
Pagi ini aku lihat ibuku duduk termenung di teras. entah apa yang sedang di fikirkannya. aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"nglamun aja."
ibuku tersenyum. aku menatap sekeliling. sepi! aku menyadari itu. rumahku memang tak begitu ramai karna jauh dari tetangga.
"lagi rindu bapakmu aja, han."
aku menoleh.
"kenapa yah buk, bapak ninggalin kita begitu aja?"
"karna bapakmu tau kalau ibu bisa menjagamu sendirian. karna bapakmu juga tau kamu adalah anak yang kuat dan tegar."
aku hanya diam mendengar jawaban ibu. itu seperti menyayat hatiku. aku menyandarkan kepalaku di bahu ibu. bapakku meninghal tiga tahun yang lalu saat aku masih kelas dua SMP.
"lalu jika ibu tau aku sudah mandiri, ibu juga akan pergi?"
"nak, semua orang akan pergi pada waktunya."
aku mengangkat kepalaku. tapi masih tak berani menatap ibu. air mataku hampir jatuh. tapi aku malu kalau harus menangis di depan ibu.
"kalau begitu aku takkan mandiri, agar ibu tetap disini."
"sudah-sudah! sedihnya nanti aja. ini.."
ibu memberikanku satu kresek bawang merah.
"kasih ke nenek kamu sana!"
aku yang hendak menangis tak jadi. justru berubah jadi kesal.
"baru aja merenung. udah di suruh aja."
"udah sana cepetan!"
aku bangkit dan pergi kerumah nenek mengantarkan bawang. kebetulan kemarin bawang milik ibuku yang di kebun panen. tapi aku gak ikut karna ada kumpulan sama teman sekolah.
__ADS_1
setelah sampai di rumah nenek, aku segera menyerahkannya.
"apa ini?"
"bawang merah dari ibu."
"kamu kok kaya kesel gitu?"
aku menggelengkan kepala malas bercerita. aku memilih menonton tv.
"eh, nenek tadi di kasih ketoprak sama tegangga. makan bareng yuk!"
aku kembali tersenyum. kalau ngomongin makanan, gak usah tanya. aku siaaap!
"tapi tunggu dulu, nek. beli es campur dulu yah!"
"ya udah jangan lama-lama."
aku mengacungkan jempol dan segera pergi ke toko biasa aku beli es campur di sana. sekalian beli kerupuk buat tambahan makan ketoprak.
"mba... beli es."
kali ini masih dengan pelayan yang sama. cowok yang wajahnya nggak kelihatan itu.
"es campur satu. sama kerupuknya dua."
"tunggu sebentar ya."
sambil menunggu, aku duduk di depan toko. disana memang ada kursi yang sengaja di siapkan.
"ini mba."
setelah selesai, aku segera kembali karna tidak sabar menyantap ketoprak dari nenek.
"nek, siap makan..."
ketika sedang asyik makan, saudara sepupuku yang menjengkelkan datang. aku kalau liat dia bawaannya kesal terus. dari kecil sampe sekarang aku gak pernah damai sama dia.
__ADS_1
"assalamualaikum."
"waalaikum salam, mad.. sini makan ketoprak."
"wuih.. mantap nih"
aku segera menitupi ketoprak dengan kedua tanganku.
"bukan buat kamu!"
"yee.. orang tadi nenek nawarin aku kok!"
Amad segera duduk di samping nenek dan ikut mencomot ketoprak yang masih banyak. aku berusaha menepis tangannya dan kami menjadi rusuh.
"udah. kalian tuh masih aja kaya anak kecil. makan bareng-bareng."
aku diam dan menatapnya tajam. dari pada diomelin nenek, aku memilih melanjutkan makan.
nenek menanyakan perihal kedatangannya. karna jarang-jarang Amad mau datang kecuali ada keperluan.
nggak seperti aku yang sering datang cuma buat main doang.
"mamah tadi bilang kalau besok minta nenek datang kerumah buat bantu masak."
"ada acara apa?"
"biasa, pengajian. ibumu juga suruh dateng!"
Amad melirik padaku. aku tak mempedulikannya dan hanya makan sambil nonton tv.
"eh denger nggak?"
"yah dengerlah! emangnya kamu tuli."
"kamu tuh ya..."
Amad hendak memukulku, tapi aku segera lari keluar sambil berteriak pamitan untuk pulang.
__ADS_1
"dasar anak nggak sopan!"
Amad balas meneriakiku dan aku membalas menjulurkan lidah. aku segera pergi sebelum Amad benar-benar mengejarku.