Rumah Terbengkalai (True Story)

Rumah Terbengkalai (True Story)
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6


__ADS_3

Kurasa tak ada salahnya aku turuti keingin mang Usman, siapa tahu memang ada hal penting yang hendak ia sampaikan.


Tak ingin membuang waktu, aku pun membuntut di belakangnya, masih dengan tanda tanya besar di kepalaku. Hingga kami tiba di ambang pintu utama, dan nampak Bi Ida sedang membereskan sofa dengan tergesa, saat melihat kami hendak memasuki rumah.


"Maaf, berantakan, Den," sapa Bi Ida, mengambil beberapa pakaian yang tercecer di atas sofa.


"Iya, Bi. Tidak apa-apa. Jadi ngerepotin, kan," jawabku, menahan rasa canggung yang mulai mengganjal.


"Tadinya mau disetrika tapi belum sempet ...," lanjut bi Ida, sambil tertawa kikuk oleh keadaan rumahnya, lalu pergi ke dalam kamar beserta pakaian yang ia tumpuk pada lengan kanannya.


"Duduk, Den ... Mamang buatkan kopi dulu," timpal mang Usman, sebelun akhirnya ia berlalu ke arah dapur.


Aku menghela nafas sedang, lalu duduk pada sofa yang menghadap ke arah dapur. "Aduh, Mang ... Nggak usah ngerepotin."


"Kamu ini, Den. Setiap kali ke sini nggak pernah mau main ke rumah, Mamang! Emang saudara Deni di sini cuma Arif saja?"


Aku terhening lalu mengusap pangkal rambutku, merasa bingung harus menjawabnya bagaimana, "Bukan gitu, Mang ...."


"Main, lah. Ke sini. Model rumah Mamang jauh saja!"


"Kayak nggak tahu aja, Mang. Deni jarang Ke rumah Wa Titi juga paling sering di rumah Loji, kan?"


"Jarang gimana? Tiap siang Mamang liat Deni ambil makan bukan tukang! Berasa kayak orang lain sama Mamang, mah!"


Tak lama mang Usman kembali berserta dua gelas kopi dan satu toples plastik yang ia letakkan di atas nampan.


"Gimana rumah Loji, Den. Aman?" lugas mang Usman, menaruh nampan pada meja tepat di depanku, dan menyodorkan satu gelas kopi. "Selagi masih anget."


Kulihat gelas masih mengeluarkan asap, sudah pasti itu sangatlah panas, dan untuk pertanya mang Usman aku hanya tersenyum kecil menanggapinya.


Mungkin untuk dunia nyata memang aman, meskipun di loji berada jauh dari pusat keramaian, namun tidak pernah aku mendengar jika rumah loji terganggu oleh orang yang berniat jahat.


"Aman, Mang ... Cuma pekerja sisa dua kepala."


"Nggak ada masalah, kan?" ulang mang Usman, membuat aku kembali menatap ke arahnya.


Aku menggeleng samar seraya melempar senyum tipis ke arahnya, "Nggak ada, Mang. Semua aman terkendali."


Mang Usman tak bergeming, ia hanya mengangguk samar lalu merobohkan diri di atas sofa bludru berwarna coklat polos—tepat berhadapan denganku. Hingga helaan nafas panjang terdengar dan ia kembali berkata, "Kamu tenang saja, Den. Nggak ada masalah serius, kok .... Sengaja Mamang nggak ajak Atif ke sini. Karena ada hal penting yang ingin Mamang tanyakan langsung sama, Deni."


Kedua alisku mengkerut mendengar ucapan mang Usman, tak bisa menerka akan kemana arah pembicaraan ini. "Hal penting, Mang?"


"Tapi, sebelumnya Mamang mau tanya dan aku minta kamu jawab jujur!"


Bagai sebuah anak panah menusuk batinku, entah ada angin apa yang membuat mang Usman meragukan sikapku.


