
Tak kusangka Mang Tohir memiliki begitu banyak kisah unik dan lucu, tak jarang mengundang gelak tawa, mengocok perutku. Contohnya saja, saat ia bekerja di suatu tempat untuk memperbaiki saluran pipa air yang tersumbat. Namun sial baginya, ia justru memasuki rumah yang salah. Dan yang membuatku geli. Saat ia mendapati penghuni rumah sedang asyik bermesraan dengan seorang wanita. Aku tak bisa membayangkan ekspresi wajahnya kala itu. Mungkin kata 'Malu' tidak cukup untuk menggambarkan situasi kacau saat itu.
Aku menepuk-nepuk perut, menahan kontraksi setelah terbahak lepas, "Kok bisa ... Sampai salah masuk rumah ayak gitu, Mang?"
"Itukan rumah susun, Mas .... Saya lupa nomor berapa, rumah yang bermasalah."
"Tapi ... Lumayankan, Mang?" Sekali lagi aku terkekeh, tak mampu membayangkan wajah bulat berkumis tebat itu tersipuh malu, dihadapan dua sejoli yang sedang merajut asmara panas.
"Lumaya apanya, Mas ... Saya justru kena makian ..."
"Itu, lho ... Yang aku bingung, kenapa Mang Tohir bisa masuk ke rumah itu," timpalku, memutar-mutarkan kepal tangan.
"Oh ... Itu dia, Mas ... Bodohnya itu Orang. Dia tidak mengunci pintunya,"
Aku tak kuasa melihat wajah kocak Mang Tohir, hingga membuat nafas ini terasa habis. Bahkan kopi yang hangat, sudah terasa dingin, tak tersentuh sedikitpun.
"Kalau seru kayak gini, pasti waktu nggak terasa, ya, Mang," aku melirik arloji, dan menjulurkannya, "Nah, liat Mang ... Jam 11, hampir tengah malam."
Melihat itu, mang Tohir mengangkat alis dan berseru, "Wih ... Jam 11." Ia melirik ke pintu belakang, "Beda banget kalau dibandingkan saat saya tinggal bersama teman kerja yang lainnya."
"Bedanya di mana, Mang?"
"Beda pokoknya ... Baru jam sembilan, semua sudah berada di dalam kamar," tuturnya, menurunkan bibir, mengucilkan, "Pada penakut, semua."
"Penakut Mang?"
"Ngeri Mas kalau diceritakan," jawabnya, sambil melirik ke segala arah, "Terutama tengah malam kaya, gini."
Meskipun aku tahu, maksud dari perkataannya itu akan mengarah ke-mana. Namun, demi mengungkap alasan utama para pekerja yang sering mengundurkan diri, aku memilih berpura-pura lugu.
"Mengerikan karena apa, Mang?"
Setengah tubuh Mang Tohir naik di atas meja, dan menjulurkan kepalanya ke arahku, dengan nada rendah iya berkata, "Penghuni rumah ini, Mas ... "
"Penghuni ... Hantu maksudnya?"
"Sssssttt .... Jangan keras-keras, Mas!"
Raut wajahnya terlihat waspada, ia menoleh ke-sana-kemari, bagaikan sedang diawasi oleh sesuatu yang mengerikan.
"Semua pekerja juga ngerasain, Mas," Mang Tohir nampak gelisah, sesekali ia mengusap tengkuk lehernya.
"Hantu seperti apa yang menggangu Mang Tohir, dan yang lain?"
"Buanyaakkk, Mas .... Dari Wanita, sampai anak kecil, juga ada." Ia menoleh ke arah dapur, lalu melanjutkan ucapannya, "Yang paling seram itu ... Di dapur, Mas."
"Dapur? Kenapa, Mang?"
"Waktu itu, saya hendak pergi ke toilet ... Kalau nggak salah ... Tengah malam, Mas. Tapi, aneh ... Saya mendengar suara Gamelan, jelas banget ...."
"Terus?" Aku semakin tertarik dengan pengakuannya, karena itu juga pernah aku alami.
"Saya penasaran. Karena saya yakin suara itu dari belakang rumah ... Jadi saya buka pintu dapur itu," ucapnya, seraya tubuh gemuknya itu bergidik ketakutan.
"Lantas ... Apa yang terjadi, Mang?"
Iya terdiam sesaat, sesekali menghapus keringat dari alisnya, "Buat diceritakan saja saya nggak sanggup, Mas."
