Roh Menyebalkan

Roh Menyebalkan
Tiga(4)


__ADS_3

                                                                        ~Awal Dari Segalanya~


 


 


Setelah berpisah dengan Bella, aku pun berjalan sendirian lagi dan melanjutkan memikirkan yang aku pikirkan sebelumnya.


Hidup itu cukup rumit. Membuat rencana untuk kedepannya sangatlah mudah, akan tetapi, apakah rencana tersebut selalu berhasil dengan sempurna??


Meskipun itu adalah hal yang rumit, akan tetapi, disitulah tatak letak yang dapat dikatakan 'menarik' untuk menjalani hidup didunia ini. Jika saja kita dapat melihat masa depan, kita akan tahu apa saja yang akan kita lakukan. Ibaratkan seperti membaca buku yang dapat ditebak alurnya dengan mudah. Bukankah itu sangat membosankan??


Setelah dekat rumah, aku berhenti berjalan dan terheran terhadap sesuatu yang ada didepanku.


Aku melihat seorang gadis yang sedang duduk dengan memeluk kakinya disebuah kursi panjang.


Tubuh yang elegan, rambut hitam yang panjang dan pakaian putih yang aneh. Ciri-cirinya mirip seperti hantu saja.


Tidak, dia bukanlah hantu. Maksudku, tidak ada hantu secantik dia. Lagipula mana ada hantu keluar di sore hari. Dan juga, aku tidak percaya hal-hal yang mistis seperti itu.


Aku memandangnya lagi.


Tunggu dulu, bukannya dia gadis yang kulihat di pagi hari?


Jika dilihat dengan teliti dengan ciri-ciri yang ada pada tubuhnya, dia adalah gadis cosplayer di pagi hari. Kini, ekspresi yang diberikan kepada dunia berbanding terbalik 180 derajat.


Tatapannya yang kosong ke arah tanah seperti merasakan perihnya hidup di dunia ini. Dia seperi sedang bersedih karena suatu alasan.


Meskipun begitu, aku mencoba untuk tidak peduli. Aku tidak perlu menanyakan 'kamu kenapa?' kan? Karena itu bukanlah urusanku.


Berhentilah terlibat pada urusan orang lain!!!


Berhentilah bersikap sok baik!!!


Berhentilah seperti pahlawan!!!


Bisikan tersebut terus menghantui kepalaku ini.


Tanpa memperdulikannya, aku membuka pintu, lalu masuk kerumah.


Kutaruh kantong kresek hitam dan tasku diatas sofa. Setelah itu, aku berniat untuk sarapan karena perutku sudah berdemo.


Aku membuka kulkasku dan menyadari bahan makanan sudah mulai menipis.


Waktunya belanja kah? Apa disana sedang sangat ramai? Aku sangat malas mengantri. Mau bagaimanapun juga, cepat atau lambat, aku pasti akan kesana untuk membelinya. Bukankah lebih cepat lebih baik??


Aku memasak seadaanya, hanya dengan telor ceplok saja. Hmm.. sungguh menyedihkan.


Setelah makan, aku beniat ke mini market untuk membeli bahan makan.


Setelah beberapa langkah aku berjalan dari rumahku, aku terhenti seketika.


Gadis itu.


Dia masih ada disana ya??


Namun, aku melewatinya tanpa peduli dan berniat menuju mini market.


***


Sore berganti malam. Orange yang bersinar cukup terang diatas kepalaku kini menjadi gelap. Aku melihat jam yang ada di tangan untuk memastikan.


Jam 6 malam kah? Waktu berjalan begitu cepat.


Setelah membeli bahan makanan seperti telor, sayuran, mie dan lain-lain, karena tidak mempunyai tujuan lagi, maka aku berniat untuk pulang.


Aku berjalan menuju rumah sembari memakan eskrim. Makan makanan yang dingin disuasana yang dingin, hal itu membuat seluruh tubuhku terasa seperti di dalam es.


