
suara decit rem beradu keras dengan panasnya aspal membuat debu beterbangan dibelakang mobil yang dikendarai bang Yo
sementara badan dan kepalaku terayun dengan keras kedepan membuat aku ketakutan dan gugup seketika, tapi kegugupanku segera kututupi dengan sikap tenang
bang Yo tampak mencengkeram dengan erat kemudi mobilnya dan berusaha mengatur nafas dan emosinya, sesaat kemudian kulihat raut wajah bang Yo kembali tenang tapi dengan aura dingin kemarahan yang mematikan...dan itu membuatku bergidik dengan tidak sadar
" apa maksudmu tadi perempuan!" suara bang Yo pelan saja tapi penuh penekanan
aku terdiam takut menambah keruh keadaan ketika untuk pertama kalinya bang Yo memanggilku 'perempuan '
" aku memang budakmu kan...tapi ingat aku memang bukan wanitamu juga " jawabku berani sambil menatap langsung mata bang Yo
aku sudah membuang rasa takut yang kurasakan barusan, aku sudah sangat nekat untuk memberi garis batas jelas betapa aku sangat membencinya, betapa aku sekarang disini bersamanya hanya karena hutang ayahku saja
"loe pikir loe siapa hah! " tiba-tiba bang Yo menarik daguku kasar dan ******* bibirku dengan kasar sampai aku merasakan kesakitan akibat bibirku yang berdarah digigit bang Yo
...plakkk..plakk...
dengan reflek aku menampar pipi bang Yo dengan kemarahan yang membuncah menyadari ciuman pertamaku direnggut paksa oleh seorang preman brengsek seperti dia
"kamu kira kamu siapa berani kurang ajar hah!!!" aku berteriak kesal sambil menangis
"gue tuan loe...dan loe bahkan tidak pantas untuk jadi pembantu wanita gue!" jawab bang Yo sambil sombong dan mengelap bibirnya dengan acuh
mobil kembali melaju dengan kecepatan penuh, bang Yo kembali diam tanpa ekspresi sementara aku menangis terus tanpa bisa aku tahan, menangisi nasib buruk ku terperangkap dalam situasi ini
rupanya kali ini bang Yo mengemudikan mobilnya kearah gudang tempat aku dulu disekap, kelebatan ingatan tentang tempat itu membuatku tanpa sadar memeluk diri sendiri agak gemetaran, apalagi setelah peristiwa barusan tadi
suara decitan rem dan debu-debu musim kemarau menebal seiring mobil bang Yo berhenti
"loe tunggu disini sebentar" kata bang Yo sambil turun dan menutup keras pintu mobilnya
syukurlah bang Yo tidak memaksa aku turun untuk menemaninya, bagaimanapun tmpat itu membuat aku trauma dan tempat celaka yang membuat aku menjadi seperti ini
aku kembali menangis sampai bahuku berguncang mengingat bayangan ciuman pertamaku yang kuimpikan romantis dan indah buyar, aku tak pernah mengira ciuman pertamaku akan sangat menyakitkan dan membuat aku merasa terhina
beberapa saat kemudian suara ketukan pelan dikaca mobil sebelahku membuatku terkejut,
kulihat dua preman yang dulu membawaku ke gudang itu tampak ragu-ragu dan pelan mengetuk kaca mobil,
tak tampak lagi sikap garang dan wajah meremehkan mereka saat ini
" non...minum, disuruh bang Yo " kata si gendut sambil menyerahkan sebotol air mineral padaku
aku menerima dengan ragu botol minuman itu
...apa maksudnya ini...batinku
__ADS_1
" kata bang Yo agak lama sedikit non " jawab preman satunya yang kujawab dengan anggukan pelan kepalaku
" tapi kalau non keburu-buru, bilang saja non...nanti akan kami antar pulang" sambungnya lagi
apa hak ku untuk melarang dia lambat atau menyuruh dia cepat, aku disini pada posisi budak yang tak memiliki suara dan kuasa, pikirku pedih
setelah ke dua anak buah bang Yo pergi aku kembali melamun, untuk saat ini aku ingin meratapi nasib...biarlah sehari ini aku cengeng dan lemah
kulihat botol air mineral yang berada di tanganku, panasnya hari ini membuatku tergoda untuk minum air mineral yang botolnya berembun dingin itu
tapi satu pikiran jelek melintas di otak ku, aku bahkan curiga air ini telah diberi obat atau zat tertentu, aku tak mau mengambil resiko...apalagi mengingat sikap dan sifat bang Yo yang tak tertebak dan walaupun dingin tapi sangat mengerikan ketika emosional
panas udara membuat ruangan dalam mobil saat ini sangat pengap, aku membuka sedikit jendela mobil
sekilas aku lihat dua preman anak buah bang Yo berjaga disekitaran mobil ini dengan jarak aman tapi tersembunyi
....segitu takutnya kah aku melarikan diri...rutuk ku kesal
semilir angin sejuk diantara rindang pohon membuat mataku semakin berat, dan entah berapa lama aku jatuh tertidur ketika kusadari seseorang masuk kedalam mobil, rupanya bang Yo yang masuk dan tanpa membangunkan aku dengan lembut dan pelan dia mengemudikan mobilnya
aku pura-pura tidur saat bang Yo dengan lembut dan mengendarai dengan kecepatan sedang mobilnya seolah takut membangunkan tidurku, aku tahu mobil ini mobil mahal maka tak heran bahkan suara dan getaran mesinnya tak terasa
aku ingin tahu setelah ini kami akan kemana, sementara waktu mulai beranjak sore kurasakan perutku mulai lapar
" loe mau makan apa ?" tanya bang Yo santai sambil menahan senyum setelah tahu perutku berbunyi tanda kelaparan
" bagaimana kalau ke tempat makan favorit gue.."
