
pukul 7 lebih aku sampai dirumah, rumah berhalaman rumput dan banyak tanaman pohon dan bunga peninggalan almarhumah ibuku.
aku heran mendapati rumahku tertutup rapat dan tampak lama tak berpenghuni,
...ya Allah sepertinya baru 2 bulan kemarin aku pulang...batinku
dan pikiranku bertambah kacau mengingat pesan ayahku
kuketuk pintu depan rumahku, mengucap salam dan memanggil ayahku, tapi tak kudengar dan kulihat ada aktivitas apapun didalam rumah.
padahal biasanya rumahku selalu tampak hidup dengan para pekerja perkebunan yang ingin bertemu ayahku
ketika aku berkeliling rumah memanggil ayah,seorang berhenti disampingku
"eh...non Sinta, kapan pulang neng?" bu Wulan tetanggaku menyapaku dan menghampiriku
bu Wulan adalah patner bisnis ibuku dulu dan juga sahabat almarhumah ibuku,
tapi ada yang aneh pada beliau, kulihat raut wajah bu Wulan seperti takut dan memandang kasihan padaku
"Sinta baru datang bu,,,apa ibu tahu kenapa rumah saya koq sepi yah bu?" tanyaku...
padahal itu mungkin pertanyaan tak patut untuk ditanyakan anak si empunya rumah
"mari nak kerumah ibu, nanti ibu ceritakan semua" kata bu Wulan sambil menarik tanganku tergesa-gesa agar menjauh dari rumahku
dengan wajah heran dan penasaran kuturuti bu Wulan menjauh, rangselku kutinggal begitu saja diteras rumahku
setelah hampir satu jam aku mendengar cerita bu Wulan tentang ayahku yang terjerat hutang renternir jaringan preman orang bernama bang Yo,
tentang rumahku yang kini berstatus lelang, tentang ayahku yang dipukuli dan disiksa ba***gan itu
air mataku menetes dengan deras,dadaku sangat sakit,panas dan sesak memikirkan nasib ayahku...
betapa durhakanya aku sebagai anak yang selalu hidup nyaman tanpa pernah tahu penderitaan ayahnya.
"bu...apa tahu alamat rumah bang Yo yang ibu sebut tadi? tanyaku
"eh...nak Sinta jangan nekat nak, ibu kira apa yang dikatakan ayahmu itu solusi terbaik" bu Wulan berusaha mencegahku
"tapi saya harus menemukan ayah bu" jawabku sambil terisak tak mampu menahan tangis lagi
bu Wulan memandang iba wajahku dan mengelus rambutku lembut sambil mengangguk pelan
dengan hati-hati dituliskan sebuah alamat tempat aku bisa menanyakan keberadaan ayahku
"terima kasih bu" kupeluk si empunya wajah cantik itu walau sudah berusia separuh baya
"maaf ibu gak bisa berbuat banyak nak, anak-anak ibu masih kecil dan ibu juga takut pada mereka" kata bu Wulan sambil memeluk dan menepuk punggungku untuk menenangkan
setelah minum air putih dingin yang disuguhkan bu Wulan dirumahnya aku berpamitan, kulambaikan tangan kepada beliau seraya mengucap salam
yah...hari ini juga aku sudah memutuskan untuk mendatangi sang srigala.
*********************************
tiba dihalaman rumah aku terkejut mendapati tas rangselku berantakan keluar semua isinya, sementara 2 orang berwajah lusuh dan perpenampilan kasar tampak duduk dikursi teras rumahku.
"hey...apa-apaan ini" teriak ku pada 2 orang itu dan bukannya mereka takut atau marah, mereka malah tertawa mengejek
"tlp bos gih" kata seorang dari mereka tanpa memperdulikanku yang dengan marah memasukkan kembali barang-barangku dalam ras ranselku
kudengar seorang yang sedang menelpon tadi berkata iya bos...iya...sambil mengangguk takzim walau tak ada orang didepannya.
__ADS_1
aku melangkah pergi dengan cuek karena merasa jengkel dan marah
apalagi aku tak punya urusan dengan preman tikus seperti mereka
baru kakiku melangkah keluar halaman kurasakan tas rangselku ada yang menarik kasar dari belakang
"apa-apaan lagi kalian!" bentakku keras tanpa takut sambil menatap wajah mereka
"hey perempuan!...jangan sok loe!!" bentak seseorang yang menarik tas rangselku
"apa maksud kalian heh!, saya gak kenal dan gak ada urusan yah sama kalian" jawabku keras tak kalah garang
"sudahlah malas gue ngladeni cewek model begini...bawa ajalah ke bos" jawab preman satunya yang gendut yang disambut anggukan kepala temannya yang menarik rangselku
...dan akhirnya disinilah aku sekarang, didalam sebuah mobil van bau apak penuh dengan asap rokok dengan keadaan di ikat tangan dan disumpal mulutku...
