
{17:25}
Aku terperanjat dari tidurku, saat melihat jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Tak terasa aku tidur hingga menjelang malam.
Aku begitu lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Meski proses evakuasi kendaraan telah usai, namun masih meninggalkan tanda tanya besar di dalam kepalaku.
Aku menjulurkan kepala, saat riuh percakapan terdengar dari arah ruang keluarga. Sepertinya Arif sedang berbincang dengan ke-dua orang tuanya. Entah apa yang mereka bahas.
Srreekkkkk ....
Aku menyingkap korden biru yang menjadi penghalang pintu kamar, dan berjalan lemas menuju ruang dapur. Namun Arif yang tengah duduk pada ruang keluarga lantas berseru saat melihatku, "Den, sini, deh ...." Dengan rambut yang masih tak karuan, aku berjalan perlahan sambil mengucek mata menghampirinya.
"Sini duduk," ucap Ayah Arif, menepuk halus karpet karet yang menjadi alas lantai.
Aku hanya mengangguk sungkan, masih dengan raut wajah acak-acakan. Mungkin nyawaku belum sepenuhnya pulih.
"Apa benar di rumah Loji ada sesuatu yang menggangu kalian?" tambah Uwa Hasan, menatap ke arahku dengan senyum kecil menggaris pada bibirnya.
Aku melirik Arif dan menjawab pertanyaan, "Iya Wa."
Raut wajah Wa Hasan nampak tersentak—terkejut namun di buat-buat, "Hantu?" tambah Uwa Hasan.
Entah mengapa aku merasa akan menjadi bahan ceramahnya, "Kurang lebih seperti itu, Wa." Aku tak ingin memperluas percakapan yang tabuh ini. Jangankan untuk bercerita, untuk diri sendiri pun aku masih belum mengerti.
"Iya sudah ... Tapi kalian masih berani, kan. Untuk bermalam di sana?"
Aku mengangguk samar, "Masih dong, Wa."
"Soalnya takut, Den. Kalau tidak ada yang mengisi rumah itu," tambah Ibu Arif, "banyak bahan bangunan seperti, keramik, kaca, kusen, dll. Uwa cuma takut kalau ada tukang yang nggak jujur."
Aku menghela nafas halus, dan membungkuk sesaat, "Iya, Wa. Deni dan Arif nggak masalah tinggal di rumah Loji."
Uwa Titi menyikap dada, dan menoleh ke arah Wa Hasan, seakan lega mendengar perkataan-ku.
"Ya, sudah. Kamu mandi dulu, gih ... Terus makan."
"Deni tuh sodorin kopi, Mah ... Baru semangat dia!" seru Arif, diiringi tawa kedua orangtuanya.
"Deni permisi mandi dulu, Wa." Aku beranjak dari duduk dan bergegas menuju toilet.
Kata Yudi ada pekerja yang bermalam di sana juga, Rif?
Iya sih, tapi nggak banyak membantu, Mah.
Lagian, kamu ada-ada saja, sih!
*****
Usai membersihkan diri aku bersiap untuk kembali ke rumah Loji, namun Ardan dan Alvien masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Mereka berpamitan pulang setelah membantu evakuasi motor yang cukup banyak menguras tenaga kami.
"Rif, coba telpon Ardan sama Alvien," pintuku, Arif nampak duduk di atas kasurnya sambil asyik memainkan ponsel genggamnya.
"Udah ... Tapi mereka nggak bisa ikut kita malam ini," saut Arif, dengan sebelah senyum tergambar dari raut wajahnya.
"Lho kenap Rif!" sergahku, sambil mengenakan baju kaos putih polos.
"Ardan ada acara, sedangkan Alvien ... Katanya, sih, nggak enak badan."
"Emang dari semalam Alvien udah kayak orang sakit."
Arif bangkit dari duduknya, dan melangkah hendak keluar kamar, "Gue tunggu di motor, deh—"
"Biar gue aja yang bawa, Rif!"
"Ya, udah cepet, lah!"
"Yo ..." Aku menyambar kunci di lengan Arif. Dan mulai memanaskan motor.
"Sudah mau pada berangkat, ya?" Uwa Titi menemui kami, dan berdiri tepat di ambang pintu utama.
"Iya, Mah. Takut keburu gelap. Repot jalannya."
"Dari tadi Mamah ingetin, Arif. Tapi jawabnya 'Nanti, Mah' ...."
"Deni juga baru bangun, atuh ...."
"Ya, sudah lekas berangkat. Ati-ati kalau ada apa-apa, langsung telpon rumah, ya."
"Beres, Wa ...." Kami pun berlalu dari rumah Arif untuk segera menuju rumah Loji.
__ADS_1
Walau terbilang masih sore. Namun tetap saja firasat ini selalu mengganjal jika sudah berhubungan dengan rumah Loji.
Langit senja semakin memudar, mendekap cahaya dalam kegelapan. Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, karena tidak ingin terlalu malam melewati jalan Loji. Terutama pada jalan yang di klaim memiliki kisah kelam.