'Kedinginan' adalah salah satu hal yang kusuka.


Langkah demi langkah, toko demi toko yang kulewati. Terlintas, aku memikirkan sesuatu, yaitu apakah gadis itu masih ada disana? Ataukah dia sudah pergi?


Bukannya aku peduli, hanya saja aku sedikit berpikir kenapa dia seperti itu. Alasannya mungkin dapat menolongku suatu saat nanti.


Setelah dekat rumah, aku terdiam seketika lagi.


Dia masih duduk disana, tidak bergerak sedikit pun. Posisinya masih tetap tanpa berubah sedikitpun.


Hei, hei, apakah dia sebenarnya tuan putri yang sedang kabur dari rumah? Ataukah bidadari yang kehilangan sayap dan turun dari langit??


Ini biasanya akan ada pahlawan yang medekati dan berniat untuk membantunya sampai masalah dia selesai. Dan pada akhirnya, mereka menjalin hubungan yang dinamakan 'cinta'.


Tapi, maaf saja, aku tidak berniat untuk menjadi pahlawan tersebut. Karena itu, aku mencoba untuk tidak peduli.


Oh, tunggu, alasan lain dia seperti itu mungkin karena sedang patah hati yang disebabkan oleh seorang pria. Diputuskan, selingkuh atau semacamnya. Hubungan yang tidak perlu untuk dipikirkan kembali. Jika sudah pergi, maka tinggal cari yang baru kan?


Hmm.. mungkin tidak semudah yang aku pikirkan.


Namun, merenungkan sesuatu sampai-sampai melupakan waktu dan keluarga atau temannya. Bukankah itu adalah perilaku yang bodoh?


Akan tetapi, aku terheran kepada ragaku. Tubuhku tidak mau bergerak, seakan-akan dia memaksaku untuk terus menatapnya.


Aku menghembuskan nafas yang dalam. Huh... kenapa aku memiliki sifat yang sebodoh ini?


"Emm..."


Aku menghampirinya dan mencoba untuk membuka suara.


Meskipun bisikan yang membuatku untuk tidak memperdulikan gadis itu menghantuiku, tetap saja hatiku berkata lain.


Hati itu seperti magnet yang menarikku supaya melakukan apa saja yang dia inginkan. Hati juga dapat diartikan sebagai peganggu pikiran.


Tentu saja itu urusanku. Huh, setidaknya aku harus menanyakan kenapa kamu ada disini


Bisikan dipikiranku berubah seperti itu.


Aku melanjutkan perkataanku.


"....Itu ... Kenapa kau di depan rumahku? Apa kau mempunyai keperluan dengan salah satu pemilik rumah di kompleks ini?" tanyaku.


"......."


Akhirnya dia bergerak.


Dia menengok kearahku sebentar. Tak lama kemudian, tatapannya kembali ke arah tanah.


Aku seperti diabaikan, apapun yang kulakukan ternyata percuma, seperti biasanya. Jadi, aku mencoba mengurungkan niatku untuk bertanya dan berniat untuk kembali kerumahku.


Sebelum aku membalikkan badan, aku mendengar suara darinya.


"Kamu bisa melihatku?"


Tiba-tiba dia berkata dan mengarahkan tatapannya kepadaku dengan wajah yang terkejut.


Aku memiringkan kepalaku.


'Melihatku?' Tentu saja aku bisa melihatmu dengan jelas. Dasar gadis aneh.


"Kau terlihat seperti orang yang mencurigakan dengan pakaian yang aneh itu."


"Benarkah?"


Masih dengan wajah kaget, dia terbangun dari duduknya dan berhadapan denganku.


"Iya, pakaianmu aneh."


Dengan memundurkan langkahku dan berjaga jarak dengannya, aku berkata dengan gugup.

__ADS_1


"Benarkah? Benarkah? Benarkah? Wah..."


