
~Aku Adalah Babu~
30 menit terakhir sebelum pulang sekolah, Guru BKku memberikan tugas kepada kami yaitu menulis tentang sebuah 'mimpi' yang ingin kamu raih di masa depan. Lalu, dia pergi meninggalkan kelas begitu saja.
Berbicara tentang mimpi. Banyak yang mengatakan bahwa mimpi itu sulit? Jadi, kalian harus berusaha sekuat tenaga untuk mengejar mimpi itu?
Bukannya aku sombong, tapi bagiku, mimpi itu tidak terlalu sulit. Setiap hari mimpiku selalu terkabul, seperti aku ingin memakan eskrim dan akhirnya aku membeli eskrim tersebut di hari aku menginginkannya. Hal itu juga adalah contoh dari sebuah mimpi.
Pengertian mimpi sendiri adalah keinginan yang ingin diraih.
Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain, tapi bagiku itu adalah pengertian dari mimpi.
Dulu, sejak aku kecil, aku juga memiliki banyak mimpi. Seperti aku ingin menjadi dokter, astronot, pemain bola atau pemain smackdown.
Tetapi, aku tidak berniat mengejar mimpi itu lagi.
Semakin aku dewasa, semakin aku mengenal realita kehidupan, semakin aku merasakan bahwa mimpiku tersebut seperti hanya angan-angan selintas saja.
Bukannya aku menyerah pada mimpi itu, tetapi semakin aku dewasa, semakin aku tidak tertarik lagi pada mimpi masa kecilku dulu.
Jadi apakah aku tidak mempunyai mimpi yang besar?
Tidak, aku juga mempunyai mimpi yang tidak kalah hebatnya dengan mimpiku dulu. Sampai sekarang, aku masih belum bisa meraihnya. Oleh karena itu, aku menulis salah satu mimpi besarku itu dikertas ini.
Keadaan di kelas sangat ramai sekali, mungkin saja karena mereka sudah menyelesaikan tugasnya dan menunggu bel panjang yang menandakan kebahagian.
Terlihat, mereka sangat senang sekali berbicara dan bercanda satu sama lain seperti tidak ada beban di hidupnya.
Dikelas ini, aku memiliki kehidupan yang menyedihkan. Bahkan, aku sering memasuki ruangan BK karena 'itu'.
Kehidupan duluku yang begitu tenang menjadi seperti ini karena ......
Aku adalah babu dikelas ini
Aku masih ingat kejadian kenapa aku menjadi seperti itu.
Flashback on
1 tahun yang lalu, lebih tepatnya awal aku masuk SMA ini. Kelas X-D, dimana kelas ini adalah tempat yang masih baru bagiku.
Tempat dudukku berada di tengah. Padahal aku menginginkan tempat duduk dibelakang dekat jendela, karena disana adalah surga kecil untuk orang sepertiku.
Kenapa?
Jawabannya cukup sederhana, yaitu karena disana aku dapat melihat pemandangan langit atau orang yang sedang berolahraga. Hal itu berfungsi ketika hal yang membosankan menghampiriku, contohnya seperti mendengar pelajaran yang tidak kusukai.
Sama halnya seperti sekarang, hal yang membosankan sedang menghampiriku. Aku sedang menunggu Wali Kelasku yang belum datang. Dia benar-benar terlambat di hari pertamaku menduduki masa SMA ini. Tetapi, aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Wali kelasku, kalau tidak salah dia bernama Bu Yuni.
Jika berbicara tentang Bu Yuni, banyak kakak kelas yang mengatakan bahwa dia adalah guru killer yang haus darah. Tentang 'haus darah', terlintas dikepalaku bahwa mungkin dia seorang vampire dengan gigi taringnya yang tajam. Serius ini?
Namun, aku percaya kepada Kakak Kelas, lebih tepatnya karena Bu Yuni adalah seorang guru BK.
Mendengar kata 'Guru BK', sudah tidak asing bahwa disana adalah perkumpulan guru-guru yang sangat galak, seram dan tak kenal ampun. Hal tersebut memang terdengar seperti psikopat. Tapi, memang begitulah gambaranku tentang guru BK.
Semakin seramnya Guru BK, semakin ketatnya peraturan dan juga semakin jarangnya murid yang membuat onar di sekolah.
Karena itu, kunci untuk meningkatkan keamanan sekolah adalah Guru BK.