Merasa yakin jika tak ada masalah dengan mang Usman, aku pun menjawab pertanyaannya penuh percaya diri, "Kapan Deni nggak jujur sama, Mamang?" ungkapku, lalu menyeruput segelas kopi yang telah aku dinginkan.


"Mamang sering lihat Deni sibuk ke-sana-sini buat bantuin Wa Titi, Dan menjaga rumah Loji. Apa Deni dapat gaji?"


Aku menghela nafas sedang, dan menaruh kembali cangkir kopi di atas sebuah piring kecil. "Kalau gaji, sih. Nggak, Mang. Tapi bang Yudi suka ngasih uang sama Deni dan Arif."


"Apa itu cukup buat ngasih, Ibu kamu?"


Aku sedikit terhentak mendengar itu, dan kembali bertanya dalam batin ini. Duh! Kok kearah situ, sih. Apa jangan-jangan mang Usman di-telp Mama...


Aku tertunduk ragu dalam menjawab pertanyaannya, "Nggak tentu, Mang. Kadang bisa kirim uang, tapi kadang uangnya hilang entah kemana."


Sesaat Mang Usman berpaling wajah dariku lalu berdecak malas sebelum kembali melontarkan kata-kata. "Lebih baik Deni cari kerja yang benar. Kasihan Mama di rumah!"


Suasana terasa hening seketika, dikala aku merenungi semua perkataan mang Usman. Sesaat aku berpikir, tapi tetap saja alasan itu menjadi faktor utama mengapa aku lebih memilih tugas yang diberikan bang Yudi ketimbang bekerja di tempat lain.


"Deni juga pengen, Mang. Kerja diluar sana. Tapi Deni nggak enak sama bang Yudi," ungkapku, "Bang Yudi udah nanggung semua biaya yang aku perlukaan saat mengenyam pendidikan di kota Bandung."


Mendengar penjelasan itu mang Usman terdiam, raut wajahnya nampak gelisah, seakan sedang memikirkan gagasan yang tepat untuk mematahkan alasanku.


"Aku mengerti akan hal itu, Den. Dan Mamang paham betul sifat kamu. Tapi ada baiknya kamu tinggalkan rumah loji!" imbau mang Usman.


Mataku tak henti menatap mang Usman dengan berbagai macam pertanyaan yang mulai timbul dalam benak ini. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berkata seperti itu. Tapi apa?


"Sebenarnya ada apa, Mang? Apa Mama cerita sesuatu sama, Mamang? Atau Deni disuruh pulang?"


"Bukan itu, Den," seru mang Usman, menggelengkan kepala berulangkali. "Mamang juga tidak tahu kenapa .... Tapi akhir-akhir ini ada sebuah mimpi yang menghantui Ma ...."


"Mimpi, Mang?" Aku beringsut dari duduk dengan kedua lengan menapak di atas meja.


"Itu Aneh, Den! Tiga hari berturut-turut Mamang bermimpi. Kalau Deni terpasung pada salah satu ruangan yang ada di rumah Loji!"


Mataku melirik ke segala arah seraya kedua alis ini meruncing, mencoba mengartikan apa yang disampaikan oleh mang Usman. Dan entah mengapa firasat ini justru mengerah pada mahkluk yang kerap aku jumpai di rumah Loji.


"Mamang hanya khawatir sama Deni .... Kamu rumahnya jauh, kalau Arif dan yang lain jelas Mamang tidak begitu peduli, karena itu rumah mereka," papar mang Usman, dengan suara sedikit tertahan. Di sisi lain aku belum bisa menarik sepatah katapun, hanya terdiam membisu sambil menatap keramik.


Begitu banyak pertanyaan yang terus berkembang di dalam otak ini, hingga membuatku bimbang untuk memilih kata-kata yang tepat atas pembahasan ini.


Apakah ini waktu yang tepat untuk menceritakan semua kejadian yang kerap aku alami di rumah loji. Namun, apa bisa mang Usman menyikapinya dengan baik?!


