
Dhea yang sedang mengobrol dengan mamahnya terhenti sejenak saat ada telpon .
" Nyonya ada telpon "
" Terimakasih bi biar saya angkat." Bi Nani pergi saat mendengar jawaban dari Nyonya Juni.
" Sebentar mamah angkat telpon dulu ya sayang" Dhea yang mendengar ucapan mamahnya hanya mengangguk.
" Hallo ya....." nyonya juni mendengarkan.
" Tante bagaimana apakah sudah ada kabar dari kak Dhea?"
" Ah ini Tania ya, tante lupa memberi tahu, Dhea sudah pulang sejak kemarin sayang."
" Syukurlah kak dhea sudah pulang Tania khawatir saat mendengar kabar kalo kak Dhea tidak pulang beberapa hari."
" Mainlah kerumah temui kakak mu.'
" Iyah Tan nanti aku pasti mampir ke rumah."
" Tante tunggu ya sayang." Mematikan telpon dan menaruhnya di meja.
Dhea yang merasa penasaran siapa yang menelpon menyusul mamahnya.
"Siapa mah yang telpon?"
" Tania sayang."
" Tania? Kenapa mamah tidak panggil Dhea saat menelpon aku jugakan ingin berbicara dengan dia mah " wajah dhea cemberut.
" Dia akan mampir nanti sayang kau jangan marah begitu."
" Benarkah dia akan mampir?"
" Tentu saja sayang." Memeluk putrinya
Nyonya Juni memang sangat memanjakan putri semata wayangnya, dia akan melakukan apapun untuk anaknya yang dia sendiripun tak tau kerena sikapnya ini membuat Dhea menjadi anak yang manja.
____
Dikediaman Tuan Santoso
Terlihat seorang wanita yang sedang duduk termenung melihat sebuah photo , walaupun sudah tidak muda lagi tapi tetap nyonya Riyana terlihat masih cantik.
" Ini sudah 25 tahun putraku dimana keberadaan dirimu selama ini? Kami sudah mencari dirimu tidakkah kau mencari keberadaan kami." Nyonya Riyana menangis mengingat anaknya yang hilang.
Flashback
Saat Riyana dan Aji meninggalkan putranya dihutan itu mereka terus berlari untuk menyelamatkan diri mereka dari kejaran anak buah Satyo.
" Kita meninggalkan putra kita disana apa benar tidak apa-apa suamiku? Hiks hiks hiks rasanya aku tidak rela."
__ADS_1
" Aku yakin dia akan aman, karena mereka terus mengejar kita dan tidak tahu bahwa kita membawa anak kita kehutan ini."
" Ya kuharap begitu." Nyonya Riyana sebenarnya tak rela meninggalkan anaknya dirumah dalam hutan itu tapi keadaan yang memaksanya.
Mereka terus berlari agar segera keluar dari hutan itu dan mencari perlindungan namun sialnya mereka terus berlari tanpa arah sehingga terus masuk kedalam hutan bukannya keluar dari hutan itu.
" Tuan sepertinya kita semakin masuk kedalam hutan."
" Larilah dulu untuk menyelamatkan diri kita , sebelum bantuan menemukan kita disini."
Semoga Bayu segera menemukan kita karena rasanya kita sudah kehabisan tenaga untuk berlari.
" Tuan kita bisa beristirahat sejenak, melihat keadaan Nyonya saat ini dia sangat kelelahan dan sepertinya mereka sudah tertinggal jauh dibelakang. Kita bisa mencari tempat untuk beristirahat."
Aji tersadar bahwa istrinya baru saja melahirkan dan dia harus berlari seperti ini akan sangat bahaya bagi dirinya.
" Kita bisa beristirahat disini tuan saya akan mengecek keadaan sekitar sini dan menghubungi bala bantuan."
" Ya pergilah dan hati-hati jangan bahayakan dirimu."
" Baik tuan " Surya adalah orang kepercayaannya Aji dia sudah bekerja sangat lama pada keluarga Santoso.
Surya bekerja pada keluarga santoso sejak dia berusia 15 tahun kedua orangtuanya bekerja di rumah utama keluarga santoso, saat kedua orangtuanya meninggal Tuan besar ayah dari Tuan Aji yang merawatnya dirinya dan adiknya membiayai sekolah dan sebagainya sejak saat itu Surya dan adiknya Bayu mengabdikan hidupnya pada keluarga santoso, dan saat Tuan besar meninggal Surya dan Bayu mengabdikan dirinya pada Aji yaitu anak kandung Tuan besar.
