Roh Menyebalkan

Roh Menyebalkan
Tiga(2)


__ADS_3

                                                                                    ~Taruhan~


"Aku akan memberikan kue ini kepada....." ucapku dengan menatap mereka satu per satu dan memberi jeda untuk melanjutkan perkataan selanjutnya.


"..... Diriku sendiri." lanjutku.


Lalu, aku langsung memakan kue itu. Teskturnya sangat lembut dan langsung hancur saat dikunyah. Rasanya juga sangat manis dimulut.


Ngomong-ngomong atas jawaban yang kuberikan tadi itu adalah sebuah fakta yang ada di dalam hatiku. Aku sangat menyangi diriku sendiri lebih dari apapun. Karena itu, aku memberikan potongan kue pertama itu kepada diriku sendiri.


"Eh? Mana bisa begitu?" protes Alex


"Bisa lah, aku kan orang. Lagipula, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini."


"Ehh??"


Mereka tersenyum kecut dan terlihat nampak kecewa kepadaku. Ya, itu lebih bagus dibanding dengan kecanggungan.


"Aku sudah memotong bagianku. Jadi, potong sendiri-sendiri saja!"


"Eh? Ga seru!!!" ucap Alex mengangkat jempolnya kebawah.


"Berisik!" ucapku


"Ya sudah deh kalo begitu." ucap Bella


"Tunggu dulu." Ucap Alex menghetikan Bella yang ingin memotong kue tersebut, lalu dia menatapku. "Setidaknya kau yang motongin!"


Alex keras kepala sekali sih!!


Jika dipikir-pikir, kenapa harus aku yang memotong kue tersebut?? Tapi, jika aku menolaknya, aku seperti orang yang tidak peduli atas kepedulian mereka.


"Baiklah-baiklah." ucapku. "Semuanya berbaris dengan rapih."


"Kau kira lagi upacara ya?"


"Tidak, pengantrian sembako. Ayo berbaris!!" Ucapku sembari bertepuk tangan dengan pelan.


Mereka memang tidak berbaris dengan rapih. Namun, aku berinisiatif untuk memberikannya dari ujung kiri ke ujung kanan secara berurutan.


Setelah aku memotong semua kue tersebut dan membagi rata dengan orang-orang, aku duduk dan menatap sekitar.


Aku mengamati mereka yang sedang bercanda dan tertawa satu sama lain seperti tidak ada beban di hidupnya. Dan anehnya dan tanpa kusadari, setelah aku merasakan hal itu, bibirku perlahan sedikit terangkat.


Aku menghembuskan nafas yang dalam untuk merasakan kelegaan didalam hati.


Huh... Tugasku disini mungkin sudah selesai.


Aku terdiam sejenak, memandangi sebuah langit dari arah jendela.


Langit nampak cerah dan tidak berawan yang membuatku sadar bahwa aku mungkin sedang gembira saat ini.


Selama aku melihat langit, tanpa kusadari, ada seorang yang menoleh pipiku dengan jarinya. Dan tolehan tersebut seperti menulis huruf 'o'. Dan yang lebih parahnya lagi, aku merasakan ada sebuah krim putih yang menempel.


"Haha. Kena kau!" kata pria itu


Aku menengok ke arah pria tersebut. Dan mendepati pria yang tidak begitu heran bagiku.


"Hei, apa yang kau lakukan Alex sialan!!"


"Bukankah kau sudah tahu?? Aku ingin menggambar tato naga di wajahmu dengan krim putih ini. Tunggu saja sampai menetas!!"


"Bukan itu masalahnya!!"


Aku menyeringai kesal.


Masalahnya adalah kenapa kau menempel krim putih ini di pipiku?? Kenapa kau tidak menyadari hal itu??


Aku mengelap dengan menggunakan jariku dan menyadari bahwa krim tersebut masih terasa.


Sial, apa-apaan ini?? Lengket sekali di pipi.


Dan yang lebih buruknya lagi, Alex sedang melakukan ancang-ancang. Mempletekkan tangannya seperti ingin memukulku.


"Hei, apa-apaan sih??"


"Sekarang kau kan sedang ulang tahun!"


Semuannya melihat Alex melakukan itu. Mereka, selain Bella, mengikuti arus yang Alex lakukan. Sedangkan Bella sendiri, dia hanya tersenyum kepadaku.


"Ayo serbu!!"


Aku ditahan oleh mereka. Tangan dan kakiku masing-masing dipegangi oleh satu orang. Dan kepalaku ditahan paksa untuk menghadap lurus kedepan. Sisanya dari mereka sedang menaburi mukaku dengan krim putih. Ekspresi yang mereka berikan saat ini seperti mengatakan '****** kau!! ******!! Dasar tidak berguna!!'.


Sialan emang!!


"Hei, hentikan!!! Apa yang kalian lakukan??"