Setelah aku melamun cukup lama, suara mengerikan terdengar dan menggema di telingaku ini.
Click-clack-click-clack
Suara langkah sepatu yang membentur putihnya lantai terdengar keras sekali. Jantungku berdetak tidak menentu, atsmosfer disekitar menjadi berat dan membuat diriku menelan ludah.
Aku berpikir, sepatu tersebut mungkin terbuat dari besi atau baja. Mungkin juga sepatu itu dibuat untuk menghukum murid yang bermasalah. Firasatku mengatakan bahwa orang yang memakai sepatu itu adalah Guru BK.
Aku membayangkan bagimana tampangnya. Seseram apakah dibalik sosok yang memakai sepatu tersebut?
Suara tersebut terdengar semakin keras....
Semakin keras......
Semakin keras......
Dan.....
Wow.... Apa dia sudah menikah?
Tidak, maksudku, dia terlihat sangat cantik. Kulit yang bening mungkin jika terkena sinar matahari membuat dia bersinar seperti seorang dewi. Rambut panjang dengan gaya poni samping yang membuatnya tampak sangat elegan. Bibir dengan lipstik bewarna merah muda yang sangat menawan yang menandakan kesempurnaan wanita. Dan juga sesuatu yang menonjol disekitar badannya yang sangat be.....
Sudahlah
Singkatnya, dalam hal penampilan, dia adalah perfect girl.
Aku berpikir, apa benar dia yang menjadi Wali Kelasku? Apa benar dia yang bernama Bu Yuni? Apa benar dia adalah guru BK? Apa benar dia haus darah?
Tunggu tunggu tunggu, mungkin saja dia bukan Wali Kelasku. Mungkin saja dia salah memasuki kelas. Jangan terlalu berharap yang belum pasti dulu.
"Selamat pagi." ucapnya dengan senyuman yang cerah dan suara lembut memasuki kelas ini. Senyuman dan suarnya itu sedikit menghangatkan hatiku.
"Selamat pagi." serentak semua murid menjawabnya dengan senang dan tersenyum gembira.
Kesan pertamaku pada guru itu adalah dia terlihat sangat baik, terlihat dari caranya menyapa semua murid.
Senyuman yang ia berikan seperti mentari yang bersinar cerah.
Suaranya yang sangat lembut seperti alunan melodi.
Dan pada saat pertama masuk kelas membuat atsmosfer yang berada disekitarku menjadi tenang.
Jika dilihat-lihat, dia masih terlihat muda untuk seorang guru, berkisaran 20-26 tahun. Bahkan, kulitnya masih terlihat sangat mulus.
Aku tidak terbayang jika dia adalah guru BK. Jika seperti itu, semua pikiranku selama ini tentang Guru BK yang seram akan hilang.
Setelah menaruh tas dan buku yang seperti absesnsi kelas di meja guru, dia berdiri didepan dan berkata
"Apa kalian sudah kenal saya?"
"Belum." jawab beberapa murid
Aku tidak ikut menjawab pertanyaanya karena hal itu dapat menguras sedikit tenagaku di pagi hari ini.
Aku harus menghemat tenaga. Bukan hanya itu alasanku. Aku hanya malas saja mengatakan itu.
Aku tidak perlu menjawabnya karena meskipun satu murid saja yang menjawab pertanyaan tersebut, itu sudah mewakili semua murid yang ada dikelas ini.
Lagipula bukannya sudah jelas jawabannya karena ini pertama kalinya kita bertemu?
"Baiklah, kenalkan namaku adalah Yuni Yasrima. Karena disekolah ini tidak ada yang namanya pergantian kelas, aku akan menjadi Wali Kelas kalian sampai 3 tahun kedepan. Dan juga kalian akan menjadi teman sekelas sampai kalian lulus. Oleh karena itu, saling akurlah satu sama lain ya."
Ternyata benar, dia yang bernama Bu Yuni. Kepercayaanku terhadap kakak kelas menghilang setelah melihat penampilan dan sikapnya.
Seharusnya, aku tidak boleh menelan mentah-mentah rumor yang baru aku dengar. Aku harus mengetahuinya sendiri daripada hanya mendengar dari 'katanya'.
Tapi, apa benar dia Guru BK? Aku masih tidak percaya akan hal ini. Dia tidak seseram Guru BK yang pernah aku kenal selama ini.
