
Di saat aku hendak menuangkan gula ke dalam gelas, aku kembali dikejutkan dengan pemandangan aneh, yang sedang terjadi di depan mataku.
Tiga baris gelas yang aku siapkan, serentak berputar dan bergeser secara misterius, sekejap bulu kudukku serentak berdiri, hingga ubun-ubun kepala.
Aku terperangah, mataku melebar sejadi-jadinya, tak mampu lagi berkata-kata. Dengan langkah gugup, aku perlahan menjauh dari gelas-gelas ini, dan lalu berlari sekuat tenaga.
"Kenapa, lu?" tanya Arif, melihat nafasku terengah-engah, aku tak bisa menjawabnya.
"Jeh, kok malah bawa toples kopi ke sini?" timpal Alvien, menatapku kebingungan, "Den?"
Kusnandar-kan tubuh ini pada dinding, tepat di Balik pintu kamar.
Aku mencoba mengatur nafasku yang terasa sesak, seakan tercekik.
Pandanganku masih tajam memias ke arah dapur, dengan menggenggam toples berisi gula dengan sangat erat.
"Den?" Aku menoleh ke arah Arif, yang melongok dari dalam kamar.
Aku tak ingin memperburuk suasana, sebaiknya mereka tak perlu tahu, dengan memaksa senyum, aku berkilah, "Ngga ... Nggak, gue nggak apa-apa, kok. Cuma.. ka-kaget, ada laba-laba besar di lemari." Meskipun aku mencoba menekannya, tetap saja nadaku terdengar gemetar.
Arif mendengus mendengar itu, "Liat laba-laba 'aja ... Udah kayak liat setan!" ucapnya, lalu kembali masuk ke dalam kamar.
"Oh, iya ... kopinya di mana, Rif?" alasanku.
"Kopi di dalam lemari, Den ... Kan, sebelahan sama gula yang lu pegang!" sahut Arif, membuatku menyadari, jika aku sedang membawa sebuah toples yang berisi gula.
Setelah helaan nafas panjang, aku memberanikan diri untuk kembali ke dapur. Dan meyakini diri ini, bahwa yang baru saja terjadi hanya halusinasi-ku saja.
Tubuhku bergidik, saat aku tiba di ruang dapur, suasana terasa begitu berbeda di sini, meskipun sirkulasi udara sangat baik, namun di ruangan ini terasa begitu pengap.
Gelas ini jelas berubah posisinya ...
Tapi, apa penyebabnya? Mungkinkah
keramik pada meja ini terkena minyak goreng..
Aku membolak-balikkan gelas yang ada digenggaman-ku, namun tak kutemukan sedikitpun cairan pada kaki gelas.
Aku mulai membuka lemari dan mengambil toples berisi kopi, dan menata kembali gelas pada posisi berjajar.
Wusssshh..
Aku terbelalak lebar, ketika angin halus terasa meraba tengkuk leherku, membuat indra pendengaran ini terasa begitu hening, hingga kemudian, benar-benar sunyi, dan gelap.
"Oy! malah bengong ... " Tepukan kuat pada bahuku, membuatku terperanjat.
"Kenapa lagi? Jadi ngopi nggak?" sergah Arif, dengan nada sedikit keras, "Ya elah ... Sini biar gue yang buat kopi," Arif menyambar toples gula dan sendok yang masih aku ada digenggaman-ku.
Entah mengapa aku merasa begitu linglung, seolah-olah baru terbangun dari tidurku.
Langkahku ragu, perlahan menjauh dari ruang dapur, untuk menuju kamar depan. Sesekali aku menoleh curiga ke arah Arif.
"Dari mana Den?" sapa Alvien, aku tak mengindahkan perkataannya, "Bikin kopi sampai satu jam."
Aku menoleh cepat mendengar yang ia ucapkan, "Hah? Satu jam?" Ke-dua alisku mengkerut, "Baru juga mau nuang gula, diambil alih sama Arif," lanjutku, sambil menyeka keringat yang terus membasahi dahi ini.
