
Cuaca yang cukup bagus di siang hari ini, tidak terlalu panas tidak pula teduh. Mobil kami masih melaju, menyusuri sebuah jalan yang hanya cukup dilalui satu kendaraan beroda empat. Jalan ini terhimpit oleh deretan rumah yang tak jarang difungsikan menjadi sebuah warung.
Kami tidak kembali ke rumah Loji,
Arif memutuskan untuk pulang ke rumah Gg. Rantai, mengingat sudah hampir tiba jam makan siang bagi para pekerja.
"Ngopi belum, apa lagi makan. Duh! Kacau dunia persilatan," gurau Alvien.
"Sorry, sorry," sahutku, masih berbaring pada kursi belakang. "Gara-gara gue semua jadi repot, ya."
"Ah! Alvien didengar," sahut Arif.
"Iya, nggak gitu juga, Pak. Maksud gue, emang kita belum makan apa-apa dari pagi, kan?"
"Iya! Nanti makan sepuasnya di rumah, gue!"
"Den, gue mau tanya?" ucap Alvien, ia berbalik cepat dan melongok di antara dua kursi ke arahku, seperti telah mengingat sesuatu. "Semalam lu ke mana?"
Aku menghela nafas sesaat sebelum menjawab pertanyaannya, "yang pasti di dalam rumah-lah, Vien. Masa ia di luar."
"Nggak ada! Semalam gue sempat ke toilet, tapi lu nggak ada di ruang tamu," sahutnya, ia berpaling dan kembali menghadap depan.
"Jangan bilang semalam lu di lantai dua," komentar Arif.
Aku terdiam, mencoba mengingat apa saja yang aku lakukan setelah kami terlibat cekcok, namun belum sempat aku angkat bicara, Alvien memangkasnya.
"Dia, kan. Emang lari ke lantai dua, Rif. Setelah kita debat," timpal Alvien, lalu menoleh ke arahku. "Berani banget lu, Pak. Malam-malam, di ruang gelap, sendirian, ih!" lanjutnya, bergidik mengakhiri perkataannya.
"Di lantai itu jendela sama pintu pun nggak ada, lho! ... Emang lu nggak ke hujanan, Den?"
Memeng seperti itulah kondisi lantai dua, selain gelap, air yang merembes dari luar menyebabkan genangan air di setiap bibir jendala dan pintu. Aku pun merasa aneh, mengapa bisa merasa tenang di tempat seperti itu.
"Gue nggak sampai lantai atasnya, cuma di tangga, kok," kilahku.
"Atau gue suruh mang Ento bikin lampu di lantai itu, ya?" seru Arif, memberi ide barunya.
"Nggak usah!" sergahku, lalu mendekap bibir dengan kedua telapak tangan. Tentu saja sikap spontanitas-ku membuat Alvien dan Arif sesaat menoleh cepat ke arahku.
"Lah? Kenapa nggak usah?" tanya Arif, seakan ingin mencerca sikapku.
"Aneh lu, Pak!" timpal Alvien.
"Ma-maksud gue, nggak usah. Takutnya korsleting listrik karena air hujan yang masuk dari jendela," jawabku, lalu nyengir kuda sambil mengusap rambut. "Tapi kalau mau dipasang lampu, ya. Ok, juga, lah."
"Bisa jadi juga sih, Pak. Semalam aja listrik sempat Down," sahut Alvien sambil memikirkan sesuatu, "kayak kurang daya gitu, lah."
"Iya juga, sih ... Kalau nggak salah Instalasi kabel aja belum di ruangan itu," tutup Arif, seraya menekan kelakson mobil dua kali.
Mobil terasa melambat, menandakan kami telah tiba pada sebuah lahan parkir umum yang cukup luas ini. Hampir semua orang yang tinggal di bawah menitipkan mobil mereka di lahan ini.
