SANG SRIGALA

SANG SRIGALA
4. AKU BUDAK BUKAN SIMPANAN


__ADS_3

setelah pertemuan kemarin, aku tidak lagi mendapatkan kamar yang berada didalam kastil induk melainkan ditempatkan disuatu kamar sebelah kastil induk dekat taman disamping kamar kepala pelayan


kamar itu tidak sebagus dan seluas kamar yang pernah kutempati dilantai atas kastil bang Yo dulu, hanya ada tempat tidur single bed, sebuah meja belajar dan sebuah lemari kecil,,,sederhana saja


tapi aku harus bersyukur kamarku mempunyai kamar mandi sendiri dalam ruangan, sehingga memungkinkan aku tak perlu banyak keluar kamar untuk berinteraksi dengan penghuni kastil ini


tugasku adalah melayani setiap kebutuhan bang Yo, mulai dari bangun tidur pagi hingga malam hari...jadi singkatnya aku harus bangun sebelum bang Yo bangun tidur dan aku tak boleh tidur sebelum bang Yo tidur


terkadang aku heran bagaimana preman seperti dia mempunyai selera bagus terhadap rumah, pakaian, bisnis,makanan dll


dan juga bang Yo sangat beretika dalam hal makan, berbicara, duduk dsb


tingkah lakunya pun sangat berbeda dengan preman jalanan biasanya, bang Yo sopan, diam, tenang tapi mematikan dan kejam


aku tak diberikan baju pelayan karena menurut pak Warso kepala pelayan bang Yo dikastil ini tidak pernah ada pelayan wanita, jadi aku hanya memakai baju sehari-hariku saja...jeans kemeja flanel atau celana dan kaos favoritku


hari ini adalah hari pertama tugasku menjadi budak bang Yo


hatiku berdegup kencang dari semalam sehingga praktis membuat aku tidak tidur sampai dini hari, aku sengaja mandi waktu dini hari ini untuk menghilangkan kantuk dan membuat pikiranku segar kembali setelah mandi air dingin


aku memakai celana jeans dan kaos gombrong berwarna hitam bergambar smiley untuk menyembunyikan pisau kecil yang kemarin diselipkan ayahku, kuikat tinggi rambut panjangku agar leluasa nantinya aku bergerak dan bekerja


setetes air mata menetes mengingat riwayat pendidikanku yang selalu rangking 3 besar hingga dapat kuliah di universitas bergengsi di negaraku dengan mudah dan ipk ku pun tertinggi dijurusanku


....semangat sinta, nyawa ayahmu lebih berharga dari itu semua...batinku menguatkan diri


segera ku usap air mataku dengan ujung lengan kaosku, kutepuk-tepuk pipiku dan kuhembuskan nafas keras, bagaimanapun juga aku harus bersyukur masih hidup tanpa cacat atau kehilangan kehormatanku


suasana kastil masih sangat sepi, lampu-lampu taman pun masih menyala, embun pagi dan suasana pagi dengan angin dingin laut dan suara burung-burung, harum wangi bunga bercampur bau segar laut benar-benar membuatku untuk sesaat lupa akan keadaanku


aku melangkah hati-hati menuju dapur yang berada disamping kastil, rupanya warso sudah bangun dan kulihat dia sudah mulai memotong-motong sesuatu untuk makan pagi


"pagi pak..." sapaku canggung


"pagi, tolong roti itu kamu panggang dan susu segar didepan kamu ambil" jawab pak warso tanpa basa basi langsung memberiku instruksi


"baik pak " aku langsung berlari keluar mengambil susu yang ditaruh pada kantong didepan pagar


setelah menyerahkan susu aku langsung membuat roti panggang, menggoreng telur mata sapi dan ham, serta menyediakan kopi pahit


rupanya bang Yo siapapun tidak boleh membantu pekerjaanku sebagai budak bang Yo


....dasar orang picik jahat...makiku dalam hati jengkel


"jam 8 nanti bang Yo dibangunkan, tapi sebelum itu siapkan air mandinya dan bajunya" instruksi pak warso


"sarapan nya biasanya jam berapa pak?" tanyaku heran


sebab kalau bang Yo bangun jam 8, makan pagi yang aku buat sudah akan dingin


"jam 9" jawab pak warso santai


"terus semua makanan ini bagaimana pak" tanyaku hampir menangis mengingat susah payah aku membuat sarapan yang sempurna di hari pertamaku bekerja


"kamu buat ulang, yang itu bisa kamu makan atau buang...terserah" jawab pak warso cuek sambil berlalu keluar dapur


*************************************

__ADS_1


dengan berbagai macam emosi jam 8 tepat kuketuk pintu kamar berkayu tebal tempat bang Yo berada


...tok...tok...tok...


