
~Perkenalan~
"Hei, Riki. Apa sudah selesai? Kau nulis apa? Boleh lihat tidak?"
Ya, salah satu lagi keinginanku yang tidak tercapai adalah berteman dengannya. Pria yang sedang berbicara kepadaku adalah Alex. Entah kenapa, bagi Alex, aku adalah teman baiknya.
Namun, tidak semua keinginanku tidak tercapai. Salah satu keinginanku yang tercapai di kelas ini adalah tempat dudukku berada di belakang kanan dekat jendela yang menampilkan lapangan sekolah.
Singkat cerita, Bu Yuni melakukan pengacakan tempat duduk dengan nomor yang ada di setiap meja kelas. Betapa beruntungnya, aku mendapatkan meja ini.
Namun, ada suatu yang membuatku berpikir. Apakah ini sebuah takdir atau kebetulan, dia juga duduk disebelahku.
Nampaknya, dia ingin sekali melihat kertasku. Tidak, maksudku, dia ingin melihat sesuatu yang ditulis olehku di kertas ini.
"Tentu." jawabku.
Kubiarkan dia melihat kertasku ini tanpa menyentuhnya. Namun, dia memiringkan kepalanya terlihat sedang kebingungan. Dia melirik ke arah kiri dan kanan seperti melihat dari arah sisi kanan dan kiri kertasku.
Dan akhirnya dia menyerah dan berkata
"Bagaimana aku bisa melihat isinya kalo kertasnya dibalik?"
Ya, kertas ini aku sengaja terbalik supaya tidak ada orang yang melihat kertas indahku ini, lebih tepatnya tulisan indahku.
"Maksudku, 'tentu saja' tidak!"
"Eh? Dasar pelit!"
"Biarin."
Meskipun nyawa adalah taruhannya, tidak akan kubiarkan murid lain melihat isi dari kertas ini.
Aku tidak khawatir sih jika dia melihat kertasku. Aku tahu bahwa dia tidak bakalan mengerti apa yang aku tulis disini, karena dia merupakan orang yang bodoh.
"Oh... aku tahu aku tahu." ucap Alex tiba-tiba menjadi semangat
"Apa?" tanyaku. Bukannya aku penasaran, tapi aku ingin tahu sekilas saja.
"Kau sebenarnya memiliki rahasia dibalik kertas itu. Jika ada seseorang yang mengetahuinya, maka segel tersebut akan terbuka dan rohmu akan keluar dari tubuhmu. Karena itu, kau tidak bisa kembali lagi, iya kan?"
Sudah kuduga dia akan berkata seperti itu.
Biar kujelaskan, dia mempunyai penyakit churrbiryo. Dapat dikatakan, penyakit tersebut muncul karena kebanyakan menonton video 2D bergenre fantasi. Meskipun terlihat seperti keanak-anakan, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Sikapnya itu tidak mengganggu kehidupanku.
"Tentang segel. Mau kuberikan segel naga?" tanyaku.
"Naga? Naga terbang?"
"Semua naga itu terbang. Memangnya ada yang merayap?"
"Kau tidak tahu ada naga yang menari-nari?"
Mungkin maksud yang menari-nari itu adalah barongsai. Tapi, itukan bukan naga sungguhan. Ada orang didalamnya. Lagipula, berdebat tentang ini tidak terlalu penting.
"Iya terserah deh. Ulurkan tanganmu!"
"Buat apa?"
"Aku ingin menggambarnya ditanganmu."
"Kau ingin menggambarnya di tanganku?"
"Iya, ini adalah seni. Tenang saja, aku bisa menggambarnya kurang dari 5 menit."
"Eh? Hebat sekali, menggambar naga dalam waktu 5 menit." ucapnya kagum.
"Tentu saja, kau pasti akan kagum setelah melihatnya."
"Baiklah."
Alex menyetujuinya dan mengulurkan tangannya dengan tenang. Dia tahu bahwa aku cukup pintar dalam hal menggambar. Karena pada saat kelas seni, dia melihat gambarku dan menilainya keren. Namun, dia tidak mengganggap bahwa gambarku itu adalah seni. Bagi dirinya, seni adalah ledakan.
Ya, dia kebanyakan nonton si ninja berambut kuning.
Aku pun memegang betis tangannya dan bersiap untuk menggambar di badan tangannya. Seorang seniman harus menggambar dengan konsentrasi yang sangat tinggi sehingga hasilnya memuaskan. Karena itu, aku mencoba meniru mereka.