"Emang apa yang terjadi?"
"Serem, banget, Mas ... Saya takut, mengacaukan suasana kalau di ceritakan."
"Ceritakan, lah. Mang." Aku menatap ke arahnya, "Penasaran, ini."
"Po ...."
Nampak lidabnya begitu berat sekali untuk bertutur kata, hingga aku tak sabar menantinya, "Pocong maksudnya, Mang?"
Ia mengangguk samar, "Tak bisa saya lupakan, Mas! Wajahnya hitam. Matanya, kecil nampak putih semua, dengan sorot penuh kebencian. Kulit mukanya itu, lho, Mas ... Hampir terkelupas semua, hingga tulang pipinya terlihat jelas!"
Aku terdiam, meskipun hanya sebuah cerita, namun detak jantung ini terpacu, semakin cepat.
"Dan itu, Mas ... yang menjadi alasan utama, kenapa para pekerja tidak betah bermalam di rumah ini," tutup Mang Tohir.
Ini memperjalas dugaanku, jika memang ada yang tak beres di rumah ini.
"Kalau, Mas, Arif. Kayaknya nggak terlalu perduli, ya, Mas?" lanjutnya, menatap ke arah Arif, yang tengah bermain Video Game bersama Adikku.
"Akan hal aneh yang ada di rumah ini?" singkatku, menekan perkataannya.
"Iya, Mas ...."
Aku berdecak, dan menggelengkan kepala, "Apaan ... Kemarin malam saja dia dibuat seperti mayat hidup."
Mendengar itu, sontak Mang Tohir menoleh cepat ke arahku. "Mayat hidup, Mas?"
"Iya ... Seluruh tubuhnya kaku, kulitnya pucat pasi, berungung aku menyadarinya malam itu. Ia sedang mematung di kamar nomor tiga, dalam posisi tubuh tegap berdiri, dengan wajah mendongak pada langit-langit. Matanya putih semua, seperti seorang yang sedang sekarat!"
Mendengar ucapanku, membuat mang Tohir bergidik dalam kegelisahan, ia merapatkan lengan di dadanya, dan mengusap-usap tangannya.
"Ada apa sebenarnya di rumah ini ...."
Aku menghela nafas panjang, lalu berucap, "Di luar akal sehat Mang ... Awalnya juga saya acuh, tapi semakin ke sini semakin menjadi dan tak bisa terbantahkan, lagi."
Bagai semut mencium gula. Tak lama hilir aroma aneh, terendus di hidungku.
"Mang ... "
Nampaknya bukan aku saja yang merasakan ini, terlihat dari gelagat tubuh mang Tohir yang mulai gelisah, monoleh ke segala arah.
"Wah, Mas!" sergah mang Tohir, hampir membuat jantungku copot!
"Apa sih, Mang?"
__ADS_1
"Kemenyan, Mas," ucapnya, terlihat beberapa kali ia mengendus udara sekitar, "Tak salah lagi, ini pasti bau kemenyan!"
Aku tertegun, mendengar penjelasan mang Tohir, membuat teringat akan aroma ini. Saat itu aku mendengar tangisan seorang wanita, sesaat terendus bau yang sama, pada malam sebelumnya.
"Kemenyan Mang?" tanyaku, yang tidak begitu paham dengan artinya.
"Iya, Mas ... Konon jika tercium aroma seperti ini, biasanya ada mahluk halus di sumber bau itu."
Entah mengapa, firasatku bertambah buruk, membuatku semakin gelisah. Aku menoleh ke segala arah, hingga terhenti pada jendela dapur, tepat di sisi pintu belakang.
Aku tak mampu berkata-kata, mataku terbuka lebar, telapak tangan mulai berkeringat dan bibir ini terasa begitu dingin.
Untuk memukul meja saja aku tak mampu, tenagaku hilang begitu saja.
"Mas ... Kenapa ...."
Bola api bercahaya merah kekuningan, melintas dari kaca ke keca lainnya. Bola itu seukuran telur ayam, melayang tak tentu arah, naik dan turun tak beraturan.
Baru kali ini aku melihat fenomena seperti itu, bahkan, tadinya aku mengiranya sepasang mata yang menyala. Biarpun begitu. sudah cukup menyeramkan bagiku.
"Ba ... Ban-banaspati ...." Aku tidak mengerti apa yang diucapkan Mang Tohir, ia berkata dengan nada yang gemetaran.