Tentu saja aku memberikan perlawanan. Tidak ada rusa yang hanya berdiam diri saja disaat dikejar oleh predator. Meskipun begitu, apalah dayaku seorang diri melawan lima orang lebih. Mustahil untuk menang.


Beberapa menit telah berlalu, mereka melepaskan gengamannya dan membuatku bebas untuk melakukan apapun.


Namun, itu sudah telambat. Semua wajahku sudah dipenuhi dengan krim putih yang lengket. Mungkin aku terlihat seperti menggunakan sebuah makeup. Ini terasa seperti lem yang menempel. Sialan!!


"Ahahaha... Mukamu kaya Badut, Riki. Ahahahah."


Mereka tersenyum gembira dan tertawa terbahak-bahak atas penderitaanku. Oh ya ampun, apa aku akan menjadi joker karena ini?


[note : maksud dari joker dalam perkataan Riki seperti banyak yang mengatakan di sosmed bahwa joker adalah orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti]


Meskipun begitu, aku sudah menduganya bahwa hal ini akan terjadi. Karena itu, aku membawa handuk kecil untuk membersihkan krim putih ini dimukaku.


Tapi, aku tidak mengira hal ini terlalu cepat untuk dilakukan.


Dasar Alex kamvret


***


Kringg.....


Bel panjang yang menandakan kebahagian berbunyi dengan keras. Bunyi ini rasanya seperti mendengar lagu kesayangan yang selalu teringat di pikiran. Ya, ini sangatlah indah, bahkan entah kenapa rasa lelahku di hari ini berkurang karenanya.


Apakah itu kekuatan dari bel pulang?


Bel pulang adalah salah satu misteri di sekolah ini.


Aku mengambil barang yang ada di meja dan menaruhnya kedalam tasku. Disaat yang sama, seorang perempuan menghampiriku.


"Riki, Alex, aku duluan ya. Ada sesuatu yang harus aku lakukan." ucap Bella


"Kalo begitu, hati-hati." ucapku


"Yo.. hati-hati." ucap alex


Dia terdiam sebentar dan membeku. Lalu, dia melambaikan tangan kanannya. "Ya. dah-dah."


Setelah melambaikan tangannya dalam beberapa detik, dia pergi meninggalkan kami dengan berjalan pelan.


Aku merasakan ada sedikit yang mengganggunya. Ekspresinya terlihat sedang bimbang. Aku ingin bertanya kepadanya, namun dikelas, masih banyak orang yang membuatku berhenti bertanya. Mungkin aku akan menyusulnya secara diam-diam.


"Hei... hei... Kau tau tidak?" ucap Alex mendekatiku


"Tidak."


"Waktu istirahat ke-2, Bella bertemu dengan Ketua OSIS dan mungkin dia pergi duluan karena ingin bertemu dengannya."


"Ohhh....."


Aku tidak mengetahuinya. Waktu istirahat kedua, aku tidak keluar kelas karena tenagaku habis pada istirahat pertama.


Singkat cerita, pada saat aku berjalan menuju kantin, tanpa kusadari perempuan banyak yang mendekatiku. Mereka memegang sebuah kado dengan bewarna-warna dan memberikan kado tersebut kepadaku. Mereka juga mengatakan 'Selamat Ulang Tahun' dengan senyuman mereka. Dengan senang hati juga aku mengambil kado tersebut dan berkata kepada mereka 'Terimakasih'.


Aku sudah mengetahui akan menjadi seperti ini. Karena itu, aku membawa kantong kresek hitam yang besar disaat aku berjalan kekantin. Lalu, menaruh kado-kado tersebut kedalam kresek hitam.


Disisi lain, mungkin karena alasan 'Ketua OSIS' lah yang membuat Bella pulang duluan.


"Kau tidak ingin mencegahnya, Riki?" tanya Alex


"Mencegah untuk apa?? Apa yang harus aku cegah??"


"Bella."


"Kenapa aku harus mencegahnya??"


"Dia ingin ditembak loh." ucap alex dengan nada yang menggoda.


Ditembak?


Mendengar kata itu dari Alex, seketika membuatku terkejut.


"Masa??" ucapku penasaran


"Iya.."


"Kalo begitu....." aku pun berdiri dari tempat dudukku, meraih tas lalu mengendongnya. Kemudian, melangkahkan kakiku. "...Ayo."


Aku berjalan untuk memberhentikan Bella.


Sungguh, aku tidak bisa berdiam diri saja setelah mendengar kata 'ditembak'. Aku sangat khawatir tentang itu.


Aku bertanya-tanya didalam hatiku. Bagaimana bisa dia melakukan itu di sekolah??


Anehnya, bagaimana bisa para murid lain mendukung Ketua Osis melakukan ini??


Dan yang anehnya lagi, bagaimana bisa Bella menerima permintaanya??


