
Rasa cemas yang berkecamuk dalam hati ini, membuatku tak bisa berpikir dengan jernih. Aku melangkah cepat dan berlari sekuat mungkin untuk menyisir setiap lantai di rumah ini. Aku tak peduli akan apa yang menghadang-ku di atas sana.
Nampaknya Arif dan mang Tohir masih belum juga mengerti atas apa yang tengah terjadi. Mereka hanya terpaku menyaksikan aku kalang kabut, "Woi! Den! ... "
"Mas!"
Langkah ini tercekat, tepat pada anak tangga terakhir. Dengan nafas terpenggal-penggal, aku memutar kepala dengan tergesa—bagaikan orang yang tak tau arah—saat aku tiba di lantai dua yang gelap gulita. Bahkan Aku tak bisa melihat dengan jelas di sini.
"Di ... " Nadaku semakin meninggi namun terdengar bergetar, mengiringi nafasku yang terasa semakin berat. Aku sadar jika teriakan ini tidak akan cukup untuk menemukan adikku.
"Dii ... " Aku mulai melangkah, berjalan melewati balok dan bambu sempit yang menjadi penopang atap di lantai ini. Sebegitu paniknya aku, hingga tak bisa melangkah dengan baik, bahkan tak jarang lutut ini membentur susunan balok dan bambu kering yang melintang—memenuhi seisi ruangan.
Derap kaki mendekat cepat, mengantarkan mang Tohir tiba di lantai dua, "Mas ... " Ia terhenti sejenak, untuk mengatur nafasnya yang terengah-engah, "Mas, senter ...." Mang Tohir menjulurkan lengannya, memberikan sebuah senter yang lalu aku sambar dengan cepat.
Tak ingin berpikir panjang lagi, aku pun mengedarkan cahaya di semua sudut ruangan.
"Di ... !! "
"Hati-hati, Mas, banyak paku."
"Den, santai aja Den, santai ...."
Aku berbalik dan melirik Arif dengan tatapan tajam, "Apa kata lu! Santai? Edi ilang Rif! Terus lu suruh gue, santai?" Wajah Arif terlihat sangat jelas, ketika aku menunjuknya dengan senter, "lu waras, Rif!"
"Ma-maksud gue ... Demi keselamatan lu juga, Den," Arif mengelak, suaranya terdengar kaku dan terputus-putus.
"Lu nggak bakal ngerti apa yang gue rasain, Rif!" Nadaku semakin tinggi, emosiku begitu mudah terpancing. Seakan Arif menjadi sasaran empuk untuk bahan pelampiasan amarahku, "Karena lu nggak pernah punya adik!" Aku mendekat satu langkah ke arahnya. "Gue nggak butuh saran dari lu!"
"Den ... " Lagi-lagi Arif hendak menjawab, namun aku memenggal ucapannya.
"Kalau lu takut! ... Lu nggak perlu bantu, gue, Rif!" lantangku, lalu berpaling wajah darinya, untuk kembali melakukan pencarian.
Aku melangkah masuk lebih dalam lagi, hingga aku terhenti pada sebuah balkon yang tak berpagar. Aku mengedarkan cahaya senter ke setiap penjuru ruangan, namun tak kudapati seorang pun, selain Arif dan mang Tohir yang menantiku di penghujung tangga.
Lirik-ku bergeser pada barisan anak tangga tepat di sisi kanan Arif dan mang Tohir.
Lantai tiga dan empat!
Saat ini aku tak bisa mengendalikan tubuhku dengan baik. Jemari lengan ini terasa dingin seraya keringat yang mulai bercucuran dari keningku. Bahkan, ke-dua belah pipiku terasa begitu hangat, masih dengan nafas boros. Kini aku tenggelam oleh lautan emosi yang begitu menggebu.
Suara balok dan bambu kering yang tersapu kaki, seakan menggambarkan situasi genting dalam ruangan ini.
"Mas ..."
"Den ... "
Entah apa yang mereka pikirkan. Membantu tidak, hanya memajang wajah dungu sambil memanggil-manggil namaku setiap kali berpapasan denganku. Namun itu semua tak memperlambat langkah ini menaiki anak tangga untuk menuju lantai tiga.
"Mas ...."
Aku menghela nafas tak sabar, dan menoleh cepat pada mang Tohir yang mengekor di belakangku, "Ngapain! Mending bantu di tempat lain!"