Aku menjulurkan kepala ke arahnya, "Sssstttt ... Mang ..." Ia menoleh, namun tidak dengan matanya, yang masih mentap lurus ke arah jendela dapur.
"Jangan biarkan yang lain tahu ... Aku khawatir jika sampai mereka tahu, malah akan menimbulkan suasana yang lebih buruk lagi," ucapku, sedikit berbisik, yang dianggukan oleh mang Tohir.
Wajahnya tak berhenti memegang, meskipun bola api itu sudah tak nampak lagi.
"Banaspati, apa, Mang?" Lirihku, namun Mang Tohir hanya terdiam, tak berpaling sedikitpun dari jendala itu.
"Kenapa, sih. A?"
Aku menoleh cepat ke arah Edi yang tengah berdiri di ambang pintu kamar.
Aku mencoba membuang wajah panik ini, dengan tersenyum polos, "Nggak ... Nggak apa-apa, kok, Di." Aku tergugup, menjulurkan lengan ke arahnya, "Udah sana ... Main Game lagi di dalam."
Edi menggeleng kepala, melirik ke arah dapur, "Mau ke Toilet A," sahut Edi, tergesa-gesa, "udah kebelet."
"Hah ... Dapur?" Pekikku.
"Toilet ..."
"Nggak ... Ada!"
"Ada ... Kebelet, ini!"
"I-itu-tuh ... lurus aja Di," jawabku, menujuk arah dapur, dan Edi pun berjalan menuju toilet dengan langkah cepat, hilang di balik dinding kamar nomor tiga.
"Perasaan saya tidak enak, Mas," ujar Mang Tohir, menoleh cepat kepadaku.
Baru saja aku bangkit, hendak memastikan Edi di toilet, namun ia terlihat kembali dari arah dapur.
Aku menghelakan nafas lega.
"Nggak ada yang harus di khawatiran kayaknya, Mang," ucapku, sambil duduk kembali.
"Kita yang terlalu was-was, Mas," Kata Mang Tohir, sambil setengah tersenyum.
Dengan apa yang telah aku dan mang Tohir alami, juatru malah membuka topik tentang, semua kejadian yang pernah di rasakan oleh para pekerja di rumah ini.
Pengakuan yang kudapat dari Mang Tohit, jika hampir semua pekerja dihantui oleh berbagai macam kejadian yang di luar nalar.
Ada yang berjumpa dengan sosok Pocong, Kuntilanak, hingga sosok tinggi besar yang dipenuhi bulu lebat, bernama Genderuwo. Bahkan ada sosok seorang anak perempuan, yang sedang mencari-cari ibunya.
"Mang Deden, yang sekarang kerja, pernah didatangi oleh sosok anak perempuan, Mas."
"Maksud Mamang ... hantu anak kecil?"
"Betul Mas. Boleh tanya Mang Deden kalau tidak percaya," tutup mang Tohir, menimbulkan kegelisahan dalam benakku. Aku merasa jika ada sedikit ingatan dibalik rentetan kejadian aneh ini. 'Seorang anak yang mencari ibu ...'
"Bertemu di mana dengan sosok itu, Mang," sahutku, penasaran.
"Kalau kata Dia sih, di belakang rumah, Mas." Sambil mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya.
Mungkinkah sosok ini yang kerap mengganguku, di ruang dapur.
Aku menghela nafas, sedikit tersenyum, "Kalau dipikir-pikir, aneh juga, ya, Mang," ucapku, sambil menyandarkan kepala pada dinding, "Mereka seakan memiliki rupa dan cerita."
"Pastilah Mas ... mereka itu arwah penasaran yang mungkin terlibat dalam peristiwa kelam sebelumnya."
"Bisa jadi, Mang. Aku tidak begitu mengerti akan hal seperti ini."
Di sela-sela percakapan kami, tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap gulita, istrik di rumah ini mati total.
"Wah ... mati lampu?!"
"Duh ... Mas, korek mana tadi?"
"Lah ... Mamang, yang pakai terakhir!"
Seisi rumah mendadak gempar, sibuk mencari pencahayaan secepat mungkin. Hingga cahaya terang dari dalam kamar terlihat.
Arif menyalakan ponsel miliknya, meski tidak terlalu terang namun cukup membantu.
"Rif ... Di kasur ada po—"-mataku membesar, ketika merasakan ada sesuatu yang melesat dari arah dapur, melintas begitu saja di hadapan wajahku.
