
"Arifin? kebetulan ketemu di sini."
Aku menyapa Arifin yang sedang membagikan undangan juga. dia tersenyum padaku. sedangkan Lili langsung menatapnya sinis.
"ngapain kamu di sini?"
"gak liat?"
Arifin menunjukkan satu tumpuk undangan. aku hampir tertawa melihatnya. tapi lili keburu memelototiku.
"mau kerumah siapa, Ar?"
"mang dadang."
"kebetulan. kita juga mau ngasih undangan ke teteh lia. eh, tapi kenapa yah. kan suami istri. kenapa nggak sekalian aja?"
"gak bisa!"
Lili dan Arifin kompak menjawab. aku hampir jantungan karna kaget. mereka memang sejak dulu sudah tak akur. tapi anehnya mereka selalu bersama. bahkan menjadi panitia halal bi-halal dengan tugas yang sama. takdir sih kayaknya.
"santai kali."
"udah yuk. kita te rumah yang lain aja dulu. entar aja disininya."
lili menarikku.
"eh tapi kan udah nyampe sini!"
lili tak mempedulikan ucapanku. dia terus menarikku. aku hanya bisa nurut sekarang. mungkin lili malu. hehe
Setelah selesai membagikan undangan, aku dan lili masih duduk di teras rumah milik ibu dania. karna sangat panas, tenggorokanpun terasa kering.
"beli es campur aja yuk. kan deket tuh dari rumah nenek kamu."
__ADS_1
aku mengangguk setuju. membayangkannya saja sudah membuat air liurku hendak menetes keluar.
"yuk. udah haus banget nih! kamu yang bayar yah!"
Lili menganggukkan kepalanya. lili segera menyalakan kembali motornya dan bergegas pergi. setelah sampai, lili lagi-lagi duduk seperti tak ada tenaga.
"kamu ajalah yang pesan!"
aku mengangkat bahu dan mendekati toko.
"mba... beli es campur."
"hai.."
aku menatap sejenak. dan aku teringat siapa dia.
"Uki?"
Uki tersenyum. kali ini dia menunjukkan wajahnya kepadaku. sepertinya itu sengaja di lakukannya.
aku mengerutkan dahi heran menatapnya.' kenapa dia bisa sepede itu?' batinku.
"aku mau beli es campur dua."
"tumben beli dua?"
aku menunjuk lili yang sedang duduk sambil mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya.
"sama temen aku."
Uki menganggukkan kepalanya. tapi, bukannya membuatkannya. malah hanya diam dan terus menatapku. aku sedikit merasa tak nyaman. untung saja lili meneriakiku. yang membuat aku sadar.
"udah belum, Han?"
__ADS_1
"tuh temen aku ngomel."
"yah... terus?"
Uki masih tak mau beranjak. aku jadi semakin heran. apasih maunya.
"ya cepetan buatin. atu nggak, nggak jadi nih!"
"eh, tunggu dulu. sebentar."
setelah selesai membayar, aku hendak pergi. tapi lagi-lagi Uki mencegahku.
"tunggu! kemarin saudaramu juga beli es disini. dia bilang aku boleh deketin saudara perempuannya."
ketika aku masih berfikir dan berusaha mencerna kata-katanya, lili lagi-lagi meneriakiku. aku segera menghampiri lili dan tak memedulikan ucapan Uki tadi. tapi, walaupun begitu, kata-katanya masih saja tebayang di fikiranku.
"lama banget sih."
"gak tau tuh. penjualnya aja yang aneh."
Lili tak menanggapi. dia segera meminum es campur yang aku beli tadi. setelah membaik, aku dan lili segera pulang ke rumah. karna masih memikirkan ucapan Uki, aku sampai tak sadar kalau sudah berada di depan rumah lili.
"eh, turun! malah diem."
aku tersadar dan segera turun.
"loh kok di rumah kamu sih?"
"tadi kan di jalan udah aku bilang kalau kamu di rumah aku aja dulu. pulangnya nanti agak maleman. kamu gak denger? kamu kenapa sih?"
aku hanya tersenyum sambil menggaruk lengan yang tak gatal. aku juga merasa heran kepada diriku sendiri. kenapa bisa jadi seperti ini.
"ya udahlah. masuk yuk. panas!"
__ADS_1
aku mengangguk setuju.