Tapi, jika dilihat dari sikapnya hari ini, tentu saja dia tidak bisa! Jangankan untuk mendengar keluhanku nanti. Baru mimpi saja mang Usman sudah memintaku pergi dari sini.


Sangat tak adil rasanya berdebat dengan mang Usman, terlebih itu untuk kebaikanku. Bagaimanapun juga aku harus bisa meyakinkan mang Usman agar ia tak lagi cemas akan kondisiku.


"Mang .... Nggak usah khawatir sama Deni. Aku dan yang lain baik-baik saja di sana," ujarku, dengan ramah dan lembut berusaha meyakinkan mang Usman, "lagian Deni di Loji nggak sendirian, ada Arif, Ardan, Alvien dan pekerja."


"Tidak perlu kamu sembunyikan itu, Den! Mamang sudah tau jika di rumah loji ada sesuatu yang tidak beres!" lugas mang Usman, berhasil menarik kembali perhatianku.


Kali ini aku sangat terkejut mendengarnya, dan yakin betul jika mang Usman telah menyadari jika ada hal aneh kerap terjadi di rumah loji.


"Mamang tau semuanya?" Aku membeo, berharap apa yang dimaksud mang Usman sama dengan apa yang aku pikirkan.


"Dari pertama kali Mamang menginjakkan kaki di rumah loji, aku sudah bisa merasakan jika begitu banyak Jin Qarin yang berlalu-lalang di rumah itu. Tapi Mamang lebih memilih bungkam, Den! Dan baru sekarang aku mau angkat bicara, karena apa?! Karena sekarang semua Itu tertuju pada diri kamu, Den!" lantang mang Usman, nyaris terdengar emosi namun ia masih menahannya.


Aku menarik punggung hingga tegap, bola mata ini membasar menatap lurus wajah mang Usman yang kini tak lagi nampak segurat senyum pun terukir pada bibirnya.


"Maksud Mamang? Semua Jin yang ada di rumah loji mengincar, Deni?" sahutku, dengan ragu dan bergetar.


Mang Usman menggeleng samar, lalu kembali bicara dengan nada sedang, "Apa yang sudah kamu lakukan di rumah itu, Den?!" ujar mang Usman, membuatku terhentak tak senang mendengarnya.


"Hah! Lakuin?! Deni nggak lakuin apapun di rumah itu, Mang! Berani sumpah, aku!" kilahku, mulai merasa tidak nyaman dengan apa yang hendak dituduhkan terhadapku. "Aku Cuma numpang tidur di sana, nggak lebih!"


"Mustahil! Malam itu semua di sini gempar! Karena Melihat Edi dengan kondisi lemas tak berdaya! Apa yang menyebabkan itu, Den?!"


"Lho, Kok! Mamang jadi nyalahin, Deni! Aku mana tau, Mang! Edi tiba-tiba hilang dan—" mang Usman memenggal perkataanku dengan lantang.


"Hilang?! Kau bilang Edi hilang! Sudah jelas-jelas setan di sana yang hampir membuat celaka adikmu! Lantas apa kau mau semua itu terjadi pada dirimu, hah?!"


Aku hanya membisu dengan tatapan tajam mengarah pada mang Usman. Semua yang diungkapkan mang Usman tidaklah salah, namun aku tidak tahu harus memilih jalan yang mana. Seketika aku melemah, hingga tertunduk lemas, "Terus Deni harus gimana, Mang?"


"Tinggalkan rumah loji, Den!" singkat mang Usman.


"Deni harus ngomong apa ke bang Yudi, Mang? Deni nggak mau dipandang sebagai orang tak tau berterima kasih, atau tak mengerti balas budi."

__ADS_1


"Itu semua demi kebaikan kamu juga. Deni bilang saja ada panggilan kerja yang mendesak, mungkin bang Yudi akan mengerti."