Disisi lain, aku menyukai perkataan Bu Yuni tentang sekolah ini.
__ADS_1
Ya benar, tidak perlu berganti-ganti teman sekelas. Bukankah itu lebih bagus?
Tiga tahun bersama membuat pertemanan semakin erat bukan?
Hm.... Kalimat yang ambigu.
Ada hal lain yang membuatku menyukai perkataan Bu Yuni.
"Biar kuberitahu satu hal tentang diriku, aku tidak menyukai murid yang tidak menaati peraturan. Jadi, jangan sampai melanggar peraturan ya!"
Masih dengan senyum yang hangat dia berkata seperti itu.
Langsung memberitahu hal yang tidak disukai ya? Tapi, perkataan tersebut terdengar seperti ajakan yang manis bukan perintah ataupun ancaman.
Namun, entah kenapa, aku merasakan bahwa ada hal yang lain dibalik senyumannya itu.
Tidak ada tanggapan oleh semua murid di kelas ini, Bu Yuni terheran.
"Kalian belum pada makan ya? Tidak ada semangat-semangatnya sama sekali. Sudah pada makan belum?"
"Sudah." jawab semua murid (kecuali aku)
Sebenarnya aku ingin menjawab 'belum' dengan suara yang keras. Tapi, jika aku menjawab seperti itu, apakah aku boleh diizinkan keluar untuk beristirahat dan makan?
Tentu saja tidak.
Lagipula aku tidak ingin Bu Yuni mengenalku. Apalagi dikenal sebagai murid yang nakal.
Murid yang seperti itu selalu diingat oleh guru-guru dan salah satu dampaknya adalah disaat membahas PR, murid tersebut pasti menjadi target utama oleh mereka. Seperti rusa yang dikepung oleh kawanan singa atau harimau yang lapar. Hal itu adalah hal yang merepotkan dan harus dihindari olehku. Karena itu, aku ingin menjadi murid biasa-biasa saja disini.
"Baguslah kalo begitu. Apa kalian sudah mengenal satu sama lain?"
"Belum." serentak semua murid (kecuali aku) menjawabnya.
Bu Yuni mungkin sudah tahu bahwa kami belum mengenal satu sama lain. Terlihat karena kelas ini masih dalam keadaan canggung. Oleh karena itu, Bu Yuni melakukan seseuatu.
"Bagaimana kita perkenalan diri terlebih dahulu? Dimulai dari situ." kata Bu Yuni sembari menunjuk seseorang yang bertempat duduk disebelah kiri depan. "Maju kedepan"
Seorang laki-laki tinggi besar dan terlihat gagah mengikuti perintah Bu Yuni. Dilihat dari gayanya, mungkin dia yang akan menjadi pemimpin dikelas ini.
Dia berjalan kedepan, lalu berdiri disamping Bu Yuni. Dia memiringkan kepalanya, terlihat seperti seseorang yang sedang kebingungan.
"Apa yang harus saya perkenalkan?"
"Nama, Asal Sekolah dan Hobi." jawab Bu Yuni
Laki-laki itu seperti sedang menyiapkan mental dan tekadnya. Seakan sudah mengumpulkannya, dia pun membuka suara.
"Kenalkan namaku Alex, dan hmm.... Asal sekolahku dari SMP Garda. Dan hobiku adalah uh.... mm....."
Ucapannya terhenti. Mungkin dia sedang gugup.
".... Menonton anime."
Semua orang yang berada di kelas terkejut atas jawabannya.
Tidak, salah satu yang tidak terkejut disini adalah Bu Yuni. Dia bersikap biasa saja seperti tidak ada hal yang terjadi.
Dia berterus terang mengatakan hobinya yang seperti itu di depan semua murid. Apalagi, hobinya bukan seperti olahraga atau semacamnya. Aku tau bahwa itu bukanlah hal yang buruk. Namun, agak aneh saja jika hal itu dijadikan sebuah hobi.
Aku berpikir bahwa aku dan dengannya tidak mungkin cocok untuk berteman.
Satu per satu membuat orang maju kedepan. Aku juga maju kedepan dan membereskannya dengan cepat.
Setelah perkenalan kami selesai, Bu Yuni mengusulkan untuk pemilihan pengurus kelas seperti Ketua, Wakil, Bendahara, Seketaris dan seksi-seksi lainnya.
