Roh Menyebalkan

Roh Menyebalkan
Prolog


__ADS_3

Luas.


Sunyi.


Gelap.


Ketiga hal itu mencerminkan tentang keaadaan ruangan yang baru aku masuki. Hanya ada sedikit cahaya yang dipancarkan pada ruangan ini. Kesunyian, tanpa suara sedikitpun, selalu menemaninya.


Di sekitar sini, terlihat banyak rak yang berisikan buku-buku dengan berbagai jenis genre. Ruangan ini seperti perpustakaan. Hal yang membedakannya hanyalah tata letak rak yang berada disetiap sisi ruangan dan tengahnya dibiarkan kosong. Ada beberapa kursi juga disekitar sini.


Tujuanku disini adalah untuk bertemu dengannya.


Dia adalah seorang laki-laki dengan tinggi yang lebih pendek dariku. Dia berada disana, sedang melihat ke arah rak seperti sedang mencari sesuatu.


Kesunyian di ruangan ini menghilang ketika...


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?"

__ADS_1


Suaranya menggema disekitar. Dia berkata tanpa melirik kearahku sedikitpun. Mungkin dia sudah menyadari keberadaanku disini.


"Tidak ada apa-apa." kataku.


"Jadi, apa yang membuatmu kemari?"


Tanpa membalikkan badannya, dia masih berkata dengan tenang.


"Sebenarnya.... aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar." ucapku


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Seperti biasa, aku selalu meminta saran kepadanya.


"Ternyata kau sedang bimbang ya?" katanya. "Baiklah, mungkin aku akan memberikanmu sedikit saran." kata pria itu.


Akhirnya dia bergerak dan tatapannya menuju kearahku. Kemudian, dia membuka suara lagi.

__ADS_1


"Seiring berjalannya waktu, semakin dewasanya usia, kau akan mengenal tentang 'kenyataan' yang ada didunia ini. Dan 'kenyataan' tersebut selalu bertolak belakang dengan keinginanmu. Kamu juga sudah merasakannya bukan?"


"..........."


Aku hanya mengangguk memberikan isyarat setuju kepadanya. Apa yang dia katakan memang benar dengan apa yang aku alami.


"Jadi, jika kamu tidak ingin itu terulang kembali, maka yang kamu lakukan untuk saat ini adalah benar. Setidaknya yang kamu lakukan ini tidak merugikan siapapun." lanjut pria itu.


"Benarkah?" tanyaku


"Iya." ucapnya dengan tersenyum. "Jangan khawatir, aku akan selalu bersamamu......"


Aku sangat mempercayainya. Apapun yang dia katakan, aku akan selalu mendengarkannya. Dia tidak mungkin berbohong kepadaku. Karena...


".... Karena aku adalah satu-satunya temanmu yang dapat dipercaya."


Ya.. dia adalah satu-satunya teman yang kupercayai di dunia ini dan juga sebagai cahaya di kegelapanku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2