Dia berkata sembari mendekatinya tubuhnya, lalu mendongkak mukanya ke mukaku.


Bukannya ini terlalu dekat??


Sebisa mungkin aku mengatur jarak supaya tidak bersentuhan dengan tubuhnya.


Memang, bagi seorang laki-laki, meskipun itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan, bersentuhan dengan seorang perempuan dapat dikatakan sebuah 'keberuntungan'. Apalagi, dengan gadis yang sangat cantik atau gadis yang dia sukai. Dengan sekejap, perasaan didalam hati begitu akan meledak dan mungkin akan menimbulkan sebuah perasaan 'tertarik' pada gadis tersebut.


Akan tetapi, aku tidak merasa nyaman jika dia tiba-tiba seperti ini, apalagi dia adalah gadis yang masih asing bagiku.


Disisi lain, dia terlihat sangat senang seperti sedang bertemu dengan idola yang dia kagumi. Atau mungkin memang menggagumiku karena dia mengeatahui betapa kerennya aku ini.


Ada seseorang yang menilaiku bahwa aku ini seperti Personil Boyband Korea yang begitu kerennya saat tampil di sebuah panggung yang mewah.


Tapi, kau tau? Orang yang menilaiku seperti itu adalah diriku sendiri.


Aku ini orang tau.


Di sisi lain lagi, entah kenapa, pertanyaannya membuatku sedikit kesal seperti dia menghinaku. Singkat maksudku, aku bukanlah penyandang tunanetra.


"Umm.......ya, aku bisa melihatmu. Kalo begitu, dah."


Kupikir, berbicara dengan orang aneh sepertinya hanyalah membuang waktuku saja. Lebih baik aku masuk kekamar dan bersiap-siap untuk beristirahat.


"Tunggu dulu." Ucapnya sambil mengikuti


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Ada hal yang harus kubicarakan padamu."


Mengikutiku sampai kedalam rumah bukanlah hal yang wajar bagi seorang gadis, apalagi aku adalah seorang pria. Apa dia tidak takut?


"Aku sedang sibuk."


"Kalo begitu.... aku akan menunggumu. "


Dia duduk di sofa ruang tamu seenaknya dan tanpa seizinku. Aku tertipu pada tampangnya yang cantik.


"Huh.. Sesuka hatimu saja."


Aku berniat untuk mandi. Jika kau bertanya 'Kenapa kau mengizinkannya masuk kerumahmu? Apa kau tidak takut? Kalo dia penjahat gimana?'


Aku mempunyai ilmu bela diri. Jadi, aku tidak terlalu takut terhadap penjahat. Jika aku mati, mungkin itu sudah takdir bagiku.


Sebelum bergegas untuk mandi, aku mengatakan kepadanya


"Jika kau melakukan sesuatu di dalam rumahku, aku tidak segan-segan melaporkanmu, mengerti!!"


"Baiklah, aku tidak akan melakukan hal yang jahat, percayalah."


Aku pergi mandi tanpa merespon perkataanya.


Jujur saja, aku tidak mungkin percaya, apalagi dia adalah orang asing.


Rencanaku, nanti malam akan mengantarnya ke kantor polisi.


Namun, aku berpikir lagi. Jarak antara kantor polisi dan rumahku cukup jauh. Memikirkannya saja, membuatku lelah. Huh... mungkin aku akan melakukan hal itu supaya dia pergi.


***


Karena aku merasa cukup lelah, aku pergi mandi untuk menghilangkan rasa lelah tersebut. Kesegaran air dingin yang mengalir dan membanjiri tubuhku seperti membawa, meresap dan menyeret rasa lelah yang ada di tubuhku. Memang sangat segar dan sangat nyaman. Ini adalah salah satu hal yang sederhana untuk menikmati indahnya dunia ini.


