Rumah Terbengkalai (True Story)

Rumah Terbengkalai (True Story)
True Story - Interaksi Astral Part 1


__ADS_3

Tiga bulan berlalu semenjak aku meninggalkan rumah tua bergaya khas belanda itu. Entah sudah seperti apa sekarang bangunannya, selama ini aku hanya menghabiskan waktu di rumahku yang berlokasi di Cilebut Bogor.


Keseharian-ku di sini sangat tidak jelas, tanpa ada aktifitas yang berarti,  selain bermain Game, makan dan tidur.


"A ... Bangun ...."


"Baru juga jam berapa, Mah ...."


"Itu ada telpon ... Lagian ini udah siang! Bangun ...."


"Iya-ia ...."


Dengan mata sayup-sayup, aku duduk di atas kasurku. Akhirnya ini aku


"Abis itu langsung mandi!"


"Iya, Mamah ...." sahutku,"lagian siapa juga yang telpon, pagi-pagi kayak gini!"


"Kamu ini ... Kerjanya cuma main Game, Game terus!, hampir tiap malam!" gerutu Ibuku, dan berlalu.


Kring..!! kring..!!


Pandangku beralih pada ponsel yang terdengar sangat menggangu. Nomor siapa lagi, ini ....


"Hallo," sapaku, mengerutkan satu alis saat mendengar suara bising dari lawan bicaraku, "Ini Siapa!?"


"Den ... ini Babang." Berapa banyak nomor ini Orang ....


"Deni kira siapa ...."


"Gimana kabar, Mamah, Den."


"Alhamdulilah baik Bang," jawabku. "Lagi di mana si Bang? bising amat."


"Syukurlah kalau sehat, Babang lagi di Loji Den, lagi ngeliatin yang pada kerja."


"Wah, udah mulai dibangun, toh, Bang?"


"Udah setengah jadi Den," jawabnya, terdengar ia sedang berjalan menjauh dari kebisingan.


"Gini Den ... Babang, kan, gak bisa kalau terus menerus mengawasi pekerja di sini ... Babang harus pulang ke Serang. Si, Arif, disuruh mandorin tapi ga becus ... Dia pengen berdua sama Deni, katanya, gimana bisa gak?"


Mengingat tabunganku yang sudah semakin menipis, karena tidak ada pemasukan semenjak aku tinggal di rumah.


"Bisa, Bang ...," seruku, dengan semangat, "Asal ada arus ke ATM, Bang ... " gurauanku, membuat bang Yudi tertawa ringan.


"Itu bisa diatur, Den ... Tapi, Berangkat sekarang, ya, Den, Babang tunggu, di Loji." Tak sempat menjawab Yudi mengakhiri panggilannya.


Selalu saja berakhir seperti ini jika berurusan dengannya, semua harus dilaksanakan cepat, walau aku bukan tipikal orang yang tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah.


Aku lantas beranjak dari kamar, untuk membersihkan diri, dan bersiap—meluncur ke Bogor.


Ibuku yang menyadari anaknya ini sangat sibuk mempersiapkan segala yang hendak aku bawa, ia pun bertanya, "Mau kemana, A?" datar ibuku, yang sedang asyik menonton TV di ruangan tamu.


"Mau ke Bogor, Mah."


Derap Langkah kaki mendekat, seraya Ibuku berdiri di ambang pintu kamarku, "Ketempat, Yudi?"


"Iya, Mah ... Tadi dia telpon aku."


"Sampai kapan, kamu mengikutinya?"


"Aku tidak sampai hati, Mah. Jika menolak tugas darinya ... Saat aku di Bandung, dia yang memfasilitasi, aku."


Ibuku menghela nafas ringan, "Iya, Mamah tahu, tapi memang sewajarnya dia seperti itu."


"Tetap saja, Deni nggak enak, Mah."


"Lantas berapa lama kamu di sana?"


Ibuku sudah tahu betul, setiap kali aku bersama bang Yudi, pasti akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan sampai berbulan-bulan.