**************************
entah berapa lama perjalanan dengan mobil berbau memuakkan ini, aku rasanya sudah hampir kehabisan nafas ketika mobil akhirnya berhenti dan dengan kasar mereka menarik keluar aku dengan kasar
kami berjalan menuju sebuah gedung seperti gudang tapi berteras, pohon-pohon tinggi menjulang disekeliling tempat itu sementara ilalang tumbuh tinggi ditepi jalan setapak berbatu
keadaan didalam ruangan itu tak kalah kotor dan pengapnya dengan keadaan dalam mobil itu, beberapa orang tampak cuek melirik kedatangan kami sambil terus melakukan aktifitas mereka masing-masing
mereka melemparkan aku pada sebuah sofa buluk yang sobek-sobek disudut ruangan gudang itu seperti sebuah barang saja
sementara mereka dengan cueknya pergi tanpa menoleh atau memberikan penjelasan apapun
....ya Allah, lindungi aku....batinku sambil merapal doa keselamatan
sementara otak ku berputar mengira-ira apa ayahku juga disekap disini seperti aku
segala macam dugaan beserta jalan keluar terbaik yang bisa kupikirkan untuk ku dan ayahku memenuhi isi otak ku
sementara itu aku juga menguatkan hatiku agar tidak gentar dan takut menghadapi situasi sekarang ini dan dengan banyaknya orang berwajah kasar ini
memang saat ini aku rasanya mau pingsan saja....perutku perih karena maagku kambuh sebab sampai sore aku belum makan apapun kecuali kopi tadi pagi, sementara nafasku sangat terganggu akibat pengapnya ruangan.
kudengar lamat-lamat suara adzan magrib, berarti gudang ini agak dekat dengan area pemukiman warga batinku sementara otak ku kembali memikirkan jalur pelarian ketika nanti ketemu ayahku...dan berarti juga aku ada digudang ini hampir 10jam lebih!
ketika aku sibuk dengan segala pikiran-pikiranku, aku dikagetkan ketika hidungku menangkap bau harum musk wood yang maskulin semakin mendekat kearahku
mataku menangkap bayangan sepasang sepatu boots coklat,,,,kudongak kan wajahku untuk melihat sosok yang akhirnya datang kearahku
kulihat sepasang mata hitam pekat tajam dibawah sepasang alis yang lurus, hidung mancung, bibir mengatup keras dibingkai rahang yang kokoh dan kulit berwarna tembaga...sangat tampan,sangat maskulin dan sangat dingin
tapi itu semua tak membuatku goyah walau mungkin jika keadaanya berbeda aku akan sangat terpesona melihat lelaki ini
dibelakang orang ini berdiri seluruh orang dalam gudang yang tadi cuek melakukan kegiatan masing-masing
dengan semua keberanian yang kupunya dan doa selamat dalam hati,,, kutatap mata hitamnya yang tajam dan terasa dingin itu
sengaja aku tak mau menunduk pada wajah dingin didepanku ini,aku tak mau kelihatan lemah,takut,dan bodoh
"ini anaknya anwar bang" kata preman gendut dengan tidak sopan menyebut nama ayaku...preman yang tadi membawaku paksa kesini
"lepaskan dia...gue mau bicara dengan cewek ini" perintahnya dengan suara berat dan serak khas perokok berat
dengan patuh preman gendut tadi menuruti perintah orang itu, dilepaskannya tali yang mengikat tangan dan kaki ku serta kain kotor yang menyumpal mulutku tadi
"kurang ajar yah kalian...siapa kalian!" bentakku jengkel begitu sumpalan mulutku lepas
"dimana bapakmu" tanya preman gendut tanpa memperdulikan pertanyaanku itu, sambil berlagak sok kuasa menudingkan jarinya didepan mukaku
__ADS_1
"lepaskan aku! aku mau mencari bang Yo" teriakku jengkel pada mereka...
