
"Maaf Tuan, apa anda sudah siap untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan Savana groups?" ucap Cika mengingatkan jadwal Alexander hari ini.
"Baiklah, siapkan segala sesuatunya." Alex yang masih mengenakan pakaian kaos oblong dan celana pendek, berkutat dengan laptop di sofa. ruangan kamarnya ketika Cika mengingatkan jadwalnya hari ini.
"Tuan ini pakaian kerja, anda." Cika yang merangkap asisten dan sekertaris plus-plus Alex, mulai menyiapkan segala sesuatunya, termasuk kebutuhan pribadi.
"Berapa kali aku ingatkan, jika sedang berdua seperti ini. panggil aku sayang!" Alex kembali melanjutkan mengenakan pakaian dan jas kerjanya.
"I...iya sayang, maaf aku seringkali lupa." balas Cika kelagapan dengan suara bariton Alex.
"Ayo sekarang kita harus berangkat, aku tidak ingin terlambat karena ini bisnis besar." Alex cepat menuju teras, diluar pintu sudah terparkir mobil yang akan mengantarkan mereka. Dengan sigap asisten Rambo membuka pintu mobil.
"Silahkan Bos." ucap Rambo menunduk hormat.
Alex hanya mengangguk kecil, dan langsung masuk sambil merapikan jasnya. dikuti Cika yang duduk disampingnya. Sepanjang perjalanan menuju kantor Savana groups, Cika merasa gugup dan tiba-tiba jantung nya seakan berdetak. seolah-olah dia akan merasa akan terjadi sesuatu, sehingga Cika menjadi tidak fokus dengan pikiran nya sendiri dia tidak menjawab pertanyaan dari Alex.
"Cika, kamu kenapa berubah aneh seperti ini?" Alex menggelengkan kepalanya pelan, melihat tingkah aneh sang sekretaris kesayangannya.
"Sepertinya aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. apa salah makan!" Cika kembali mengingat-ingat, dia terlihat tidak fokus dan konsentrasi lagi.
"Apa kamu mempunyai masalah?"
"Tidak tuan."
"Lalu apa yang membuatmu gugup, ingat Cika ini proyek kerjasama yang tak ternilai harganya, aku tidak ingin gagal." pesan Alex penuh penekanan.
"Iya Tuan, aku akan bekerja secara profesional dan tidak akan mengecewakan."
Mobil yang mereka kendarai sudah masuk gerbang utama perusahaan terbesar di Asia. Cika menatap kagum gedung menjulang tinggi itu. berdasarkan informasi dari Alex jika perusahaan besar ini dipimpin oleh seorang pengusaha tua, bahkan sudah seumuran dengan kakek Huang.
"Benar-benar Pria hebat dan pekerja keras, meskipun dia tidak muda lagi." gumam Alex, melangkah masuk yang diikuti oleh Cika dibelakangnya. baru beberapa langkah Cika memasuki gedung tiba-tiba dia merasakan sakit perut yang teramat sangat.
"Tuan, aku permisi ketoilet dulu." ucap Cika dengan wajah memelas dan pucat, keringat dingin membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Cika, apa kamu sakit?"
"Entahlah, tiba-tiba perutku mulas."
"Shiiit, cepat kita tidak punya banyak waktu lagi." ucap Alex khawatir bercampur kesal. dia terpaksa menunggu Cika, namun baru beberapa detik keluar dari toilet, Cika kembali masuk.
"Tuan, maafkan aku. perutku benar-benar mulas."
"Apa sih yang kamu makan hingga harum sangat seperti ini... kacau... kacau...!!!"
Kejadian ini sampai terulang tiga kali, sedangkan waktu pertemuan sudah telat Luna menit, Alex bingung harus bagaimana karena selama ini dia dikenal sebagai pria yang sangat disiplin.
"Rambo, cepat hubungi Lisa dan minta dia untuk menggantikan Cika meeting hari ini, setelah itu antarkan Cika segera kerumah sakit, aku yakin ada yang tidak beres dengan makanannya, selidiki seseorang yang ingin mencelakai Cika." perintah Alex.
"Baik tuan."
Lisa tersenyum bahagia bisa mendampingi Alex dalam bisnis besarnya kali ini, hal yang sudah lama dia impikan.
