangat sangat sangat dekat!!!
Ini, benar-benar terlalu dekat.
Wajahku dan wajahnya hampir bersentuhan. Mungkin hanya 2cm jarak yang memisahkannya.
Situasi ini membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ini bukanlah perasaan dimana seseorang sedang tertarik dengan lawan jenis. Dapat dikatakan, perasaan ini adalah perasaan takut.
Tunggu, bukankah sebaliknya?? Seharusnya aku sebagai laki-laki mendapatkan hak istimewa jika keadaan seperti ini.
Membalas perkataanku dengan sebuah rengekan seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada ibunya. Cukup menusuk-nusuk otakku sehingga membuatku ingin membanting dunia ini.
"Iya iya. Sekarang, kumohon menyingkirlah, ini terlalu dekat!!"
"Benarkah? Apakah besok kamu mau menemaniku??"
"Iya."
"Benarkah?? Kamu tidak berbohong kan?"
"Iya."
"Besok kamu akan menemaniku kan??"
__ADS_1
"Iya."
"Janji ya, kamu akan menemaniku!!"
"Iya."
"Janji ya!! Janji!!"
"IYA."
Harus berapa kali aku berkata seperti itu?
Dengan berat hati aku mengatakannya. Dia pun tersenyum, lalu menjaga jarak denganku.
Besok memang hari libur sekolahku sih. Namun, aku bekerja dihari esok, lebih tepatnya malam besok, karena besok adalah shift malamku.
Meskipun aku belum tahu bahwa dia adalah manusia atau tidaknya. Tapi, dilihat darimanapun, dia seperti seorang perempuan.
Kenapa aku berpikir seperti itu?
Semua orang tahu perbedaan antara laki-laki dan perempuan yaitu dalam hal segi bentuk tubuh. Dia mungkin mempunyai ukuran yang lebih besar dari sekedar perempuan biasa. Bahasa kasarnya adalah dia tidak terlihat seperti papan cucian.
Jika aku adalah lelaki cabul, aku akan fokus dalam hal itu.
Maksud dari dalam 'hal itu' adalah hmmmm....ya.....itu....
Sudahlah ganti topik .
Karena aku lelaki sejati, aku tidak mungkin menolaknya jika perempuan sudah berkata seperti itu. Aku sepakat dengannya untuk mengajak berkeliling besok.
Karena perjanjiannya adalah besok, jadi pertanyaan untuk sekarang adalah
"Jadi, bolehkah aku izin untuk tidur?? Ini sudah agak malam dan aku cukup lelah pada hari ini."
Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Meskipun biasanya jam tersebut masih awal malam bagiku, tapi untuk hari ini, rasanya sangat lelah sekali.
Membawa kado sekresek besar sepanjang jalan, menonton pertunjukkan yang tidak ada menariknya sama sekali, berjalan ke taman dan yang terakhir adalah bertemu dengan makhluk aneh.
Hari ini sudah cukup melelahkan atas kejadian-kejadian yang berbeda dari hari biasanya.
"Boleh." ucapnya
"Kau tidak mengangguku lagi kan?" tanyaku untuk memastikan bahwa dia tidak akan menggangguku lagi.
"Tidak akan."
"Benar kah?? Kau tidak akan menggangguku seperti menyayi dengar keras kayak tadi??"
"Iya. Aku berjanji, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Karena dia berkata seperti itu, aku pun berniat untuk tidur kembali dan menutupi diriku dengan selimut. Bukannya aku percaya atas perkataanya bahwa dia tidak mengganggu tidurku lagi, tapi ya sudahlah, percaya atau tidak percaya yang terpenting aku dapat mencoba untuk tertidur dengan lelap.
"Tapi janji ya, besok kamu mau berkeliling denganku!!"
Aku hanya mendeme "mhmm..."
Dia pasti tahu bahwa arti dari mendegum adalah setuju. Aku tidak peduli untuk hari esok, yang terpenting sekarang aku dapat tertidur dengan lelap. Meskipun begitu, aku berharap kepada diriku pada hari besok bahwa tidak akan menjadi masalah, aku percayakan padamu.
"Laki-laki harus selalu menepati perkataanya. Itulah yang disebut dengan laki-laki sejati."
"mhmm..."
Bagaimana dengan perempuan sejati?? Aku tidak peduli itu, karena aku seorang laki-laki.
"Baiklah, maaf kalo aku mengganggu tidurmu tadi ya. Aku terpaksa melakukan itu karena kamu adalah satu-satunya orang yang dapat melihatku. Jadi, aku hanya dapat meminta tolong kepadamu saja."
"..........."
Ucapannya terlihat seperti sedang malu-malu, namun aku tidak dapat melihat ekspresinya karena tidurku membelakanginya.
Kukira dia adalah orang yang egois, ternyata dia hanya terpaksa saja melakukan ini.
Tidak, aku tidak boleh berpikir seperti itu.
Jika berpikir bahwa dia tidak memiliki sifat egois, berarti aku salah. Karena aku percaya bahwa semua orang memiliki sifat egois. Karena itu, orang yang terlihat tidak egois adalah orang yang egois. Sebenarnya dia memilikinya, hanya saja dia pintar untuk menutupi sifat tersebut.
Mungkin, dia adalah salah satu yang memiliki sifat tersebut.
Tanpa ada jawaban atau respon dariku, dia masih melanjutkan pembicaraanya
"Oh iya, aku telat memperkenalkan diri. Mungkin ini bukan nama asliku, tapi panggil saja aku Melody. Entah kenapa aku menyukai nama itu atau mungkin saja nama itu adalah nama asliku."
".........."
Masih tidak ada jawaban dariku, dia pun bingung
"Kamu sudah tidur ya? Cepat sekali. Baiklah kalo begitu, besok saja perkenalannya. Selamat malam. Semoga tidur yang nyenyak."
Setelah itu, tidak terdengar tanda-tanda suara lagi darinya. Mungkin saja dia sudah pergi dari kamarku atau mungkin dia sekarang sedang melihat-lihat sekitar rumahku. Aku tidak terlalu peduli apa yang akan dia lakukan.
Namun, aku sedikit terkejut karena namanya
Melody?
Hm.... selama ini aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Melody.
Aku pun memejamkan mataku.
Dan tak lama kemudian aku pun tertidur.
__ADS_1