"Gitu dong.... Sahabatku emang gentle." ucap alex dengan bangga.


"Apa kau tidak khawatir? Sekarang Bella dalam keadaan bahaya. Karena itu, kita harus menolongnya"


"Eh? Bahaya?"


Langkah Alex terrhenti dan ekspresinya berubah menjadi ekspresi penuh tanda tanya.


"Kalo dibiarkan, bukannya Bella bisa mati ditembak?"


"Ehh???"


Alex berhenti di tempat. Semangat yang ia tunjukkan kepadaku menghilang seketika.


"Apa?" tanyaku


"Kau tau arti ditembak?"


"Pake pistol?"


Setelah mendengar perkataanku, Alex mendesah dan menaruh tangannya di keningnya.


Memangnya yang kuucupkan ada salahnya ya?


Lagipula, jika dipikir-pikir, anak SMA sudah memakai pistol, apalagi dia membawanya ke sekolah? Bukannya ini cukup aneh?


"Hadeh..... Maksudku, Ketua OSIS ingin menyatakan perasaannya ke Bella dan mungkin dia akan memninta Bella untuk menjadi pacarnya."


Oh, ternyata aku salah paham tentang 'ditembak'. Hal itu bukan salahku juga. Bukannya dia yang salah? Dia memberitahuku bahwa Bella akan ditembak oleh Ketua OSIS. Selama aku menonton sebuah film, kata 'ditembak' selalu terhubung dengan sebuah benda yaitu pistol.


Kenapa tidak mengatakan perasaan sukanya saja, melainkan berkata 'ditembak'? Itu kan kalimat yang ambigu!


"Ohh.... Kalau begitu, aku tidak perlu untuk mencegahnya. Ayo pulang!"


Aku berjalan berbelok kearah kiri dimana jalan itu adalah jalan untuk menuju gerbang sekolah.


Alex mengikutiku dan menjajarkan langkahnya disampingku.


"Kau tidak ada rasa cemburu sama sekali?" tanya Alex


"Buat apa aku cemburu?"


"Ehh.... biasanya orang yang berkata itu adalah orang yang merasakan kecemburuan." ucap Alex menggoda. Dia mencoba membuatku mengatakan sesuatu tentang hal konyol yang dinamakan 'cemburu.


"Iya kebanyakan orang seperti itu kecuali aku." bantahku


"Ehhh??..." ucapnya, sepertinya dia kehilangan semangat lagi. Lalu, dia menambahkan "...Kau hari ini libur kan?"


"Ya, hari ini aku libur bekerja. Oleh karena itu, aku ingin cepat-cepat pulang kerumah. Aku ingin beristirahat."


Sebenarnya, aku sudah tidak sabar ingin berpacaran dengan sofa atau tempat tidurku sambil memainkan sebuah game ditemani dengan coklat panas dan makanan ringan. Membayangkannya saja sudah membuatku tergoda. Eh, tunggu, apakah ada air yang keluar dimulutku?


Bagiku, hal tersebut adalah salah satu surga kecil yang ada didunia ini.


Disaat aku berjalan dengan santainya, tiba-tiba aku berjalan mundur seperti ada sesuatu yang menarikku.


Apa ini? Tarikan gravitasi? Blackhole?


Tidak, ternyata Alex sedang menarikku atau lebih tepatnya menarik tasku sehingga aku berjalan mundur kebelakang.


"Setidaknya kita lihat dulu yok!" ucap Alex sembari menarikku paksa


Sial, aku tidak menyukai ini!


"Oi, apa yang sedang kau lakukan!! "


"Aku sedang menarikmu!!"


Darimanapun juga aku sudah tahu bahwa kau sedang menarikku!!

__ADS_1


"Lepaskan!"


"Jika aku lepaskan, kau pasti akan kabur kan?"


"Tidak akan."


"Serius?"


"Iya, serius."


"Baiklah."


Dia pun melepaskan tangannya dari tasku. Lalu, aku mengikuti permintaannya dari belakang.


Dasar bodoh, dia langsung percaya perkataanku ya.


Ini adalah rencanaku, seakan-akan aku langsung mengikuti permintaanya dan berniat untuk kabur dengan cepat.


Aku akan menunggu kesempatan disaat dia lengah. Setelah aku kabur, aku akan berkata 'tidak salah lagi, aku akan kabur'.


Aku hanya perlu waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Aku harus melihat situasi terlebih dahulu, menunggu disaat dia benar-benar sedang lengah.


Tunggu sebentar...


Tunggu sebentar...


Tunggu sebentar lagi....


Dan sekarang adalah kesempatanku untuk lari.


Setelah aku mencoba berlari, dengan cepat Alex memegang dan menarik tasku sehingga membuatku tertarik kebelakang dan berjalan mundur dengan cepat.


"Tuh kan, kau mau lari, arghh." kata Alex sembari menarikku dengan sekuat tenaga.


