Roh Menyebalkan

Roh Menyebalkan
Tiga(3)


__ADS_3

                                                                ~Dia Yang Merasa Tenang~


 


Tempat ini adalah tempat yang sangat indah. Tempat ini digunakan untuk bersantai dikala lelahnya hidup.


Disebalah kiri sana adalah taman dengan bunga bewarna-warni yang dapat membuat mata terpukau dengan indahnya bunga tersebut.


Dan didepanku adalah danau dengan pemandangan langit sore yang sangat menakjubkan.


Dan lebih indahnya lagi, bahwa tempat ini harganya gratis.


Aku duduk dikursi yang sudah disiapkan di tempat ini. Tentu saja, kursi ini sedang kosong, tidak ada yang mendudukinya.


Aku sedang menunggu pesananku dari seseorang yang percaya diri akan taruhan yang dibuatnya, namun dia kalah.


Tidak lama kemudian dia datang


"Nih takoyakinya!" ucap Alex sembari memberikan sebuah dus kotak putih kepadku.


Aku menerimanya dan berkata "Terimakasih".


Lalu, Alex duduk disampingku dan membuka handphonenya yang berdering. Mungkin dia sedang menerima sebuah pesan.


Tanpa memperdulikannya, aku membuka kotak tersebut dan melihat didalamnya ada 10 takoyaki dengan sebuah tusukan kecil.


Aku memakan salah satu takoyaki yang berukuran besar dan mengunyahnya secara perlahan.


Rasanya enak sekali, apalagi diselimuti dengan pemandangan yang indah. Rasa ini adalah hal yang membuat hidupku selalu bewarna.


"Dengan ini aku sudah memenuhi janjiku kan?" ucap alex sambil mengunyah takoyaki. Ternyata dia sudah tidak memainkan HPnya lagi.


Setelah menelan takoyaki yang aku kunyah tadi, aku berkata


"Sudah? Apa maksudmu?" tanyaku


"Itu aku sudah membeli takoyaki yang kamu inginkan." jawab alex


"Ini hanya 10 biji."


"Bukannya tadi kamu yang bilang?" tanya Alex terheran


"Memangnya aku bilang 10?" tanyaku balik


"Eh? Tunggu tunggu tunggu...." Alex menutup matanya seperti memikirkan sesuatu. Mungkin dia ingin mengingat apa yang aku katakan tadi siang. ".... Eh? Maksudmu 10 ribu biji?"


Akhirnya dia mengingat perkataanku. Tapi, sudah terlambat untuk menyadarinya, Alex.


"Ya 10 ribu. Angka 1 yang ditemani dengan angka 0 yang berjumlah 4 dibelakangnya." Kataku mejelaskan supaya dia paham.


"Hah? Kau gila ya?" ucap alex kaget dan meninggikan suaranya. Dan aku juga ikut terkejut karena terkejutnya Alex


"Aku masih waras."


"HAH??"


'HAH'? Kenapa kamu kaget kalo aku masih waras? Memangnya kau pikir bahwa aku sudah gila? dasar sialan!


Jika dipikir-pikir, 10 ribu dalam 1 hari tidak mungkin juga sih untuk dilakukan. Karena itu, untuk menguntungkan kedua belah pihak, aku akan memberikan keringanan.


"Tenang saja, kau boleh mencicilnya. "


"Bukan itu masalahnya!!" bantah alex dengan keras


Ekspresinya seperti sedang marah. Namun, sudah pernah kukatakan, bahwa marahnya Alex seperti seseorang yang sedang tidak marah.


Berbeda dengan Bu Yuni, ketika dia sedang marah, dia sangat memberiku sebuah tekanan yang sangat luar biasa. Aura mematikannya dapat menembus pertahananku. Bulu kudukku langsung berdiri tegak. Bahkan aku selalu mengeluarkan keringat dingin karenanya.


"Lalu, apa masalahnya?" tanyaku


"10 ribu? Itu tidak sedikit kau tahu?"


"Aku tahu."


"Lalu kenapa kau memintanya?"


Oh, jadi itu masalah yang dipikirkan Alex. Bukannya dalam taruhan itu, orang yang kalah harus mengabulkan permintaan apapun oleh sang pemenang??