Rasa kenyamanan ini membuat pikiranku menjadi fresh dan karena itu membuatku berpikir akan sesuatu. Terlintas pikiran yang muncul di otakku adalah gadis yang sedang berada dirumahku.


Apakah dia masih di rumah saat ini?? ataukah dia sudah pergi dan mengambil barang punyaku?? Sebenarnya aku tidak keberatan jika dia mengambil barangku, setidaknya dia sudah pergi.


Aku telah selasai mandi dan memakai pakaianku yang telah digantung.


Gadis itu ya?? Mungkin aku akan mengeceknya untuk memastikan.


Jika masih disini, mungkin dia tidak mengambil barangku.


"Huh.. kamu masih disini ya?"


Setelah mendengar suaraku, dia berdiri dan berjalan menuju kearahku.


"Kamu sudah selesai? Sekarang de---"


"Kau tidak takut? Hanya kita berdua saja dirumah ini loh."


Aku memotong pembicaraan dan mencoba untuk menakutinya.


Laki-laki normal akan menjadi monster jika keadaan seperti ini, dimana laki-laki dan perempuan yang mungkin seumuran berada dirumah yang sepi dan tidak ada siapapun selain mereka berdua. Keadaan yang cukup memadai untuk melakukan hal itu.


Sebaiknya, aku harus melakukan tindakan yang seperti itu. Tindakan Ini adalah langkah pertama untuk mengusirnya secara kasar.


"Kenapa aku harus takut? Kamu bukanlah hantu atau semacamnya."


Dia menjawab ancamanku dengan tenang. Jika dilihat, tidak ada rasa ketakutan juga di matanya, seolah-olah aku bukanlah ancaman baginya. Entah kenapa, hal ini membuatku sedikit jengkel.


"Benarkah? Kau tidak takut? Aku adalah seorang laki-laki. Bukankah laki-laki itu seperti harimau atau buaya yang akan menerkam targetnya?"


Aku mendekatinya dan dia berjalan mundur secara perlahan ke arah belakang. Aku terus membuat dia semakin mundur sehingga sampai terpojok di tembok. Lalu, aku mendorong tangan kananku ke tembok sehingga diterkurung olehku. Aku melanjutkan perkataanku


"Kau tidak takut ya?"


".........."


Dia berdiam diri saja tanpa mengeluarkan suara apapun. Ekspresinya tidak terlihat sedang panik dan seperti pasrah terhadap sesuatu. Apakah dia rela untuk melakukan itu?


"Kalau begitu..."


Setelah terpojok, aku mencoba menyentuh dagu gadis ini dengan tangan kiriku. Namun hal mustahil terjadi.


"Hah?...".


Aku sangat terkejut, membuka mataku lebar-lebar dan memundurkan langkahku untuk menjauhkan jarakku darinya. Lalu, aku menelan ludahku.


Gadis ini tidak dapat aku sentuh?? Tanganku menembus dagunya??


Apakah ini ilusi optik? Atau sebenarnya aku sedang tidur dan masih bermimpi yang membuatku berhayal?


Tidak, tidak, tidak, ini bukanlah mimpi. Jika ini adalah mimpi, aku tidak akan merasakan sakit disaat aku mencubit pahaku dengan tangan kiriku barusan.


Apakah ini sebuah hologram seperti yang ada di kartun atau anime? Tidak, dunia ini belum secanggih itu.


Aku mencoba menatapnya lagi, mencari jawaban apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak akan takut, karena...." katanya terhenti seperti memberi jeda yang membuat atsmosfer disekitarku menjadi berat. Tak lama kemudian, dia tersenyum. ".....aku tidak dapat disentuh oleh siapapun."


Suara yang sedikit menakutkan, seakan-akan ancaman yang aku buat membalik kearahku. Jika di dalam game yang aku mainkan, sebutannya adalah 'Epic Comeback'.


Aku mencoba untuk bertanya.


"Sebenarnya, kau ini apa?"


"Entahlah, aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini."