Lalu aku merobohkan diri, pada kasur busa. Badanku terasa sangat pegal, dan kaki ini begitu dingin.
"Gimana kondisi, lu, Govin?"
"Mendingan, lah," sahutnya, ia beringsut, berbalik menatapku, dengan senyum ganjil, ia kembali bertanya, "Lu abis ngapain di belakang?" Lalu ia tertawa kecil.
Jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang ditutupi dariku.
Aku merasa semakin tak mengerti, dan bertanya dengan cepat, "Kenapa si, Lu!?"
"Sorry ... Abisnya kocak," sahutnya, sambil menahan tawa. "Bikin kopi di mana? Di Jonggol?"
"Si Bagong!" aku berpaling wajah darinya, mendongak ke langit-langit.
"Eh, iya ... ini gimana lampu! Kamar ini doang yang terang," ucap Alvien, bangkit dan duduk menoleh ke sekitar ruangan.
"Oh ... Iya, gue lupa!" Seruku, mengamati langit-langit kamar, "Mana udah jam segini!"
"Bikin kopi ... Malah nelor di dapur," pekik Arif, kembali dengan membawa tiga cangkir kopi dan susu yang dibawanya dengan nampan berbentuk bunga berwarna hijau.
Aku berdecak malas, tak ingin lagi mendengar guyonan mereka.
"Ini lampu gimana!" sergahku, mengakhiri gurauannya.
"Oh, iya! ... Apa suruh, si. Ardan? Dia mau ke sini, kan. Vien?" ucap Arif, yang dianggukan oleh Alvien.
"Sekalian beli makan Rif," kata Alvien, "Laper bro," lanjutnya, nyengir kuda.
Grriiiinnngg...!!!! (Suara mesin air)
"Udah gue, SMS," ujar Arif.
"Sambil nunggu ... gimana kalau kita main kartu?" saran Alvien, dan kami pun setuju.
Selain untuk menghilangkan jenuh, guna mengusir suasana yang semakin tidak nyaman. Tak ada kegiatan, dan perbincangan yang berarti, selain kami bercanda gurau, sambil memainkan kartu
Hingga tepat jam 20.22. Lirih terdengar suara motor yang berhenti sejenak, lalu kembali pergi, dan diikuti suara gesekan sandal, mengiringi langkah cepat seseorang yang berjalan semakin dekat.
"Assalamualaikum ... Ya ahli kubur!" Pekik Ardan, membuka pintu depan rumah, "Wadaw, gelap amat!"
__ADS_1
"Wa'allaikumsalam ... Depannya udah bagus, belakangnya kaga bener!" seru Alvien.
"Serba salah, ngomong sama, lu. Vien." sahut Ardan, berjalan menuju ruang tamu. "Nih ... Titipan, lu pada!"
Aku membuka kantong plastik putih yang ia bawa, "Lah, makanan gak beli Dan?" tanyaku.
"Wah, gue lupa, Den," katanya, sambil tersenyum bersalah.
"Ya udahlah, yang penting lampu," tuturku.
Kami bergegas memasang lampu di setiap ruangan, dan tentu ini bukan perkara yang mudah. Untuk memasang lampu pada ruangan setinggi ini, kami hampir kehabisan akal, tapi beruntung, Ardan menemukan sebuah tangga yang tersimpan di luar rumah.
"Sip ... " seru Ardan, sambil menepuk-nepuk kedua tangannya. "Gini baru terang."
"Mantap ... "
"Laper, Pak."
"Ya, udah siapa yang mau jalan beli makan?" balasku, aku melirik sinis ke arah Arif yang sibuk sedari tadi dengan Game ponselnya, "Rif ... lu dari tadi mainan Game doang. Beli makan, nih."
"Ini ... gue yang ngeluarin duit." jawab Arif, beranjak dari duduknya, lalu menyodorkan uang ke arahku, "Siapa yang mau jalan?"
"Sini, gue sama Ardan yang beli," timpal Alvien.
"Baru juga nyampe ... " gumam Ardan, dan lalu mereka pun pergi.