Bruuakkkkk ..!!!
Suara menggelegar pintu yang tertabrak, membuat kami terkesiap, teriak histeris.
"Apa itu! ...."
Nampak jelas seutas Kain putih, berdiri angkuh membelakangi kami tepat di pintu depan
__ADS_1
Dengan kondisi ruangan yang gelap, kami dibuat mati langkah oleh sosok itu. Aku hanya terdiam kaku, tak sanggup lagi berkata apapun. Tubuhku terasa menggigil.
Hingga akhirnya sosok itu memudar, dan kemudian lenyap, hanya menyisakan gumbalan asap uang cukup pekat.
Nafasku begitu berat, keringat dingin mulai bercucuran dari keningku.
"Ribut, amat ... Waduh, ini sih kebakar ini listriknya."
"Woy ... Den!"
"L ... Li-iat, nggak, Mang?"
"Jelas, Mas."
Aku mengerutkan kedua alisku, saat listrik kembali menyala, menerangi semua ruangan. Asap kebiruan nampak masih mengepul di udara.
"Edi mana Den," ucap Arif yang berdiri di depan pintu kamar. "masih di kamar mandikah?" lanjutnya. membuatku menoleh cepat ke arahnya.
Aku menoleh cepat ke arahnya, dengan tatapan tajam, "Bukannya sama, Lu!"
"Dih ... Gue kira di depan, ikut ngobrol."
"Jangan bercanda lu, Rif!
"Serius, gue ... Lu liat ada nggak di kamar!"
Aku melangkah cepat, ke arah pintu kamar, untuk memastikan perkataan Arif.
"Wis ... Santai dong ... Main toyor, aja!"
"Mana, Edi? Rif!"
"Malah balik nanya!"
Seketika firasat buruk merobek batinku, nafasku mulai meninggi saat tak kutemukan Edi di dalam kamar. Toilet! Secepat mungkin aku berlari menuju toilet.
"Woy Den ... ada apa sih?"
Setibanya di dapur, aku melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Situasi bertambah buruk, ketika aku menyadari tak ada seorangpun di dalam sana. 'Wah ... bangke!!'
"Diii ... " Aku dilanda kepanikan yang luar biasa, rasa cemas dan was-was, bercampur aduk dalam hati ini.
"Mang! Rif! ... Cari Edi di semua ruangan!" sergahku, dan kami pun menyebar ke segala ruang.
Aku sangat yakin jika Edi masuk ke dalam kamar seusai pergi ke toilet. Dan itu bukan hanya aku yang melihatnya, bahkan mang Tohir pun melihatnya.
"Rif ... Lu, cek kamar sebelah!"
Mustahil jika ini hanya lelucon, karena aku tahu betul, tak akan berani ia mempermainkan-ku.
Tapi, lebih tak masuk akal lagi, jika Edi keluyuran! Selain ia penakut, ini kali pertamanya, dia berkunjung ke rumah ini.
"Di kamar nomor satu tidak ada, Mas."
"Nggak, ada ... Di kamar ke-tiga, juga."
Aku merobohkan diri, duduk ditepi tempat tidur. Lututku terasa lemas menerima perkataan Arif dan mang Tohir. Pikiranku kacau, oleh berbagai macam bayangan buruk, dibalik peristiwa ini.
Aku menjambak rambutku dengan penuh amarah, tak mampu menahan lautan emosi yang semakin menggebu tak tertuju. Lantai atas!
Tanpa berpikir panjang, aku bangkit lalu berlari, untuk memeriksa semua lantai yang ada di rumah ini.
"Den ... "
"Mas!"
Sungguh aku tak bisa tenang saat ini, rasa panik dan gelisah, bercampur aduk dalam batinku. Aku tak perduli dengan kedua orang tolol itu, yang hanya menghambat pencarian ini.
"Bantu carilah! Malah pada Cengo! Asu ...."
*****************
Bersambung ...
*****************
#Note: Jumlah chapter keseluruhan ada 46.
Namun aku sedang melakukan tahap
Revisi. Jadi, mohon maaf jika Update
akan lebih lama. 🙏🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang
kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan: Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan, cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca, semoga
bisa menghibur dan mengisi
kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di episode
berikutnya. 👋👏 secepat mungkin
kami menyelesaikan lanjutannya.
Insyaalla
__ADS_1