Kami beruntung karena jalan raya nampak sepi, hanya ada beberapa angkutan umum yang lalu-lalang. Tapi andai saja ini bukan hari Minggu, sudah dapat di pastikan jalan ini akan penuh sesak oleh berbagai macam kendaraan.
Bulu kudukku tak ayal mencuat, ketika kami mulai memasuki Gg. Loji. Pos yang biasanya di penuhi oleh barisan motor yang terparkir rapih di depannya, kini tak lagi nampak satupun.
Aku terus berdoa dalam hati, berharap kami tak menemukan masalah sedikit pun di sini. Udara dingin seketika menyergap kulitku, saat kami mulai memasuki jalan yang terhimpit oleh kebun liar. Dan di sini sangat mustahil bagi kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Itu semua disebabkan oleh badan jalan yang masih berupa tanah merah nan bergelombang.
Hingga kami tiba di persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempat angker yang waktu lalu membawa kami dalam situasi mengerikan. Tentu saja tubuhku bereaksi dengan baik—terbukti dari lengan ini yang tak henti bergetar hebat.
Biiiiippppp ... biiippip ... bipp-bipp-bip ...
Aku membunyikan kelakson beberapa kali ketika tepat melintas di depan rumah tua dan kobakan itu. Meskipun aku tak begitu percaya mitos, tapi tidak ada salahnya untuk mendengarkan saran orang lain, terlebih mereka penduduk asli yang tinggal di sekitar sini.
Dan akhirnya kami tiba di depan gerbang rumah Loji. Entah kebetulan atau tidak, namun kami sampai tanpa ada halangan sedikitpun.
Terlihat mang Ubun dan kawan-kawannya sedang duduk memenuhi teras depan. Nampaknya mereka tengah menunggu kami, terbukti dari cara mereka menyambut kedatangan kami dengan gembira.
"Akhirnya kalian datang juga, Mas," Seru mang Ubun beranjak sambil menepuk lengannya satu kali.
Aku tersenyum membalas sambutan mang Ubun, "Maaf, Mang, tadi kami sangat sibuk jadi tidak bisa mengantar makan siang." Aku memarkirkan motor di sisi rumah, dan Arif berjalan terlebih dahulu menuju teras depan.
"Mas, sebelumnya kita mau minta maaf." Aku menoleh cepat, saat terdengar nada serius mang Ubun. Nampaknya ia hendak menyampaikan sesuatu.
"Maaf buat apa, Pak?" sanggah Arif, ia duduk pada teras depan, mengimbangi mang Ubun dan kawan-kawannya.
"Gini Mas, malam ini kita semua akan pulang ...." Aku terdegup mendengar perkataan mang Ubun. Entah ada angin apa hingga membuatnya berkata seperti itu.
"Lho, lho, ada apa Mang? Kok, dadakan?" jawab Arif, sedikit terkejut.
"Ah, tidak apa-apa Mas, kita sudah mendapat izin dari pak Yudi. Beliau bilang akan membawa pekerja dari Serang untuk menggantikan kami."
Aku menghampiri mereka dengan langkah cepat, "Mang ... Kenapa bisa seperti itu?"
Mang Ubun menatap ke arahku seraya tersenyum. Ia mengusap-usap dadaku, "Tenang, Mas ... Tidak apa-apa ... Ini murni keinginan kita."
"Bilang aja, Mang! Biar aku yang ngomong sama Pak Yudi," sergahku, hati ini merasa tak enak saat mendengar perkataannya. Bagaimana bisa Yudi memecat mereka begitu saja.
"Bukan salah pak Yudi, Mas ... Kami yang mengundurkan diri ...."
"Gaji kecil?" timpal Arif. Namun mang Ubun segera membantahnya.
"Kalau masalah gaji .... Kita, kan sudah cukup lama kerja di sini. Waktu jamannya rumah ini masih berupa pondasi."
"Iya ... Terus apa masalahnya?" lugasku. Namun mang Ubun hanya bertatap muka dengan pekerja lainnya.
"Kita dapet proyektor baru, Mas ...."
"Nah gitu, kan jelas!" sergah Arif, berdiri dari duduknya, "udah pasti masalah gaji!" Ia berlalu begitu saja, masuk ke dalam rumah.
Aku hanya menghela nafas, tanpa bisa menahan mereka, terlebih jika mereka sudah mendapatkan izin dari bang Yudi. Meski ada rasa curiga terhadap gelagat gugup dari para pekerja. Aku tak bisa berbuat banyak.
"Kalau itu yang terbaik buat kalian—" Aku menatap silih berganti pada deretan wajah yang tertunduk lesu. "Apa yang harus dikata."
Mang Ubun menabrak dan memeluk tubuhku, "Saya minta maaf, Mas ...."
Aku merenggangkan pelukannya, "Kenapa harus minta maaf ... Mang Ubun nggak salah. Justru pilihan yang tepat kalau buat masalah perut." Aku melempar senyum ke arahnya yang nampak dari ke-dua bola matanya sudah berkaca-kaca.