Aku terseret lagi dengan tarikannya.


Sebenarnya aku bisa lolos dari gengamannya dengan paksa. Namun..


"Oi, lepaskan!! Nanti tasku rusak."


Aku tidak ingin tas ini rusak. Sungguh membuang-buang uang jika aku membeli tas yang baru.


"Setidaknya kau harus lihat Bella menerimanya atau tidaknya!!"


"Oi lepaskan dulu!!"


"Jika aku melapaskannya, kau pasti akan kabur lagi kan?"


"Lepaskan dulu. Mari kita bicarakan dengan baik-baik."


"Tidak mau."


"Oi."


Dia masih menyeretku dengan cepat.


"Riki, bukannya Bella adalah orang yang penting bagimu? Kau tidak penasaran?"


Sekilas pikiran dan penglihatanku menjadi kosong seperti tersapu bersih akan sesuatu.


Penting? Bagiku? Begitu ya.


"Iya iya, aku akan melihatnya. Jadi, lepaskan dulu tarikanmu ini."


"Benarkah?"


"Iya. Jika aku melanggar itu, kau boleh menarikku lagi sampai tasku rusak."


Alex terdiam beberapa detik seperti sedang berpikir. "Baiklah."


Alex melepaskan tarikan tersebut, nampaknya dia percaya apa yang aku katakan lagi..


Lagipula, aku tidak akan kabur lagi karena suatu alasan. Ada suatu hal yang membuatku teringat kembali karena perkataannya. Karena itu, aku menyetujui untuk melihat apa yang akan terjadi pada Bella.


***


Dengan alasan tersebut, aku mengikuti perkataannya tanpa paksaan. Dia pintar juga membuatku patuh kepada rencananya.


Kami berjalan menuju lapangan sekolah.


Jika dilihat-lihat disekitar, banyak murid yang melangkahkan kakinya dan mengarah sama dengan tujuanku. Dan juga, mereka mengatakan dua tokoh di bibir mereka.


Dengan itu, aku menyadari bahwa perkataan Alex adalah benar.


Menyatakan perasaannya ke Bella kah? Memang banyak laki-laki yang seperti itu, namun kali ini berbeda. Ketua OSIS adalah laki-laki impian para wanita. Mustahil jika ada seorang perempuan yang menolaknya.


Selama aku bergumam seperti itu, ada seorang perempuan berhenti di depan kami dan membuat kami berhenti juga. Ekspresi Alex penuh dengan tanda tanya.


"Um.... itu."


Kayaknya perempuan tersebut sedang bingung untuk berkata apa.


Aku bahkan tidak terlalu mengenal gadis ini.


Apa yang harus aku katakan jika dalam keadaan seperti ini?? Oh, iya mungkin aku akan berkata.


"Riska ya?"


"Ya."


Dia pun menatapku dan tersenyum. Mungkin karena aku mengingat namanya.


"Ada apa?" tanyaku


"Hmm.... ini." ucapnya sembari menyodorkan kado ditangannya.


"Ini untukku?"


"I-Iya... Selamat ulang tahun."


"Boleh aku menerimanya?"


Dia pun mengangguk dan tersenyum, memberikan isyarat setuju. Karena dia setuju, aku mengambil kado tersebut dengan tanganku.


"Terimakasih banyak ya, Riska."


"Iya sama-sama." Ucapnya lalu mengangkat dan melambaikan tangannya sembari tersenyum "Sampai jumpa."


"Iya, sampai jumpa." ucapku dengan senyuman.


Dia pergi dengan senyuman yang cerah. Mengingat dia mungkin senang karenaku, aku juga ikut senang.


Hadiah ulang tahunku bertambah satu. Kutaruh kado itu kedalam kresek hitam ini dengan perasaan yang senang. Mereka baik sekali karena peduli padaku, meskipun mungkin ada rencana di balik semua ini.


Hmm.. ?? Aku merasa ada sepasang mata menyengat yang sedang mengamatiku.


"Hmmm.... mungkin."


Alex terheran karena aku selalu menyapa wanita yang menyapaku dengan namanya. Tak terhitung wanita yang kusapa hari ini di sekolah.


Bisa dikatakan otakku mungkin pintar sekaligus


licik.


Sejujurnya, aku tadi lupa dengan nama perempuan tersebut dan hanya mengingat mukanya saja.


Aku mengingat wajah manisnya karena dia sering menyapaku dengan senyuman yang manis.


Namun, aku berpikir supaya dia senang hati bahwa aku mengenalnya. Dan aku menemukan sebuah ide untuk mengingat namanya dengan instan.


Ya, itulah nametag.


Setelah melihat nametag yang berada di atas dadanya (Aku ga melihat dadanya ya!), aku langsung mengenal namanya dengan cepat.


"Udah berapa kado yang kau terima hari ini?"