" iya tuan, terima kasih " kataku sopan
mobil kemudian melaju membelah tengah kota menuju pinggiran laut, kulihat beberapa kedai makan sederhana berada berjejer rapi di pinggiran pantai
kemudian bang Yo mengarahkan mobilnya ke salah satu kedai paling terang yang terletak di pinggir sendiri
" turun " perintah bang Yo menjawab kebingunganku
setelah masuk kedalam kedai aku baru menyadari betapa istimewanya kedai ini,pantas saja jadi tempat makan favorit seorang bos besar
bau harum masakan langsung menyerbu hebat dalam hidungku, sementara suasana hangat dengan beberapa saja meja kursi untuk pelanggan menambah nilai eksklusifitas nya, dengan teras menjorok agak ke pinggir laut dengan banyak tanaman bunga gantung dan pergola membuatnya sangat istimewa
" nak...tumben kemari " tanya seorang wanita tua sambil tergopoh-gopoh keluar dan menyalami bang Yo seolah- olah dia presiden saja, begitu tahu kedatangan bang Yo
" kan gue sibuk " jawab bang Yo sambil tersenyum lebar merangkul wanita tua itu berjalan kearah kedalam kedai tanpa peduli kehadiranku di sini
" eh nak...temanmu..?" tanya wanita itu sambil menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh kearahku
.... untung saja wanita ini baik dan sopan...batinku lega
__ADS_1
" ayo non kemari..." ajak wanita itu dan segera aku menghampirinya
setelah sampai didepan wanita itu aku berdiri canggung,
entah kenapa...atau karena wanita ini menatap tajam aku seperti menyelidik atau karena bang Yo tampak salah tingkah ketika berada diantara aku dan wanita tua ini
" koq nenek gak dikenalin, jo " kata wanita tuan itu sambil menyikut perut bang Yo
...siapa wanita ini...batinku penasaran
" nenek...sinta "
" sinta...nenek " bang Yo memperkenalkan kami dengan canggung membuatku tersenyum
ternyata ketua preman yang sangat ditakuti seluruh kota bisa juga canggung waktu memperkenalkan aku dan tampak kikuk didepan seorang wanita tua
" saya sinta nek, asisten nya tuan Yo" aku memperkenalkan diri sopan tanpa harus memperkeruh suasana dengan berkata aku budaknya
" asisten istimewa yah, dia kan gak pernah dekat wanita selama ini" kata nenek sambil tertawa mengambil tanganku
" jaga anak bandel ini yah non,,," kata nenek itu sambil menepuk punggung tanganku penuh arti
rupanya nenek tua pemilik kedai itu adalah mantan pengasuh bang Yo dari kecil ketika kedua orang tua bang Yo masih ada
aku membantu nenek veronika,,,, begitu nama wanita tua itu,,,memasak ikan kukus dan ikan asam manis kesukaan bang Yo, kami merasa langsung cocok satu sama lain, mungkin saat ini aku membutuhkan ibuku...dan nenek veronika seperti almarhum ibuku yang suka memasak
dari beliau juga aku mendengar cerita tentang masa lalu bang Yo yang menyedihkan, tentang dia yang sudah yatim piatu sejak usia 12 tahun, tentang orang tuanya yang dibunuh dengan kejam didepan matanya, dan sejak saat itu bang Yo memutuskan hidup sendiri di kastil keluarganya
selesai memasak aku membawa hasil masakanku dan nenek veronika ke depan kedai yang agak menjorok ke arah laut
tampak bang Yo menghirup rokoknya dalam-dalam sambil memandang sendu laut yang berwarna oranye karena hari beranjak senja
...apa yang sedang dipikirkan dia yah..
batinku penasaran
" bang makan..." kataku spontan sambil meletakkan nasi dimeja dekat bang Yo berdiri
bang Yo tampak menoleh kaget sambil tersenyu. samar ketika aku memanggilnya bang Yo dan aku sendiri kaget mendengar nada suaraku yang tak lagi ketus ketika bicara dengan dia
yah entah kenapa cerita nenek veronika tentang bang Yo tadi langsung melelehkan hatiku,
aku jadi tidak tega membayangkan anak berusia 12 tahun hidup sendiri di kastil tua apalagi musuh yang kejam mengintai dan mengancam hidupnya setiap saat, pantas saja dia sangat kejam dan dingin pada orang
bang Yo menuju meja dan mulai makan diam, ekspresi wajahnya yang datar membuatku bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkanya, apa masakanku seenak masakan nenek veronika, atau ada masalah dengan bisnisnya...mengingat tadi dia kelihatan sangat sibuk
" maaf tadi aku kasar " kata bang Yo pelan dan sukses membuat aku ternganga sampai sendok yang kupegang terjatuh
__ADS_1
**************** i hope you'll enjoyed gaes **************