Aku tahu betul sifat bang Yudi, tentu tidak semudah itu bicara dengannya. Jika hanya alasan sesederhana itu, ia pasti akan lebih memilih untuk membayar-ku agar tetap berada di sini, dan tentu itu hanya akan memperburuk tali persaudaraan aku dan bang Yudi.


"Nggak, Mang. Itu bukan alasan yang sulit dipatahkan olehnya. Mamang tahu sendiri gimana sifat bang Yudi?" sahutku, dengan satu telapak lengan menyanggah kening. "Pernah satu ketika bang Yudi memintaku kembali ke rumah Loji, namun aku menolaknya dengan alasan kondisiku yang sedang memburuk. Dan Mamang tahu apa yang bang Yudi lakukan? Ia datang ke rumah, dan membawaku ke RS untuk mendapatkan perawatan intensif yang jauh lebih layak."


"Kalau seperti itu, biar nanti Mamang yang bilang sama Yudi!"


"Nggak perlu, Mang! Ini urusan Deni dan bang Yudi. Deni emang nggak bisa lakuin apapun untuk masalah ini .... Tapi Deni yakin masih bisa bertahan, paling tidak untuk beberapa minggu, atau bulan lagi, Mang! Sampai benar-benar Deni merasa sudah tidak betah tinggal di rumah loji!"


Suasana terasa hening seketika, mengiringi desiran angin sejuk yang berhembus dari bibir pintu utama. Baru kali ini aku merasa tegang berbincang dengan mang Usman yang kukenal sangat periang dan penuh candaan.


Aku sangat mengerti akan kecemasannya terhadapku, dan aku hargai itu. Namun aku jauh lebih mengerti semua batasan yang ada di dalam diriku, jika sudah melampaui batas kemampuanku. Mungkin aku akan pergi dari rumah itu.


Tak lama mang Usman kembali berulah, menyita perhatianku. Dengan satu lengannya, ia menggaruk gemas kepalanya lalu berseru, "Hah! .... Emang udah yakin ini, mah! Kalau Deni nggak akan denger semua omongan, Mamang! ...." Ia menyambar cangkir kopi yang ada di hadapannya, "Minum lagi, Den!"


Aku menaikan satu alis menatap mang Usman yang kurasa sudah kembali seperti biasa, dapat terlihat dari wajahnya tak lagi melukiskan ketegangan. Apakah ia sudah menyerah untuk memintaku pulang?


"Mang ...," sapaku, sambil mengangkat secangkir kopi yang kini sudah terlihat dingin, "apa yang harus Deni lakuin selain lari dari masalah ini?"


Usai menyeruput kopi miliknya, mang Usman menanggapi perkataanku dengan santai, "Nggak ada, Den!" pangkalnya, "Tapi ingat! Jangan sekali-kali kamu bersikap takabur di rumah itu, bahaya!"


Mendengar ucapannya, sekilas aku teringat akan satu kejadian di mana adikku hilang secara misterius. Entah sikapku saat itu bisa digolongkan takabur atau tidak.


"Apa hal semacam itu bisa membunuh, Mang?"


"Hidup, mati seseorang itu hanya ada di tanggan Allah, Den. Kita tidak bisa menyalahkan takdir jika sudah datang menjemput, hanya saja caranya yang berbeda-beda. Jika mahkluk seperti itu sudah jelas tidak bisa membunuh! Hanya saja manusianya yang membuat dirinya dalam bahaya."


Aku mengangguk-angguk samar sambil memikirkan kata-kata berikutnya, namun belum sempat aku membalas, mang Usman terlebih dahulu memotongnya.


"Ah! Baru kemarin, Den!" seru mang Usman, membuatku sedikit terlonjak. "Orang Lebak ada yang tewas tenggelam di kali Ciliwung! Kabarnya, sih. Mau mancing malam-malam berdua sama temannya."


"Orang bawah? Emang ada yang meninggal?" sahutku, dengan penuh antusias.


"Emang kamu nggak liat ada bendera kuning di turunan atas, sana?"


Aku menggeleng samar, "Nggak merhatiin, Mang. Meninggalnya kenapa, Mang?"


