Roh Menyebalkan

Roh Menyebalkan
Tiga(1)


__ADS_3

                                                                           ~Mereka Terlihat Peduli~


 


 


Tidak ada yang berbeda seperti biasanya, hal yang kulihat pertama kali pada saat bangun dari tidurku adalah langit-langit ruangan di kamar tidurku.


Kubuka jedela kamarku untuk menghirup udara segar. Udara yang begitu sejuk dan lembut memasuki tubuhku dan membuatku nyaman.


Kutatap langit luar bewarna biru luas dan tak berujung. Banyak burung berterbangan yang mungkin mereka sedang menikmati indahnya langit itu.


Yah... tampaknya pagi ini adalah pagi hari yang tidak berbeda seperti biasanya.


Aku menguap. "Hoah.... membosankan"


Kututup kembali jendela tersebut, lalu menuju ke sebuah cermin.


Aku melihat ke benda itu dengan mata yang masih mengantuk. Hanya untuk memastikan bahwa tubuh ini adalah tubuhku. Mungkin saja aku mengalami kejadian seperti di movie 'Kimi no Nawa', dimana aku bertukar tubuh dengan seseorang perempuan.


Namun, tidak ada yang berbeda seperti biasanya.


Wajah yang familiar terlihat disana.


Wajah yang begitu keren.


Yah, mustahil juga memikirkan hal yang seperti itu, tidak mungkin kejadian tersebut terjadi di dunia nyata.


Beranjak pergi, ketika kubuka pintu kamarku dan melihat kesekitar. Aku mendapati suasana rumah yang begitu damai, sepi, hening bahkan tidak ada suara sedikitpun.


Yah... Suasana rumah yang tidak berbeda seperti biasanya.


Soal sarapan, karena sedang malas, sebaiknya ceplok telor saja. Hal ini membutuhkan waktu hanya 3 menit untuki memasak. sangat menghemat waktu.


Setelah makan, aku beranjak pergi mandi. Air dingin disuasana yang dingin, itu membuatku merasa seperti hidup kembali.


Tapi, jika dipikir-pikir kehidupanku penuh dengan hal yang membosankan.


Bahkan rutinnitasku sehari-hari adalah


Bangun tidur -> Makan -> Mandi -> Pergi ke sekolah -> Pulang sekolah -> Bekerja -> Pulang bekerja -> Mengerjakan tugas (jika ada) -> Main game atau belajar (Kadang-kadang) -> Tidur -> Kembali ke awal


Kurang lebih seperti itu. Apakah aku harus mencoba atau mencari hobi baru??


Sudahlah nanti akan kupikirkan.


Selesai mandi, aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Sebelum berangkat kemanapun aku pergi, aku selalu melihat CATATAN yang dipasang pada dinding kamarku yang berisikan 3 larangan kehidupan yang harus dipegang teguh semasa hidupku ini.


Dan isinya adalah


1. Cinta adalah hal yang bodoh ;


2. Pacaran adalah hal yang bodoh ;


3. Jangan menyukai gadis melebihi 7 hari di masa SMA\, karena itu akan membuatmu bodoh ;


Note : Jika kamu menaati 3 hal tersebut, maka kamu akan terbebas dari racun mematikan yang bernama 'perusak masa depan'


Catatan yang sangat bermanfaat untuk menghindari yang namanya perusak masa depan. Catatan jenius itu aku sendiri yang membuatnya.


Bukannya aku homo. Aku sendiri adalah seorang yang menyukai wanita yang seumuran denganku. Hanya saja aku tidak ingin menjadi budak cinta.


Menangis dan galau sepanjang waktu? Aku tidak ingin membuang-buang waktu seperti itu.


Kenapa orang-orang mengagumi dan tergila-gila yang namanya 'cinta'? Padahal mereka mengetahui bahwa dengan itu mereka dapat menyiksa dirinya sendiri. Jadi, kesimpulannya adalah aku tidak mengerti jalan pikiran mereka.


Oh iya, aku lupa, hari ini mungkin hari yang berbeda seperti biasanya. Sebaiknya aku membawa handuk kecil dan keresek hitam yang besar. Karena mungkin hari ini adalah hari dimana aku dapat melanggar larangan nomor 3.


***


Aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku melakukan ini untuk menghindari hal 'itu' dipagi hari. Karena tidak ingin dikatakan sombong, aku berniat akan bertindak di istirahat pertama untuk membereskannya.


Suasana yang begitu sejuk menusuk kulitku yang membuat hatiku menjadi nyaman. Hembusan angin yang tenang membuat rambutku sedikit terurai. Jalanan yang masih terlihat sepi ditemani dengan sebuah kicauan burung yang menjadi background suara di tempat ini begitu nikmat untuk didengar.