dan demi apapun juga ketika aku berteriak menyebut nama bang Yo, langsung seluruh ruangan itu menjadi senyap dengan suasana mencekam
"mau apa kau mencari bang Yo" tanya orang bermata tajam itu akhirnya
"itu urusanku dengan dia" jawabku ketus dengan berani walaupun hatiku bergetar takut melihat mata dingin tajam itu
kulihat selarik tipis senyum samar pada wajah dingin kaku itu,tapi hanya sepintas lalu sebelum kembali membentuk garis lurus lagi
"bawa cewek ini kemobil gue jo" perintah dia lagi pada preman gendut yang ternyata bernama tejo
"hey...mau dibawa kemana lagi aku!" teriak ku sambil memberontak ketika diseret kesebuah mobil jeep hitam merk range rover
"diam betina kalau gak mau dibunuh" bisik preman gendut itu kejam ditelingaku
didalam mobil...entah atmosfir tenang macam apa, atau mungkin tubuhku yang semakin lelah karena menghadapi semua kejadian secara bertubi-tubi tanpa rehat, atau juga karena aku ketakutan yang membuatku berhenti memberontak ketika si wajah tampan itu masuk mobil dan mulai melaju dengan kecepatan sedang menjauh dari gudang itu
suasana sunyi dengan laju kendaraan yang melaju mulus serta bau harum laut dari pengharum mobil membuat mataku semakin berat dan kesadaranku semakin turun saja
aku bahkan tak sadar sudah berapa lama aku tertidur, ketika aku bangun kulihat sebuah kastil dipinggir tebing laut lepas.
laki-laki bermata tajam itu memegang kemudi memandang laut lepas, tanpa bergerak dan bersuara disampingku yang tertidur.
"maafkan saya tertidur barusan,,, tapi tolong antarkan saya kerumah bang Yo" kataku sopan pada orang itu,karena kurasa dia tidak seburuk dan sekurang ajar para preman begajulan di gudang tadi
"itu rumahnya" jawab lelaki itu pendek sambil matanya mengarah kesebuah pintu kayu kastil itu
"terima kasih" jawabku gembira, segera aku lepas sabuk pengaman dan beranjak turun
lelaki itu membuntuti aku menuju arah pintu kayu itu
"cepat pergi...bang Yo sangat kejam dan mengerikan,kau bisa mati konyol jika bertemu" bisik ku pada dia sambil mendorongnya kearah mobilnya
aku tahu dia pasti juga anggota preman tapi dia sopan dan kelihatan terpelajar, disamping itu wajahnya yang keren serta tak banyak gaya
wajah itu menatapku tajam tanpa terbaca maksudnya, tapi dia menurut saja waktu kudorong kearah mobilnya tadi,,,kuarahkan tanganku menyuruh dia pergi menjauh.
lelaki tampan itu masuk menuju mobilnya dan mulai berkendara menjauhi kastil itu, kulihat dengan hati kosong mobil hitam itu menjauh.
entah kapan lagi kami akan bertemu, sebab saat ini hidup atau matiku serta ayahku tergantung pada pertemuanku dengan bang Yo nanti
aku melangkah perlahan seraya mengumpulkan tenaga,strategi dan keberanian menuju pintu kayu itu...kuhela nafas berat beberapa kali menghilangkan gugup dalam hatiku
kuketuk perlahan besi bulat berukir kepala srigala pada pintu kayu itu, ketika ketukan ketiga kudengar suara langkah kaki mendekat...kurapatkan genggaman tanganku menunggu apapun yang akan kuhadapi nanti
"malam nona, silahkan ikut saya" ternyata seorang pelayan berumur 40an, kelihatannya sudah tahu akan kedatanganku
...pasti begundal itu banyak didatangi orang...batinku
kastil itu dominan berwarna hitam dan abu-abu, hanya lantainya saja marmer berwarna hitam dan putih dengan aksen retro yang sangat kuat
aku diarahkan disebuah ruang baca luas yang dindingnya dipenuhi berbagai macam jenis buku dan satu set sofa berwarna coklat kehitaman
aku duduk disalah satu kursi yang menghadapan langsung dengan pintu, kuambil dengan cepat pisau kecil panjang dan tajam diatas meja yang biasa untuk membuka surat
aku harus siaga dengan berbagai macam kemungkinan...siapa tahu nanti aku dicekik sampai mati dari belakang atau dibius lalu diperkosa dan dibunuh atau hal mengerikan lainnya
...kamu harus kuat dan berani sinta....batinku menguatkan diri agar tidak takut
suara kenop pintu ruang baca terdengar terbuka setelah 5 menit aku menunggu seorang preman bengis bernama bang Yo itu
"malam sinta, gue bang Yo yang loe cari"....suara itu...wajah itu...astaga si tampan tadi itu adalah bang Yo sang srigala
__ADS_1
dan akupun hanya diam mematung karena shock dan takut....
**************hope you gaes enjoy😊**********