Sambil memegang rambutnya dia berkata seperti itu.


Jujur, entah kenapa, aku sedikit kesal atas jawaban dan ekspresinya.


Dia melanjutkan pembicaraan sambil memegang dagunya.


"Hmm..... ini aneh sekali." ucapnya menatapku.

__ADS_1


"Apanya yang aneh?" tanyaku


"Kenapa kamu tidak takut setelah melihat kejadian tadi?? Seharusnya, dengan refleks orang-orang akan terkejut dan lari. Dan juga, mereka akan terlihat panik dan ketakutan setelah melihatku."


Dia berkata seperti itu dengan wajah keheranan dan penuh tanda tanya. Dari perkataan sebelumnya, firasatku mengatakan bahwa dia mencoba untuk menakutiku. Namun, perbuatan yang dia lakukan ini tidak berhasil. Mungkin dia heran, karena 'kenapa mukaku kembali menjadi biasanya setelah melihat kejadian ini?'


"Wah.... aku takut sekali. Makanya, kau harus pergi dari sini supaya aku tidak takut!"


Sambil menutup mukaku dengan tangan dan suara yang mengejek kuberikan padanya.


"Jangan bohong!!! Ekspresimu menandakan kalo kamu tidak sedang ketakutan."


Dia sedikit kesal karena perkataanku itu.


Sudah kuduga, meskipun keberadaanya masih tanda tanya bagiku, namun dia tidak jauh berbeda dengan manusia biasa. Dia tidak mungkin melakukan hal mustahil seperti membaca pikiran.


'Tidak sedang ketakutan?' katamu. Sebenarnya aku ketakutan setengah mati, bahkan aku bisa mendengar suara jam dinding dengan keras karena itu.


Bagaimana aku tidak ketakutan? Hal yang mustahil yang selama ini aku yakini, sekarang menjadi kenyataan didepan kedua mataku.


Jika kamu bertanya 'kenapa aku bersikap biasa saja setelah melihat ini'? Jawabannya adalah karena aku sedang berakting.


Jika dibandingkan dengan artis hollywood, aku tidak jauh berbeda dengan mereka.


Alasan kenapa aku terlihat tidak ketakutan adalah karena aku menahan rasa takut ini.


Jika aku tidak memakai baju dengan lengan panjang, mungkin aku dapat melihat bulu tanganku berdiri.


Aku hanya ingin terlihat keren di depan gadis cantik. Seperti seorang yang tidak memiliki rasa takut terhadap apapun. Menurutku, itu adalah orang yang keren.


"Lagipula aku tidak akan pergi. Sudah kutetapkan, rumah ini akan menjadi rumahku sementara." Lanjutnya


Omongannya seenak jidat. Setidaknya aku sedikit senang dengan kata 'sementara'. Lebih jelasnya, kata 'sementara' memiliki arti yaitu tidak selamanya.


Tapi, 'sementara' bagi makhluk seperti dia itu berapa lama?


10 tahun? 20 tahun? Atau sampai aku mati?


Tidak, ini gawat. Ini akan menjadi hal yang buruk bagiku. Aku harus mengambil sebuah tindakan lagi.


"Tunggu dulu."


"Apa??"


"Apa kau pernah mendengar tentang 'Meminta Izin Kepada Pemilik Rumah' atau semacamnya?? Kau tidak boleh seenaknya mengambil keputusan seperti itu."


"Oh iya. Berarti aku harus meminta izin terlebih dahulu kepadamu. Jadi, apa aku boleh menginap disini untuk sementara??"


"Tidak boleh."


"Oke. Terimakasih telah mengizinkanku menginap dirumah ini."


Apa-apaan jawabannya itu??


"Telingamu sedang rusak ya??"


"Tidak."


"Lalu??"


"Lalu??"


Dia menanyakan petanyaanku dengan ekspresi yang polos. Sepertinya, dia sedang berpura-pura bodoh atau mungkin dia memang beneran bodoh??


