
~Dia Yang Menyebalkan~
Karena aku belum mengantuk, sebaiknya aku mengerjakan tugas yang baru diberikan tadi. Aku selalu mengerjakan tugas dihari tugas itu diberikan. Aku memang anak yang rajin, karena aku tidak suka hal yang merepotkan dan terlambat.
Tugas hari ini hanyalah Matematika.
Matematika adalah pelajaran yang aku sukai, karena matematika mengajarkanku untuk berhitung dan mengasah logika. Dengan kata lain, jika diperumpamaan di dunia nyata, kita harus melakukan perhitungan atas apa yang kita perbuat dan akan menjadi apa di masa depan nanti. Begitu pun dengan logika. Logika selalu membantuku untuk melakukan perhitungan tersebut.
Karena itu untuk melatih kedua hal tersebut, aku harus belajar matematika.
Sayang sekali, tugas hari ini hanya 5 soal saja. Padahal, aku memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya.
Dalam mengerjakan soal ini, aku harus melakukan kosentrasi yang penuh untuk membereskannya dengan cepat. Suasana dirumah ini selalu menguntungkanku, sehingga aku dapat berkosentrasi.
Seharusnya begitu, tapi konsentrasiku hilang ketika....
"Sebaiknya itu dikalikan dulu, baru ditambah!"
Aku terkejut. Dia tiba-tiba berada disampingku.
Aku sudah tahu bahwa dia mungkin dapat menembus apapun. Karena itu, meskipun aku sudah mengunci pintu kamarku, aku tahu pasti dia dapat melewatinya.
Hal yang membuatku terkejut adalah hawa keberadaanya yang tidak bisa aku rasakan.
Apakah sebenarnya dia tidak menembus pintu itu melainkan melakukan teleportasi??
"Aku sudah tahu itu, berisik sekali!"
"Memangnya kenapa kalo berisik? Bukannya kamu bilang kepadaku 'lakukan saja sesukamu' kan? Dengan kata lain, kamu sudah mengizinkanku kalo aku boleh melakukan apapun yang aku mau. Benar kan??"
"............"
Ternyata dia memiliki sifat mencerna perkataan (atau biasa disebut baper) dan berniat akan melakukan apa saja untuk menggangguku. Meskipun dia berbicara banyak dengan suara yang lumayan keras, aku tidak terlalu terganggu olehnya. Karena ini adalah pelajaran yang aku suka dan tugas ini terlalu mudah bagiku.
"Hei.... kamu mengabaikanku lagi!!!"
"............"
"Hei, hei, halo, halo." ucapnya membisik ditelinga kiri dan kananku secara bergantian
"..........."
"Tidak bisakah kamu mendengar perkataanku??"
Aku pun menengok kearahnya. Kontak kami berdua pun bertemu. Lalu aku berkata dengan cepat. "Tidak"
"Jika kamu membalas perkataanku, itu artinya kamu dapat mendengarku."
".............."
"Eh?? Aku diabaikan lagi."
"..........."
Aku tetap mengabaikanya dan mencoba mengembalikan kosentrasiku yang hilang.
Setelah terkumpul kembali, aku pun mengerjakan tugasku lagi.
Disisi lain, entah mengapa dia menjadi terdiam dan hanya melihatku yang sedang mengerjakan tugas. Namun, aku tidak memperdulikannya. Jika aku memikirkannya, maka itu akan mengganggu kosentrasiku lagi.
Akhirnya selesai.
Aku mengerjakan soal tersebut hanya menghabiskan waktu 15 menit saja.
Biasanya, belajar atau mengejarkan tugas membuat pelajar menjadi cepat mengantuk. Dapat dikatakan, belajar adalah obat mengantuk yang paling ampuh dan efeknya setara dengan obat tidur. Tapi, ini aneh, aku masih belum merasakannya.
Aku berpikir cara lain untuk mengantuk.
Menghintung domba lompat yang lewat hanya membuatku bosan dan itu tidak akan berfungsi terhadapku.
Sebaiknya hal yang membuat menguruskan pikiran atau tenaga.