__ADS_1


Suasana ini adalah hal yang biasa yang selalu aku rasakan.


Namun, kali ini, aku menemukan hal yang berbeda di kedua mataku ini.


Ya, hal yang berbeda dari biasanya adalah perempuan yang menggunakan dress putih sedang tersenyum disana seperti sedang menikmati indahnya hidup didunia ini.


Eh? Tunggu, perempuan berdress putih? Pagi-pagi begini? Apakah dia seorang cosplayer?


Aku terpaku sebentar dan membeku.


Dia sedang duduk disebuah kursi panjang yang sudah disediakan oleh komplek ini. Tatapannya sedang menuju kearah langit dan dia seperti sedang ber-irama memainkan sebuah lagu. Rambutnya terurai-urai ditemani senyumannya yang begitu manis meningkatkan suasana nyaman didalam hatiku.


Kuakui dari hatiku yang paling dalam, dia memang terlalu cantik dan cocok untuk menjadi seorang cosplayer.


Namun, bukan itu masalahnya.


Kenapa dia menggunakan pakaian itu di pagi buta begini??


Tidak, itu juga bukanlah masalah bagiku. Yang menjadi masalah adalah


Aku tidak mengenal gadis ini.


Meskipun aku sudah menggali ingatan yang ada dikepalaku dengan keras, parasnya masih tidak terdaftar disana. Aku menyadari bahwa dia adalah gadis yang asing bagiku.


Aku berjalan secara perlahan ke arah gadis itu. Entah kenapa, waktu seperti berjalan begitu lambat dan langkahku menjadi sedikit lebih berat.


Lalu, tak lama kemudian dan tanpa kusadari, aku sudah melewatinya begitu saja.


Jika dia masih asing, maka aku tidak perlu untuk menyapanya.


***


Lorong-lorong sekolah masih terlihat sepi, bahkan sapaan 'selamat pagi' masih belum terdengar di telingaku ini.


Bagus, langkah pertama untuk menghindari hal 'itu' tercapai.


Kulihat kelasku yang mempunyai papan di atas pintu bertulisan XI-D. Pintu disana masih tertutup dengan rapat, mungkin belum ada yang datang selain diriku. Lagipula, tidak mungkin murid datang pagi-pagi begini hanya untuk melaksanakan piket kelas. Dan untungnya juga, hari ini bukanlah hari piketku. Karena itu, aku berencana untuk bermalas-malasan dengan bermain game dikelas nanti.


Perlahan kubuka pintu tersebut. Suara khas pintu yang terbuka terdengar begitu familiar.


Aku melihat ada beberapa orang disana sedang berdiri di balik pintu.


"Selamat Ulang Tahun, Riki."


"Happybirthday, Riki."


"Happybirdday, Riki."


Aku melebarkan mataku.


Apa ini?? Mereka sudah datang dipagi hari??


Tunggu dulu, Entah kenapa aku mendengar ucapan yang aneh darinya.


Happybirdday? Selamat hari burung? Memangnya aku burung?


Tidak heran juga bagiku bahwa Alex yang mengatakan itu.


Sebagian teman sekelasku sudah tiba. Bella sedang memegang sesuatu yang membuatku ingin menangis.


Ya, itu adalah kue coklat dengan krim putih dan cherry diatasnya. Dan tidak lupa juga, di tengah kue tersebut ada lilin berbentuk angka 17 yang bewarna merah menyala.


Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-17. SweetSeventeen, memang cukup bagus untuk didengar dan dapat dikatakan bahwa artinya kau sudah beranjak dewasa.


Disisi lain, mereka rela datang pagi-pagi begini hanya untuk merayaan ulang tahunku??


Untukku??


Aku tersenyum. "Terima kasih."


"............."


Setelah mendengar ucapan terima kasihku, mereka hanya terdiam dan terlihat kesal. Aku mengedipkan mataku beberapa kali dengan cepat, terbingung dan membeku. Apa aku melakukan suatu kesalahan ya?? Karena penasaran, aku mencoba untuk bertanya


"Kenapa kalian pada terdiam??"

__ADS_1


"Kaget dikit kek!!"


"Kaget??..." Aku menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal. Apa aku harus kaget ya? Mereka datang pagi hanya untukku atau lebih tepatnya untuk merayakan ulang tahunku. Karena itu, aku tidak boleh membuat mereka kecewa. Kalo begitu, baiklah, kalo itu mau kalian. Setidaknya aku tidak ingin membuat mereka kecewa "...... Yeah... aku kaget."


Ekspresi mereka tidak berubah sama sekali. Padahal aku sudah berakting kaget, kenapa kalian masih mentatapku seperti itu??