"I-iyaa ... Mas ... " Mang Tohir kembali menuruni anak tangga dan hilang ditelan kegelapan.
Semerbak bau aneh seketika membius hidungku, saat aku tiba di lantai yang aku tuju.
Jelas lantai ini sangat berbeda dari yang lain. Ruangan terasa begitu panas dan pengap, meski tak mempunyai pintu dan jendela. Lantainya terasa begitu lembab—oleh genangan air yang terlihat di setiap sudut ruangan—dan dipenuhi tumpukan balok yang tak tersusun rapi, tergeletak begitu saja di atas lantai.
Kurasa tak mungkin Edi berani menginjakan kaki di lantai ini, karena aku tahu betul jika ia bukan tipikal orang yang bernyali besar.
Sejenak aku terdiam tepat di bibir tangga, mencoba mengatur nafas ini yang mulai terasa mencekik leherku. Sesekali aku mengamati anak tangga yang merujuk pada lantai dua, dan menerawang semua bagian di lantai ini. Hanya perasaanku saja!
Aku menarik nafas dalam-dalam, dan kembali bergema, "Di ... "
Derit kaki melewati kubangan air, terdengar jelas memecah ruang hening dan gelap. Perlahan tapi pasti, aku malai menyusuri semua bagian yang ada di lantai ini. Nampak di hadapanku, sebuah ruang yang terhimpit oleh tiga kamar yang masih tak berpintu.
"Di! ... " Aku sangat yakin suara ini cukup terdengar jelas, jika ia memang berada di lantai ini pasti akan meresponnya.
Duuuuuggg!!
Aku tersentak dan menoleh cepat, saat kudengar sesuatu terjatuh dari arah anak tangga yang menuju lantai empat, "Di?" Aku mengernyitkan alis, mencoba memperhatikan suara tersebut.
Duuuuuggg!!
Dan suara itu kembali terdengar, tapi kali ini di tempat yang berbeda.
Duuuuuggg!!
Aku sedikit tersenyum dan menaikan satu alisku, Dasar bocah bengal! Suara itu terdengar ganjil—seakan dibuat-buat—aku yakin, pasti pelakunya orang yang tengah aku cari, tidak lain dan tidak bukan, ialah adikku.
Baru Aku bisa menghela nafas lega, meskipun membuatku panik setengah mati, paling tidak ia baik-baik saja.
Duuuuuggg!!
"Oi! Keluar ... Udah main-mainnya, lah!" Lantangku, berjalan menghampiri tangga dan menjulurkan kepala mendongak ke atas, "Di ... Turun! ... "
Duuuuuggg!!
Aku berdecak malas, lalu menapaki anak tangga satu per satu dengan cahaya senter menerangi penghujung lorong yang gelap. "Di ...."
Mataku membesar, saat tiba di lantai empat, dan tak kudapati seorang pun di ruangan terbuka ini. Hanya ada tumpukan kayu yang telah mengering dan basah—terguyur air hujan. Aku sedikit menaikan dagu, terdiam dan hening, menantikan suara yang kudengar tadi.
Sangat mustahil seseorang bersembunyi di ruangan ini, karena hanya dengan satu kali pandang saja aku sudah bisa melihat dinding pembatas yang memagari setiap sudut ruangan—pagar dinding itu hanya setinggi pinggang pria dewasa—dengan lima pilar yang menyangga atap di setiap ujung perseginya.
Aku menarik lirik pada sebuah tangga berukuran mini—mungkin hanya cukup untuk satu orang—yang mengarah ke lantai berikutnya. Namun tangga itu nampak begitu rapuh, karena belum sepenuhnya selesai dikerjakan—terlihat dari deretan bambu yang menopang tangga tersebut dari bawah—bahkan masih ditutupi oleh ranting kering dan karung goni. Tak mungkin Edi menerobos itu semua.
Perasa yang mula tenang, kini kembali terguncang. Hembusan nafasku bertambah cepat, seraya jantung ini berdebar semakin tak karuan. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi, kemana lagi aku harus mencarinya.
Aku menoleh ke arah dinding pembatas, dan memikirkan sesuatu. Hanya ada satu tempat yang luput dari mata ini yaitu. Halaman depan! Mungkin akan sangat baik mengamati sekitar rumah dari jarak setinggi ini.