Yang kupikirkan adalah memainkan sebuah game stategi.
Game strategi adalah game yang dapat mengurus pikiran dan hal itu membuat pikiran menjadi lelah.
Ya, aku akan bermain game itu.
Game yang aku mainkan adalah game online. Singkatnya, dia membutuhkan sebuah sinyal untuk menjalankannya. Aku berpikir untuk menuju ke ruang tamu karena disana sinyal hpku lebih besar daripada berada dikamar.
Aku pun berdiri untuk beranjak pergi dari sana.
"Sudah selesai?? Cepat sekali."
"........"
Tanpa memperdulikannya, aku tetap beranjak pergi dari sana.
"Kamu tidak ingin memeriksa ulang tugasmu?"
Aku berhenti dan terdiam. Jika dipikir-pikir, dia pasti akan mengikutiku jika aku tidak berbuat sesuatu. Karena itu, aku mebalikkan badanku dan mencoba untuk membuka mulut
"Buat apa??"
"Takutnya ada kesalahan. Kamu tidak berpikir seperti itu??"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak melakukan kesalahan."
Menurutku sendiri, aku jarang membuat kesalahan ketika mengerjakan tugas. Apalagi, tugas itu adalah matematika, pelajaran yang sangat aku sukai.
Bukannya aku sombong, jika kau menanyakan tentang nilai matematikaku, maka jawabannya adalah nilaiku selalu diatas rata-rata.
"Bagaimana bisa tahu?? Padahal kamu belum memeriksanya ulang. Kamu tidak takut nilaimu menjadi jelek??"
"Aku sudah bilang tidak perlu. Kalo kau tidak yakin apa yang aku kerjakan, kau boleh memeriksanya. Itu juga kalo kau pintar sih."
Perkataanku membuat dia mengerutkan alisnya. Kurasa, dia tidak suka diejek seperti itu.
"Kamu menghinaku ya?? Baiklah aku akan periksa tugasmu."
"Yah... berjuanglah, makhluk aneh." ucapku sembari membuka pintu
"Siapa yang kamu panggil makhluk aneh??"
"Kau lah, siapa lagi?"
Aku pun menutup pintunya kembali tanpa menguncinya karena aku sadar bahwa percuma saja melakukan itu.
Setelah beberapa langkah aku berjalan, aku berhenti dan menghadap ke arah pintu.
Aku menatap pintu tersebut sebentar, menunggu makhluk tersebut menembus pintu ini.
Bukannya aku tertarik tentang itu, hanya saja, aku ingin memastikan tentang apakah dia dapat melakukan teleportasi atau tidaknya??
Namun, tidak ada tanda-tanda yang mucul dari sosok gadis itu. Nampaknya, rencanaku berjalan dengan lancar. Membuat dia sibuk untuk sementara adalah rencanaku. Yah, meskipun rencanaku yang satu lagi itu gagal.
Setelah sampai di ruang tamu, aku pun berbaring di sofa yang panjang dan membuka aplikasi game yang ingin aku mainkan.
Loading untuk memasuki game ini menghabiskan setidaknya 30 detik. Hal tersebut sangatlah membosankan, karena yang namanya 'menunggu' itu pasti sangat tidak menyenangkan. Tapi, hal tersebut befungsi setidaknya membuatku sedikit mengantuk.
Aku memulai permainan.
Tanpa memperdulkan event yang ada, aku langsung tekan rank, lalu start.
Aku tidak memperdulikan daftar temanku juga. Karena
Aku ini solo player.
Sebaiknya, aku memakai hero penembak saja.
Aku suka memakai hero penembak atau penyihir, karena aku menyukai stategi dari hero tersebut.
Memikirkan masa depan seperti 1 atau 2 detik kemungkinan yang terjadi jika aku mengeluarkan skill kepada musuh dan aku harus memahami jangkauan seranganku.
Hero tersebut juga akan selalu diincar oleh musuh, karena itu aku harus memikirkan kemungkinan lain bahwa aku tidak akan terjebak dan harus menghindari serangan lawan.