Hilir suara kendaraan terdengar samar, mencuat ditengah keheningan malam. Para pekerja yang juga mendengarnya, mulai mengambil tas yang telah mereka persiapan di teras depan.
"Saya mewakili tim. Mengucapkan terima kasih atas kebaikan, Mas Deni, selama kita bekerja di sini. Saya titip salam, untuk Arif dan keluarga." Mang Ubun menyalami tanganku, diikuti para pekerja lainnya.
"Saya pamit, Mas ... Mohon maaf jika ada kesalahan yang tidak saya sadari."
Aku hanya mengangguk samar,
"Hati-hati di jalan, Mang! Salam buat keluarga di rumah!"
Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil angkutan umum, yang sudah menantinya di penghujung jalan. Kini hanya tinggal aku dan Arif yang akan bermalam di rumah ini.
Aku menghela nafas, dan mulai berjalan masuk kedalam rumah, saat tiba di ruang tamu. Mataku melirik Arif yang tengah mencoba menghubungi seseorang. Raut wajah nampak begitu kecut.
"Bang! Aduh, itu pekerja kenapa dikasih izin pergi? terus siapa yang jaga di rumah?" Sepertinya ia tengah menghubungi Yudi, "Ah-Elah. Nggak ngaruh Bang! ... Cuma berdua ini ... Parah!" Arif terdengar agak sewot dan mengakhiri percakapannya.
"Apa kata Babang, Rif?"
"Ngga jelas, katanya mau ganti pekerja orang Serang biar nggak bisa pulang seenaknya. Malah disuruh cari temen yang banyak buat nginep di rumah ini!" Arif merangsak duduk pada kasur busa di ruangan yang biasa kami gunakan.
__ADS_1
"Udah jam segini! Siapa juga yang berani masuk ke daerah ini."
Aku pun duduk pada kursi jati menyadarkan kepala, dan menatap langit-langit. Sesekali aku melirik ke arah dapur yang sepi dan sunyi. Entah apa lagi yang akan menimpaku malam ini.
"Dah!! ... Ketauan gue Main PS, lah!" seru Arif. Menyalakan TV dan perangkat lainnya.
Aku merintih dan mendekap perutku, saat tiba-tiba terasa bergejolak hebat, "Perut gue! ...."
"Toliet sana!" sergah Arif.
Perutku semakin menjadi-jadi, kini bertambah panas dan pedih, hingga membuat ke-dua telapak tanganku berkeringat. Tak ingin berpikir panjang, aku melangkah cepat ke arah dapur danberbelok tajam saat melewati kamar nomor tiga.
Gruuussaaaakk ...
Langkahku tercekat. Tubuhku terasa berat dan kaku, saat aku menoleh oleh suara aneh yang terdengar dari arah pintu toilet.
Detak jantungku meningkat pesat membawa darah, naik hingga ubun-ubun. Entah fenomena apa lagi yang sedang terjadi di hadapanku ini.
Aku melihat dengan jelas sebuah gumpalan hitam yang memunggul keluar dari dalam kamar mandi. Mata ini terbuka lebar, saat aku perhatikan gumpalan itu kian menyerupai rambut kusut kusam— berwarna merah jagung. Rambut itu bergerak lambat, namun semakin lama semakin jelas terurai.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, jangankan untuk berlari, bicara pun aku tak bisa. Tubuhku seakan terpaku wajahku tak mampu berpaling sedikit pun dari sosok wanita yang kini menjegal—tepat di depan pintu kamar mandi.
Bau amis yang menyengat, menyergap menusuk ke dalam hidungku. Walaupun ia telah membentuk tubuh, namun rambut itu tak henti terurai, hingga menyatu dengan lantai.
Keringat kian mengalir deras melewati pelipis mata. Kakiku mulai kehilangan keseimbangan, tak lagi mampu menopang tubuh ini. Semua bertambah buruk, saat penglihatan-ku mulai kabur, hingga akhirnya termakan oleh kegelapan yang begitu pekat.
Duk, duk, duk,.. dukk!! duk!! duk!!!
Samar terdengar suara ketukan pintu yang sangat menggangu telingaku. Perlahan aku membuka mata. Terdiam dengan tatapan kosong.
dukk!! duk!! duk!!!
Ketukan pintu itu semakin bertambah kuat—seakan tak sabar menanti aku keluar. Mataku terbelalak lebar, ketika aku mulai mengingat semuanya.
Sedang apa aku di sini? sejak kapan aku masuk toilet!! ...
Aku bangkit lalu meraih gagang pintu dengan tergesa-gasa dan membuka lebar pintu yang tertutup rapat. Nampak Arif sedang berdiri tegap, tepat di ambang pintu.
Aku mengernyit saat wajah Arif nampak begitu datar, "Sudah selesai!" singkatnya, lalu ia menerobos masuk dan menutup kembali pintu toiletnya.
Mungkin dia sudah tak tahan lagi karena terlalu lama menunggu di luar. Mengingat di rumah ini hanya ada satu toilet yang bisa beroperasi dengan baik.
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.
__ADS_1