
Setibanya di Gg. Loji, nampak dari kejauhan Edi yang berdiri di bahu jalan, sambil tertunduk pada ponsel yang ada pada genggamannya.
Ia nampak rapih mengenakan kameja kotak-kota putih, dengan celana Levi's yang dibuat mengerucut dari lutut hingga tumit dan sepatu hitam yang berujung bulat, memantapkan pijakan kakinya.
Aku menepikan kendaraan dan berhenti tepat di depannya. "Oi! Hayu!" sapaku, membuat Edi sedikit terkejut dan menoleh cepat ke araku.
"Weh! Di mana si, A, rumahnya?" tanya Edi, sambil menaiki kendaraan dan duduk di balakang.
"Sorry, tadi lagi mandi, Di. Masih masuk lagi, lumayan jauh, lah," sahutku, menarik santai pedal gas, mulai meluncur menuju rumah Loji. "Jam berapa dari rumah, Di?"
"Jam satu kalau nggak salah, A," balas Edi. "Oh, iya, A. Kata orang yang mau jual motor nggak bisa kalau C.O.D hari ini," lanjutnya.
"Bah! kok gitu? Ya, kalau nggak bisa ngapain ke sini sekarang!, kan, jadi buang-buang waktu, Di," cetusku.
"Gak jelas juga ini orangnya, A! Di SMS lama banget balesnya, di Telpon nggak pernah diangkat," jelas Edi. "Gimana dong, A?"
"Katanya orang deket Gg. Rantai? kenapa nggak minta alamatnya aja?"
"Iya, makanya Edi ke sini. Ada, nih, A, alamat orang yang mau jual motornya."
"Oh, ya, udah, bagus kalau ada. Nanti kita samperin aja, lah." Setelah percakapan ini, kami hanya sedikit berbincang seputar kabar Ibu dan Adik kecilku.
Namun, semakin dalam aku membawa Edi masuk ke area Loji, entah mengapa firasat ini seakan menolak. Tak ingin jika Edi harus bermalam di rumah Loji.
"Di ... Terus gimana? kalau orangnya hari ini nggak bisa C.O.D? Mau bermalam di sini, atau pulang?" ujarku, memastikan keinginan Edi.
"Nginep aja kali, ya, A. Kalau Edi pulang takut kemalaman juga, terus besok ke sini lagi," jawab Edi dengan bimbang.
Aku berdengung, mencari cara lain, "Hmm ... Die! kalau tidur di ruamh Arif yang di Gg Rantai mau nggak?"
"Ah! Nggak, ah, A!" pangkas Edi tergesa-gesa, "Kalau, A, Deni tidur di sana juga sih nggak apa-apa." tambahnya.
Selain penakut, ia juga pemalu, mungkin karena itu Edi jarang main ke Bogor.
Aku menghela nafas pasrah, "Ya, udah dah," kataku dengan terpaksa.
Aku tahu betul jika Edi sangat penakut. Jangankan di tempat yang baru ia jumpai, di rumah saja ia tidak berani untuk pergi ke toilet pada malam hari.
Tentu ini akan sangat celaka jika ia harus berhadapan dengan suasana mencekam yang kerap terjadi di rumah Loji.
Aku bukan hanya khawatir dengan gangguan yang mungkin saja ia dapati di sana, tapi juga aku mencemaskan rasa panik Edi yang akan membahayakan dirinya.
Karena sejatinya yang bisa membuat seseorang terluka itu bukan disebabkan oleh sesuatu yang tak nampak, melainkan dari rasa kepanikan itu sendiri yang bisa membawa dirinya terjebak dalam bahaya besar.
Aku mematikan mesin kendaraan, saat kami tiba di lahan parkir rumah Loji. "Yosh! Kita udah sampai ... Nah! Ini rumah Loji, Di."
Edi segera turun dengan mata menerawang sekitar, "Kok belum jadi, si, A?"
"Iya, memang belum ... Hayu masuk!"
"Serem banget keliatannya, A!"
Aku menggeleng kepala samar, "Ya, udah ke dalam, gih. Ada Arif di kamar." Dan Edi pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Namun aku berbalik badan, merubah haluan berjalan menyusuri sudut kiri lahan parkir yang bisa tembus hingga halaman pekarangan belakang.
__ADS_1
Trrreeeettttt... Ttttreeeeeeett...
Tak sulit untuk mencari mang Tohir di rumag ini, terlihat ia sedang memotong sejumlah keramik dengan mesin Gerinda.
Aku menoleh ke segala arah, untuk memastikan jika hanya kami berdua di sini, dan menyapanya, "Mang ...." Mang Tohir menghentikan pekerjaannya.
"Saya, Mas."
"Gini Mang ... Nanti mau jam berapa pulang ke Gg. Rantai?" tanyaku, membuat mang Tohir melongok ke dalam rumah mencari jam dinding.
"Jam lima, Mas, saya dan yang lain pulang ke Gg. Rantai," sahutnya, "emang kenapa, Mas. Kok bisik-bisik ngomongnya?"
"Kira-kira Mamang bisa nggak, kalau malam ini tidur di sini," kataku, bernada sedikit meminta.
Ia membuang wajah, dan menarik nafas dalamnya, "Duh, gimana, ya, Mas ...," jawabnya ragu-ragu, sambil membuka topi yang hinggap di kepalanya.
Kurasa ini takan berhasil, mengingat ia lebih memilih mengundurkan diri ketimbang bermalam di sini.