"Jatuh, lalu keseret arus! Kemarin, kan. Hujan deres, tuh! Jadi arus sungai lagi ganas-ganasnya—"


Merasa tak memberi jawaban atas pertanyaanku, aku pun lantas memenggal ucapan mang Usman. "Apa hubungannya sama masalah Deni, Mang. Lagian udah tau lagi musim ujan masih aja ngorek-ngorek di kali!"


"Yeh... Dengerin dulu makannya, Denong! Menurut pengakuan teman yang bersama Almarhum, Pada malam itu mereka mengurungkan niatnya, untuk memancing. Karena melihat kondisi sungai yang sedang tidak bersahabat. Namun saat dalam perjalanan pulang mereka tak sengaja melihat ada kain putih yang tergantung pada sebuah pohon kapuk di pinggir jalan,"


"Oh .... Pohon kapuk yang di bawah. Deket lapangan bola, Mang?"


"Betul! Emang cuma itu, kan. Jalan satu-satunya kalau mau ke Cadane."


"Terus, apa yang mereka lakukan sama kain putih itu, Mang?"


"Karena jaraknya tidak begitu jauh dengan jalan setapak yang mereka lalui, dan ini orang tangannya jail! Mereka berniat mengambil kain itu untuk dijadikan alas duduk jika nanti mereka kembali memancing. Dengan polosnya mereka menarik paksa kain tersebut. Alih-alih mendapatkan sesuatu di jalan, ini malah membuat mereka ketakutan sampai lari tunggang-langgang saat menyadari jika kain yang mereka tarik itu memiliki kepala!"


"Kepala, Mang?!"


"Iya, mungkin sejenis Kuntilanak."


"Hm.. Jadi karena melihat itu, Almarhum sampai terpeleset dan terbawa arus sungai," sahutku, mengangguk samar.


Aku masih tak habis pikir, mengapa hal seperti itu bisa terjadi, dan mengapa akhir-akhir ini aku seakan dikelilingi boleh hal tabuh semacam itu.


"Apa dengan kejadi itu kamu akan mengatakan jika Almarhum tewas oleh sesosok kain? Dan mengapa temannya selamat?"


"Baru paham aku, Mang! Itu yang dinamakan, Takdir, kan?" jawabku, tak lama mengkerutkan kedua alis saat merasa kopi yang aku minum tak lagi memiliki rasa. Hambar, tak beraroma, tawar bagaikan air putih. "Dih! Kok kopinya ....."


"Bukan, Mang .... Tapi—" Untuk lebih meyakinkan, aku kembali menyeruputnya, "Kok, nggak ada rasa ini kopi, Mang?"


"Ah! Masa?" Mang Usman mengambil sebuah sendok, dan mencoba kopi milikku. Sesaat ia terdiam dengan mata berkeliling, merasakan kopi yang ia cicipi.


"Ada yang ikutan nimbrung ini, mah, Den."


"Ikut nimbrung?"


"Kalau yang kayak gituan, makan dan minum hanya mengambil sarinya saja."


Sekilas ingatan akan hal serupa juga pernah aku alami saat di rumah Loji. Tapi mengapa bisa ini terjadi di rumah mang Usman. Terlebih ini di siang bolong.


"Maksud, Mamang diminum makhluk halus?"


"Yah... Bisa dibilang begitu, Den." Mang Usman menatap ke arahku dengan mata memicing, "sepertknya ada yang ngikutin, Deni."


Sontak aku menoleh ke segala arah di sekitarku. Namun tak ada siapapun. "Siapa yang ngikutin, Mang? Jangan nakut-nakutin, ah! Malam aku tidur di rumah loji lagi, Mang!"


Mang Usman tersenyum, dan memberi perkataan yang menurutku itu sebuah pesan penting untuk menyikapi masalah ini, "Lalui semua yang kamu alami nanti dengan keteguhan iman, Den. Jangan sekali-kali kamu termakan oleh bujuk rayuan yang bisa menyesatkan-mu. Jangan pernah takut, Den. Karena manusia beriman jauh lebih mulia dari mahkluk seperti itu."