Kendati demikian, bukan berarti aku mengabaikan keluarga tercintaku. Setiap bulan aku tetap mentransfer sejumlah uang ke rekening Adikku, untuk memenuhi semua kebutuhan orang rumah. Mengingat aku sudah tak lagi memiliki seorang Ayah.


"Mungkin lama, Mah." Aku menutup resleting tas-ku, seusai memasukan beberapa pakai ke dalamnya.


"Boleh, kan. Mah?" Aku menoleh, dan tersenyum hangat ke arah ibuku.


"Kalau itu baik untukmu ... Mamah tidak bisa melarangnya," ucap Ibuku, seraya senyuman terukir dari wajahnya.


Aku mengangkat tas-ku, lalu mencium lengan Ibu untuk berpamitan.


"Jaga diri kamu baik-baik ... Jangan sekali-kali kamu salah dalam pergaulan."


"Mamah tenang saja ... Deni selalu ingat semua nasehat, Mamah," ucapku, yang dianggukan oleh Ibu, "Deni pergi, Mah. Salam buat kedua adikku ... Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam, hati-hati di jalan."


Usai berpamitan, aku pergi meninggalkan rumah, dan seperti biasanya, aku berjalan kaki, menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke Bogor, karena hanya ada satu kendaraan di rumahku, itupun digunakan untuk keperluan sekolah adikku.


Untunglah udara sekitar masih tidak begitu panas, aku berjalan dengan langkah cepat, untuk segera tiba di Stasiun Cilebut.


Walau bisa juga menggunakan angkutan umum lainnya. Namun aku lebih memilih Kereta Api sebagai transportasi favoritku. Selain cepat, juga sangat mengirit kantong, karena harga tiket-nya yang sangat ekonomis yaitu, hanya 1,000 rupiah.


Sangat jauh berbeda jika di banding dengan angkutan umum lainnya, yang bisa merogoh kocek hingga 3,000 rupiah, itupun membuang waktu yang sangat lama.


Selang berapa jam aku menempuh perjalan. Kini aku telah tiba di depan Gg Loji. Mobil angkutan umum yang membawaku, perlahan menepi tepat di bibir jalan Gg Loji.


Bip-bip ....


Aku kembali berbalik badan,


"Mas ... Kurang, nih ...."


Aku mengernyitkan alis, lalu menghampiri mobil Keri berwarna biru tua itu.


"Biasanya juga segitu, Bang."


"Jaman Belanda!? Ini cuma seribu, Mas."


Mataku melebar, melihat selembar uang yang dijulurkan ke arahku oleh sang Supir. Beruntung cuaca saat ini sedang panas, cukup untuk berkamuflase, menutupi wajah merahku—malu setengah mati.


"Sorry, Bang ... Salah ambil uang," sahutku, mengganti selembar uang itu dengan pecahan lima ribu. Namun sial, sang Sopir tidak memberikan kembali padaku, ia justru tancap gas, pergi. Kampret!!!


Aku menghela nafas panjang, lalu melanjutkan perjalanan. Namin di depan Gg. Loji, sudah menanti beberapa tukang Ojek, yang tengah memperhatikan-ku dari kejauhan.


"Ayo ..."


"Ojek, Mas ...."


Tak perlu diminta jika ingin menaiki Ojek di sini, karena mereka semua terlebih dahulu melambaikan tangan, pada siapapun yang hendak masuk kedalam Gg. Loji.


"Boleh, Mang." Aku mendekat pada sekumpulan orang yang duduk pada sebuah pos terbuat dari kayu, yang beratap daun kelapa kering.


"Oke, siap ... Kemana mas?" seru seorang tukang Ojek, dengan gesit menaiki motornya.


Aku tidak tahu tepatnya, nama Jalan ataupun RT/RW rumah Loji,


"Nanti saya tunjukan arahnya," ucapku, naik pada motornya, "Saya lupa namanya jalannya, apa," lanjutku. dan kami pun mulai melaju.


Hingga tepatnya Jam dua siang, akhirnya aku tiba di tempat yang aku tuju.