Dia menulis di papan tulis dan memberikan ruang kosong untuk nama yang akan ditulis di setiap jabatan pengurus kelas. Lalu dia berkata
Pertama-tama pasti yang dibutuhkan adalah ketua kelas. Karena Ketua Kelas adalah ketua dari segalanya. Namun, tak seorang pun mengangkat tangan.
Tentu saja, menjadi ketua kelas memiliki tanggung jawab yang besar. Ketua kelas akan menjadi sorotan utama pada semua murid di kelas untuk menangani dan menyerahkan masalah yang terjadi dikelas. Tidak peduli masalah apapun itu, ketua kelas akan ikut terseret pada setiap masalah yang ada.
Sungguh hal yang merepotkan bagi tipe orang sepertiku.
Setelah Bu Yuni melihat sekitar dan tidak menemukan relawan yang angkat tangan. Lalu ia berkata lagi
"Tidak ada yang mau angkat tangan? Hmm.... Baiklah kalo begitu....."
Bu Yuni melihat kertas absensi yang ada di tangannya. Firasatku mengatakan bahwa dia akan memilih ketua kelas secara acak dari absensi itu.
Jumlah murid dikelas ini adalah 40 orang. Jika dipersentasekan, peluang aku akan terpilih menjadi Ketua kelas adalah 2,5%. Angka tersebut adalah angka yang sangat kecil, bahkan hampir mendekati nol. Meskipun begitu, aku tidak boleh menyepelekan angka tersebut. Tidak ada kemungkinan bahwa aku tidak akan terpilih menjadi Ketua Kelas.
Sepertinya Bu Yuni sudah membulatkan keputusan dan sudah menemukan nama yang akan menjadi Ketua Kelas. Dia membuka mulutnya dan apa yang dia katakan membuatku gempar.
"...... Riki Aida Putra. mana yang namanya Riki?"
Aku terkejut.
Riki Aida Putra itu adalah namaku. Sial, kenapa dari 40 orang namaku yang terpanggil sih!!
Apakah aku akan diam saja? Tidak tidak tidak, aku sudah memperkenalkan diri didepan tadi. Dengan berat hati, aku mengangkat tanganku.
"Iya."
Kontak mata kami pun bertemu dan pandangan semua murid tertuju padaku.
Ngapain pada ngelihatin gua, kamvret!! Kalian kira gua pelaku pengoboman!!
Tatapan mereka seperti peluru tajam yang mengarah kepadaku. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi mereka masih merupakan orang asing.
"Kamu akan menjadi Ketua Kelas!" kata bu Yuni
"Hah? Saya tidak mau Bu."
Tentu saja, aku menolak permintaanya. Aku tidak ingin memiliki tanggung jawab yang besar. Menjadi ketua? Yang benar saja!!
Setelah mendengar kataku yang sopan, ekspresi Bu Yuni berubah dan membuatku terkejut.
"Kamu ..... menolak?"
Disaat Bu Yuni berkata seperti itu, atsmosfer yang kurasakan menjadi berat dan tak menyenangkan.
Seram sekali, dia membuatku merinding.
Bagaimana dia bisa memberikan senyuman yang hangat kepadaku sambil berkata dengan nada yang seseram itu.
Mungkin saja mereka tidak menyadarinya, tapi aku berbeda. Aku menyadari sikapnya.
Kau tahu? Itu adalah salah satu sikap yang dimiliki oleh psikopat untuk menutupi niat membunuhnya. Senyuman yang manis dengan memegang pisau yang dia sembunyikan dibelakang tubuhnya dan bersiap untuk melakukan aksinya.
Serius ini? Apa ada pisau di tasnya? Apa aku masih hidup untuk hari esok?
Akhirnya aku mengetahui bahwa rumor yang dikatakan kakak kelas adalah benar. Jadi ini yang dinamakan haus darah.
Bu Yuni mungkin memiliki kemampuan yang membuat seorang laki-laki tertarik dengan penampilannya. Kulit yang bening, mata yang besar, rambut yang panjang, tubuh yang.... Hmm.... dan senyuman yang cerah adalah faktor yang membuatnya sangat menarik. Dia seperti tanaman yang dinamakan Butterworth yang terlihat selalu menggoda sekitar dengan parasnya dan pada akhirnya dia menerkam targetnya tanpa ada rasa ampun.