"Sudahlah lupakan saja, dia tidak mungkin kaget. Meskipun jika nenek gayung dan kakek pacul berkaloborasi dan muncul didepannya, dia akan bersikap biasa saja." ucap alex lemas


"Oh begitu ya."


"Bahkan disaat menonton bioskop horror, dia hanya mengedipkan matanya dan menikmati popcorn. Baginya film horror itu seperti film romantis." lanjut Alex


"Eh? Masa?"


Alex tiba-tiba menjadi semangat dan mereka hanya terheran terhadapku karena perkataan Alex.


Ya, tidak salah lagi, seseorang akan menjadi semangat jika dia sedang berbicara tentang kejelekan orang lain. Tapi, yang dikatakan Alex bukanlah kejelekanku sih. Mungkin, kata 'kejelekan' dapat diganti menjadi 'keanehan'.


Menurutku sendiri, hal yang paling menakutkan bukanlah hantu atau semacamnya. Melainkan sosok yang selalu dekat, namun tidak tahu kapan dia akan menyerang dari belakang. Mungkin beberapa dari kalian mengetahui tentang itu.


"Ya, mau tau lagi ga?" ucap Alex semangat


"Hei apa yang kau katakan Alex!!" ucapku


"Memang itu faktanya kan?" Ucap Alex


"Apanya yang fakta?"


"Sudah, sudah, tiup lilinnya Riki." Ucap Bella membuat kami berhenti dan terdiam.


Bella menyodorkan kue tersebut kearahku.


"B-Baiklah."


Aku menatap kue itu. Kue yang sangat indah dengan api yang membuatnya semakin indah dan menawan. Namun....


Aku ragu.


Jujur saja, setelah melihat kue itu, aku berpikir tentang bagaimana caranya aku menghindar dari kue tersebut??


Aku kasihan kepada kuenya, karena mungkin salah satu dari mereka terutama Alex akan memberi kue itu ke mukaku. Mungkin kue tidak bermasalah, tapi krim putih itu yang menjadi masalah untukku.


Tapi, aku yakin Bella tidak mungkin melakukan hal kejam seperti itu. Jadi, aku tidak perlu khawatir mendekati kue tersebut untuk meniup lilinnya.


Setelah mendekatkan diri ke kue itu dan sudah siap untuk meniupnya, tiba-tiba Bella menarik kue tersebut sehingga jangkauan tiupanku tidak terkena apinya.


"Keinginanmu, Riki! Apa kamu sudah memikirkannya??"


"Keinginan??"


"Pikirkan dulu keinginanmu. Baru meniupnya. Hal itu biasanya dilakukan pada saat meniup kue ulang tahun kan??"


"Baiklah." ucapku menyetujuinya


Tapi, Keinginan?? Tidak terpikirkan olehku.


Mungkin, keinginanku sama seperti tugas yang diberikan oleh Bu Yuni. Karena itu, aku berdoa supaya keingananku itu tercapai.


Setelah aku memohon permohonanku didalam hati, aku pun mendekati mukaku lagi ke kue itu. Kemudian, aku meniup api tersebut dan membuatnya menghilang tanpa jejak.


Mereka bertupuk tangan karena apinya sudah menghilang. Hei,hei jangan memuji kekuatan tiupanku! Aku bukanlah si botak dengan tato panah biru dikepalanya yang dapat menerbangkan seseorang hanya dengan sebuah tiupan mulut.


[note : Si botak dengan tato panah biru dikepalanya yang dimaksud Riki adalah Aang dari Legend of Aang]


Setelah meniup lilinya, mereka menyuruhku untuk memotong kue itu. Satu potongan sudah kulakukan dengan pisau plastik yang mereka berikan. Kutaruh potongan tersebut ke piring plastik yang sudah disediakan. Lalu, seseorang berkata


"Siapa orang pertama yang akan kamu berikan??"


Entah kenapa suasana di kelas ini menjadi canggung.


Aku tahu alasannya yaitu orang pertama yang mendapatkan kue dari orang yang berulang tahun adalah orang yang sangat spesial baginya. Jadi, jika aku memberi kue ini kepada salah satu dari mereka, maka dia adalah orang yang sangat spesial bagiku.


Jika saja aku memberikannya kepada salah satu yang ada disini, maka, orang selain dia bukanlah orang yang lebih spesial dari dirinya. Pasti, mereka berpikir seperti itu. Dan itu membuat hubunganku dengan yang lain akan menjadi canggung.


Namun, aku tidak mau menjadi seorang pembohong di depan mereka. Ada seseorang yang aku sayangi disini dan aku akan memberikannya sekarang.

__ADS_1


"Aku akan memberikan kue ini kepada....."


__ADS_2