Aktifitas kontraktor terasa ramai dari kejauhan, Truk Molen berukuran besar terparkir angkuh di depan rumah tua itu. Genangan air bercampur Sement mengalir di sepanjang jalan, begitu banyak debu yang mengepul, bersatu dengan angin yang berhembus—membuat udara sekitar terasa tidak segar.


"Stop di sini aja, Kang," ucapku, menepuk pundak tukang Ojek.


"Siap," jawabnya, dan motor pun menepi, "Makasih, Mas ..." lanjutnya, seusai aku turun dan membayar ongkosnya.


Aku turun tidak di depan rumah Loji, karena jalan satu-satunya sudah habis oleh beberapa Truk yang terparkir di sepanjang jalan.


Aku melangkah sedikit berjinjit, untuk menghindari genangan air yang bercampur Sement. Berjalan menyusuri bibir jalan, dengan lengan yang menutup hidung, menahan agar debu pekat ini tidak terhirup olehku.

__ADS_1


Suara bising yang terdengar saat aku berbicara dengan Yudi ternyata bersumber dari beberapa Truk yang sedang beroperasi ini. Selang berukuran besar—cukup untuk menelan satu bola sepak. Selang itu berwarna biru yang dipenuhi bercak Sement—mengering. Menjulur hingga berakhir di lantai tiga.


"Den ...."


Aku menoleh cepat, saat kudengar pekikan dari seorang pria.


Terlihat Arif dengan pakaian kaos hitam bergaris kuning, mengenakan celana pendek, dan sebuah Handphone yang ada di genggamannya.


Ia sedang berada di depan rumah bersama Yudi, dan dua orang pekerja lainnya.


Aku terpaku saay melirik ke rumah tua itu, Wow!!!


Bangunan lapuk bergaya khas Belanda itu, kini sudah tak nampak lagi di mataku.


Hanya tersisa puing-puing kayu yang tak berarti, tertumpuk begitu saja di pekarangan depan rumah,


yang telah menghitam. Mungkin sisa dari bangunan lama.


Rumah tua itu telah berevolusi menjadi bangunan baru yang sangat kokoh dan megah. Dua tiang penyangga di teras depan rumah, menopang balkon di atasnya, keramik bercorak bunga, berukuran besar, terhampar menghiasi lantainya.


Bahkan dua jendela yang menghimpit pintu utama, memiliki corak indah, berupa ikan Koi yang bertabur bunga mawar merah. Meskipun dinding itu belum dilumuri cat, tapi sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


"Den, sini ... Banyak debu di situ," sergah Arif.


"Mantap, ya ... Den," tambah Yudi penuh wibawa.


"Jiwa mantap, Bang," sahutku, membuat Yudi tertawa menang.


"Nanti Deni dan Arif sementara tinggal di sini dulu ... Banyak barang bangunan mahal yang tersimpan di kamar nomor dua," kata bang Yudi, sambil menepuk-nepuk bahuku perlahan, "siap, kan. Den?" lanjutnya.


"Siap ... Bang, lagian aku udah ada di sini, juga. Nggak mungkin aku nolak," jawabku, membuat Yudi tertawa terbahak.


"Tapi ... Jangan pulang tanpa ijin lagi, ya?" gurau Yudi, membuatku teringat akan sesuatu yang membuka senyum dan menahan tawaku.


"Maaf ... Rif, gue lupa ngasih tau kalau ada tukang yang akan merubuhkan bangunan waktu itu," jawabku sambil mengusap rambut belakang.


"Parah-parah ...," ucap Arif dengan tawa tak tertahan, "gue terbangun gara-gara denger suara Buldoser di depan rumah ... Untung mang Usaman bangunin, kita."


"Tepatnya .... Untung nggak ikut di gusur, lu, Rif," komentarku, sambil cekikikan.


"Maaf, Pak, menggangu," kata seorang kontraktor berpakaian rapih, lengkap dengan helm kuningnya. "Ini truk yang terakhir Pak, tadi Bapak pesan lima truk berisi Full Sement," lanjutnya, lalu memperlihatkan sebuah kertas catatan yang ia berikan kepada Yudi.