"tuan bangun..."


sengaja aku memanggil bang Yo 'tuan' untuk berikan garis batas jelas, aku bukan salah satu anak buahnya,,,,tapi aku budaknya


suara deheman bang Yo dari dalam menjawab menandakan dia sudah bangun, berarti sekarang waktunya menyiapkan baju dan air mandinya...lalu segera cepat aku membuat lagi sarapan agar tetap panas dan segar


"saya masuk tuan"


aku memutar kenop pintu dengan sangat gugup, bagaimanapun juga ini pertama kalinya aku memasuki kamar lelaki selain kamar ayah


dengan cepat aku segera masuk ke ruangan tempat bang Yo menyimpan perlengkapan sehari-harinya yang penuh berisi baju,sepatu,jam, dll,,,, lalu segera berjalan tergesa melintasi ruangan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi


kulihat dari sudut mata bang Yo tetap duduk diam tanpa suara diatas ranjangnya yang seukuran lapangan bola itu, mengawasiku yang mondar-mandir mempersiapkan semua keperluannya


"semua sudah tuan, anda mau sarapan dimana tuan ?" tanyaku


"disini saja " jawabnya datar dan segera beranjak keluar selimut tebalnya


aku segera membuang muka setelah melihat dan menyadari ternyata bang Yo hanya mengenakan boxer ketat dan kaos dalaman saja


dia melangkah kearahku dengan cuek, seolah tak tahu betapa gugupnya aku ketika melihat tubuh kekarnya yang terpahat dengan sempurna, melihat kejantananya yang tercetak dengan jelas dibalik boxer putih ketatnya,,,kulihat bang Yo tersenyum tipis melihat aku yang gugup dan salah tingkah


setelah bang Yo masuk kamar mandi, aku segera keluar kamar untuk membuatkan sarapanya lagi,


2 potong roti bakar, sebuah telur mata sapi, beberapa potong ham, dan kopi tanpa gula serta beberapa potong buah


" sin, apa kamar bang Yo sudah kau bersihkan ?" tanya pak warso dari belakang memgejutkanku


"sebelum tuan selesai mandi, kamar harus sudah rapi" kata pak warso


"iya pak, baik" kataku sambil berlari menuju kamar bang Yo


tepat ketika aku membuka pintu kamar ternyata bang Yo baru selesai mandi...pemandangan itu seketika membuat aku terpaku ditempat


tetes-tetes air dari ujung rambutnya, jubah mandi hitam yang seolah menyatu dengan kulit tembaganya, sepasang kaki yang tinggi dan kekar membuat bang Yo tampak lain...segar dan tampan sekali


bang Yo melaluiku seolah aku adalah udara yang tak terlihat, tetesan air dari hasil hempasan rambut yang dikeringkan mengenai wajahku membuat hatiku berdegup kencang


tapi hanya sesaat ketika bayangan ayahku melintas dengan wajah babak belur berdarah-darah, membuatku menghembuskan nafas dan merasakan kebencian pada mahluk tampan yang kejam ini


dengan cepat aku membuka tirai-tirai kamar yang kelihatannya berat itu, menata tempat tidurnya lalu berlari menyediakan sarapannya disofa set yang berada dalam kamar tidur ini


setelah semuanya kurasakan selesai, aku melangkah keluar kamar dan berdiri tepat disamping pintu kamarnya agar sewaktu-waktu dia memanggilku terdengar,,,, yah aku tak ingin melihat wajah yang sangat aku benci itu


bang Yo keluar kamar tanpa menyapa atau bahkan melihat aku yang berdiri disamping pintu kamarnya, kurasakan aura dingin seketika membuat bulu kuduk ku meremang ketika dia melewatiku


aku melangkah tepat 3 langkah tanpa suara dibelakang bang Yo, berusaha mengimbangi langkah bang Yo yang lebar-lebar


mobil bang Yo rupanya sudah disiapkan pak warso didepan pintu kastil, aku sungguh heran melihat gaya hidup dan cara bang Yo menjalani rutinitas yang tidak seperti orang pada umumnya, seolah-olah dia seorang ningrat yang terbiasa menjalani rutinitas seperti itu


aku melihat lewat kaca mobil bang Yo duduk diam sambil membaca sesuatu, aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang saja