"Jika dipikir-pikir... mungkin 15 buah."


"Wah.... enak ya jadi orang sepertimu"


"Ya, lumayan."


Jika dipikir-pikir, hidupku memang terlihat menyenangkan seperti apa yang dikatakan Alex. Banyak teman dan dikelilingi cukup banyak perempuan. Hidupku ini bagaikan mimpi yang diinginkan oleh orang lain. Banyak laki-laki yang berandai-andai menjadi diriku.


Namun, mereka hanya melihat dari luarnya saja. Melihat bahwa aku sering gembira karena keadaan tersebut. Iya, mereka sok mengetahuinya, seakan-akan dia sudah sangat mengenalku, seakan-akan mereka sudah mengetahui semua kejadian yang aku alami.


Kalau dipikir-pikir, aku ingin memiliki kehidupan seperti orang-orang biasa. Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja, jika ada pilihan, aku akan memilih itu.


"Hei, jangan berpikir bahwa aku akan memberimu kado ya!! Bukannya aku tidak mau atau tidak peduli padamu, tapi aku adalah laki-laki. Sungguh memalukan jika laki-laki memberi kado kepada laki-laki."


"Iya, aku tahu. Itu kan kata-kataku dulu kepadamu"


Lebih tepatnya kata-kata itu aku katakan 2 bulan yang lalu disaat Alex berulang tahun.


Flasback on


Sekarang adalah ulang tahun Alex dan kami pun sudah siap untuk memberinya sebuah kejutan.


Salah satu dari kami sedang memantau diluar dan sisanya termasuk aku sedang menyiapkan kejutan untuk Alex.


Tidak menyiapkan juga sih, yang kami kerjakan sekarang hanyalah menunggu dia datang.


Setelah orang yang memantau diluar memberi kami tanda bahwa Alex sudah tiba. Kami pun bersiap dibelakang pintu kelas untuk mengejutkannya.


Setelah Alex membuka pintu dan


"Selamat ulang tahun Alex."


"HappyBirthday Alex."


"HBD." kataku


Dia pun terkejut seketika, menatap kami tak percaya. Entah kenapa, kedua matanya menjadi berkaca-kaca seperti ingin menangis.


Apa karena kami mengingat dan membuat kejutan seperti ini? Menurutku dia sangat berlebihan.


"Kau menangis? Dasar cengeng." ejek aku


"Aku tidak menangis dasar bodoh. Ada debu disini yang membuatku kelilipan." ucapnya berbalik kebelakang


Ya, sebuah alasan klasik yang menyalahkan debu atau bawang untuk air mata yang terjatuh dikedua matanya.


***


Setelah acara makan kue sudah selesai. Selanjutnya adalah sesi pemberian kado.


Semua orang yang ada disini, kecuali aku, memberikan sebuah kado kepada Alex.


Tak lama kemudian, seakan-akan ada yang aneh dariku, Alex menatapku cukup lama.


Aku pun membalas tatapan itu dan membuka suara.


"Apa?" ucapku


"Tidak apa-apa."


Aku tahu apa yang ingin dia katakan. Dia berharap sebuah kado dari orang terdekatnya yaitu aku. Tetapi, dia tidak mau mengatakan secara langsung kepadaku karena hal itu mungkin cukup memalukan. Memangnya dia perempuan yang minta kado dariku??


Meskipun begitu, daripada salah paham, lebih baik aku jujur kepadanya


"Jangan berpikir bahwa aku akan memberimu kado ya!! Bukannya aku tidak mau atau tidak peduli padamu, tapi aku adalah laki-laki. Sungguh memalukan jika laki-laki memberi kado kepada laki-laki."


"Iya, lagipula aku tidak berharap kepadamu"


"Oh begitu. Baguslah."


Flasback off


Sungguh anehnya dia mengingat kata-kataku dan menirunya sama percis. Tidak ada satu katapun yang kurang atau lebih. Apakah dia memiliki dendam padaku?


"Hebat sekali, kau mengingatnya. Ini bukanlah dendam, jika dipikir-pikir perkataanmu dulu kepadaku memang benar." Ucap Alex


"Iya, aku tahu." ucapku


Tak terasa sudah sampai di tempat tujuan. Di lapangan, aku hanya melihat Ketua OSIS yang berdiri di dekat tiang bendera dan mungkin dia sedang menunggu Bellla yang belum sampai.


"Disini saja." ucapku berhenti di ujung


"Oke." ucapnya berhenti dan disampingku


Disekitar sini banyak murid yang ingin melihatnya, bahkan digedung seberang juga. Bukan hanya perempuan saja, namun banyak laki-laki juga yang berada disini.


Yah... tidak salah lagi, peyebabnya adalah Bella.


Bella adalah salah satu perempuan yang populer disekolah ini. Karena itu, bagi mereka, ini adalah tontonan yang menarik untuk percintaan yang bodoh.