Aku menjulurkan setengah badan—melewati dinding pembatas—dan mengedarkan cahaya senter ke segala penjuru.
Di depan rumah nampak begitu sepi, hanya ada pepohonan liar yang bergoyang oleh angin yang berhembus sedang.
Aku meletakkan jemariku pada pipi dan menarik nafas panjang, "Di ... " Seketika suaraku terdengar menggema di tengah sunyinya malam.
Tubuhku semakin terasa lemas, termakan oleh pikiran negatif akan kondisi adikku. Aku tak tahu harus mencarinya di mana lagi. Semua ruangan di rumah ini sudah aku sisir, tanpa satupun yang luput dari mataku. Tapi mengapa tak ada satupun petunjuk yang kutemui.
Hingga sesuatu menarik perhatianku. Aku menyipitkan mata, mengamati pekarangan depan dengan sangat hati-hati. Entah mengapa firasatku begitu kuat tertuju pada sebuah gundukan pasir yang berada di halaman depan rumah.
"Oi! Rif! ... Mang! ... " Aku berusaha memanggil mereka dengan tidak sabarnya, "Mang! ... Rif! ..."
Tak lama terlihat mang Tohir keluar, ia berputar-putar mencari sumber suaraku. "Mang!"
"Ketemu, Mas?" pekiknya, ia mendongak menatap ke arah dari bawah.
"Coba buka itu terpal ... " Ia kembali memutar tubuhnya, mencari sesuatu yang aku maksudkan, "Het-dah. Itu! ... Yang buat nutupin pasir!" Aku mengangkat tangan—memintanya membuka terpal tersebut.
Tak banyak bicara ia pun menarik terpal berwarna biru dari tempatnya, dan sesuatu pun kami temukan.
"Mas ... Edi, Mas!"
Tanpa berpikir panjang Aku berbalik dan berlari secepat mungkin untuk segera menuju lantai dasar. Namun sungguh sial, rasa panik yang terlalu besar membuatku tak memperdulikan apapun, hingga aku tak menyadari jika ada sebongkah balok yang melintang tepat di tengah ruangan yang membuat tubuhku terpelanting, jatuh tersungkur.
Aku merintih berguling-guling, menekap Dadaku yang terbentur kuat oleh benda tumpul yang tergeletak di atas lantai. Aku tak mampu menghembuskan nafas panjang.
Dengan tergagap-gagap, aku mencoba meraih sebongkah balok yang tergeletak tidak jauh dariku, untuk membantu bangkit dari cidera yang hampir membuatku tak berdaya.
Hilir terdengar derap kaki tergesa-gesa menaiki anak tangga, "Mas! Mas ... " Sepertinya Mang Tohir dan Arif tengah mencariku di setiap lantai.
Hingga mereka pun tiba di bibir tangga lantai ini, "Den ... " Arif yang menyadari aku dalam kesulitan, sigap menghampiriku dengan langkah cepat, lalu berlutut meraihku, "Lu, kenapa?"
__ADS_1
"Gu-guuuee ... Gue nggak apa-apa, Rif ... " Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun masih sangat sulit.
Aku mencengkeram bahu Arif dengan kuat, "Edi ... "
"Edi udah di bawah, Den ... " Arif menundukkan wajahnya, "Dia ... Tak sadarkan diri!"
Aku terdegup hatiku terasa tercabik-cabik saat mendengar perkataan Arif. Seakan semua firasat buruk yang aku rasakan menjadi semakin nyata.
Anj*** ... !!! Amarahku tak terbendungkan lagi, bahkan lantai pun menjadi bulan-bulanan kepal jemariku. "Siapa yang berbuat itu!" Namun Arif dan mang Tohir hanya membisu.
"SIAPA YANG BERBUAT ITUUUU!"
"Mas ... Sabar, mas ...."
"Y ... Iya, gue nggak tau, Den ...."
"I-iya, Mas ... Mana mungkin kami melakukan itu pada adik, Mas."
"Jika bukan kalian! Lantas SIAPAAA!!!"
"ka-kami—"
"Den, lu tau, kan. Cuma ada kita di rumah ini, tapi berani sumpah. Demi apapun! Bukan Gue dan mang Tohir yang melakukan itu!"
"Be-betul, Mas. Lagipula kita semalaman berbincang bareng. Dan Edi pun berada di kamar bersama mas Arif."