Aku mendengus, "Saya cuma butuh kendaraannya saja, sih, Mang ... Baik, deh, kalau gitu biar saya yang antar Mang Tohir ke Gg. Rantai," tutupku, berbalik hendak pergi.
"Mas, Mas ...." Aku menghentikan langkah dan menoleh ke arah Mang Tohir. "Ya, sudah saya bermalam di sini Mas."
Mendengar itu aku mengangkat ke-dua alis dan berseru, "Nahhh! Serius, Mang?"
Ia mengangguk samar, sambil tersenyum padaku, "Iya ... Lagian saya nggak enak kalau nginep terus di rumah pak Bos, sedangkan Arif dan, Mas, saja bermalam di sini."
Aku menaikan lengan kanan, lalu mengacungkan satu jempol ke arahnya. "Oke, mantap Mang, jangan takut, kertas merah-merah sih ada," perkataanku membuat Mang Tohir tertawa geli.
"Siap Mas. Atur aja, atur ... Tapi kalau Ento dan Jajang tidak akan mau, Mas."
"Yang terpenting Mang Tohir aja. Biarkan yang lain seperti biasa,"
"Ocem! Ya, udah nanti kabarin, Mang. Kalau udah mau pulang,"
"Siap, komandan!" serunya, lalu aku berjalan menuju ruang tamu.
Entah gangguan apa lagi yang akan kami temukan saat malam nanti, semoga tak lebih buruk dari malam sebelumnya.
Aku memasuki rumah dan melihat Edi yang sedang duduk pada salah satu kursi yang berada di ruang tamu. "Gimana, Die. Ada kabar dari yang mau jual motor?" kataku, merangsak duduk pada kursi jati.
Mendengar ucapanku, Edi memeriksa ponselnya. "Ngga ada, A, kayaknya besok," sahut Edi, dengan raut wajah masam.
"Ya, udah ... Ya, udah, kita liat aja besok," sambar Arif, dari dalam kamar.
"Ya udah sana main Game sama Arif gih, Aa lagi nunggu pekerja dulu," ujarku, membuat Edi beranjak dari duduknya.
Aku melirik jam dinding yang masih menunjukan pukul empat sore, namun perasaanku sudah terasa tertekan—gelisah tak menentu. Hingga pandangku tertuju pada tangga beton yang masih setengah jadi, satu-satunya akses menuju lantai dua.
Aku terus memandangi tangga itu dengan berbagai macam ingatan yang tersirat dalam benak-ku. Pasalnya kejadian tadi malam, hampir sepenuhnya suara misterius yang kudengar bersumber dari lantai dua.
Rasa penasaran yang berkecamuk, seakan mendorongku untuk melihat apa yang ada di sana, mengingat sejak awal bangunan ini berdiri aku tidak pernah menginjakkan kaki untuk melihat-lihat lantai itu.
Aku menghebuskan nafas panjang, menanamkan keberanian dalam diriku, dan mulai berjalan mendekati tangga. Aku harus ekstra hati-hati dalam memilih langkah di tangga ini, karena pada anak-tangga masih berceceran paku-pakuan berkat, dan kerak tembok runcing yang bisa merobek telapak kakiku dengan mudah.
Jemariku menapak pada dinding di sekitar tangga, dengan perlahan aku menaiki satu per satu anak-tangga.
__ADS_1
Baru setengah jalan saja sudah terasa debu pekat yang mengepul di udara. Mungkin polusi dari keramik yang sedang dipotong mang Tohir di belakang rumah.
Dan setibanya di lantai dua, aku mengamati ke segala arah. Terlihat balok-balok besar yang berdiri, tersusun dengan rapih yang berfungsi sebagai menopang langit-langit ruangan.
Sungguh sangat sulit melangkah di sini karena jarak balok dan balok lainnya sangat sempit—mungkin sekitar kurang dari setengah meter. Sebegitu sulitnya hingga aku harus memiringkan bahu, agar dapat melewatinya.
Baru berapa menit saja tubuhku sudah mulai bermandikan keringat, karena udara sekitar sangat terasa pengap di sini.
Merasa tak tahan, aku pun menyudahi penelusuran. Sangat sulit memaksakan diri untuk masuk lebih dalam lagi. Lagipula tak ada apapun yang bisa aku temukan di lantai ini.
Meskipun yakin jika tadi malam aku mendengar beberapa besi yang berjatuhan dari lantai ini, namun aku tak menemukan satu besi pun yang tergeletak di segala penjurunya.
Aku menoleh ke arah belakang, dan kembali aku dapatkan deretan anak tangga beton yang tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya.
Namun yang ini masih diselimuti oleh karung-karung pada setiap anak-tangganya. Mungkin agar terlindungi dari cucuran air hujan, melihat beberapa lubang empat persegi yang terbuka lebar di sekitar dindingnya—tepat di atas tangga tersebut
Pada kiri dan kanan, terlihat tiga jendela tak berkaca dengan panjangnya satu meter dan lebarnya setengah meter. Jendela-jendela itu masih tanpa kaca ataupun penutup. Begitu juga dengan lubang pintu yang tertuju pada balkon lantai dua.
EHHEMMM~
Sontak aku menoleh cepat ke belakang dan melirik ke segala penjuru dengan sangat tergesa-gesa.
Sunggu aku tidaklah tuli, sangat jelas suara berat seorang pria tua yang menggeram. Aku sadar hanya aku seorang yang berada di lantai ini.
Seraya bulu kudukku meremang aku bergegas berjalan meninggalkan lantai dua dengan segera.
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
__ADS_1
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.