Aku meminta 10 ribu takoyaki dan dengan bangga dia menerima begitu saja permintaanku, bahkan dia berkata 'Lelaki sejati tidak akan menarik kata-katanya!'.


Lalu, pertanyaanya adalah 'Siapa yang salah?'


"Kalo kau tahu bahwa 10 rb itu jumlahnya tidak sedikit, kenapa kau menerima permintaanku? Kau seharusnya menolak itu." tanyaku


"Aku tidak tahu bahwa itu artinya 10rb biji."


"Itu salahmu karena kau tidak tahu."


Yah... itu salahmu karena kau tidak menyadarinya, jangan arahkan kesalahanmu kepadaku dong!!!


"Bagaimana aku bisa tahu, kalo kau tidak mengatakannya!!!" ucap Alex


"Bagaimana aku bisa tahu, kalo kau tidak memahaminya!!!" bantahku


Setelah mendengar bantahku, Alex mengacak-ngacak rambutnya seperti merasakan frustasi yang amat dalam.


Jika dipikir-pikir lagi, mungkin permintaanku bukanlah hal yang sulit baginya. Hanya saja dia menganggapnya hal itu seperti diambang kematian, atau lebih tepatnya dilebih lebihkan.


Well, aku akan memberitahu sesuatu yang dapat membuat dia tenang.


"Rata-rata hidup manusia adalah 79 tahun. Umurmu masih 16 tahun, Alex. Jadi, 79 dikurang 16, hasilnya adalah 63. Lalu, 63 dikali 12 adalah hm.. 756. Dan 756 dikali 30 adalah hmmm..... itu 8-6-22. Jadi kamu masih mempunyai waktu kurang lebih 22.680 hari lagi." Ucapku, lalu aku menepuk pundaknya dengan tangan kiriku dan berkata "Kau hanya perlu setidaknya 999 hari lagi untuk melunasi utangmu."


Aku berhitung dengan menggunakan jari. Tidak sulit bagiku berhitung seperti itu, karena aku menyukai logika dan berhitung. Namun, selama ini, aku hanya menggunakannya disaat mengerjakan PR atau bermain game.


Aku baru mengetahuinya bahwa hal itu dapat digunakan dalam keadaan seperti ini. Jadi begini, salah satu manfaat aku belajar pelajaran matematika.


Terima kasih matematika.


Namun, setelah aku memberitahunya, ekspresi Alex tidak berubah sama sekali dan dia menepis pelan tanganku dengan tangannya


"Bodo... Bodo Amat." ucapnya kesal


"Si amat ga bodo."


"Yaudah kalo begitu, bodo Riki!"


"Bukannya kau yang bodoh? Kau tidak bisa membedakan 10 dengan 10 ribu."


"Ah.... aku pulang saja lah"


Dia pun berdiri, lalu beranjak pergi dariku dengan membawa kotak dus putih miliknya.


Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh dariku dan terlintas dipikiranku tentangnya adalah....


Dia Memang Bodoh.


Tiba-tiba dia berhenti dan membalikkan badannya. Tatapan seorang Otaku yang kesal mengarah kepadaku.


"Lihat nanti, lihat saja, aku akan membalasnya." ucap alex sembari menunjuk kepadaku


"Aku akan menantikannya."


"Dasar kau licik"


"Dasar kau bodoh"


"Argh......"


Dia pun marah dan melepaskan sepatu kanannya. Lalu, melemparkan sepatu itu kepadaku.


Kecepatan lemparan yang tidak terlalu cepat dan aku dapat dengan mudah menghindarinya.


Tapi, aku tidak akan melakukan itu.


Aku menangkis sepatu tersebut dan membuat benda itu terjatuh kesebuah air yang luas, dalam dan indah.


Ya, air yang kumaksud adalah sebuah danau.


Melihat sepatunya terjatuh di danau, dia terkejut.


"Aah.... Sepatuku" ucap alex menghampiri sepatunya.


Pendaratan yang tepat, mungkin karena tangkisanku yang sangat bagus dan akurat.


Sepatu itu terjatuh dengan posisi dimana alas sepatu berada pada sisi atas air sehingga membuat sepatu tersebut mengapung.

__ADS_1


Sepatu yang mengapung seperti kapal yang sedang berlayar membuatku teringat pada film Titanic.