Bukannya aku tertarik dengan tontonan yang konyol ini, hanya saja bintang utama perempuannya adalah Bella. Dan karena itulah Alex dapat membuat alasan untuk membuatku kemari.


"Lihat, lihat, kayaknya akan dimulai. Bella sudah memasuki lapangan tuh."


Perkataan Alex memang benar, aku melihat Bella memasuki lapangan tersebut dan berjalan ke arah Ketua OSIS.


Ketua OSIS tersenyum dan mulutnya mulai bergerak.


Entah apa yang dia bicarakan kepada Bella, lagipula aku tidak peduli apa yang Ketua OSIS katakan.

__ADS_1


Jika dilihat, kebanyakan orang yang melihat ini memiliki rasa kagum kepada kedua belah pihak, bahkan orang yang disampingku juga


"Tuh lihat.. itu yang namanya pria gantle. Andai aku seganteng dan sebeton dia." ucap alex kagum


Gantle? Benar kah? Kukira dia hanyalah pria bodoh.


Maksudku buat apa dia terus terang melakukan ini? Supaya dilihat semua orang?


Aku heran, kenapa Alex berandai-andai menjadi laki-laki seperti itu? Mending berandai-andai menjadi superman yang lebih bermanfaat. Menurutku sendiri, tidak ada yang bisa diambil dari segi positifnya.


Lagipula aku mungkin tahu apa yang akan dilakukan Bella selanjutnya.


Ketua OSIS tersebut akan.....


"Dia akan ditolak." ucapku


Setelah aku berbicara seperti itu, orang yang ada disampingku terkejut sekaligus terheran


"Hah? Ditolak? Siapa? Ketua OSIS?" ucap alex kaget


"Iya."


"Bagaimana kau bisa tahu? Memangnya kau bisa lihat masa depan? Ataukah kau mempunyai alat seperti mesin waktu?" ucap alex penasaran.


"Tentu saja tidak. Kau berhayal terlalu jauh." bantahku


"Lalu, bagaimana bisa tahu kalo Ketua OSIS akan tertolak?" ucap alex semakin penasaran


"Hmm...."


Aku juga bingung, kenapa aku berkata seperti itu dan seolah-olah aku tahu apa yang dilakukan Bella selanjutnya?


Apa karena aku mengenal Bella dari dulu?


Kurasa tidak.


Apa karena dulu Bella pernah berkata 'Masa depan itu penting'?


Mungkin iya, tapi kurasa tidak.


Lalu dorongan apa yang membuatku berkata seperti itu?


Oh iya, mungkin saja ini....


"..... hanya firasat." lanjutku menjawab pertanyaan Alex.


Setelah aku memberitahu alasannya, ekspresi penasaran Alex berubah menjadi lemas.


"Eh? Hanya firasat ya? Ha... ha.... lucu sekali, lucu sekali."


Dia memberikan suara yang mengejek. Ya, ini adalah salah satu akibat yang didapatkan oleh seseorang yang 'sok tahu'. Namun, aku tidak terlalu terseinggung soal itu. Aku menganggapnya hanya sebuah candaan.


Tak lama kemudian, dia memutarkan kepalanya 90 derajat, dimana artinya dia sedang membuang muka terhadapku.


"Bilang saja cemburu cih." ucap alex pelan


Aku melihat Alex yang melakukan itu. Meskipun dia berkata pelan, aku juga dapat mendengarnya.


Setelah dia berbalik dan mengetahui bahwa aku menatapnya daritadi, dia mengedipkan matanya dengan cepat, lalu tersenyum sok manis kepadaku.


Dasar kamvret, dia menghinaku!


Karena aku merasa jijik dengan senyumannya, aku pun memalingkan mataku darinya.


"Jangan meremehkan yang namanya firasat. Kau tahu? Aku selalu mendengarkan firasatku dan aku tidak pernah menyesal mendengarnya. Karena itu, firasat tidak mungkin menghianatiku."


Firasat selalu benar. Salah satu teman terbaik adalah firasat.


Kenapa?


Mungkin, sosok firasat sendiri adalah sebuah bisikan dari dirimu di masa depan.


"Kalo begitu, bagaimana kita taruhan?" ucap alex sembari menyodorkan tangannya.


"Taruhan?"


Aku sedikit bingung, kenapa tiba-tiba dia mengajakku taruhan? Pasti ada sesuatu yang dia inginkan dariku.


"Ya, jika aku menang, kau harus memberiku 10 kado ulang tahun yang kau punya dan kau harus berpacaran dengan salah satu cewek yang memberimu kado." Jawab Alex


Sudah kuduga dia menginginkan hal seperti itu. Permintaan pertamanya terlihat biasa saja bagiku, namun


"Aku setuju dengan taruhannya. Tapi, aku tidak bisa menerima permintaan terakhirmu itu."


