
Malam ini Alexander terlihat jauh lebih rapi, aura ketampanan semakin terlihat jelas. Alex sengaja mengenakan setelan terbaiknya dengan rancangan desainer kelas dunia. karena dia ingin malam ini berjalan sempurna seperti harapannya.
"Aku sudah mengutus orang untuk menjemputmu, tapi mereka mengatakan kamu sudah berangkat duluan. Cika sebenarnya kamu dimana sayang? semoga kamu tidak menolakku, Cika. kenapa sekarang aku tiba-tiba gugup, dimana Alex yang selama ini pemberani. apa jatuh cinta membuatku berubah selemah ini?" Alex kembali mengusap rambutnya, memperbaiki penampilannya meskipun tidak ada yang salah.
Detik berganti menit terlewatkan begitu saja, jarum jam terus berputar, Alex kembali melirik jam dipergelangan tangannya, berjalan mondar-mandir tidak karuan menunggu sang pujaan hatinya untuk segera dipinang menjadi istrinya.
"Cika, kenapa kamu belum juga sampai. apa kamu merasa jika pria jahat sepertiku tidak pantas untuk menjadi pendampingmu?" Alex semakin resah sambil menatap lautan lepas, berbagai pesta romantis sudah diatur Alex sedemikian rupa, dia hanya ingin melewati semua itu berdua saja dengan Cika, tanpa ada yang lain.
Sedangkan dikapal yang berbeda, Lisa sudah mempersiapkan beberapa photo dan Vidio yang berhasil diambilnya sebelum Cika pingsan.
"Kak Alex, maafkan aku yang tidak bisa melihatmu bahagia dengan perempuan lain. karena bagiku kamu adalah milikku sekarang dan untuk selamanya." gumam Lisa tersenyum sinis, lalu menggeser tombol send dilayar ponselnya.
"Selamat menikmati adegan romantis pujaan hatimu dengan pria lain, yang tak lain adalah musuh bebuyutanmu sendiri kak, haha...!"
Lamunan Alex buyar begitu ponselnya bergetar, dia berharap jika yang menghubungi Cika, minta maaf atas keterlambatannya, namun ekspresi wajah Alex berubah begitu mengetahui jika yang mengirimkan pesan padanya adalah Lisa.
"Aaaagghhh, sial! kenapa justru Lisa yang mengagguku."
__ADS_1
Alexander langsung menghapus begitu saja pesan tersebut, namun Lisa kembali mengirimkan berkali-kali, sampai Alex benar-benar membaca dan melihat pesan darinya.
"Foto dan video ini? tidak.... tidak mungkin ini Cika?" ucap Alex seakan tidak percaya, mata elangnya membulat memancarkan aura kemarahan dan kesedihan.
"Lisa, apa maksudmu mengirimkan foto-foto itu. katakan jika semua ini tidak benar?" bentak Alex.
"Kak, dari awal aku sudah memperingatkanmu, tentang tujuan Cika, dia itu kekasihnya Naga yang diperintahkan untuk memata-matai mu, lihatlah sekarang Naga juga sudah berhasil mengambil alih proyek puluhan miliar kita, semua itu berkat tipu daya Cika yang diam-diam telah mengambil data-data perusahaan." Lisa semakin menyiram minyak dihati Alex, agar semakin terbakar.
"Apa?"
"Dimana mereka sekarang?"
"Mereka masih merayakan hari pertunangan dikapal pesiar miliki Naga, sekaligus hari kemenangan dimana Naga sudah menguasai separuh kekuasaan Huang, yang seharusnya masih tetap menjadi milikmu kak."
"Brengsek kamu Naga, kenapa kamu selalu ingin merebut apa yang sudah menjadi milikku?" rahang Alex mengeras dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Lupakan Cika, buang perempuan murahan itu jauh-jauh dari hidupmu kak." teriak Lisa sambil tersenyum puas melihat kehancuran hati Alex.
__ADS_1
"Tega kamu menghancurkan harapanku, Cikaaaaa..!!!"
Alex mengamuk tanpa kendali, dia membalikkan meja makan yang sudah tersaji beberapa makan lezat untuk makan malam romantis mereka berdua. ledakan peluru pistol ke udara mengagetkan pengawal dan awak kapal, mereka langsung menghambur menuju ruangan VVIP tempat Alex.
"Tuan muda, apa yang telah terjadi?"
"Keluar, keluar kalian jika tidak ingin kepala kalian saya pecahkan dengan peluru ini." Alex mengarahkan moncong pistolnya, sehingga mereka berhamburan saling tindih lari keluar dari ruangan. Suara teriakan dan amukan Alex masih terdengar, tidak seorangpun berani mendekatinya lagi.
Alexander berjalan keluar ruangan, berbaur dengan alam suara ombak dan angin yang berhembus kencang, seakan ikut menemani kesedihannya, sebelah tangannya masih memegang cincin berlian bertahtakan emas putih, yang begitu ingin dua sematkan dijari manis Cika pupus sudah.
Alexander menatap langit malam, sebuah kembang api besar meledak menyinari langit yang dipenuhi bintang. kembang api yang berkilauan dan berwarna-warni itu membetuk kata-kata yang indah.
..."Will You Marry Me, Cika."...
"Semuanya sudah berakhir."
Tangan Alex terangkat, melemparkan sejauh mungkin cincin berlian ditanganya. seiring dengan keinginannya untuk melupakan Cika untuk selamanya.
__ADS_1