Dan juga setelah teringat film itu, lagu khasnya selalu terlintas dikepalaku ini. Lagu tersebut berputar pada saat Alex menggapai-menggapai sepatunya yang semakin menjauh. Aku melihat ini seperti sedang menonton sebuah film pendek yang berjudul 'Jangan Pergi Sepatuku!!'.


Setelah berusaha dengan keras, akhirnya dia mendapatkan sepatu itu.


Ternyata film pendek ini berakhir dengan Happy Ending.


"Ahh..... jadi basah"


Dia nampaknya frustasi karena sepatunya yang basah. Terlihat air yang berkecak jatuh disepatunya dan membasahi tanah. Berakhir dramatis kah?? Well, karena itulah film menjadi indah.


Ngomong-ngomong, ternyata akhir dari film pendek ini bukanlah Happy Ending, tapi Sad Ending.


"Iyalah basah karena kena air. Kalo gosong, berarti karena api." ucapku menjelaskan


"Bodo amat!!"


"Si amat ga bodo."


"Bodo Riki!!"


"Bukannya kau yang bo-"


"Ahh.... berisik!!!" potong Alex sembari mengibas-ngibaskan sepatunya sehingga aku terkena cipratan air tersebut.


"Hei!!! Hentikan!!!! apa yang kau lakukan? Hei! Bajuku jadi basah ini."


"Iyalah basah karena kena air. Kalo gosong berarti karena api."


"Hei...."


Aku terkena cipratan air terus menerus sehingga baju dan kotak dus takoyaki ini ikut terkena air tersebut. Hal yang paling menyakitkan bukanlah terkena cipratan air tersebut melainkan kata-kata yang ia berikan. Dan karena hal itu juga membuat selera makanku hilang.


Tapi, tidak apa-apa. Aku masih mempunyai 9.990 takoyaki lagi darinya.


***


Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan ke arah 4 sore. Yang kuketahui dari hal ini adalah waktu berjalan dengan sangat cepat tanpa disadari olehku.


Aku sedang berjalan pulang sendirian dengan membawa kresek hitam yang lumayan berat. Alex benar-benar meninggalkanku dan pulang duluan. Tapi, aku tidak memikirkan itu.


Untuk saat ini, aku ambil sisi positifnya yaitu aku bisa memikirkan sesutau jika sedang berjalan sendirian.


Merenungkan kesalahan dimasalalu sehingga tidak akan terulang lagi atau memikirkan masa depan tentang 'apa yang ingin aku lakukan nanti'.


Namun, ketika aku sedang memikirkan sesuatu, suara perempuan tiba-tiba memanggilku


"Riki!" teriak perempuan dari arah belakangku. Suara lembut ini sepertinya sudah tidak asing bagiku.


Karena aku merasa terpanggil, aku pun melirik kearah sumber suara tersebut.


Setelah melirik kebelakang, aku melihat seorang perempuan yang sedang berlari pelan. Seragamnya sama sepertiku dan aku mengenal perempuan ini


"Bella??" ucapku


"Kok kamu belum pulang kerumah?" tanya Bella, dia berhenti didepanku dan kami saling berhadapan.


"Tadi aku dan Alex ke taman dulu sebelum pulang kerumah." ucapku sembari kembali berjalan, Bella mengikuti dan menjajarkan langkahnya denganku.


"Kenapa tidak mengajakku?" ucapnya tiba-tiba marah


Seperti halnya dengan Alex, marahnya Bella seperti seseorang yang sedang tidak marah.


Yah, marahnya tertutupi oleh wajahnya yang sangat anggun sehingga mesikpun dia sedang marah, dia masih terlihat sangat cantik dan sangat imut bahkan lebih.


Disisi lain, aku berpikir untuk menjawab pertanyaannya supaya dia tidak marah.


"Bukannya kau ada urusan?" tanyaku


Setelah aku menanyakan itu, ekspresi Bella berubah menjadi gugup


"Yah... Begitu lah...." ucap Bella sembari mengelus pipi kanannya dengan jari telenjuk. Lalu dia menambahkan ".....Tadi aku ada urusan sedikit hehe"


Aku sudah tahu urusannya karena Alex yang memberitahuku meskipun aku tidak memintanya.


"Oh iya, Alex mana?" tanyanya melihatku


"Tadi dia pulang duluan." jawabku


"Mungkin dia sedang ada urusan."


"Oh begitu."