Tidak terasa, permainan itu sudah berlangsung 10 menit.
Menit ke-10 adalah menit penentuan, dimana kedua tim akan mengadakan pertarungan dengan strategi yang mereka miliki.
Setelah dilihat, sesuatu yang menutup ponselku ini adalah sebuah tangan dengan kulit putih yang mulus. Aku berpikir bahwa tangan ini adalah tangan seorang gadis yang cantik.
Yah.... ternyata tangan ini adalah tangannya dan dia sedang menutup ponselku dengan itu.
"Hei, awas tanganmu!!!"
"Tidak mau."
Setalah menghindar dari tangannya. Suara terdengar dari hpku yang berbunyi 'wipe out'.
Yah... itu adalah petanda bahwa kau mati.
"Aaaahhhhh..... jadi mati kan!! Kau ....."
".............."
Aku tidak bisa menahan rasa kesalku padanya. Namun, dia hanya tersenyum polos seperti sedang tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
Sayangnya, aku adalah manusia yang baik.
Kalau aku adalah binatang buas, pasti aku akan berkata 'Grrrrrrrr' atau 'Arghhhhh', lalu mencabik-cabik tubuhnya.
Siapapun akan kesal, jika waktunya sedang serius, diganggu seenaknya.
Bermain game adalah hobi dan hobi harus dilakukan dengan serius. Singkatnya, bermain game adalah keseriusan.
Dalam game ini, meskipun hanya 0,5 detik, itu sangatlah berarti.
Karena dalam waktu segitu, keadaan dapat berubah drastis dan menjadi terbalik.
Dengan kata lain, meskipun kalian menganggu orang yang bermain game hanya dengan 0,5 detik saja, kalian dapat menimbulkan peperangan dengan orang tersebut.
"Kau bisa diam tidak??"
"Tidak!"
Dia menolaknya dengan wajah yang polos.
Sungguh kesalnya diriku melihat wajahnya itu. Rasa kesal ini hanya bisa kupendam didalam hati. Lagipula, karena dia seorang perempuan, aku tidak mungkin berkata kasar kepadanya.
"Diam disitu dan duduk. Aku sedang bermain game dan tidak boleh diganggu oleh siapapun."
"Bukannya kamu sendiri yang bilang?? 'Lakukan saja sesukamu!'. Karena itu, aku akan melakukan hal sesukaku. Kamu tidak ada masalah kan dengan itu??"
"Tentu saja akan menjadi masalah karena kau menggangguku."
__ADS_1
"Memangnya kenapa?? Bukannya kamu sendiri bilang tidak peduli jika diganggu olehku?? Artinya kamu sendri yang bilang tidak keberatan jika aku melakukan itu kepadamu."
"..........."
Aku hanya menyeringai kesal kepadanya.
Dalam perkataan yang dia berikan, aku menyadari bahwa dia itu
Gadis yang cukup pintar.
***
Huh.... Lelah sekali.
Mungkin aku sudah kelelahan karena bermain game tadi.
Tidak, rasa lelah itu karena dia menganggu sepanjang waktu dan hal itu membuat staminaku habis.
Bayangkan saja, aku harus berdiri dan berjengke disaat bermain game karena dia terus mencoba untuk menutupi layar ponselku.
Untung saja dia lebih pendek dariku sehingga dia tidak bisa menggapai hpku meskipun dia melompat-lompat. Namun, tetap saja, aku harus berjengke selama permainan itu berlangsung.
Rasa kelelahan ini sudah dapat membuatku tertidur.
Aku beranjak ke tempat tidur dan menutupi diriku dengan selimut.
Untuk mendapatkan mimpi baik, aku harus memikirkan hal-hal yang baik juga.
Aku memikirkan bahwa aku memiliki kekuatan yang overpower. Tapi, aku tidak ingin seperti pria botak berjubah yang hanya mengalahkan musuhnya dengan 1 pukulan. Itu akan membuat mimpi menjadi membosankan. Yang aku inginkan adalah pertarungan yang hebat dengan raja terakhir. Mimpi ini seperti cheat, singkatnya, aku langsung melawan raja terakhir.