Kenapa Surya lebih memilih mengabdikan diri kepada Aji? Karena Aji adalah anak kandung Tuan besar sedangkan Satyo hanya anak tiri yang dibawa oleh istri kedua Tuan besar, sehingga menurut garis keturunan tuan besar dia bukanlah pewaris keluarga Santoso walaupun dia mendapat warisan berupa perusahan yang lebih kecil dia tak terima dan menginginkan semuanya.
Aji dan Riyana yang sedang beristirahat berdua saling berpegangan tangan, entah bagaimana nasib keluarga mereka jika mereka terbunuh disini.
" Sayang apa kau sudah lebih baik sekarang?" Aji membelai kepala Riyana dan memijat kaki istrinya.
" Maafkan aku tolong maafkan diriku yang tidak bisa melindungi mu dan anak kita, aku tak mengira bahwa satyo akan sekejam ini."
" Ini bukan salahmu , satyo mungkin sudah digelapkan oleh kekuasaan dan kekayaan."
" Ya dia memang gila harta, tolong maafkan aku sayang, aku berjanji setelah kita keluar dari hutan ini dengan selamat kita akan menjemput putra kita dan kita bisa hidup bahagia aku janji."
" Ini bukan salahmu sudah jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini." Riyana berusah tersenyum agar suaminya tidak terus menyahkan dirinya.
Hari mulai terlihat gelap menandakan malam akan segera datang, Surya yang melihat keadaan sekitarpun sudah kembali.
" Tuan melihat hari sudah mulai gelap kita bisa beristirahat dan bermalam disini, saya sudah memastikan daerah sini tidak ada hewan buas dan anak buah Satyo." Mereka bertiga beristirahat dibawah pohon besar didekat hilir sungai.
Mereka tidak bisa menyalakan api untuk mengahangatkan tubuh karena takut akan ditemukan oleh anak buah satyo mau tak mau mereka hanya menggunakan handphone sebagai penerangan.
" Beristirahatlah tuan nyonya saya akan berjaga."
" Baiklah kami akan beristirahat tapi nanti aku akan bangun supaya kau juga bisa beristirahat."
" Tidak perlu mencemaskan saya tuan yang terpenting tuan dan nyonya."
" Ya baiklah."
__ADS_1
Jam terus berjalan walaupun mereka bisa beristirahat tapi tetap mereka tak bisa memejamkan matanya karena takut akan bahaya yang mengintai.
" Kenapa sayang apakah kau merasa tidak nyaman?" Aji melihat istrinya yang tak mau memejamkan matanya.
" Seluruh tubuhku terasa sakit mas." Riyana berusaha bangun dari pangkuan suaminya.
" Bertahanlah sayang besok pagi kita akan segera keluar dari hutan ini."
" Ya aku berharap seperti itu."
Surya yang tengah berjaga tak banyak berbicara pikirannya terbang entah kemana memikirkan keluarga kecilnya, jika dia mati dia tidak akan menyesal jika itu memang demi menyelamatkan tuannya tapi hati tetap tak bisa berbohong jika dia juga menginginkan melihat dan menemani istrinya jika melahirkan nanti.
" Bagaimanapun keselamatan tuan Aji dan nyonya adalah hal yang utama bagiku, maafkan aku istriku semoga aku bisa memenuhi janjiku padamu, menyaksikan kelahiran anak pertama kita." semoga saja Bayu bisa menyelamatkan kami dengan segera, Surya terus mengirimkan lokasi mereka pada Bayu.
" Mengapa Bayu sulit sekali dihubungi, ini bukanlah kebiasaannya melakukan pekerjaan dengan lambat jika mengenai tuan Aji."
Matahari mulai menunjukkan sinarnya terdengar suara Helikopter yang mendekat.
" Tuan sepertinya Bayu sudah menemukan kita ayo kita segera pergi dari sini."
" Syukurlah jika Bayu telah menemukan kita, ayo kita segera pergi." Surya menganggukkan kepalanya dan berjalan di depan tuannya untuk memastikan keamanan.
Helikopter sudah mendarat ,Ada rasa syukur di hati mereka karena akan segera keluar dari hutan ini tapi sayangnya mereka tak tau apa yang ada di depan mereka.
Dor Dor
Suara tembakan terdengar dua kali mengenai lengan dan kaki.
" Haha ternyata umpan sudah termakan oleh kalian , kalian pikir helikopter ini untuk menyelamatkan kalian? " Para pembunuh sudah berkumpul di belakang helikopter.
" Suamiku , Surya kalian tidak apa-apa hiks hiks," tangis Riyana pecah saat melihat suaminya tertembak
" Jangan menangis Nyonya cantik karena kita baru saja mulai hahaha."
" bagaimana ini bagaimana cara menyelamatkan diri dari para pembunuh ini."
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
maafkan aku ya baru bisa update karena sedang ada kesibukan 🙏