Sebenarnya yang terjadi bukanlah dia sedang ada urusan. Bukannya aku mencoba berbohong padanya.


Tidak, aku tidak berbohong kepadanya.


Maksudku alasan sebenarnya dia pulang duluan adalah karenaku, lebih tepatnya karena aku mengejeknya sehingga membuat dia kesal. Aku mengejeknya karena dia tidak terima dengan permintaanku yang terlalu berat baginya. Taruhan itu dapat dikatakan dengan urusan bukan? Dengan kata lain, dia sedang ada urusan denganku yang belum selesai dan dia melarikan diri.


"Kamu tidak kerja?"


"Hari ini kerjaku libur."


"Oh begitu."


"Kamu sendiri?"


"Kerjaku libur juga."


"Oh."


"Oh iya Riki..." ucap Bella sembari membuka tas, lalu menggerakkan tangannya kedalam tas seperti mencari sessuatu. Kemudian, seakan telah mendapatkan sesuatu yang dicarinya. Dia pun mengeluarkan sesuatu tersebut lalu menyodorkannya kepadaku dan berkata "....ini!"


Sesuatu ini adalah sebuah benda kotak berukuran kecil bewarna merah muda dengan pita merah yang melilitnya untuk menghiasi benda tersebut.


Benda ini adalah sebuah kado. Mungkin, kado ini diberikan untukku karena aku sedang berulang tahun hari ini.


Tidak, aku tidak akan langsung mengambilnya. Aku tidak mau disebut kegeeran. Karena itu, aku menanyakannya terlebih dahulu


"Untukku?"


"Iya, kado ini untukmu karena kamu sedang ulang tahun. Selamat ulang tahun, Riki." Ucapnya dengan senyuman yang cerah.


Aku pun mencoba meraih kado tersebut tanpa ragu karena kado ini memang diberikan untukku. Jika aku menolaknya, itu akan membuatnya kecewa.


Setelah mengambilnya, aku tersenyum kepadanya dan berkata "Terimakasih"


Setelah aku berkata seperti itu, Bella pun ikut tersenyum cerah dan berkata "Sama-sama"


Aku memasukkan kado itu ke dalam kresek hitam ini. Tidak mungkin aku membukanya sekarang, ini sungguh tidak adil bagi perempuan yang memberiku kado sebelum Bella. Karena itu, aku berniat membuka semua kado itu dirumah.


"Maaf baru memberimu sekarang."


"Kau tidak perlu meminta maaf! Justru aku yang harus berterima kasih."


Dia pun mengangguk.


Kupikir, dia tidak akan memberiku kado karena kami sudah berpisah pada waktu sekolah. Dan selama disekolah, dia tidak terlihat seperti ingin memberiku kado.


Aku tidak terlalu berharap juga sih. Namun, jika saja kami tidak bertemu dijalan ini, mungkin dia tidak akan memberiku kado. Pertemuaan ini sepertinya adalah takdir.


Alasan Bella memberi kado kepadaku sekarang adalah karena kami berdua tahu, jika saja Bella memberi kado kepadaku disekolah dan banyak murid yang melihatnya, maka kami akan menjadi bahan perbincangan dan digosipkan bahwa kami sedang berpacaran.


Kami sudah pernah digosipkan seperti itu, karena aku dan Bella selalu pulang bersama. Namun, aku dapat membantahnya dengan alasan 'kami pulang bersama karena arah pulang kami searah' dan akhirnya mereka berhenti menggosipkan kami.


Keputusan Bella memang tepat untuk memberiku kado disaat sepeti ini. Kukira dia tidak akan memberiku kado.


Tidak, sudah kukatakan bahwa aku tidak berharap dia memberiku kado. Sudahlah, lupakan.


Bella melihatku yang sedang membawa kresek hitam yang besar ini.


"Berat ya?" tanyanya


"Yah... lumayan."


"Karena aku memberimu kado, beratnya bertambah ya?? Maaf." Ucapnya dengan ekspresi bersalah dan melihat kebawah. Setelah itu dia berkata dengan menatapku "Mau aku bantu??"


Aku sedikit kesal karena perkataanya.


Aku pun meliriknya dan tatapan kami bertemu."Bella?"


"Apa?" ucapnya bingung


Dia memiringkan kepalanya, kebingungan. Aku rasa ada peluang disana. Karena ada kesempatan, aku pun menyentil keningnya dengan pelan.