Aku tersenyum bangga, dengan apa yang aku dengar. Sudah pasti mang Usman bisa membuatku merasa jauh lebih tenang. "Iya, Mang. Makasih sarannya. Tapi apa yang ngikutin Deni, Mang?"


"Bukan apa-apa, kok. Den." Tiba-tiba mang Usman menarik lirik ke arah jendela. "Noh, Wa Titi sama Gorif lagi nyariin Deni kayaknya." Mendengar itu aku berbalik dan nampak Arif telah bersiap di depan rumahnya.


Dan benar saja, tak lama Wa Titi berseru dari depan rumah, "Maaan ..... Ada Deni?" kurasa ia menyadari dari kedua alas kakiku yang masih berada di depan rumahnya.


"Ada, Teh... di sini," sahut mang Usman.


"Yeh! Disuruh nyiapin motor malah ngeloyor ke rumah mang Usman," balas Wa Titi.


"Ya, udah, Mang. Deni permisi kalau gitu," ucapku, dan bangkit dari duduk diiringi mang Usman.


"Inget, Den. Mamang udah coba memperingati kamu, tapi kamunya ngeyel! lebih memilih menjaga tali persaudaraan, ketimbang keselamatan kamu sendiri. Tapi Itu bugus. Namun tetap. Kamu bisa menjaga diri," tutup mang Usman setah aku menyalaminya.


"Siap, Mang. Lega kalau Mamang juga tau masalah rumah loji," sahutku.


"Ah! Udah, sana, bawel nanti," ucap mang Usman, membiarkan aku pergi.


Usai berpamitan dengan mang Usman dan Wa Titi, aku, Arif dan Alvien segera meluncur menuju rumah loji dengan kendaraan bermotor. Seperti biasa dalam perjalan kami Alvien selalu membuka pembahasan.


"Ngapain di rumah mang Usman, Pak?" tanyanya, "nggak ngajak-ngajak!"


"Ngopi doang, Vien .... Sambil cerita sikit."


"Cerita?" komentar Arif.


"Katanya ada yang tewas tenggelam di kali ciliwung tadi malam," lanjutku.


"Oh! Bendara kuning tadi?" seru Alvien, sambil menepuk-nepuk bahuku.


"Repot amat, sih lu, Vien. Iya mungkin mana gue tau," jawabku, mengibaskan lengan Alvien dari bahuku.


"Siapa ya, Rif?" tanya Alvien. Nampaknya ia mulai tertarik dengan pembahasan ini.


"Nggak tau, gue. Ah!" cetus Arif, seakan tak ingin Alvien mengganggu fokusnya dalam berkemudi.

__ADS_1


"Udah nggak usah sok-sokan bahas orang mati, deh!" timpalku, "kayak punya banyak nyali aja lu, Vien."


"Yeh, Pak. Kan, penasar juga. Siapa tau gue kenala," sahutnya.


"Emang lu punya teman bapak-bapak?"


"Nggak, Sih! Tapi, kan. Lu juga calon bapak-bapak, Den," jawabnya, lalu nyengir kuda.


Perjalanan masih berlanjut, dan kami tak banyak membahas hal yang meraik—selain mematahkan ucapan Alvien yang hendak membuka percakapan tak berguna. Hingga akhirnya kami pun tiba di depan rumah loji.


Dari gerbang depan aku sudah melihat mang Ento tengah duduk di teras sambil mengipasi dirinya dengan sebuah topi. Wajahnya nampak lelah, meliputi kulit coklat yang terpanggang oleh sengatan matahari. Sesekali ia pun mengusap dahinya dari cucuran keringat.


"Maaf nunggu lama, ya. Mang," sapaku, "yuk, kita makan dulu." Ia mengangkat kedua alisnya dan melirik ke arahku. Raut wajahnya berubah seraya gurat senyum terukir dari bibirnya.