Karena jalan menurun yang tidak begitu luas—hanya bisa dilalui oleh kendaraan beroda dua. Dari sini biasanya kami dijemput, atau malah berjalan kaki hingga tiba di rumah Arif yang bisa memakan waktu kurang lebih 15 menit.
"Nggak bisa nitip di tempat Wa Cicih, Rif?" ucapku.
"Kalau jam segini suaminya ada. Sewaktu gue berangkat aja masih ada mobilnya."
Padahal kami punya satu saudara yang rumahnya jauh lebih dekat ketimbang lahan parkir ini, namun lahan parkirnya hanya cukup untuk satu mobil saja. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau kami harus berjalan kaki.
"Sanggup jalan nggak, Den?" tanya Alvien membuatku mengangguk ke arahnya.
Kurasa kondisiku sudah jauh lebih baik, entah kemana ular yang menyiksa perutku waktu lalu, bagai Jalangkung—datang tak dijemput pulang tak diantar.
"Yakin bisa jalan sendiri, Den?" ucap Arif meyakinkan kembali akan kondisiku.
"Tenang aja, gue udah sehat, kok," sahutku, dengan penuh semangat.
"Sip, lah! Yuk, cus ...."
Kami pun segara turun dan mulai berjalan beriringan menyusuri jalan aspal hingga tiba di rumah Arif.
Sesampainya kami di sana, Wa Titi menyambut kedatangan kami yang memang sedang berbincang di depan rumah bersama kedua bibiku.
"Tuh, udah pada pulang!" seru Bi Ana.
"Mau ambil jatah, yah!" gurau Bi Sri. Mungkin maksudnya bekal untuk para pekerja.
__ADS_1
"Katanya, Deni nggak enak badan?" imbuh Wa Titi, sepertinya Arif memberi tahu akan apa yang terjadi padaku.
"Udah sehat lagi, Wa," sahutku, sambil menyalami lengannya.
"Sakit apaan? Bentar amat," timpal Bi Sri, sambil tertawa kecil.
"Perut, Bi. Tadi pagi terasa perih. Di bawa ke dokter malah sembuh," sahutku.
"Ohh ... Berarti perutnya cuma pengan diperiksa dokter, kali, yah," komentar Bi Ana.
"Bisa jadi, Bi," sahutku, tersenyum tipis.
"Mah, bikin kopi atuh," sela Arif.
"Pada bikin sendiri aja, deh!" jawab Wa titi, "Mamah cape abis bikin masakan!"
"Wa, Deni di kamar Arif, ya."
"Iya, silahkan, Den. Pada masuk, gih."
Kami pun masuk kedalam rumah untuk meluruskan badan pada sebuah kamar yang terletak di lantai dua. Hanya aku dan Alvien yang ada di ruangan bersegi empat ini, sedangkan Arif sibuk membersihkan dirinya di dalam toilet
"Den—" Aku menoleh ke arah Alvien, dan kulihat wajahnya begitu serius, "gue pengan tanya sama, lu."
"Tanya apa lagi, Vien?"
"Kali ini gue serius!"
Merasa malas menanggapi apa yang hendak Alvien ungkapkan, aku pun berbaring di atas sebuah kasur lantai, "Dari tadi serius mulu, cepet tua, lu! Ada apaan emang?"
"Rumah Loji, dan sikap lu."
Aku mengernyitkan alis, mendengar ucapannya. "Sikap gue? Kenapa gitu?"
"Iya! Gue perhatiin sikap lu jadi beda, nggak kayak biasanya ... Sekarang lu lebih sering menyendiri dan terlalu sensitif. Kemarin juga lu emosi hanya karena candaan yang menurut gue itu hal biasa buat kita."
Aku menghela nafas, kembali berpaling wajah darinya, "Perasaan lu doang, Vien. Gue biasa aja, kok."