****
Malam terus berlalu, hawa dingin mulai terasa membelai di sekujur tubuh, sunyi yang datang bersama angin malam membangkitkan serangga malam yang terus bernyanyi, seakan meraba telinga, membius hening.
Aku dan Arif duduk di bangku pada ruang tamu, setelah Ardan dan Alvien keluar untuk membeli makan.
Kami sibuk dengan Handphone masing-masing, hanya sepatah kata yang kadang aku dan Arif bicarakan, itupun tak penting.
Grriiiingggg..!!!
Sial, bikin kaget aja itu mesin ... aku yang merasa terganggu oleh suara mesin air itu, lantas pergi untuk mematikannya.
Namun ketika langkahku baru melawati kamar nomor tiga, mesin itu berhenti berdering.
Aku menurunkan tubuh, menatap tajam mesin air yang bertabung merah di hadapanku.
"Woy, Rif ..." lantangku. "Mesin air kayak gini ada yang pakai baterai?"
"Nggak ada, lah. Mana ada yang kayak gitu."
Keringat dingin mulai membasahi dahiku diiringi tubuh yang tak henti gemetar.
Perlahan aku mencari dengan sangat teliti kabel listrik pada mesin ini. Namun aku tak menemukan kabel lain di sekitar mesin.
Mataku membesar bulu roma serentak berdiri—tak tertahankan. Aku merasakan ada sesuatu yang besar, berdiri tepat di balakangku. Meskipun aku tak melihatnya, namun aku yakin sosok hitam itu tengah menantiku menoleh ke arahnya.
Keadaan semakin memburuk ketika tubuhku terasa sangat dingin dan kaku. Aku seakan mematung. Semakin aku berusaha berdiri, samkin hilang tenagaku. Hingga pandanganku perlahan memudar.
"Den! ngapain lu di situ!" Suara keras Arif membuatku tertegun, seolah-olah aku baru tersadar, dari lamunan panjang.
Jantungku berdebar kencang, aku menoleh cepat ke segala arah, dengan tatapan penuh kepanikan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku ...
Entah bagaimana caranya, akan tetapi tubuhku telah berpindah tempat secara misterius. Kini aku berada di tengah-tengah ruang dapur, yang berjarak 10 langkah dari tempatku semula.
"Lu kenapa, si. Den?" sergah Arif, membuatku menoleh cepat ke arahnya, "Gue pikir lu lagi buat kopi." Arif berjalan melewatiku, lalu membuka pintu lemari jati dan mengambil toples berisi gula dan kopi.
"Rif ...."
"Oit?"
"Coba lu lihat mesin air itu, Rif ...." Bukan hanya nafasku yang terasa semakin beret. Nada bicaraku pun bergetar hebat.
"kenapa, sih?" balas Arif, yang mulai nampak risih dengan gelagat tubuhku.
"Udah lu liat aja," belasku, memaksa Arif untuk melihat mesin air itu.
Arif melangkah menghampiri mesin tersebut, lalu berkata, "Ngga ada yang aneh di sini!" ucap Arif, sambil melongok-longok mesin yang ada di depan matanya, "Oh ... Ini?" Ia mencolokkan sebuah kabel ke sakelar listrik yang berada tepat di belakang mesin itu.
Sudah pasti bukan itu yang aku maksud, "Lah, lu gak sadar, juga?" jawabku. "Kenapa itu mesin bisa bunyi? Sedangkan kabelnya aja baru lu colok!"
Arif menggelengkan kepalanya, "Bunyi gimana? ini aja baru gue colokin!"
"Lu sendiri bisa denger, kan? Kalau mesin air itu nyala!"
Arif menghela nafas panjang, "Den! Gimana gue bisa denger? udah jelas-jelas itu mesin mati!"
Dari nada bicaranya, dan sorot matanya, terlihat ia sedang berkata jujur. Seketika itu juga, aku termenung, meratapi apa yang sebenarnya terjadi. Apa aku sudah tak waras! Aku menghela nafas panjang, dan berjalan lemas menuju ruang tamu.