"Iya, siap, Mas."


"Mang Tohir di mana Mang?" Tanyaku, sambil memutar kepala.


"Dia kerja di lantai dua, Mas," jawab Mang Ento, beranjak dari duduknya, "biar saya panggil, Mas."


"Oke, Mang," sahutku.


"Oy! Vien! Bawa ini," pinta Arif, menyodorkan beberapa bingkisan padanya. "Awas tumpah! Sayur itu dalamnya."


"Bawel lu, Pak, ah!"


Arif dan Alvien pun beriringan masuk ke dalam rumah. Namun, ada sesuatu yang menggangu batinku. Entah mengapa aku merasakan kehadiran seseorang yang tengah menatap ke arahku dari suatu tempat.


Dan benar saja, firasatku tidaklah salah. Saat netraku melirik pada rumah yang berada di sebelah kami. Nampak seorang tengah berdiri tegap dengan wajah menatap rimbunnya pohon yang berada di pekarangan rumahnya. Ia hanya terlihat sebatas pinggang—karena terhalang oleh pagar tembok yang mengitari balkon tersebut. Wanita itu memiliki rambut lurus sebahu, kulitnya putih selaras dengan gaun putih yang ia kenakan.


Aku tidak tahu siapa dirinya, mengingat rumah itu selalu tertutup dan tak pernah terlihat ada aktifitas yang berarti di sana. Bahkan sebelumnya aku mengira jika rumah itu hanya sebuah vila yang ditinggalkan oleh pemiliknya.


Aku terus memperhatikan wanita itu yang kutaksir usaianya masih dibawah 30 tahun. Tapi nafasku tercekat, saat terasa sebuah lengan hangat bersandar di pundak-ku.


"Ngeliatin apa, sih. Pak!"


Aku menghela nafas sesaat, mataku melayu, raut wajahku berubah memalas, "Cewek, noh!"


"Mana?"


"It ...." Betapa terkejutnya aku saat mendapati wanita bergaun putih telah hilang dari tempatnya. "Tadi ada cewek, Vin! Di situ!"


"Halaah! Makanya... Cari cewek sana, biar nggak halu terooos!" cibir Alvien, sambil menyegol bahuku.


Waduh! Ke-mana itu cewek .... Apa dia udah masuk ke dalam rumah? Masa cepet banget.


"Eh! Ayoo... Makan! Malah bengong lagi!" Alvien menarik lenganku, agar segera masuk ke dalam rumah.


Wajahku masih diliputi oleh perasaan ragu akan siapa sosok wanita yang kujumpai tadi, hingga lupa jika karpet telah digelar tepat di tengah ruang tamu.


"Ayo, Mas.. kita makan dulu," ajak mang Tohir.


"Den? Mau kopi?"


"Gu-gue, Udah ngopi, Rif. Nggak perlu ...."


Sadari ada yang aneh dengan sikapku, Arif pun melayangkan pertanyaannya. "Kenapa lagi, Den? Perut lu kambuh?"


"Tau nih, Pak! Di depan dia bilang ada cewek! Aneh dasar!" komentar Alvien.


"Wah! Tumben ada cewek di sekitar sini, Mas?" seru mang Tohir, sambil menyendok sepering nasi.


Suasana sudah terasa kacau, sebaiknya aku ikut berbaur dengan mereka. "Ah! Bukan apa-apa, cuma tadi ada cewe yang lewat pakai motor," kilahku, lalu duduk bersila.


"Oke, oke. Bodo amat masalah cewek! Tapi... ini nasi udah nangis minta di makan, hajar nggak, nih?!" seru Arif, membuat mang Tohir tertawa lepas.


"Hajar, Bos!" timpal mang Tohir.


Aku sangat senang jika sedang berkumpul seperti ini. Seakan suasana terasa hangat dan riang, sesaat cukup untuk mengobati perasaan was-was dan cemas.