Aku menyambar kerah baju Arif, dan menatapnya tajam. "Bawa Edi dari sini!" Detak jantungku berdebar semakin cepat.
"Ta ... Tapi. Lu gimana?"
Aku mengeritkan gigi, nafasku kembali tak beraturan, "Bawa Edi dari sini!" Aku bangkit, walau masih terhuyung-huyung dan bertumpu pada sebongkah balok.
"Mang! ... Ikut bersama Arif! Mungkin tenaga kau jauh lebih berguna!"
"Ba-Baik, Mas ... "
"O-oke, Gue balik lagi nanti, Den! ...." Arif mulai bergerak cepat, berbalik lalu berlari. "Ayo, Mang!"
"Ya ... Ya, sudah ... K-kami duluan, ya. Mas."
Langkahku tertatih-tatih, dengan telapak lengan menyikap dada, aku menghampiri sisi dinding untuk melihat Edi dan yang lain pergi dari rumah ini.
Betapa tak kuasanya hati ini, ketika melihat sang adik terkulai lemas tak berdaya, bahkan aku tak tahu kondisinya saat ini. Rasa cemas yang mendalam, cukup membuat mata ini berkaca-kaca.
Usai menaikan adikku di atas kendaraan bermotor, Arif melambai ke arahku dan berseru, "Gue ... Nggakkk lamaaa! Tungguu!" Mereka pun pergi meninggalkan aku seorang diri di rumah ini. Kini aku hanya bisa berharap jika Edi akan baik-baik saja.
Nafasku bertambah berat, telapak tangan ini bergetar hebat. Aku tak sanggup lagi membendung arus emosi yang semakin menjadi-jadi. Aku berbalik badan, menatap tajam ke arah ruangan yang gelap gulita. Bahkan aku mematikan sumber cahaya satu-satunya.
"Entah makhluk apa kalian! ... Alient, kah! Hantu, kah! Jin, kah! Apapun kalian yang ada di sini!" Aku membentangkan balok ke arah belakang. "Keluar kalian semuaaa!!!" Dan melemparnya hingga melesat cepat, dan menghantam balok-balok yang tertumpuk di sebuah sudut, menimbulkan dentuman yang begitu keras.
Aku memutar lirik, sesaat merasakan angin kasar yang menerpa tengkuk leherku. Aku menyeringai tersenyum, ketika merasakan bulu roma ini mulai meremang.
"Siapa yang melakukan itu!" gusarku. Berbalik dengan sikut mengincar. "Siapa yang melukainya!" Mataku mengitari ruangan, namun tak ada seorang pun di belakangku, selain suara balok yang berjatuhan pada salah satu lantai di bawahku.
"Oiii!!! KELUAR!"
Bruuuuaaaakkk ... !!
Balok-balok yang tersusun tercerai-berai di atas lantai, saat telapak kaki melesat cepat menghantamnya.
"POCONG! KUNTILANAK! KELUAR KALIAN!!"
Aku menyambar sembongkah balok yang cukup panjang, dan menyeretnya menuruni anak tangga hingga ke lantai tiga. Suasana dan bau tak sedap jelas terasa di sini, membuat lantai ini memiliki kesan yang sangat berbeda.
"Kalau itu perbuatan kalian!" Nada ini terdengar gemetar, tak kuasa manah emosi yang tak bertuan. "Keluar ... Ayo nampak kalian!"
BRUAAAAKKKKK!
Tak kusangka jika mereka benar-benar menanggapiku. Suara isak tangis seorang wanita, semilir terdengar lirih, setelah aku melempar balok secara brutal mengarah pada suatu sudut ruangan.
"Cuma nangis! ... ANAK KECIL JUGA BISA!!" Aku mengikuti suara tangisan itu dengan langkah cepat, Tapi ini sedikit aneh. Semakin aku mencarinya, suara itu kian menjauh, namun masih terdengar dengan jelas.
"Sampai nampak! Gue lucuti pakaian lu!"
Brraaakkkkk!!!
Aku memukul dinding dengan sebongkah balok dengan keras, "Keluar! Wedus!"
Seketika aku berlari secepat mungkin, saat aku yakin jika suara tangisan itu berada di salah satu kamar di lantai ini.
Kamar yang kutuju tak begitu luas, dan masih morat-marit. Dinding dan lantainya saja masih sangat kasar, dan tanpa pintu maupun jendela.