"Oke ... Ini yang terakhir berarti, Pak?" kata Yudi, mengambil selembar catatan itu dan mengobrol dengannya, seperti mengacuh pada pembayaran.


Waktu terus berlalu, tepat pukul 16:30 WIB, satu per satu truk sement itu sudah mulai meninggalkan lokasi diiringi para pekerja lainnya.


"Rif ... Cari orang yang bisa beres-beres," kata Yudi.


"Itu bisa diatur, Bang."


Langkah Yudi tercekat, sejenak melihat ponsel miliknya yang berdering, "Wah! Babang harus pulang ke Serang sekarang," kata bang Yudi dengan tergesa-gesa.


"Buru-buru banget, Bang?" kataku diiringi suara motornya yang menyala. "Hati-hati, Bang."


"Nanti Babang transfer ke-ATM kalian, buat pegangan selama tinggal di sini," kata bang Yudi dan berlalu dengan sepeda motornya.


Kami hanya melongo, melihatnya pergi. Dia ingin aku cepat datang ke sini, namun ia sendiri ingin cepat meninggalkan rumah ini.


"Akhir-akhir ini ... Si Baso, suka kayak gitu," ucap Arif, membuatku memutar otak.


"Buru-buru pulang?"


Arif, menurunkan bibir, dan mengangguk-angguk samar.


"Masuk, yuk."


Angin berhembus semakin kencang, seiring mentari yang semakin redup.


Dan untuk kedua kalinya, aku menginjakan kaki di rumah ini. Meskipun kini seluruh bangunan sudah berubah total, namun tidak dengan pepohonan nan rimbun, serta rumput liar yang nampak memadati sisi lain dari rumah ini.


Aku mengerutkan alis melihat tajam pada pagar tembok yang menjadi pemisah antara rumah kami dan rumah sebelah, aku tersenyum kecil setelah membaca pelang yang cukup besar bertuliskan, 'JANGAN KOTORI RUMAH KAMI' aku pikir sebelumnya rumah itu tak berpenghuni. Paling tidak kini aku tahu. Jika kami memiliki tetangga.


Sedangkan, untuk ruang tamunya terasa jauh lebih besar dibanding sebelumnya, jika memandang lurus ke depan dari pintu utama, aku bisa melihat dapur, dan sebuah tangga pada sudut kanan, yang menuju lantai berikutnya.


Hanya ada dua tempat duduk dan satu meja jati kotak, di ruangan tamu seluas ini. Dan masih tercium bau Sement yang membuat seisi rumah terasa pengap.


Seperti biasa, rasa penasaran ini takan terobati jika aku belum melihat seluruh ruang yang ada di rumah ini.


"Mau kemana, Den," sapa Arif, ia duduk pada sebuah bangku.


"Liat dapur," singkatku, tak menghentikan langkah.


"Bikin kopi?"


Aku melambaikan lengan kananku, "tidak!"


Langkahku tercekat, saat tiba di ruangan yang aku tuju. Dapur ini cukup mewah, dengan Kitchen modern yang megah. Padahal belum sepenuhnya jadi, dapur ini ....


Pintu belakang yang terbuka, menyajikan pemandangan yang tak aneh bagiku, namun kini hanya ada satu pohon rambutan, padahal saat itu berjumlah tiga pohon. 'Berarti ini tempat sumur itu ... Sekarang menjadi dapur.'


Hilir suara mesin motor, terdengar semakin mendekat.


"Den ... Cewek, lu datang, nih ...." Arif berseru dari ruang tamu.


"Ambil ... Buat, lu, Rif!"


Karena masih belum puas melihat-lihat, aku tidak ikut serta, menyambut mereka yang baru tiba.


Meski matahari belum sepenuhnya terbenam, namun di dalam rumah ini sudah terasa sangat gelap. Ini karena tidak adanya lampu yang terpasang pada setiap ruangan. Ini akan Sangat menarik!