Setelah kosentrasi berkumpul, aku pun mulai menggambar.
Pertama-tama, sebuah lengkungan garis kebawah dengan sempurna, lalu naikkan garis tersebut keatas dengan lengkungan yang sama percis dan akhirnya sambungkan kepada garis yang awal tadi. Selesai.
"Selesai, bahkan aku melakukannya hanya dengan 2 detik saja."
"Hah? Apanya yang naga? Kau hanya menggambar lingkaran!"
Alex meninggikan suaranya, mungkin dia sedang marah karena aku menjahilinya.
Kalo dilihat, marahnya Alex seperti seseorang yang sedang tidak marah. Muka atau ekspresi marahnya tidak memiliki aura yang menakutkan. Mungkin bawaan dari lahir bahwa dia tidak diciptakan untuk menjadi pemarah.
Disisi lain, dia pikir sesuatu yang aku gambar adalah lingkaran ya? Sangatlah aneh dia memikirkan bahwa itu adalah lingkaran.
"Itu telor naga, tunggu aja sampai menetas menjadi naga sungguhan."
"Eh? Kau bodoh ya? Bagaimana bisa gitu?"
"Kau tahu sendiri bahwa itu adalah hal yang bodoh, kau masih mempercayainya?"
Perkataanku membuat Alex terdiam sebentar. Mungkin berdampak pada kepercayaannya bahwa didunia ini ada kekuatan.
"Eh? Yeah... maksudku, baiklah aku akan menunggunya sampai menetas!" ucapnya seperti ingin menarik perkataanya tadi.
__ADS_1
Kring....kring....kring....
Bel pulang pun berbunyi karena jam dinding sudah menujukkan ke arah 3. Jam 3 Sore adalah waktunya untuk pulang.
Seharusnya, pulang sekolah adalah hal yang membahagiakan oleh semua siswa. Karena dengan ini, mereka dapat beristirahat di rumah sambil menonton tv atau bermain game. Namun berbeda denganku, pulang sekolah aku harus bekerja. Tapi, itu bukanlah hal yang buruk. Dengan ini, aku memiliki pengalaman bekerja.
Sesaat aku membereskan buku yang ada di mejaku. Seseorang berkata
"Hei, sebentar lagi ujian, belajar bareng yuk?"
"Ayo, itu ide yang bagus."
"Kapan?"
"Minggu depan."
Mereka berdiskusi untuk membuat acara yang dinamakan 'belajar bersama'. Acara tersebut memang terdengar lumrah. Tidak ada salahnya jika tujuannya untuk kebaikan.
Setelah berunding, akihirya mereka melihat kami.
"Riki, Alex, apakah kalian mau ikut?"
"Kayaknya aku tidak bisa ikut, maaf." jawab aku
"Kenapa?" Tanya Alex.
"Aku ada jadwal kerja." Jawabku
Aku bekerja untuk mengisi waktu luang dan menambah uangku. Mungkin juga, salah satu tujuanku bekerja adalah menghindari keadaan seperti ini, dimana seorang mengadakan kegiatan belajar bersama. Disaat dia mengajakku, aku dapat menolaknya dengan mudah.
"Begitu ya. Mau bagaimana lagi."
Mereka memakluminya seperti dugaanku.
"Aku minta maaf!"
Aku mengatakannya dengan ekspresi seolah-olah aku merasa bersalah. Menurutku, belajar bersama tidaklah efektif. Karena bukannya belajar malah bercanda.
Sebenarnya, aku juga tidak peduli tentang nilai mereka. Dengan sikap peduli, aku akan terseret dan terkurung pada masalah yang mereka alami. Meskipun aku membantunya, mungkin saja, aku juga akan disalahkan karena aku melakukan suatu kesalahan.
Karena itu, dari keadaan tersebut, aku menemukan sesuatu yang menarik. Ya, itu adalah
Terkadang, sikap tidak peduli ini, membuatku nyaman.
Setelah membereskan barang di atas mejaku. Aku berkata kepada seluruh murid di kelasku
"Ada yang belum selesai?"
"Sudah pada selesai."
"Kalo begitu, aku duluan."
"Iya, hati-hati"
Aku pun beranjak pergi dengan membawa kertas-kertas mereka. Setelah aku keluar dari kelas, terlihat ada seorang gadis yang mungkin sedang menunggu seseorang di samping pintu masuk kelasku, lalu dia membuka suara
"Riki, apa besok kamu ada waktu?"
