SANG SRIGALA

SANG SRIGALA
7. CEMAS


__ADS_3

setelah luka bang Yo aku obati dan aku balut, dengan tertatih aku membantu bang Yo untuk beranjak ke tempat tidurnya, walaupun kelihatan ramping ternyata badan bang Yo sangat berotot disamping itu tinggi kami yang berbeda jauh membuatku sangat kesulitan memapah dia


bang Yo menyuruhku mengambil baju piyama berwarna merah maroon, dengan gugup aku membantu dia berganti baju sambil terus menundukkan kepala dengan wajah merah seperti kepiting rebus, apalagi waktu membantu melepaskan celana jeans untuk berganti dengan celana longgar piyama nya


....jangan gugup sinta...jangan permalukan dirimu...batinku berkali-kali mengingatkan diri


kaki bang Yo yang ramping penuh dengan bulu dan sangat kekar berotot membuat wajahku kembali memerah, tapi untungnya bang Yo berusaha menarik resleting celananya sendiri dan berinisiatif menurunkan sendiri celana jeansnya


" maaf buat loe telat istirahat " kata bang Yo


" kenapa abang bisa terluka ?" tanyaku penasaran


aku tak lagi ingat batasan dia adalah orang yang kubenci saat ini, orang yang telah menghancurkan masa depanku dan yang telah jahat padaku


melihat orang terluka apalagi seperti itu merupakan hal yang sangat luar biasa dalam hidupku yang jarang berkonflik, sepanjang ingatanku konflik terhebat dan suasana paling menegangkan ketika aku pernah suatu hari ketahuan bolos ayah dan ketika ibu ku yang sakit jatuh dari kursi rodanya dari teras rumah


oleh karena itu melihat dan mengikuti orang yang hidupnya terlalu berkonflik dan menegangkan seperti film, membuat aku sedikit banyak gugup tapi harus berani dan tegas menghadapi ini semua sendiri


" besok saja ceritanya...gue mau tidur " kata bang Yo sambil menutup mata dengan lengannya


" saya istirahat di sini saja bang, biar enak kalau butuh apa-apa ke saya " putusku sambil beranjak menuju sofa yang yang ukurannya besar itu


bang Yo tampak melirik ke arahku dengan kaget tapi tidak berkomentar apapun juga, dengan menepuk tangan lampu diruang kamar bang Yo padam...oh rupanya itu adalah lampu otomatis


baru sebentar saja aku terlelap tidur suara erangan dari kasur seberang menyadarkan aku seketika, segera aku menghampiri bang Yo yang tampak menahan kesakitan dalam tidurnya


keringat tampak membasahi wajahnya, dengan perlahan aku raba keningnya...panas sekali dia,


segera aku menyiapkan air dingin dan kompres, dengan hati-hati aku mulai mengompres bang Yo yang tampak gelisah dan mulai mengigau


" ma..mama tidak...jangan kesana..."


" tidak...bukan papaku...jangan..pa.."


bang Yo terus mengigau dengan suara menyedihkan


tak kudengar lagi nada arogan dan dingin seperti biasanya lelaki ini berbicara, sekarang yang kudengar suara memelas dari seorang lelaki yang rupanya rindu ayah dan ibunya


dengan lembut aku mengusap rambut bang Yo untuk menenangkan dia, jujur saja saat ini rasa benciku menguap entah kemana, aku bahkan lupa jika sekarang ini yang sedang kurawat adalah seorang bos preman yang kejam dan dingin yang bahkan dia sempat memukuli ayahku juga


sampai fajar menjelang akhirnya panas bang Yo berhasil turun dan tidak lagi mengkhawatirkan, tubuhku terasa penat sekali ketika akhirnya aku terjatuh tidur disamping ranjang bang Yo


***********************************


aku kaget dan langsung terduduk ketika tersadar aku telah tertidur dikasur empuk dengan seprei halus dan bantal empuk dari bulu angsa

__ADS_1


tampak bang Yo masih memakai piyama duduk dengan santai di sofa kamar sambil membaca sebuah buku, tak tampak lagi raut kesakitan seperti semalam


aku langsung melompat bangun dan bergegas memeriksa dahi bang Yo tanpa sadar


" syukurlah demam mu sudah turun bang " kataku lega sambil duduk disebelahnya


bang Yo tersenyum tipis dengan wajah dan sinar mata hangat memandangku, mungkin jika anak buahnya tahu bos nya seperti ini mereka akan menertawakanya


" loe pinter juga yah ngerawat orang " kata bang Yo dengan nada suara yang lain dari kemarin malam, sekarang suaranya kembali bernada arogan


" maaf tuan saya lancang kemarin " kataku gugup sambil berdiri ketika menyadari kelancanganku


" berapa orang yang pernah loe rawat begini " nada suara lelaki ini sekarang terdengar mengejek dan benar-benar menjengkelkan


" maksud kamu apa heh! asal kamu tahu...aku baru pertama kali masuk kamar lelaki dan baru sekali ini aku merawat orang seperti ini...brengsek !! " seruku sambil berjalan cepat keluar kamar bang Yo dan membanting pintu


....dasar kampret tak tahu di untung...rutuk ku sambil berjalan menuju kamarku


tak ku acuhkan pak warso yang menatap heran aku yang keluar kamar bosnya sambil marah-marah dan membanting pintu, biar saja aku disiksa atau dibunuh sekalian