Ternyata bukan hanya aku saja yang merasakan gangguan dari mahkluk tak kasat mata yang juga ikut bernaung di rumah loji. Hingga menimbulkan suatu pemikiran lain yang berkecamuk di dalam kepalaku, apakah semua orang yang bermalam di rumah itu akan merasakan hal yang serupa—seperti yang aku alami.
Bahkan aku tidak tahu harus menyikapi perkataan Alvien bagaimana. Dan apakah mereka bisa menerima jika aku ceritakan kejadian yang sebenarnya.
Andai saja aku menyceritakan semua hal mencekam yang ada di rumah loji, mungkinkah mereka akan mempercayaiku, atau justru malah akan menuduhku telah menyebar berita buruk yang membuat para pekerja lari ketakutan.
Aku yakin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal aneh yang ada di rumah Loji, dan aku yakin lambat laun mereka akan menyadarinya sendiri.
"Ah! Gue ngomong serius, lu malah ngacangin, gue," sahut Alvien, ia merobohkan diri di atas kasur. "Den!"
"Ngapa si?!"
"Dih, najis! Udah kayak cewek lagi datang bulan, lu .... Gue mau tanya lagi, nih!"
"Bukan mau tanya, tapi lu emang banyak omong!"
"Yelah, Pak. Satu lagi, deh."
"Apaan?" Aku terhening, menanti Alvien menjabarkan apa yang hendak ia sampaikan.
"Lu ngarasa ada yang aneh di rumah loji nggak, Pak? Kok, gue ngerasa nggak nyaman waktu berada di sana, ya?"
Alvien, selain senang berdiskusi, ia pun tipikal orang penakut, jadi tak heran jika Alvien bersikap seperti ini.
"Jangan bilang karena cerita Mahyong, lu jadi takut di rumah itu?" jawabku, lalu bangkit hingga terduduk.
"Bukan, Pak! Tapi semalam ada hal aneh yang gue alami!"
Mendengar itu, aku berbalik dan menatap ke arahnya, "Aneh gimana?"
"Semalam lu di mana, Pak?"
"Kan, udah gue bilang di lantai dua!"
"Nah, kan! Jam berapa lu turun ke bawah?
"Jam satu kalau nggak salah ...."
__ADS_1
"Nah, kan!"
"Kenapa?"
"Tadi malam, saat gue mau ke toilet nggak sengaja gue liat seseorang lagi berdiri di pintu depan, dan ...." Alvien mulai terbawa suasana, ia bangkit dari tidurnya sambil mengusutkan rambutnya, "saat gue lewat di depan kamar pekerja ... Dari jendela jelas terlihat, kalau para Pekerja masih tertidur pulas! Dan .... Saat gue balik dari toilet ternyata orang di depan pintu itu udah nggak ada!"
"Lu yakin?"
"Ya elah, gue yakin Pak! Kalau yang gue liat saat itu, orang! Tadinya gue kira itu, lu."
Ternyata bukan hanya aku yang terkadang melihat sekilas sosok yang menyerupai manusia, mungkinkah itu juga berlaku bagi siapa saja yang tinggal di rumah loji, terutama saat malam menjelang.
Tak diragukan lagi, hal semacam itulah yang membuat para pekerja tak betah berlama-lama berada di rumah ini, bahkan sekarang hanya tersisa dua kepala pekerja yang masih bertahan.
Jika terus seperti ini, lambat laun tidak akan ada satu orangpun yang berani menginjakan kakinya di rumah itu, apa lagi jika berita akan mencekamnya tempat ini sampai menyebar luas. Tentu akan sangat berdampak buruk bagi kelangsungan rumah loji.
"Oy! Gue ngomong serius, lu malah bengong!" sergah Alvien, berhasil membuatku terhentak dari lamunan.
"I-iya, kalau masalah nggak nyaman, gue juga ngerasain. Tapi—" belum usai aku berkata, Alvien kembali berseru.
"Eh! Gue jadi penasaran sama cerita Mahyong, kalau semua itu benar gimana, Pak?"