Singkatnya, Bu Yuni memang menakutkan.
"Bukannya saya tidak mau Bu Yuni, tapi ..."
__ADS_1
Aku berkata dengan gugup, mengusap kepalaku yang tidak gatal dan tatapanku mengarah pada hal yang lain. Kemudian, aku terhenti dan bingung mau berkata apa seakan-akan tidak ada perkataan lagi di kepalaku ini.
"Tapi apa?"
Dia bertanya karena aku terdiam. Ekpresi Bu Yuni berubah menjadi ekspresi penuh tanda tanya.
"Bagaimana dengan yang lain, mungkin saja ada yang berubah pikiran untuk menjadi ketua kelas." saranku
Bu Yuni terlihat berpikir kembali seperti memikirkan perkataanku tadi.
"Baiklah, ada yang mau menjadi ketua kelas?" tanyanya kembali kepada semua murid.
Keheningan dimulai, para murid hanya melihat kekiri dan kekanan seperti sedang mencari dan bertanya 'apakah ada orang aneh yang mengangkat tangannya?'
Suara jam dinding menjadi latar belakang suara di ruangan ini yang membuat hatiku tak karuan. Suara tersebut seperti menjawab soal di acara. Jika kalian tidak ada yang mengangkat tangan, maka kalian, tidak, aku akan kalah.
Namun, tidak ada yang berubah sama sekali, tidak ada satu pun murid yang angkat tangan.
"Tuh kan tidak ada."
"Ehh??"
"Karena tidak ada yang mengangkat tangan, kamu akan menjadi Ketua Kelas!"
"Saya kan ga-"
"Lagipula kamu sudah angkat tangan. Artinya kamu sudah menerimanya." kata Bu Yuni memotong perkataanku dengan cepat.
"Saya kan dipanggil sama ibu, karena itu saya angkat tangan."
"Aku tidak menyuruhmu angkat tangan." balas Bu Yuni dengan jujur.
Aku terdiam karena perkataanya. Lalu, menelan ludahku sendiri karena kebodohan yang aku buat. Aku tidak bisa membalasnya lagi karena aku memang melakukan sebuah kecerobohan.
Aku merasa sedang berada disebuah tembok yang besar, tidak bisa kemana-mana dan akhirnya seseorang menembakkan sebuah peluru di snipernya itu kepadaku.
Kau tahu? Seseorang yang menembakkan sniper itu adalah Bu Yuni.
Singkatnya dia pandai untuk memojokkan seseorang.
Meskipun begitu, aku tidak boleh menyerah. Aku teringat kepada 'kata bijak' yang kudapatkan dari sebuah SosMed dan akhirnya kata itu menjadi sebuah prinsip yang selalu kupegang teguh. Kata keren tersebut yaitu 'menyerah hanyalah orang yang lemah'.
"Tapi kan Ang--"
"Baiklah, aku akan memberimu pilihan."
Bu Yuni memotong perkataanku lagi. Apakah dia tidak tertarik dengan pernyataanku? Dimana letak kebebasan pendapat?
"Pilihan?"
"Iya, ada 3 pilihan, Riki. Tapi, kamu harus berjanji memilih 1 dari 3 pilihan tersebut."
Pilihan ini mungkin saja memilih jabatan kelas selain Ketua Kelas. Jika benar, aku sangat-sangat menyetujuinya.
Apalah itu, yang penting tidak menjadi Ketua Kelas.
"Baiklah." ucapku menyetujuinya
"Karena kamu berkata 'baiklah' berarti kamu sudah menyetujuinya kan?" tanya Bu Yuni kepadaku.
Aku hanya mengangguk, memberikan isyarat setuju kepada Bu Yuni. Aku menyiapkan telinga untuk mendengarkan perkataannya. Aku tidak akan melewatkan satu katapun darinya. Bu Yuni segera membuka mulut.
"Pilihan pertama adalah ya, kedua adalah yes dan ketiga adalah oke. Jadi, mana yang kamu pilih?"
Aku mengedipkan mataku beberapa kali setelah mendengar perkataanya. Penglihatanku menjadi kosong seperti telah disapu bersih. Dari sekian detik yang sudah terlewat, akhirnya aku terkoneksi kembali dengan otakku dan dengan refleks aku berkata "Eh?"
