
Tentakel raksasa itu menghantam punggung Lin ying, dan dia terlempar sangat jauh.
Pagi harinya di pasir pantai, seorang perempuan sedang duduk, dan tampak dia sedang menangis.
Entah apa yang terjadi, tapi wajah cantik perempuan itu, memancarkan kesedihan yang mendalam. Sepertinya dia ingin mengakhiri hidupnya. Jeritan yang tampak lembut tapi sengsara, jika seseorang mendengarnya, orang itu pasti akan ikut hanyut dalam kesedihan.
Perempuan itu berjalan kedalam laut, berjalan ke area yang semakin dalam. Ketika air laut telah mencapai dadanya, perempuan itu lalu berbalik. Dia berbalik ke arah pantai, menatapi arah tempat dia tinggal, kenangan-kenangan lama terukir di benaknya.
Saat perempuan itu akan membenamkan kepalanya, tiba-tiba tidak jadi, karna ada sesuatu yang tiba-tiba menabrak punggungnya. Tabrakan ini tidak keras dan tidak pelan, karna itu perempuan itu langsung menoleh ke belakangnya.
Dia terkejut melihat tubuh seseorang yang sedang mengapung.
Awalnya perempuan itu, tidak terlalu memperdulikannya, dia berfikir bahwa orang itu telah mati. Tapi orang itu tiba-tiba bergerak menarik bajunya dengan sangat pelan dan lemah. Gerakan itu membuat perempuan ini, sangat terkejut, "dia, dia masih hidup?!". Karna hal itu, perempuan langsung menarik tubuh orang yang tenggelam itu, ke tepi pantai.
Meskipun dia ingin mengakhiri hidupnya, tapi dia juga tidak mau mengabaikan hidup orang lain karna keegoisannya. Dia membalikkan tubuh orang itu, dan terlihat bahwa dia ternyata adalah seorang pria. Pria tampan dengan rambut hitam panjang yang menutupi sebagian dari wajahnya.
Ternyata pria itu tidak lain adalah Lin ying, setelah di hantam oleh tentakel gurita raksasa, Lin ying tidak sadarkan diri dan tenggelam dibawa arus ombak, sampai ke tepi pantai.
Melihat wajah Lin ying yang sangat pucat dan kedinginan, perempuan itu langsung memberikan pertolongan pertama.
__ADS_1
Dia menekan keras dada Lin ying, supaya air yang masuk ke tubuh nya bisa keluar. Namun itu tidaklah semudah yang dia pikirkan, beberapa kali dia menekan, tapi tidak berhasil. Karna tidak ada pilihan lain, dengan sedikit malu dan enggan, perempuan itu, menempelkan bibirnya dengan bibir Lin ying, lalu dengan hati-hati memberikan nafas buatan.
Dengan beberapa kali hembusan nafas, akhirnya Lin ying langsung tersadar dan terbatuk-batuk. Semua air yang tertelannya telah keluar.
Dengan wajah yang masih lemas, Lin ying menatapi kearah perempuan di depannya itu. Dia tidak melihat hal apa, selain wajah seorang gadis cantik, yang sedang memerah karna malu.
Melihat hal itu, Lin ying pun tersadar. Meski tadi Lin ying sedang pingsan, tapi dia tidak seutuhnya tak sadarkan diri. Terutama dia memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar, sehingga dia sangat susah untuk kehilangan kesadaran.
Oleh karna itu, Lin ying tahu semua hal yang telah di lakukan perempuan itu kepadanya.
Menyadari hal itu, Lin ying juga jadi ikut malu-malu tidak jelas.
"Mmm...", Lin ying mengangguk, lalu dengan agak kesusahan dia berdiri. Perempuan itu membantu menarik tangan Lin ying.
Tanpa melepaskan tangannya, perempuan itu, membawa Lin ying pergi.
Berjalan berdua, dengan tanpa berbicara, menahan rasa malu, dan tanpa bertatapan. Meski merasa malu, perempuan itu, tidak melepas tangan Lin ying.
Gadis ini juga menyadari bahwa Lin ying sadar ketika saat itu, saat dimana dia secara sengaja mencium Lin ying, dengan alasan pertolongan.
__ADS_1
Jika saat itu Lin ying memang tidak sadar, tangan Lin ying tidak akan bergerak untuk menarik bajunya, itulah alasan gadis ini, sedari tadi merasa malu.
Setelah beberapa saat berjalan kaki, akhirnya mereka berdua tiba didepan sebuah gubuk.
Perempuan itu membawa Lin ying kedalam.
Dua orang remaja, pria dan wanita sedang berada di dalam gubuk. Jika seseorang tidak sengaja melihatnya, maka akan timbul kecurigaan yang diluar nalar.
Di dalam gubuk, Lin ying duduk bersandar ke dinding, dan perempuan itu menyalakan api, untuk menghangatkan tubuh pria di depannya.
Saat perempuan itu hendak berbalik pergi keluar, Lin ying tiba-tiba berbicara, "namaku Lin ying!". Bahasa yang spontan dan sangat tiba-tiba, membuat perkataan itu, terkesan aneh. Lin ying juga menyadari caranya berbicara itu, sangat tidak pas, sehingga dia menjadi merasa malu.
"Namaku Yun yun", suara yang sangat lembut tapi agak malu-malu, membalan perkataan Lin ying. Mendengar itu Lin ying tersenyum, dan perempuan itu juga tersenyum lalu berbalik pergi.
Setelah di tinggal sendirian di dalam gubuk, Lin ying melakukan kultifasi, semua aura dingin di dalam tubuhnya, di serap oleh inti es yang ada di dalam tubuh Lin ying. Sehingga hanya dengan beberapa saat kultifasi, akhirnya rasa pucat di wajahnya mulai berkurang.
Sembari berkultifasi, Lin ying mengingat kembali gurunya, yang telah berkorban untuk melindunginya. Dia tidak menyangka, bahwa dia akan kehilangan guru, dengan sesingkat itu.
Kembali mengingat masa-masa bersama sang guru, membuat hati Lin ying semakin sakit. Secara tak sadar, mata Lin ying yang telah tertutup mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Namun Lin ying tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Dia tidak ingin mengecewakan gurunya, dia akan berusaha, berjuang hingga menjadi yang terkuat diantara yang terkuat.