Namun tetap tak kulihat seorang pun di dalam kamar ini. Hanya saja suara tangisan itu tak lagi terdengar olehku.
Gbbruuukkkkk!
Aku tertegun, saat suara bantingan pintu yang berada di lantai dasar menggelegar, menggema hingga lantai ini.
Pintu depan, kah!
Aku segara menuruni anak tangga dengan tergesa. Aku yakin jika itu bukan perbuatan Arif dan mang Tohir, karena tak ada tanda-tanda dari suara kendaraan yang mendekat.
Langkahku tersentak, sebelum aku tiba di dapur—masih ditengah anak tangga, antara lantai dasar dan dua—Aku dikejutkan oleh sesosok bayangan hitam pekat, tengah menuruni anak tangga berlari menuju depan rumah dengan sangat cepat. Tentu saja aku mempercepat langkah untuk mengejarnya.
Namun setibanya aku di lantai dasar—tepat di ruang dapur—aku memandang ke segala arah, tapi anehnya tak ada seorangpun di sini, bahkan pintu dapur dan pintu depan masih tertutup rapat.
Krreeeekkkk ....
Pelataran gelap dan sunyi, nampak jelas saat aku membuka pintu utama. Aku melangkah melewati pintu, hingga terhenti tepat di tengah teras depan.
Pohon-pohon seakan menari-nari seraya semilir angin meraba halus tengkuk leherku. Mataku memutar—mengamati setiap penjuru pekarangan rumah—namun tak kulihat siapa pun di sini.
Hingga netra ini terhenti pada sebuah rumah putih yang megah—berada di sisi kiri rumah kami—dan dapatlah sesuatu yang nampak janggal di sana.
Aku tertegun, saat kudapati seutas kain putih, yang menjuntai di tengah balkon tersebut.
Merasa kurang yakin dengan apa yang kulihat—karena bisa saja itu hanya sebuah selimut atau sejenisnya—Aku mempertajam penglihatan untuk mengamatinya dalam-dalam.
Dan, hal pertama yang kuamati adalah. Bagaimana caranya kain itu bisa tergantung di sana. Serta bentuknya seperti apa.
Lama aku pandangi, tapi tetap saja aku tak menemukan adanya seutas tali pun yang berada di sekitarnya. Tegak lurus, sedikit membungkuk dan bergerak samar. Memperkuat dugaan-ku, jika yang sedang aku amati itu. Adalah seorang manusia normal—mungkin itu wanita. Karena nampak mengenakan Mukena.
Bukan mustahil jika ia sang Pemilik rumah yang merasa terganggu oleh keributan yang aku timbulkan tadi.
Aku masih memandanginya tanpa berpaling sedikit pun. Ia terlihat hanya sepenggal badan—dari kepala hingga pinggang—kerena terhalang oleh pagar balkon.
Ah, sudahlah. Lebih baik aku mencari yang lain, ketimbang menambah masalah.
Akan tetapi. Baru sedikit saja aku berpaling dari sosok itu, seketika ia menyusut dan melesat dengan sangat cepat, diiringi lengkingan tawa cekikikan dan hilang di balik rimbunnya pepohonan dan gelapnya malam.
"Ciih!"
Aku masih tidak habis pikir dengan hal seperti itu. Mereka mampu menggoyangkan daun dan dahan, seakan ia memiliki fisik yang nyata.
Tak lama terdengar tangisan seorang wanita tersedu-sedu dari dalam rumah. Nah! Dengan sigap aku berbalik untuk mengikuti sumber suara itu berasal.
"Nangis lagi! ... Keluar bisa tidak! ...."
Langkahku terhenti tepat di mana suara tangisnya terdengar kuat.
"Kalian bisa bersuara! Tapi mengapa tidak menampakkan diri kalian!" gusarku, seraya mata yang terus mengamati pada setiap sudut ruang.
__ADS_1
"Keluar kalian! ...."
Aku terus mengikuti sumber suara itu, namun aku hanya berputar-putar di ruang tamu, seakan dipermainkan oleh suara tersebut. Acapkali aku semakin dekat, suara itu berpindah ke ruang lainnya.
Najis!
Hingga aku terhenti dekat tangga yang menuju lantai dua. Suasana mendadak hening, saat tangisan wanita itu tak lagi terdengar olehku.