"Alhamdulillah. Kenyang!!!" seru mang Tohir. "Uwalah! Ento! Nggak doyan Makan?" lanjutnya, membuatku melirik ke arah mang Ento.


Ia hanya menggeleng samar sambil memutar-mutar sendok di atas piringnya. Entah apa yang membuat selera makannya hilang.


"Mas, saya boleh bertanya tidak?" Ucap Mang Ento, tertuju padaku. Ia berhasil menyita perhatian semua orang yang ada di sini.


"Hm.. Bolehlah, Mang, asal jangan tanya masalah cewek, ya," gurauku, sambil menyantap sarapanku.


"Tentang kejadian tadi malam," lanjut mang Ento. Tentu apa yang ia ungkapkan membuat kami saling bertukar pandang.


"Aduh! To... To, situasi adem gini bahas ke sana!" sahut mang Tohir, menepak pahanya.


Aku menjulurkan lengan, mengisyaratkan rasa tak keberatan atas apa yang akan mang Ento tanyakan. "Nggak apa-apa, Mang—" aku menoleh ke arah mang Ento, "tanya apa, Mang?"


"Semalam saya terbangun dari tidur karena listrik yang tiba-tiba saja padam, dan udara begitu terasa sangat dingin, tidak seperti biasanya," ungkapnya, ia berbicara sangat hati-hati, sambil mencoba mengingat sesuatu. "Ruangan-pun tersasa pengap, ditambah aroma aneh yang menyengat dari luar kamar."


"Stoppp ... " pangkas Alvien, menyenggol pahaku, dan menunjuk ke arah mang Ento, "kampret ini. jangan-jangan dia, Den. Yang gue liat tadi malam."


Nyaris saja aku tersedak oleh perkataan Alvien, "Main tunjuk orang aja, lu! Tanya dulu, lah. Bambang!" sahutku.


"Pada bahas apaan, sih?" sela Arif, dengan wajah polosnya. "Heboh banget!"


"Nggak tau, Mas. Lagi pada curhat, kali," sahut mang Tohir.


"Nanti dulu dong! Gue serius ini mau tanya," seru Alvien, lantas melanjutkan misinya, "Mang? Jam berapa mang Ento keluar kamar, hei?"


Menyikapi perkataan Alvien, mang Ento nampak hanyut dalam pikirannya sebelum akhirnya menggeleng samar, "Saya tidak ingat, Mas. Lagipula saat itu ruangan begitu gelap," ujarnya.


Namun Alvien tidak berhenti sampai di situ. Merasa tidak puas dengan jawaban mang Ento, Alvien kembali melontarkan pertanyaannya, "Oke, Oke! Ruangan gelap, siap! Tapi apa mang Ento berdiri di depan pintu, itu?" lanjut Alvien sambil menunjuk pada pintu utama.


Begitu terlihat jelas ekspresi kebingungan dari raut wajah kedua pembicara ini. Alvien dan mang Ento.


"Saya memang sempat berjalan di sekitar situ, tapi hanya sekedar mengecek saja, Mas," tutup mang Ento.


"Udah, udah .... Mas Alvien sudah keok! Sekarang gilirang Ento cerita," komentar mang Tohir, "hayo, lanjutkan!"


Mang Ento menundukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan perkataannya yang sempat terpenggal oleh Alvien.


"Saya Penasaran, dan ingin memastikan jika itu bukanlah mimpi!" Lanjut mang Ento, wajahnya mulai terlihat pucat, seraya keringat dingin nampak membasahi dahinya lengkap dengan tatapan kosong.


*****************


Bersambung ...


*****************


Note:


Terima kasih yang sudah menunggu lanjutan dari cerita ini. Jangan lupa, ya. Dukung Author dengan memberi Like dan Vote. ☺️☺️

__ADS_1


Next Chapter:


Dalam tahap Revisi. Semoga saja Author bisa mempercepat Episode berikutnya. Selalu nantikan ya. 🙏


__ADS_2