" tolong lebih cepat dan lebih fokus " kata bang Yo memecahkan keheningan diantara kami

__ADS_1


"baik tuan, maaf" aku menjawab gugup dengan muka memerah ketika mendapati ternyata bang Yo sadar dari tadi aku mencuri-curi pandang melihatnya


" kita ke jalan liong " bang Yo menginstruksikan kemana arah kami pergi setelah mobil berada dijalan menuju kota


segera mobil kuarahkan dengan kecepatan penuh menuju jalan liong yang berada disisi lain kota


satu jam kemudian aku telah berada disebuah gudang pelabuban berisi banyak kontainer dijalan liong


"apa saya harus ikut tuan?" tanyaku gugup ketika menyadari dari gudanh itu tampak keluar masuk orang-orang berbaju hitam


"terserah kamu, tapi jangan jauh-jauh dari sini" kata bang Yo sambil turun dari mobil tanpa menoleh lagi padaku


aku menganggap hal ini isyarat agar aku tak mengikuti dia, maka aku putuskan untuk memejamkan mata sebentar sebab praktis sejak kemarin aku tidur hanya beberapa jam saja


aku terbangun beberapa saat kemudian, oh ternyata sudah 1 jam bang Yo berada didalam gudang itu...entah melakukan apa


....semoga saja dia tertimpa kontainer besar dan mati...kutuk ku dalam hati


yah...aku benar-benar benci lelaki itu, dia sangat sombong dan juga kejam, apalagi dia telah memukuli ayahku yang sudah tua sampai seperti itu


aku pada akhirnya memutuskan untuk keluar mobil karena punggungku letih dan sakit, serta untuk menghirup udara segar


kuputar badanku untuk melepaskan ketegangan, ketika kusadari sebuah tangan besar memegang pundak ku


" siapa loe masuk daerah sini...wartawan yah ?" tanya garang seorang berbadan besar dan berbaju hitam berumur seayahku


"saya sopir bang Yo bang" jawabku berani mengalahkan ketakutanku


"jangan bohong loe, mana pernah bang Yo sama cewek" jawab orang seumuranku


"sudah bang bawa saja...bening nih" lanjutnya sambil meremas pantatku dan disambut tawa orang gendut itu lagi


"hey! apa-apa an kalian...jangan kurang ajar yah!!!" teriak ku jengkel sambil memukul tangan si gendut yang ingin meremas pantatku juga


"jangan sok jual mahal loe...sini nungging bentar" kata sigendut berusaha membuatku menghadap belakang


dengan keberanian dan kekuatan yang tersisa aku memutar badan dan aku tendang orang itu tepat diarea vitalnya


suara kesakitan dan kemarahan si gendut membuat temannya yang seumuranku marah dan menampar aku hingga kurasakan mataku berkunang-kunang dan jatuh menjerit menahan sakit


rupanya suara jeritanku cukup keras sehingga kulihat banyak orang berbaju hitam keluar dari gudang itu, dan satu diantaranya bang Yo yang tampak marah menghampiri kami


....prakkk...


suara tulang patah kudengar dari kedua lelaki berbaju hitam akibat tendangan kaki bang Yo yang tanpa bertanya apapun menghantam mereka


"ampun bang...ampun bang...kami tak tahu itu cewek abang..."lolong mereka sambil terduduk menahan sakit akibat terjangan kaki bang Yo


raut muka tak peduli dan dingin serta sarat kemarahan tergambar jelas pada muka bang Yo ketika dengan sekali sentakan membuatku berada dalam gendongan bang Yo


aku diletakkan dikursi depan sementara bang Yo mengambil alih kemudi


"biar saya saja tuan" kataku


"jangan uji kesabaran saya sinta.." desis bang Yo sambil langsung memacu mobil dengan kecepatan penuh meninggalkan kumpulan debu dibelakang mobil


" tapi aku budakmu...bukan wanitamu" desisku pelan

__ADS_1


dan kata-kata itu sukses membuat bang Yo mengerem mobil seketika dan membuat aku terhentak ke-depan


*****************hope you will enjoy gaes*************


__ADS_2