Dengan waspada aku menoleh ke segala penjuru, namun tak ada suara atau pergerakan apapun yang bisa aku rasakan di sini.
Aku menghela nafas letih, dan menatap sekujur tubuhku. Tanpa sadar, baju yang kugunakan telah basah oleh keringat yang tak henti bercucuran. Ditambah cidera pada betis dan paha, membuatku tak bisa berjalan dengan sempurna.
Sebaiknya aku menghubungi Arif, untuk menanyakan kondisi Edi.
Namun sesuatu aneh telah terjadi di belakangku. Aku terperangah, ketika berbalik haluan hendak menuju kamar nomor dua. Ruangan tamu kini telah dipenuhi asap putih kebiruan yang mengepul pekat—seperti ada benda yang terbakar—Namun aku yakin jika asap ini bukan disebabkan oleh sesuatu yang terbakar. Mustahil jika asap dari bakaran bisa seputih ini.
Asap ini jelas tak lazim!
Entah perasaan apa yang menusuk di batinku, namun firasat ini mengatakan, jika aku dalam masalah besar, dan ada sesuatu yang tak nampak tengah mengintai-ku.
Aku mendekap hidung dengan jemariku, saat semerbak bau aneh terasa sangat menusuk. Bau ini sangat tidak karuan. Terkadang barbau bangkai menyengat dan berubah menjadi bau hangit—bak rambut yang terbakar.
"Kalau berani sini! Nampak kalian!"
Tak ayal kepalaku terasa pusing disertai perutku bergejolak—terasa mual, tak tahan dengan bau yang menusuk hingga kerongkongan-ku.
Brruukkkkk...
Aku menoleh cepat pada pintu dapur yang tiba-tiba terbuka begitu saja—seperti ada sesuatu yang mendobraknya—. Entah apa yang menghantamnya, hingga menimbulkan suara sekeras itu, bahkan kunci Slot pada pintu tersebut sampai terpental mengenai badan lemari jati.
Tentu saja itu membuat jantungku berdebar kencang. Bahkan balok yang ada di lenganku tak hentinya bergetar, mengiringi langkah perlahan penuh waspada mendekat pintu dapur.
Semilir angin sedang mulai menyelimuti tubuhku, saat aku tiba tidak jauh dari ambang pintu. Sebisa mata memandang, hanya menyajikan kegelapan yang menyelimuti luasnya pekarangan belakang.
Suasana di sini terasa lebih hening, dan dingin. Semak belukar dan tumpukan bahan bangunan yang tak digunakan lagi menambah suasana semakin terasa mencekam. Di sudut kiri dan tengah, masih terdapat dua pohon rambutan kering yang dipenuhi debu Sement yang melekat pada daun-daunnya.
Bola mataku membesar. Aku merenggangkan kedua kakiku membentuk kuda-kuda, dengan jemari mengepal balok sekuat tenaga—bersiap dalam pertempuran.
Nampak jelas bayangan berwarna hitam sedang menuruni batang pohon secara perlahan. Bayangan itu hampir menyerupai gumpalan asap, namun tak mengepul—sangat rapih seperti kain sutra halus.
"Apa yang kalian inginkan!" pekikku, dengan suara keras dan menghentikan gerak dari bayangan itu. "Apa salah kamiiii!" Setelah bayangan itu menyentuh bumi, kini perlahan menjulang ke atas, seperti akan membentuk sesuatu.
Bulu kudukku tak bisa tertahankan lagi, berdiri dari kaki hingga ubun-ubun. Semakin tinggi semakin jelas perubahan wujudnya. ia hampir membentuk bahu dan kepala.
Belum usai dengan bayangan itu, tiba-tiba tubuhku terasa begitu berat, hingga membuat lututku bergetar. Aku seakan sedang memikul puluhan karung beras di atas punggung.
Namun semua itu tak mengalihkan perhatian ini pada sosok hitam yang kini menjelma menjadi seorang Nenek tua berpakaian kebaya khas Jawa yang bercorak batik berwarna kuning dan hitam.
Aku tidak mengerti, mengapa sosok Nenek ini terasa tak asing bagiku, "Kauu! ... " Belum sempat berbicara, seketika kakiku semakin bergetar kuat, tak kuasa menahan beban berat yang semakin menjadi. Hingga memaksaku untuk menapakkan satu tangan di atas tanah.