Mataku bergulir pada lemari bekas yang nampak tidak asing bagiku. Lemari ini pernah aku jumpai, saat pertama berkunjung ke rumah ini. Mungkin karena kondisinya yang masih layak pakai.


"Woy!" Refleks aku berteriak, saat aku dikejutkan oleh seorang yang menepuk bahuku dari belakang.


"Kampret ...." Pekik-ku, menggelengkan kepala, saat melihat Ardan berjalan menjauh menuju ruang tamu.


Aku pun memutuskan untuk menyudahi penelusuran ini, lantas membuntuti Ardan yang berbelok masuk pada salah satu kamar.


Namun ketika aku sampai di ruangan yang aku tuju. Aku hanya melihat Arif dan Alvien, tentu saja itu membuatku merasa aneh.


"Lho ... Ardan mana?" tanyaku mengerutkan kedua alis, melirik ke-sana sini.


Alvien yang baru melihatku nampak begitu senang, hingga ia berseru, "Widih ... Ke-mana 'aja, lu, Den?" Alvien menghampiriku, sambil menggeleng samar, "Sorry, Den ... Tadinya dia mau ikut cuma nggak jadi. Gara-gara, si, Adam minta anter ke Laladon."


Dengan tatapan hampa dan bingung aku melirik lurus ke arah dapur. Lantas yang tadi itu apa ...


"Ya sudah, sekarang mending kita beli kasur busa dan beberapa pelengkapan untuk beres-beres rumah," tukas Arif.


"Hayu, Rif," jawab Alvien.


"Sini duitnya ... Biar gue sama Alvien yang jalan," tambahku, Arif memberikan sejumlah uang padaku, "Lu nggak apa-apa, sendirian?"


Arif berdecak cemas, terlihat dari raut wajahnya, "Ya. Jangan lama-lama, lah."


"Tenang 'aja, Pak ... Lu nggak akan ada yang perkosa, kok."


"Sial, lu!"


Mengingat hari sudah mulai gelap, akan sangat tidak menyenangkan jika harus melintasi jalan Loji yang sunyi dan mencekam saat malam hari.


Aku dan Alvien pun pergi, bergegas untuk membeli semua kebutuhan yang kami perlukan di rumah ini.


***


Tepat pukul 18.25, aku dan Alvien berhasil membeli semua yang kami perlukan, dan tiba di depan rumah Loji.


Bip..!! bip..!! bip..


Alvien membunyikan kelakson, menandakan kedatangan kami.


"Woy ... Bukalah!" Pekik Alvien, tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tak lama terlihat Arif berlari dari dalam rumah, untuk membuka gerbang yang telah terkunci rapat.


"Cepat sedikit ... Berat ini kasurrr!" Pinggangku serasa ingin patah, memikul kasur busa yang cukup berat ini, di sepanjang jalan.


"Bawa masuk, nih ...."


"Sabarlah ... Sini gue yang bawa, Den."


Kami lantas membawa belanjaan kami masuk ke dalam, dengan dibantu Arif.


"Rig, kita bagi tugas, 'aja," saranku, yang mendapatkan perhatian dari mereka berdua.


"Boleh, Den."


"Baru juga nyampe ... Tugas apa, sih. Pak?"


"Gue, menyapu semua ruangan." Aku menoleh ke arah Alvien, "Lu, ngepel lantai ... Dan, lu. Rif. Siapkan tempat tidur." aku melirik mereka bergantian. "Gimana?"


"Sip ... Setuju."


"Setubuh, lah. Pak!"


Tak mau membuang waktu, aku mulai berkerja, menyelesaikan tugasku. Sedangan Arif dan Alvien sedang membuat secangkir kopi.


"Gantian kau, Govin!" Aku menarik lengan Alvien hingga ia terhuyung bangkit dari duduknya.


"Sue ... " Ia berlalu, setelah mengambil perlengkapan kerjanya.


"Kopi lu, tuh."


Tak kusangka mengurus rumah bisa selelah ini. Mungkin aku harus lebih menghargai kebersihan.


Aku menghela nafas, seraya mengangkat cangkir kopi yang telah disiapkan Arif.