"Aku tidak mengizinkanmu tinggal disini. Kau mengerti??"


"Aku mengerti. Tapi, aku akan tetap tinggal disini meskipun kamu tidak memberi izin kepadaku."


"Hah?? Itu artinya kau tidak mengerti tentang perkataanku!!"


"Aku mengerti kok bahwa aku tidak boleh tinggal disini."


"Lalu??"


"Lalu??"


Jika kau mengerti tentang itu, maka seharusnya kau pergi dari hadapanku bukan?? Dia adalah makhluk yang tidak normal. Namun, aku tidak peduli itu. Semua, kehadiran, dia itu tidak normal. Apalagi, pikiran yang dimiliki olehnya itu lebih tidak normal.


"Sekarang, apa kamu mau mendengarkanku terlebih dahulu??"


"Aku tidak mau. Apakah aku harus mengulanginya lagi supaya kau mengerti??"


"Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak mau pergi darisini. Apakah aku harus mengulanginya lagi supaya kamu mengerti??"


"............"


Makhluk ini!!


Dia membuatku kesal saja. Mungkin sekarang, ada asap putih yang muncul dikepalaku.


"Aku akan tinggal disini meskipun kamu melarangnya. Dan setiap harinya, aku akan bertanya kepadamu tentang keinginanku. Aku akan membuat kamu mendengar ucapanku. Oh, mungkin aku akan sedikit mengganggumu."


"........"


"Apa kamu mendengarkanku??"


"Kau keras kepala sekali!"


Makhluk ini sangat keras kepala. Jika dia dapat disentuh, mungkin aku akan menjitaknya untuk memastikan seberapa keras kepalanya itu.


"Iya, aku memang keras kepala. Jadi, apa kamu ingin mendengarkanku supaya aku tidak keras kepala?"


Ternyata dia mengakuinya bahwa dia memiliki sifat keras kepala. Dengan kata lain, dia jujur untuk mengakui sifatnya meskipun itu adalah sifat yang buruk.


Cukup langka bagiku bertemu dengan orang sepertinya. Maksudku, orang yang mengakui sifat buruknya sendiri adalah hal yang sulit untuk ditemukan di dunia ini.


Karena itu bagiku dia adalah orang yang langka. Tidak tidak tidak, aku terlalu mengaguminya, mungkin saja dia hanyalah orang yang bodoh yang selalu mengatakan kebodohan tentang dirinya sendiri kepada orang lain.


Jika seperti ini, maka rasa kesalku akan semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, aku mendesah dengan keras untuk mengurangi rasa kesalku.


"Tidak, lakukan saja sesukamu. Aku sudah tidak peduli lagi."


Ya. Yang harus kelakukan adalah tidak memperdulikannya.


"Baiklah kalo begitu, aku.... akan menganggumu."


".............."


Dia menggunakan suara yang mengancam. Namun aku tidak mempedulikannya dan bergegas masuk ke kamarku.


"Hei, kamu dengar tidak? Aku tidak main-main loh. Aku akan menganggumu. Jangan menyesal ya?"


".............."


"Hei...."


Ceklek, suara pintu yang tertutup mengurangi suaranya. Setelah kututup pintu kamarku, aku pun menguncinya.


Meskipun sikapku ini terlihat sangat jahat, namun aku tidak peduli.


Aku mencoba untuk terus mengabaikannya. Rasa diabaikan itu adalah hal yang terburuk. Dengan kata lain, keberadaanmu tidak dianggap oleh sekitar. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari ketidapedulian. Karena itu, aku melakukan ini padanya.


'Menggangku'? aku tidak perlu khawatir, bagaimana caranya dia mengganggu jika dia tidak bisa menyentuhku. Memangnya aku takut?


Aku berpikir seperti itu sebelum dia benar-benar mengangguku dengan hal yang tidak kupikirkan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2