Pacaran? yang benar saja.


Ingat Riki!!! Nomor 1, pacaran adalah hal yang bodoh.


Kenapa semua orang tertarik dengan yang namanya 'pacaran'? Padahal hubungan yang dinamai 'pacaran' itu dapat menghancurkan masa depan dirinya sendiri dan dapat membuatnya bodoh. Oleh karena itu, aku semakin tidak mengerti kenapa mereka tertarik dengan yang namanya pacaran?


Disisi lain, Alex menyetujui saranku


"Begitu ya. Yaudah, 10 kado saja."


"Baiklah, jika aku menang?"


"Itu terserahmu."


"Apapun?"


"Iya, apapun itu aku akan mengabulkannya. Tapi, permintaanya jangan yang aneh-aneh."


'Jangan yang aneh-aneh'? Jika ada larangan, lalu, apa arti dari kata 'apapun' yang dia ucapkan? Dasar aneh.


Sampingkan tentang hal itu dulu, aku harus berpikir untuk permintaan yang aku berikan jika aku memenangkan pertandingan ini.


"Hm....."


Aku berpikir. Apa yang kuinginkan untuk hari ini ya?


Peralatan?


Mungkin tidak.


Menyuruh dia 100 kali push up, 100 kali shitup dan berlari sampai 10 km setiap hari?


Mungkin tidak juga, meminta hal itu tidak ada manfaatnya sama sekali bagiku. Disisi lain, aku juga takut dia menjadi berkepala botak.


Lalu, apa yang harus kuminta?


Oh iya, hal yang selalu membuatku menikmati indahnya hidup ini adalah makanan.


Baiklah, aku akan memintanya.


"....saat ini aku sedang ingin memakan takoyaki. Kalo begitu belikan aku takoyaki 10 ribu!" ucapku sembari mengulur tangan kananku


"Hanya itu? Baiklah aku setuju haha." ucapnya sembari


Kami pun berjabatan tangan.


Kedua pihak telah menyutujui taruhan tersebut.


Jika ada yang melanggar, maka orang tersebut tidak akan terjadi apa-apa.


Benar, tidak ada tanda tangan kontrak disini dan hanya jabat tangan biasa seperti basa-basi. Meskipun begitu, pasti Alex menganggap serius untuk taruhan itu. Meskipun juga, jika aku kalah dalam taruhan ini, aku tidak akan rugi dalam hal itu.


Namun, disisi lain, dia berkata dengan santai 'Hanya itu' ya?


Seperti biasanya dia tidak menyadari perkataanku.


"Lelaki sejati tidak akan menarik kata-katanya!" kata Alex dengan senyuman bahagia dan tatapan yang memancarkan semangat seperti superhero. Mungkin dia percaya bahwa dia akan memenangkan taruhan ini.


"Iya, aku tahu."


Setelah selesai membuat kesepakatan, kami pun melihat kembali ke lapangan atau lebih tepatnya ke mereka berdua.


Kami pun mendapati Ketua OSIS yang sedang menyodongkan sebuah bunga sembari berlutut kepada Bella. Kemudian, suasana sekitar pun berubah menjadi ramai dengan teriakan.


"Kyaaaaaa....."


"Wah......"


Nampaknya, suasana disekitar menjadi sangat ramai. Kebanyakan perempuan dan laki-laki yang melihatnya menjerit keras seperti orang idiot.


Disampingku, Alex, tidak kalah idiotnya dengan mereka.


"Wow.... tuh lihat dia memberikan sebuah bunga sambil berlutut dihadapan Bella. Bukankah itu sangat romantis? Meskipun aku tidak bisa mendengar obrolannya, mungkin dia berkata kepadanya, Bella-chan aisiteru."


Penyakit alaynya kambuh. Namun, aku tidak memperdulikan Alex.


Pemandangan ini, disaat Ketua OSIS itu berlutut kepada Bella dengan menyodongkan sebuah bunga, aku seperti sedang menonton sebuah teater yang berjudul Romeo dan Juliete. Percis dengan suasana di dalam teater, suasana yang aku alami sangat ramai oleh perasaan para penonton yang meluap-luap. Mereka sangat terbawa suasana saat menonton ini. Sekarang adalah puncaknya dan dapat dikatakan ini adalah tahap akhir. Apakah ending ini akan sama dengan teater yang berjudul Romeo dan Juliete.


Tak lama kemudian, orang yang disekitar sini banyak yang berteriak, bertepuk tangan dan berkata "Terima" dengan kompak.


Ketua OSIS tersenyum bahagia dan menatap Bella seakan-akan dia sudah mendapati hati Bella.


Menurutku, dia kebanyakan membaca novel atau menonton film atau teater bergenre romantis. Jadi, hal tersebut dia lakukan untuk menarik hati perempuan??