"Oy .... Mau kopi nggak?"
"Nggak ... makasih!"
Aku mengerutkan alis dan menatap pintu depan, saat kudengar dua orang bercakap gurau di teras depan.
Sepertinaya aku tidak menyadari, Ardan dan Alvien telah kembali.
"Mogok!!"
"Motor sialan!" cetus Alvien, berjalan melewati pintu utama, dan disusul Ardan.
__ADS_1
Aku hampir tidak menghiraukan mereka, perasaan was-was yang mendalam, membuatku jatuh dalam suasana hati yang gelisah. Terlebih seluruh tubuhku lemas tak berdaya.
Nampak Alvien membawa kantung plastik hitam, yang ia letakan di atas meja, seraya terendus aroma masakan yang sangat menggoda selera.
"Den ... Itu nasi, lu. Makan dulu, gih," ucap Alvien, lalu duduk di kursi.
"Arif, mana, Den?" tanya Ardan, aku menaikan dagu samar, menunjuk arah dapur.
Ardan tersenyum licik, ia menggosok-gosokkan telapak tangannya, lalu berjalan mengendap-endap.
Duarrr!!!!
suara dentuman keras terdengar dari arah toilet diiringi riuh tawa Ardan yang menggelegar. "Ha ha ha!"
"Bangs ... " pekik Arif, menggema.
Lebih baik aku melupakan kejadian itu. Mungkin Arif benar, aku hanya kurang istirahat.
Aku lantas membawa plastik berisi nasi yang dibawa Alvien ke ruang dapur.
"Wih, mau dongggg!" seruku, melihat Ardan mengaduk susu beraroma jahe yang masih panas.
"Di depan, kan, ada. Gue beli banyak, kok," jawab Ardan.
"Vin ... Bawa sini susuh jahenya, sekalian gue buatin, lu ...."
"Udah biarin ... Nanti sama, gw. Lu makan dulu, sana," sahut Alvien dari ruang tamu.
Sambil berjalan, aku mencicipi satu sendok nasi yang tengah kubawa. Namun ...
Aku mengernyitkan alis, merasakan makanan yang sedang aku *****, "Ini nasi basi, ya? Nggak ada rasanya!"
Aku meletakan piring yang kubawa ini di atas meja, dan lalu disambar oleh Alvien.
"Ah, masa, sih? Tadi gue makan di sana, enak, kok," ucap Alvien, dan menyendok nasi, untuk mencicipinya.
Ia mengunyah makanan tersebut perlahan, "Hmm!" Ia berlari ke arah dapur.
"Nah, kan ... Muntah dia!"
Arif yang juga tak percaya lantas lantas menyendok dan mengunyahnya.
Ia mengunyah cepat, dengan terpaksa menelannya, "Makanan apa ini! Nggak ada rasanya sama sekali!" kata Arif.
"Kenapa si?" tanya Ardan yang baru bergabung.
"Aneh ... Tadi gue sama Arif makan di sana enak, lho!" timpal Alvien, usai dari toilet.
"Buang aja, Den!" kata Arif.
"Basi, bukan nasinya?" ucap Ardan.
"Basi sih, nggak. Tapi nggak ada rasanya itu nasi, Dan," sahutku.
"Dua-duanya?" Ardan, membuka bungkusan nasi lainnya, "Coba nasi yang buat si Arif."
Kami pun menyicipi bungkusan nasi milik Arif.
"Hmm ... Mantap!" Rasa gurih, pedas, terasa melekat di mulutku.
"Ini enak ... Tapi kenapa satunya anyep, ya," komentar Alvien, melanjutkan sendokan ke-dua.
Dan pada akhirnya aku makan satu piring berdua dengan Arif, karena motor yang kami miliki mogok sangat tak memungkinkan untuk keluar dari rumah ini.
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk kalian, membaca tercintaku ...
#Note: Jumlah chapter keseluruhan
ada 46.
Namun aku sedang melakukan
tahap Revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update akan lebih lama.🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaalla
__ADS_1