"Maksud lu?" sahut-ku, meliriknya dengan sebelah alis meninggi.
"Ya, kalau benar di sana itu tempat buang Jin gimana, Pak? Kalau bukan hantu, terus apa yang gue liat semalam?"
Aku terdiam, mencoba mengingat akan apa yang pernah Mahyong ceritakan pada kami.
Siti, dan rumah yang terbakar .... Apa semua itu ada kaitannya dengan apa yang telah mengganggu kami di rumah loji.
"Gue, jadi takut nginep di sana lagi, Pak!" Aku menoleh ke arah Alvien, dan menatapnya dengan dua alis hampir bertemu.
"Nggak, usah dibesar-besarkan, Vien. Gue yakin nggak ada apa-apa di rumah Loji. Mungkin yang semalam lu liat cuma halusinasi aja ... Lagian, gue ada di lantai dua semalaman."
"Nggak mungkin gue halu, Den. Orang yang gue liat jelas banget, kok!"
"Ya, gue aja di lantai dua sendirian nggak ada apa-apa, Vien!"
Alvien nampak dalam kebingungan, matanya melirik tak tentu arah. Mungkin kini ia mulai ragu atas apa yang dilihatnya tadi malam.
"Den .... Mandi, nggak?" lantang Wa Titi, memecah suasana percakapan.
"Dah, ah! Gue mandi dulu, Vin," ucapku, lalu bangkit dan berjalan ke lantai dasar. Meninggalkan Alvien beserta semua ocehannya yang hanya akan membuat suasana semakin terasa memburuk.
Setelah itu, aku lantas membersihkan diri dan bersiap untuk kembali ke rumah loji, namun saat hendak menyiapkan kendaraan di pekarangan depan, aku melihat mang Usman yang baru saja tiba di rumahnya.
Kurasa mang Usman baru pulang dari tugas malam, terlihat dari seragam lengkap yang masih melekat pada tubuh kekarnya.
"Baru pulang, Mang?" sapaku, melongok dari ambang pintu, tentu saja itu membuatnya sedikit terkejut.
"Eh! Deni ...." Wajahnya memutar dan menoleh ke dalam rumah Arif sebelum melanjutkan perkataannya, "sama siapa, Den?"
"Sama Arif, dan Alvien, Mang."
"Oh ... Tumben sepi, Mamang kira masih pada di loji."
"Pada di kamar atas, Mang," sahutku.
Entah mengapa kali ini aku merasa sikap mang Usman nampak aneh terhadapku. Raut wajahnya tak lagi memperlihatkan keceriaan seperti biasanya. Dan semua itu bertembah jelas ketika ia memintaku, untuk masuk ke dalam rumanya.
"Ada yang mau Mamang omongin sama, Deni. Sini, masuk." Tak bisa aku menolaknya. Aku pun melangkah, melewati pagar tembok setinggi lutut yang membatasi pekarangan rumahnya dengan rumah Arif.
Aku tak henti memikirkan apa yang akan disampaikan oleh mang Usman, karena seingat-ku tak ada masalah serius yang melibatkan dirinya. Atau, mungkinkah pembasahan nanti akan mengacu kepada rumah loji.
Kurasa alasan itu jauh lebih masuk akal, tapi mengapa sikapnya begitu dingin jika hanya ingin membahas tentang rumah loji. Terlebih mang Usman tak pula meminta Airf bergabung dengan kami.
*****************
Bersambung ...
*****************
#Note Author.
Terima kasih banyak bagai semua yang telah setia menunggu kelanjutan cetita ini.
__ADS_1
🙏—Author mohon maaf jika terlalu lama dalam meng-update chapter, karena terhambat oleh kesibukan. Selain menjadi Author aku juga menjadi Editor untuk cerita ini. Jadi aku mohon tetap bersabar menunggu kelanjutannya ☺️☺️
Selalu dukung aku dengan memberi kritik dan saran yang membangun. Vote dan Komentar. Thanks You.