Gadis yang sudah tidak asing. Gadis ini adalah teman sekelasku semasa SMP. Dia bernama Bella Winanda. Dia juga masuk ke SMA ini dan bahkan dia sekelas lagi denganku. Yah.. hal ini hanyalah kebetulan.
"Bukannya kau ada jadwal kerja besok pagi?" tanya aku
Dia juga bekerja parttime sama sepertiku, namun berbeda tempat dan pekerjaan.
"Maksudku malam minggu, apa kamu ada waktu?"
"Malam minggu adalah shift kerjaku juga." Jawab aku
"Begitu ya."
Bella menundukkan kepalanya seakan-akan dia sudah menyerah untuk mengajakku. Ekspresi seperti itu, entah kenapa, aku tidak tega melihatnya.
Aku adalah lelaki yang tidak akan membuat wanita bersedih karena sikapku kecuali beberapa alasan.
Dilihat dari situasinya, yang membuat ekspresi Bella menjadi seperti itu adalah diriku. Karena itu....
"Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggangmu?" tanya aku dengan suara yang lembut.
"Tidak apa-apa. Hari ini kamu juga kerja ya?"
"Iya. Aku shift sore." kataku
Ekspresi Bella berubah menjadi seperti biasanya. Hal itu membuatku tenang.
"Hmm... Baiklah kalo begitu, mau bagaimana lagi, aku pulang duluan ya. Oh iya, Kalo ada apa-apa, kamu dapat membicarakannya padaku. Dah."
"Dah."
Melambaikan tangan adalah salah satu cara seorang gadis untuk berpisah. Dia melakukan itu padaku.
Seperti biasa, kata-kata terakhir tersebut selalu diucapkan dengan ekspresi yang khawatir. Ntah apa maksudnya dia berkata seperti itu atau mungkin saja dia su.....
Sudahlah.
Jika berbicara tentangnya, dia adalah gadis yang sangat baik. Sangking baiknya, mungkin dia dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh orang lain. Jika dilihat, dia juga sangat cantik. Senyumannya pun seperti matahari. Bukan hanya wajahnya saja yang cantik, bahkan sikapnya pun sangat baik. Semua teman sekelas menyukainya.
Dapat dikatakan, jika kau seorang pria yang normal, kau pasti akan tertarik dengannya pada pandangan pertama.
Sebenarnya aku adalah orang yang beruntung yang membuat laki-laki lain menjadi iri padaku. Bagaimana tidak? Dia selalu menyapaku dengan senyumannya yang cerah. Tetapi aku tidak kegeer-an. Aku berbeda dengan pria biasa. Pria adalah makhluk sederhana. Dengan sikap seperti Bella, pria akan salah menilai bahwa itu adalah perasaan suka. Dia memang baik ke semua orang, karena itu adalah sikapnya.
__ADS_1
Alasan dia mengajakku adalah mungkin dia memintaku untuk menemaninya belanja sesuatu. Sebenarnya jika aku ada waktu, aku tidak akan menolak permintaanya.
***
Aku pun beranjak pergi dan menuju ke sebuah ruangan.
Ruangan yang aku tuju selalu memberikan aura yang menakutkan. Entah kenapa ruangan tersebut bisa menjadi seperti itu.
Tak lama berjalan, aku sudah sampai ke ruangan tersebut.
Ya, ruangan yang kumaksud adalah ruang BK. Karena aku menjadi Ketua Kelas, aku selalu kesini untuk mengumpulkan tugas yang ia berikan. Karena itu, aku sering memasuki ruang BK.
"Permisi." kataku sembari mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Beberapa guru melirikku dan hal itu membuat atsmosfer yang kurasakan bertambah menjadi berat dan suasananya menjadi lebih tegang. Mungkin aku sedang keringat dingin saat ini. Serius ini? Entah kenapa aku menjadi seperti ini!
Aku melirik meja Bu Yuni. Lalu, menuju kesana dan terlihat dia sedang mengerjakan sesuatu.
"Permisi Bu Yuni, ini taruh dimana?"
"Disitu saja!"
Bu Yuni menunjuk samping mejanya dan aku langsung menaruh kertas ini di tempat itu.
"Riki, minggu depan aku tidak akan masuk. Jadi, bagikan ini kepada semua murid lalu kumpulkan di hari itu juga." ucap Bu Yuni
By Yuni memberikan kertas putih yang ada didalam laci mejanya. Aku mengambilnya, lalu sedikit membaca kertas yang ia berikan. 'Kelebihan dan Kekurangan yang ada pada dirimu?'.