"Sudah berapa kali aku mengingatkanmu kak, Cika itu tidak bisa diandalkan dalam urusan bisnis besar seperti ini, dia hanya bisa untuk kesenangan semata." bisik Lisa.
Di toilet, Cika memegangi perutnya yang mulas berjalan keluar sambil sempoyongan, dia tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar berjalan. meskipun begitu dia masih berusaha untuk menjaga keseimbangan dan menguasai keadaan.
"Maaf Nona Cika, sikapmu ini bisa menjatuhkan reputasi tuan Alex." ucap Rambo tegas sambil menatap Cika, namun tersirat juga rasa kasihan karena ini juga bukan kemauan gadis itu.
"Maafkan aku Rambo, tapi aku tidak tahu kenapa bisa begini." Cika tidak tahu harus bagaimana menghadapi kemarahan Alex nantinya. Cika merasa melayang dan berputar-putar, hingga semua terlihat mengecil dan gelap. namun dia masih dapat mendengar samar-samar suara Rambo memanggilnya, tapi Cika tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya apalagi bersuara dan membuka mata.
"Cika.... Cika...bangun Cika."
Sedang dilantai atas, Alex masih diterpa kecemasan terhadap kondisi Cika, namun dia masih berusaha bersikap wajar. agar tidak ada orang yang melihat perubahan sikapnya. dan kembali membicarakan bisinis kerjasama mereka yang sudah didepan mata.
"Aku yakin ada seseorang yang ingin membuat kerjasama ini gagal, dengan mencelakai Cika. namun aku tidak boleh gegabah dalam mengambil tindakan dan mempercayai seseorang. bisa jadi itu orang-orang terdekatku." bathin Alex.
"Apakah Tuan dan nona tamu besar kami dari perusahaan ALX?" tanya Sektretaris perusahaan Savana.
__ADS_1
"Ya benar, ini Tuan Alexander dan saya sekretarisnya Lisa. maaf karena suatu inden kami terlambat datang." jawab Lisa memperkenalkan dirinya.
"Tidak masalah, silahkan masuk tuan kami sudah menunggu kedatangan Anda."
"Terimakasih."
Setelah dipersilahkan masuk, Alex mengikuti langkah kedua orang yang dihadapannya. memasuki sebuah ruangan kerja yang terlihat mewah dan sangat nyaman.
"Selamat datang utusan dari keluarga Huang, aku dulu adalah sahabat kakekmu." menjabat hangat tangan Alex.
"Anda juga sangat hebat tuan, diusia anda yang tak lagi muda, namun tidak diragukan lagi kemampuannya dalam berbisnis." puji Alex.
"Tidak lama lagi aku akan pensiun, dan perusahaan besarku ini akan diteruskan oleh cucuku, Miko."
Rambo yang panik, mau tidak mau terpaksa menghubungi Alex, karena dia tidak ingin menyentuh Cika sembarangan. bisa-bisa dia akan menjadi bahan tembakan peluru pistol Alex nantinya.
"Tuan, nona Cika pingsan." terang Rambo, namun sial yang mengangkat panggilan tersebut adalah Lisa.
"Buang saja gadis itu kelaut." bisik Lisa, namun masih terdengar oleh Rambo.
"Lisa, berikan ponselnya pada tuan Alex. ini darurat."
"Tidak bisa Rambo, ini bisinis penting aku tidak mau menganggunya. kamu atasi saja Sekretaris sialan itu sendiri, bawa ke rumah sakit kek. kenapa masih harus lapor kak Alex."
Rambo akhirnya melarikan Cika kerumah sakit, memeriksa, berdasarkan keterangan dokter. Cika mengalami keracunan makanan dan rehidrasi. Tidak berapa lama, Cika sudah bisa membuka matanya dan melihat sekeliling nya sambil memijid pelan kepalanya. Cika mersa kepala nya masih tersa pusing dan sakit, tapi sudah berkurang dibandingkan sebelumnya.
"Syukurlah Cika, kamu kembali sadar." ucap Rambo.
"Kita dimana Rambo?"
"Dirumah sakit, kamu keracunan makanan. syukurlah kamu berhasil mendapatkan pertolongan jika tidak kamu bisa tiada Cika." terang Rambo mengambil obat yang diberikan dokter barusan dan membantu meminumkan nya pada Cika.
"Cika, ini obatmu minum lah." ujar Rambo.
__ADS_1
"Terimakasih Rambo."