...sia-sia kemarin aku khawatir, iba bahkan merawatnya sedemikian rupa, dasar lelaki tak punya hati... aku masih saja mengerutu dalam hati


aku langsung menjatuhkan diri ketempat tidur dan menangis setelah sampai kamar, betapa rendahnya aku rasakan sekarang ini, betapa bencinya aku pada lelaki itu, dan betapa malunya aku pada ayahku karena sempat melupakan preman brengsek ini yang telah menyebabkan usaha ayahku kacau dan hancur


setelah puas aku melampiaskan emosiku, aku membulatkan tekad untuk tidak lagi bersikap lunak dan baik pada lelaki kurang ajar itu


" baik pak " jawabku sambil mengeringkan rambut...memang saat ini aku habis mandi untum menyegarkan badan dan pikiranku


" sekarang non !" kata pak warso tegas


" siap !" sahutku dengan nada jengkel tapi langsung keluar kamar menuju kamar lelaki itu


aku tak mau ada masalah apapun dan juga aku bersikap profesional dan memberi batasan jelas, ini adalah pekerjaanku untuk membayar hutang ayahku!


tok...tok...tok...


" tuan saya masuk " kataku memberi tahukan kedatanganku


aku langsung terpaku dan terpana begitu masuk kedalam kamar dan melihat bang Yo membelakangi aku dan hanya memakai ****** ******** saja, tubuhnya sangat sempurna seperti dipahat oleh para dewa... kokoh, tinggi dan atletis, dipunggung kokoh itu terdapat tatto besar sepunggungnya bergambar kepala srigala yang dililit bunga peony dan naga yang sangat artistik


" maaf tuan, saya tak tahu " kataku sambil langsung membalikkan badan dengan muka merah menahan malu


" tutup pintunya " perintah bang Yo


" biar saya tunggu diluar tuan " kataku sambil akan melangkah keluar

__ADS_1


" loe tetap disini, bantu gue " perintah bang Yo menahan langkahku dari belakang dan mengunci pintu kamarnya


" bantu gue mengobati luka ini " kata bang Yo acuh sambil membalikkan badanku


sedangkan aku semakin terpaku dengan wajah merah padam demi melihat otot dada bang Yo yang tampak kekar dengan perut sixpack nya, sebuah tonjolan besar tampak dibawah sana hanya ditutupi selembar kain ketat ****** *****


klik...klik...suara jari yang di adu membuat kesadaranku kembali lagi dan menyadari disini aku hanya budak yang harus menuruti semua perintah tuannya


" maaf tuan...baik " kataku formal sambil mengambil kotak p3k dan mulai mengobati lelaki itu dengan hati-hati


" loe marah yah ?" tanyanya


" tidak tuan, saya yang salah karena berani marah " kataku kaku dan formal


bang Yo memegang tanganku yang mulai akan membebat lukanya, dan mengarahkan wajahnya tepat ke arahku, mata kami bertemu untuk sekian lama dan aku benar-benar tenggelam dalam sinar mata hitam pekat tak terselami itu


" apa maumu heh! aku bukan mainanmu !!" aku membentak dengan emosi melupakan garis tegas yang aku buat tadi


" maafin gue hanya gak tau bagaimana mulai ngobrol dengan loe tadi " kata bang Yo tepat di mukaku


" ayo aku balut dulu lukamu " kataku melunak setelah melihat rembesan darah keluar dari kapas yang baru aku tempelkan


" jangan membungkuk dulu bang, habis ini kita akan ke dokter yah " kataku dan di iyakan dengan anggukan bang Yo samar


setelah aku membalut luka dan membantu bang Yo berpakaian, segera kami berangkat menuju klinik tersembunyi yang rupanya merupakan langganan bang Yo dan anak buahnya


perut bang Yo mendapatkan 14 jahitan dalam dan 24 jahitan luar, suatu keajaiban melihat bang Yo bisa dengan santai berjalan dan menahan rasa sakitnya


pisau yang menusuk bang Yo kemarin hanya meleset beberapa inci saja dari ginjalnya, setelah bang Yo mendapatkan perawatan dan obat kami pun langsung pulang agar dia bisa langsung beristirahat


" bang...boleh saya bertanya kenapa bisa terluka seperti itu ?" tanyaku hati-hati sambil mengemudi mobil dengan kecepatan pelan takut membuat luka bang Yo kembali terbuka atau sakit


" biasalah...namanya juga kerjaan gini, gue kalo gak luka baru aneh " jawab bang Yo sambil tertawa garing untuk mengelak menjawab


" maaf kalau saya lancang dan sembrono bertanya " jawabku agak tersinggung mendengar jawaban bang Yo


" gue gak biasa menjelaskan masalah ke siapapun sin, jadi pahami " jawab bang yo


" gue harap loe juga terlindungi sin, yang gue cari sekarang adalah pengkhianat ayah loe yang juga pembunuh ortu gue " terang bang Yo sambil menatap tajam keluar jendela


citttt...aku langsung mengerem mobil begitu mendengar jawaban bang Yo tadi dan membuat tubuh kami terayun kedepan


mobil langsung berhenti mendadak ditengah jalan...untung saja mobil kami masih berjalan dijalan kecil, aku tak bisa membayangkan kalau itu berada di jalan raya...pasti kami akan mengalami kecelakaan


" apa maksud abang,,,,orang yang bernama soni itu ? teman ayahku ?" tanyaku bertubi-tubi

__ADS_1


" hey...pinggirkan dulu mobilnya " perintah bang Yo sebelum menceritakan semua


**************see you next episode gaes***********


__ADS_2