Ke ... Ke-kenapa seperti ini! Ada apa dengan ... Tubuhku ... ini!
Bagaikan serangan bertubi-tubi, kini angin kencang menerpa wajahku dengan sangat kasar, bersamaan dengan hilangnya sosok sang Nenek dari tempatnya.
Sekujur tubuhku mendadak menggigil—seperti tersiram air Es—Penglihatan-ku mulai terganggu, semua nampak menjadi buram, samar tak jelas. Ditambah bibirku yang terasa begitu dingin, hingga tak mampu lagi untuk menelan ludah.
Sebisa mungkin aku bertahan dari situasi ini, bersikeras untuk melawannya. Sesekali aku mengerang untuk mengerahkan seluruh tenagaku—berharap bisa bangkit dari tekanan yang kuat ini.
Akan tetapi semua itu sia-sia, kilatan cahaya terasa menggelegar di bola mataku, bahkan ke-dua gendang telinga ini berdenging hebat, hanya menyisakan suara hembusan nafas yang semakin melemah.
Sekuat aku berontak, maka semakin aku terhisap oleh kegelapan yang hendak membawaku secara paksa. Dan akhirnya aku pun menyerah. Di sinilah pemandangan paling mengerikan yang pernah aku alami.
Mataku membesar, seluruh tubuhku terasa dingin sepenuhnya, tak bisa menerima kenyataan yang begitu memilukan ini.
A-apakah aku sudah ... batin ini terasa terpukul, saat aku melihat diriku sendiri yang tengah berjuang agar tetap tersadar.
Mungkinkah aku ini telah ...
Aku melayang di udara—tidak jauh dari jasadku yang masih setengah berdiri—terinjak oleh sebuah kaki raksasa yang begitu besar dan berbulu lebat, menyerupai kaki seekor gorila raksasa.
Bahkan satu bulunya saja setara dengan satu batang sapu lidi. Belum lagi kaki itu memiliki kuku yang sangat mengerikan. Bentuknya hampir sama dengan kuku manusia pada umumnya, hanya saja sedikit melengkung—bak kuku seekor burung elang.
Aku tak bisa berkata-kata, tak bisa pula membayangkan betapa besarnya mahkluk ini. Bahkan aku tak bisa melihat lututnya yang menembus langit-langit rumah.
Aku menyadari jika bukan hanya sosok itu saja yang dapat terlihat olehku. Di setiap sudut pekarangan belakang, nampak barisan mahkluk lainnya yang tengah memperhatikanku dengan wujud yang tak lazim.
Bahkan ada satu mahkluk yang begitu mencolok di antara lainnya. Sosok itu memiliki leher yang sangat panjang, hinga wajahnya dapat menyentuh tanah.
Apakah aku sedang bermimpi? Jika begitu ... Kumohon! Sadarkan aku dari mimpi buruk ini!!!
Aku memukuli kedua pipiku dengan sangat kuat, namun aku tak bisa merasakan apapun. Di sisi lain jasadku telah terkapar, terhalang oleh kaki besar yang menutupi seluruh tubuhku—hanya terlihat lengan kanan yang menjulur keluar dari celah telapak kaki itu.
Meskipun terpisah dengan jasadku, namun mengapa, aku masih bisa merasakan sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Seperti menjadi pertanda jika fisik ini sudah mencapai batasnya ...
----------------------------------------------------
"Terus, apa yang terjadi, Den?"
"Hari itu ... Menjadi awal di mana aku tak bisa membedakan. Mana teman dan mana lawan! Manusia atau bukan!"
"Maksud kamu?"
"Aku terjebak di antara dua alam!"
Kurang lebih seperti itulah isi Massage BBM aku dan Deni. Nantikan Chapter berikutnya yang akan mengisahkan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Deni selanjutnya.
"Aku bisa merasakan! Bahkan tak jarang melihatnya! Terlebih, Gadis Kecil itu selalu mengikuti kemanapun aku pergi!"
*****************
Bersambung ...
*****************
#Note: Jumlah chapter keseluruhan ada 46.
Namun aku sedang melakukan tahap
Revisi. Jadi, mohon maaf jika Update
akan lebih lama. 🙏🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang
kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan: Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan, cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca, semoga
bisa menghibur dan mengisi
kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di episode
berikutnya. 👋👏 secepat mungkin
__ADS_1
kami menyelesaikan lanjutannya.
Insyaalla