Ya? Yes? Oke? Tidak ada jawaban yang Tidak? No? atau Nope? Lagipula pilihan-pilihan tersebut hasilnya....
"......Bukannya sama saja Bu?"
"Yap, benar sekali"
"Ehh??"
Apa itu yang disebut pilihan Bu Yuni yang cantik dan baik? Bagaimana bisa itu disebut pilihan? 3 pilihan tersebut sama-sama mempunyai arti setuju.
"Semuanya tidak ada yang keberatan kan, Riki menjadi Ketua Kelas?" ucap Bu Yuni kepada semua murid.
"Tidak." sebagian murid menjawabnya sembari tersenyum
"Eeehhhhh???" ucapku terkejut
Aku terkejut, mereka kompak sekali hanya untuk menjadikanku sebagai Ketua Kelas.
Bukannya aku senang atau terharu sambil meneteskan air mata dramatis karena mereka mempercayaiku untuk menjadi pemimpin mereka. Akan tetapi, hanya saja perasaan yang menganjal dihatiku ini begitu ingin meledak dengan dahsyatnya.
Dapat dikatakan persaaan tersebut ibaratkan aku sedang menggali sebuah lobang yang besar, lalu sekiranya sudah sangat dalam, aku melompat dan terjun kedalam lobang tersebut dan berteriak dengan keras untuk menunjukkan rasa bahagiaku ini.
Karena itu, untuk balasan karena mereka mau menjadikanku Ketua Kelas, ada hal yang aku ingin lakukan kepada mereka supaya mereka menyadari perasaanku ini. Aku ingin berkata didekat gendang telinga mereka satu per satu dengan suara yang sekeras-kerasnya dan mengatakan bahwa mereka semua.....
Kamvret!!!!
Terimakasih sudah memilihku, kamvret!!!
"Selamat sudah resmi menjadi Ketua Kelas!" ucap Bu Yuni dengan senyuman dan nada yang hangat.
Apanya yang 'selamat' Bu Yuni yang cantik? Ucapan 'selamat' diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang berbahagia. Tapi, aku tidak bahagia disini!
Salah satu jalan terbaik untuk keluar dari situasi ini adalah memberikannya sebuah alasan yang mutlak dan logis, dalam artian dia tidak bisa membalas alasanku lagi.
Karena itu aku harus berpikir kembali untuk membuat alasan tersebut. Aku memeras otakku untuk berpikir lebih keras lagi dan tak lama kemudian akhirnya aku menemukan beberapa ide.
Oke, aku akan menolaknya dengan beberapa ide tersebut yang baru muncul di kepalaku ini.
Baiklah, inilah saatnya untuk berbicara.
Sebelum aku mencoba membuka mulutku, Bu Yuni berkata
"Dan Riki........ kamu tidak akan menolaknya lagi kan?!" lanjut Bu Yuni dengan senyuman yang hangat dan nada yang seram.
Woah... Seram, seram sekali. Sanking ketakutan, aku refleks berkata "Heh? I-I-Iyaa". Lalu dia tersenyum karena jawabanku.
Dengan ini aku menjadi Ketua Kelas di kelas ini.
Flashback off.
Begitulah cerita singkat kenapa aku menjadi babu dikelas ini.
Berbeda dengan ketua-ketua lainnya. Ketua kelas adalah babu.
Biar kuberi contoh satu hal yang paling mendasar.
Arti dari ketua sendiri adalah atasan dari sebuah organisasi. Yang namanya 'ketua', salah tugasnya adalah seorang yang dapat menyuruh bawahannya untuk melakukan tugas yang ia berikan. Namun, berbeda dengan ketua kelas, bahkan berbanding terbalik dengan kenyataan tersebut.
Kenyataannya, Ketua Kelas selalu disuruh melakukan tugas seperti mengumpulkan semua PR ke ruang guru. Dan, orang yang menyuruh Ketua Kelas melakukan itu biasanya hanyalah murid biasa.
Jadi, apa itu yang dimaksud dari ketua?
Singkatnya, ketua kelas adalah babu.
__ADS_1
Yang lebih parahnya lagi adalah keinginanku ingin menjadi murid biasa-biasa saja menjadi gagal total karena guru sadis ini. Tidak peduli apapun itu, menjadi ketua kelas setiap minggunya pasti akan merasakan yang namanya 'perintah'.
Dan satu lagi keinginan yang tidak tercapai dikelas ini adalah