__ADS_1


"Aw..." ucapnya menyentuh keningnya "... sakit tahu!"


Aku melakukan itu karena dia terus meminta maaf kepadaku padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.


Namun, apakah aku terlalu kencang menyentilnya ya? Padahal menurutku, aku menyentilnya dengan pelan.


"Sudah kubilang, kau tidak perlu meminta maaf!"


"Hmm... baiklah."


Bella hanya mengangguk dan mengusap-usap keningnya.


Setalah itu, keaadan canggung menimpa kami berdua dan entah kenapa di jalan ini, hanya terlihat kami berdua saja sehingga suasana disekitar berubah menjadi hening. Yang kami lakukan hanyalah melangkah kedepan.


Bella berjalan menatap sepatunya dan memegang pegangan tas dengan kedua tangannya. Karena dia tidak mencoba bercerita, apakah aku harus memancingnya? Mungkin, iya.


"Hei, Bella?"


"Apa?"


"Kau yakin?" tanyaku


"Yakin apa?" tanyanya bingung


"Menolak Ketua OSIS?" ucapku


"Eh? Tadi kamu melihatnya?" ucapnya terkejut


"Iya, dengan Alex."


Karena tidak ada orang lain selain kami berdua, aku dapat bebas menanyakan tentangnya. Meskipun dia tidak akan memberitahuku setelah aku bertanya, itu tidak apa-apa, setidaknya aku sudah mencoba untuk khawatir.


"Begitu ya." Ucap Bella. Suaranya terdengar seperti merendah dan melakukan kesalahan, lalu dia menambahkan "Maaf aku tidak memberitahu kalian soal itu."


"Tidak apa-apa."


Aku tidak berharap Bella menjawab pertanyaanku tentang alasan dia menolak Ketua OSIS. Namun, hanya saja, yang ingin ketahui darinya adalah 'apakah dia sudah mengetahui dampaknya' dan 'apakah dia sudah siap untuk menerimanya?'


Dan tak lama kemudian dia pun membuka mulutnya


"Yah... Ketua OSIS adalah orang yang tampan, baik, murah senyum dan terlihat dapat diandalkan. Bagi seorang perempuan, dia adalah orang yang sempurna untuk dijadikan pacar." ucap Bella


Terlihat dari wajah dan ekspresinya, mungkin dia mengatakan yang sebenarnya tentang Ketua OSIS. Meskipun hanya kemungkinan, tapi, aku percaya bahwa dia berkata dengan sejujurnya. Lagipula aku mengetahui bahwa Bella adalah tipe orang yang tidak suka berbohong.


Namun, dulu dia selalu menyembunyikan sesuatu dan memendamnya sendiri. Karena itu, aku mencoba memancingnya supaya dia tidak melakukan itu lagi.


Dia pun melanjutkan perkataanya


"Bukannya aku tidak menyukainya dan memberikan alasan kepadanya bahwa 'kamu bukanlah tipeku'. Tapi..."


Dia berhenti dulu sejenak, memberikan sebuah jeda sebelum melanjutkan perkataanya.


"... Hanya saja, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Entah apapun alasannya, aku tetap tidak bisa. Ada suatu hal yang membuatku menolak dia."


Suatu hal?


Aku masih penasaran, karena itu aku masih menatap dan menyiapkan telingaku untuk mendengar perkataannya. Dia pun melanjutkan perkatanyaannya.


"Hal itu selalu membuat hatiku senang, nyaman dan......"


Perkataanya terhenti sebentar. Tak lama kemudian, dia mengarah tatapannya kepadaku.


"......ingin terus tersenyum"


Dia berkata dengan senyuman yang lebar dan cerah. Aku merasakan ada hal yang sangat mengembirakan disenyumannya itu.


Setelah dia melihatku yang mengetahui bahwa aku menatapnya dari tadi, senyumannya pun hilang dan ekspresinya berubah menjadi terkejut lalu mukanya memerah dan menatap kebawah.


Dia melanjutkan perkataanya dengan malu-malu "Karena itu aku menolaknya"


Aku tahu, alasan yang membuatnya malu-malu seperti itu.


Jawabannya adalah karena dia memberitahu rahasianya.