Aku tidak peduli apapun yang dia lakukan untuk menarik hari perempuan. Akan tetapi seharusnya dia mengetahui beberapa hal.


Seharusnya dia mengetahui bahwa dunia ini adalah dunia nyata.


Dunia ini tidak seindah dunia novel, komik ataupun film.


Dan juga, dunia ini tidak selalu sejalan apa yang kau inginkan.


Tidak lama kemudian situasi yang tadinya ramai tiba-tiba berubah.


"Ehhh????" heran alex


Keheranan Alex bukanlah suatu hal yang aneh, bahkan semua orang yang melihat kejadian ini terlihat heran atas perilaku Bella.


Bella menganggukan badannya kepada Ketua OSIS seperti ingin meminta maaf. Lalu, dia pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengambil bunga itu.


Ketua OSIS kembali berdiri sembari memegang bunga yang tidak diambil itu dan hanya terdiam seperti patung. Tatapannya hanya tertuju kepada Bella yang semakin menjauh darinya.


Kupikir dia adalah orang yang keras kepala dan akan mengejar Bella sampai tujuannya tercapai.


Ternyata pikiranku salah.


Dia hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan apapun disana.


Jika dipikir-pikir tentang taruhan, dilihat dari situasinya, dapat dikatakan bahwa taruhan ini


"Ini artinya aku menang bukan?"


"Eh? Tunggu dulu, kita tidak tahu apa yang terjadi dibelakang kan? Mungkin saja Bella malu menerimanya disini dan berniat menerimanya ditempat lain" bantah Alex.


Tidak heran bagiku bahwa Alex akan membantahnya terlebih dahulu. Karena tidak mungkin dia menyerah begitu saja akan taruhan ini. Meskipun dia bodoh, dia adalah orang yang keras kepala juga.


Namun, alasan tersebut tidak berpengaruh bagiku disaat ini.


Jika melihatnya lagi, dia pasti akan paham apa arti dari maksudku.


"Bisa saja apa yang kau katakan itu benar. Namun, ada satu hal yang dapat menyangkal teorimu itu." Ucapku memberitahunya


"Menyangkal?" tanya alex bingung


"Ya... Dilihat dari situasinya, hal yang menyangkal teorimu itu adalah ekspresi Ketua OSIS yang menggambarkan kekecewaan. Dapat dikatakan Bella benar-benar menolak pernyataan sukanya dan tidak ada maksud lain lagi bukan?"


Setelah mendengar kata-kataku, Alex melihat Ketua OSIS dengan teleti, bahkan dia melihatnya dengan menutup setengah kedua matanya.


"Eh, benar juga."


Memang, Ketua OSIS terlihat sangat kecewa sekali. Kepalan kedua tangan, mata yang tajam, tatapannya kewabah, kerut alis dan menyeringai kesal seperti ingin mengeluarkan semua kemarahan yang ada pada hatinya.


Apakah itu yang dinamakan putus asa?


Tidak, mungkin itu yang dinamakan penyesalan.


"Dan sekarang kau tidak bisa menyangkalnya lagi kan? Bahwa aku yang menang."


"Baiklah, baiklah, aku kalah. Mau aku belikan sekarang?"


"Ya."


Aku memenangkan sebuah taruhan yang Alex berikan. Permintaan takoyaki harus dia laksakanan. Aku menyadari bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan sebuah kemenangan.


"Lalu, dimana tempatnya??"


"Aku tahu tempat yang bagus untuk menikmati takoyaki."


"Baiklah, aku ikut saja."


Karena tidak ada keperluan lagi disini, kami pun beranjak pergi ke tempat yang aku inginkan.


Jika dilihat dari ekspresi penonton, hasilnya berbeda-beda. Ada yang kecewa atas perlakuan Bella dan ada juga yang sangat senang karenanya.


Kalo aku sendiri?


Aku tidak peduli tentang hasilnya. Baik menerima atau tidaknya perasaan Ketua OSIS, sejujurnya, itu tidak ada pengaruhnya bagi kehidupanku.


Dari kejadian ini, mungkin Ketua OSIS sudah mendapat pelajaran bahwa dunia ini tidak sejalan apa yang dia pikirkan. Namun, mungkin juga dia memiliki tekad yang ada dihatinya untuk tidak menyerah.


Ketua OSIS memiliki sikap yang baik terhadap semua murid. Dia selalu tersenyum disaat bertemu dengan seseorang, selalu membantu, ramah dan masih banyak lagi. Karena itu, dia selalu dikrumuni oleh banyak murid. Jadi, sungguh aneh seorang perempuan menolak perasaan darinya.

__ADS_1


Bijaksana, baik hati, murah senyum, pintar dan masih banyak lagi kelebihan yang ada pada dirinya. Kuakui, dia memang terlihat sangat hebat.


Namun.....


__ADS_2