"Alangkah murkanya, gue! Kalau besok ini rumah kotor lagi!"


"Nggak separah ini, lah. Den."


"Syukurlah ...."


Nampak Alvien yang sedang mengepel bagian dapur sudah tak terlihat lagi terhalang oleh dinding kamar nomor tiga, yang juga menjadi batas ruang dapur.


"Cepat amat itu bocah ngepelnya?"


"Yang penting udah kerja dia, Rif."


Namun tak lama terdengar sesuatu yang jatuh dengan keras diiringi suara Alvien yang merintih.


"Vien!" Aku bangkit dan berlari untuk menghampirinya.


"Vien ..."


Terlihat Alvien sudah terkapar di lantai dengan kedua tangan yang terus mengusap belakangan kepalanya.


Tubuhnya basah kuyup oleh cairan pembersih lantai, yang juga tercecer pada lantai beserta ember yang tergeletak di sisinya.


Aku meraih tubuh Alvien dan mengangkatnya hingga ia terduduk, "Vien?" tanyaku, mengingat suara benturan yang sangat kuat, aku memeriksa kepalanya—takut terjadi pendarahan.


"Lu, kenapa, Vien!" sergah Arif, yang juga tiba di dapur.


"Gue juga nggak ngerti kenapa bisa jatoh ... cuma ngerasa ada sesuatu di lantai, setelah itu aku terpelanting mencium lantai," lirih Alvien.


"Bisa jalan, kan. Lu?" Alvien mengangguk samar, ia berdiri perlahan dengan bantuan aku dan Arif.


"Biar gue yang lanjutin."


"Oke, Rif. Tolong, ya."


"Santai, Vien, lu istirahat dulu, aja."


Aku lantas membawa Alvien ke kamar yang telah Arif sediakan, lalu membaringkannya pada kasur busa.


"Gue buat susu, dulu," kataku, lalu berjalan menuju dapur.


Langkahku tercekat diambang pintu kamar, mataku melesat tajam ke arah dapur, Baru berapa jam saja aku di sini ini, namun firasat buruk kerap kali menusuk batinku.


Aku menghampiri Arif yang sedang berada di dapur, ia melanjutkan pekerjaan Alvien seorang diri.


"Rif, ngerasa ada yang aneh ga sih dengan rumah ini," Arif menoleh ke arahku dan melanjutkan pekerjaannya.


"Aneh gimana?"


"Gelisah, was-was, gitu?"


"Nggak ... Lu, gitu emang?"


"Dari pertama gue masuk rumah."


"Cuma perasaan, lu doang."


"Iya-kali, ya."


Disela percakapan, tiba-tiba suara mesin air terdengar berdering.


Grrriiiinnggggg...


"Udah ada mesin air ... Tapi lampu belum di pasang!"


"Komentar mulu, lu, Den!"


Arif yang telah usai membersihkan lantai, lalu beranjak menuju ruang tamu, "sekalian kopi Den," celoteh Arif.


"Kopi apa susu?"


"Oh, iya. Susu 'aja ...."


Aku menaruh tiga gelas di atas meja tembok berkeramik, aku sempat mencari gula dan kopi yang ternyata di simpan pada lemari jati tua yang tertutup rapat, karena hari mulai gelap, aku sedikit kesulitan untuk menuang gula dan kopi ke dalam gelas.


"Ya, ampun!" gumamku mendekatkan wajah pada gelas tersebut.


Namun Sesuatu aneh terjadi..!!


*****************


Bersambung ...


*****************


Untuk kalian, membaca tercintaku ...


#Note: Jumlah chapter keseluruhan ada 46.              Namun aku sedang melakukan tahap              Revisi. Jadi, mohon maaf jika Update              akan lebih lama. 🙏🙏


-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏


-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung


kami dengan memberikan:


Vote dan komenter yang positif, selama


masih ada permintaan,


 cerita akan terus aku update.


-Terima kasih telah membaca, semoga bisa


menghibur dan mengisi kekosongan waktu


kalian.


-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaalla

__ADS_1


__ADS_2