Sungguh memalukan membicarakan rahasia diri sendiri kepada orang lain dan seharusnya yang namanya 'rahasia' itu tidak boleh ada yang tahu. Jika sudah ada yang tahu, maka, hal itu bukanlah rahasia lagi.


Disisi lain, setelah Bella memberitahu rahasianya, kata-katanya tadi terlintas dikepalaku


'Hal yang membuat dia selalu senang, nyaman dan tersenyum?'


Aku mencoba berpikir


Apa ya?


Mungkin makanan, karena dia suka membuat kue.


Ya, mungkin itu.


Ah.. sudahlah, aku memikirkan sesuatu yang kurang penting. Bukan hal ini yang kuinginkan darinya. Sebaiknya aku yang bertanya kepadannya.


"Tapi, kau tahu? Kau akan menjadi bahan perbincangan semua orang disekolah." ucapku


Setelah mendengar perkataanku, dia hanya tersenyum kecil, mungkin dia sudah menyadari maksud lain dari perkataanku


"Ya, aku sudah tahu itu. Aku tahu mungkin aku akan digosipkan dengan hal yang buruk. " ucapnya tersenyum kecil. Ternyata dia menyadari perkataanku


Dia pun melanjutkan perkataanya


"Namun, aku tidak akan peduli lagi apa yang dikatakan orang lain tentangku. Jika dipikir-pikir, cukup merugikan juga untuk mendengar gosipan mereka tentangku."


"............."


"Mungkin ini terdengar egois. Tetapi, bagiku, selama ada kamu, Alex dan lainnya yang selalu berada disisiku....." ucapnya terhenti sebentar. Lalu, dia tersenyum lebar dan menatap kearahku ".......Itu sudah lebih dari cukup."


Senyuman yang menandakan kebahagian. Senyuman yang tulus, tidak ada rasa sedih, amarah ataupun benci. Aku menyukai itu.


"Begitu ya...."


Aku kagum dan tidak perlu khawatir lagi. Dia sudah banyak berubah. Kutaruh tangan kananku dikepalanya lalu tersenyum kepadanya dan berkata


".......Kamu sudah jadi kuat ya, Bella."


Rambut yang sangat lembut dan hangat. Pertama kalinya aku melakukan ini kepadanya.


Setelah aku melakukan itu, muka Bella kembali memerah dan tatapannya hanya melihat kebawah.


Tak lama kemudian, dia pun mencoba untuk menghindari dan melepaskan tanganku dari kepalanya dan berkata dengan gugup


"Ah.... I-iya, mungkin. R-Riki aku lewat sini ya." ucap Bella gugup


Tidak terasa kami sudah berjalan cukup jauh. Terlihat didepanku ada pertigaan jalan.


Ya, tempat ini adalah tempat kami biasa berpisah.


"Kalo begitu, sampai jumpa."


"Iya sampai jumpa, dah." Ucap Bella sembari melambaikan tangannya, lalu berlari pelan.


Entah kenapa aku merasa dia mencoba ingin cepat-cepat berpisah dariku. Mungkin dia tidak nyaman karena aku memperlakukannya seperti itu.


Aku menghembuskan nafas yang dalam.


Ternyata aku salah.


Ya, aku salah.


Kukira aku dapat memujinya dengan cara seperti itu.


Dulu, sekitar kelas 3 SMP, aku pernah sempat mencari di internet tentang 'cara memuji sahabat perempuan' dan aku menemukan sesuatu yang mungkin dapat mempratekkannya kepada teman perempuan terdekatku.


Namun, setelah aku mempraktekkannya kepada Bella hari ini, hasilnya ternyata berbeda, hasil yang sangat tidak diharapkan.


Yang kuketahui setelah mempraktekan hal itu adalah Bella menjadi marah kepadaku, terlihat dari wajahnya yang memerah dan sifat yang terburu-buru untuk berpisah denganku.


Aku rasa, ini yang dinamakaan kegagalan.


Kegagalan memang sungguh menyedihkan.


Aku tidak akan mengikuti atau lebih tepatnya menirunya lagi. Sebaiknya aku melakukannya dengan caraku sendiri. Ya, menjadi diri sendiri itu lebih baik.


Untuk hari ini aku sudah membuat 2 orang marah.


Ya sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi. Aku akan meminta maaf kepada mereka di hari senin.


 

__ADS_1


 


__ADS_2