Selama ini aku berpikir bahwa kenapa pelajaran BK yang aku rasakan seperti sedang mengintrogasi semua murid. Singkat yang aku maksud adalah tugas yang diberikan selalu menyuruh untuk menceritakan tentang diri sendiri. Bukankah itu privasi? Tapi, tidak buruk juga untuk menceritakannya.
"Baiklah, kalo begitu saya pamit pulang Bu Yuni."
"Hati-hati!"
"Ya."
Aku bergegas untuk pulang terlebih dahulu dan mempercepat langkah kakiku, karena sebentar lagi adalah jam kerjaku.
Selama aku berjalan, selama aku melewati berbagai kelas, aku selalu mendengar suara-suara yang berisik. Situasi yang selalu seperti ini, bahkan sampai berulang-ulang kali tidak ada yang berubah. Hal ini selalu mereka lakukan pada saat pulang sekolah.
Ada yang ikut eskull, nongkrong-nongkrong, berpacaran atau semacamnya. Mungkin, ini adalah keadaan yang selalu dibicarakan oleh banyak orang yang dinamakan 'menikmati masa muda'. Hal yang wajar bagi seorang siswa SMA untuk menikmati masa muda dan hidup dunia ini.
Ya, itu sangat wajar.
Sebelum sampai gerbang sekolah, aku berhenti berjalan karena sesuatu.
"Hoi..... bocah kentang, mau berangkat kerja?"
Seorang laki-laki berkata dengan sedikit keras dan bernada mengejek dari arah belakangku. Suaranya sudah tidak asing, bahkan, aku sudah bosan mendengarnya.
Setelah aku menengok ke arah belakang, seperti dugaanku, orang itu adalah dia. Seperti biasanya, dia didampingi oleh dua orang disampingnya.
Dia adalah seorang pria yang menyebalkan yang tidak ingin aku temui di sekolah ini.
Laki-laki itu bernama Rama Restifan.
Dia adalah teman sekelasku semasa SMP seperti Bella. Dan betapa lucunya, dia juga sekelas lagi denganku sampai sekarang. Sungguh kebetulan yang sangat mengerikan.
"Huh, kau lagi?"
Dengan disengaja aku mendesah dalam-dalam dari dasar paru-paruku.
"Memangnya ada masalah denganku?" tanyanya
"Seharusnya aku yang menanyakan itu. Jadi, apa maumu?"
Dengan suaraku yang datar, aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.
Namun, Dia hanya tersenyum seperti orang gila.
"Tidak ada...." Dia melewatiku setelah berbicara dan tak lama kemudian dia berhenti sejenak. ".....Setidaknya, tidak untuk sekarang."
Kata-kata terakhirnya yang disampaikan kepadaku dengan senyuman yang licik sebelum dia benar-benar pergi. Jika diartikan oleh hipotesisku adalah 'mungkin nanti, aku akan melakukannya'.
Sejujurnya, aku tahu banyak tentang Rama.
Dia adalah siswa yang paling mencolok. Bagaimana tidak? Dia selalu membuat masalah atau lebih tepatnya, dia adalah dalang dari masalah.
Jika di perumpamakan dengan kata-kata 'disitu ada masalah, pasti ada dia'. Dengan berpikiran uang dapat menyelesaikan apapun, dia jadi bertindak seenaknya.
Semua orang mengira orang yang berada didekatnya adalah temannya. Tapi kenyataannya bukan seperti itu.
Mereka hanya menginginkan uangnya saja.
Mereka, tidak, kebanyakan manusia rela melakukan apa saja demi uang. Tidak heran manusia melakukan itu, karena uang dapat membeli apapun.
Apakah dia menikmati pertemanan yang seperti itu?
Tidak, aku tarik kata-kataku. Hubungan mereka bukanlah pertemanan.
Hubungan mereka adalah Raja dan Budak. Dia adalah seorang raja pada sebuah kerajaan yang dia buat sendiri dan mereka adalah budaknya.
Mungkin dia menikmati hubungan seperti ini.
Jika aku menyimpulkan tentang cerita hidupnya, dapat dikatakan dia bebas melakukan apapun yang dia mau. Namun, dia tidak tahu bahwa dia juga dimanfaatkan oleh orang yang berada di sekitarnya.
Singkatnya, dia hanyalah orang bodoh.
Sebaiknya aku pulang terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.
__ADS_1