Aku menutup mataku dan menuju gerbang mimpi.
Aku mencoba membuka pintu tersebut, namun....
Pintu itu hancur.
Aku mendengarkan suara yang sangat berisik disekitarku, seperti sedang melihat konser yang terpaksa.
Suara ini, ternyata bukan dari mimpiku. Tapi, suara ini dari duniaku, yaitu dunia nyata.
Yah... ternyata dia sedang bernyanyi dengan keras dan menghancurkan mimpiku.
"Aku memang tak sebodoh yang kau pikirkan."
"Karenaku punya sebuah mimpi."
"Yang tak semudah untuk kau kalahkan."
Dia menyanyikan sebuah lagu yang sangat aku sukai. Judulnya adalah 'Lelaki Terhebat'.
Jika dia adalah penyanyi aslinya, pasti akan membuatku tertidur dengan lelap. Namun, jika dia yang bernyayi, rasanya seperti sedang merusak karya seseorang.
Aku hanya menutup semua badanku dengan selimut, menutup telinga kananku dengan bantal dan menutup telinga kiriku dengan tangan. Berharap tidak bisa mendengar suaranya lagi.
"Dan aku..... terlalu kuat untuk kau kalahkan. "
"Terimalah ini. "
"Sayang."
Suaranya semakin keras dan membuat otakku bergetar. Menurutku, dia terlalu bersemangat. Dia merasa bahwa dunia ini adalah dunia miliknnya, tidak memperdulikan orang yang ada disekitar.
Benar juga, dia melakukan ini hanya untuk menggangguku, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi seperti ini cara yang dia gunakan untuk mengganggku tanpa sentuhan fisik.
Aku terus menekan kedua telingaku dengan kuat.
"Aku... perempuan tak terkalahkan."
"Meski.... Hati ini kau patahkan."
"Tetap... tegar untuk diriku."
"Melupakanmu..... Dari hidupku. "
"Teret teret teret teret tet"
Tunggu, kurasa ada kesalahan pada lirik yang dia nyanyikan.
Bukan itu masalahnya sialan!!
Aku ingin beristirahat dengan tenang dan memanjakan tubuhku di atas kasur yang empuk. Namun, dia menghalanginya. Meskipun tubuhnya terlihat dewasa, namun dia itu seperti anak kecil yang sedang menginginkan sebuah permen. Jika tidak dituruti keinginannya, maka anak kecil tersebut terus menangis sampai keinginannya terpenuhi.
Namun, ada cara lain untuk membuat anak kecil itu berhenti menangis tanpa harus memenuhi keinginannya. Ya, yang aku maksud adalah menunggu dia lelah karena menangis. Ada kalanya air mata itu berhenti mengalir.
Karena itu, aku akan mengabaikannya beberapa waktu dan berharap dia lelah karena bernyanyi seperti itu.
Sepuluh menit terlah berlalu. Tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Suara itu tidak pernah hilang dan masih meloncat-loncat dikepalaku.
Dia masih bernyanyi dalam keadaan sangat bersemangat seperti menghayati lagu tersebut, bahkan dia menggunakan melodi gitar dengan suara 'teret teret teret tet'. Ya, meskipun dikamar mandi aku juga melakukan seperti itu sih.
Aku menyadari, bahwa hal yang kulakukan adalah hal percuma. Suaranya tidak berkurang sedikitpun. Apakah dia tidak kenal yang namanya lelah??
Dapat dikatakan, aku sudah mencapai puncak ke-stres-an dan itu membuatku menyerah.
Yang bisa kulakukan untuk saat ini adalah gejatan senjata dan mencoba untuk mendengarnya.
"Baiklah. baiklah.. Aku mengerti."
Dia benar-benar menganggguku tanpa menggunakan sentuhan fisik. Ekspreksinya terlihat senang seakan-akan mengartikan bahwa dia sudah memenangkan pertandingan ini.
__ADS_1
Dapat dikatakan untuk saat ini aku kalah telak olehnya.
Dan dapat dikatakan juga bahwa ternyata akulah yang bodoh.