Sekretaris Kesayangan, CEO

Sekretaris Kesayangan, CEO
Rasa penyesalan


__ADS_3

Waktu terus berlalu, namun Alex masih dalam keterpurukan.


"Tuan, bagaimanapun juga kita harus kembali bangkit." bujuk Rambo melihat perubahan Alex yang dari hari ke hari semakin hancur dan larut dalam kesedihan mendalam.


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Alexander, dia masih terlena bayangan wajah cantik Cika, jika seandainya mereka masih bersama.


"Tuan, jika anda masih menginginkan dan mengharapkan nona Cika kembali, maka bangkitlah seperti Alexander yang dulu. jangan pernah seperti ini, tuan.


"Tidak Rambo, aku tidak bisa masuk kerja. bayangan Cika terus mengusikku. apalagi setiap melewati meja sekretaris, tempat biasanya dia menungguku dan bercinta. aku benci gadis itu, tapi tidak bisa mengusirnya dari hati dan pikiranku yang terus menginginkannya." ucap Alex frustasi memejamkan mata merasakan kehadiran Cika, menikmati sentuhan meskipun terasa semu.


Sedangkan ditempat lain, Cika menghirup udara segar perbukitan yang berdekatan dengan pantai. tempat yang sangat indah. berbekal uang tabungannya yang lumayan besar. Cika berhasil membeli sebuah hunian sederhana, sebagian uangnya rencana akan digunakan untuk membuka usaha demi kelangsungan hidup bersama calon bayi dan ibunya kelak.


"Sayang, semoga kita bisa hidup tenang dan menemukan kebahagiaan dikota kecil ini." Cika mengelus sayang perutnya.


Bayangan wajah tampan sang bos kembali melintas, bagaimana mereka pernah melewati hari-hari yang indah meskipun itu hanya sesaat. rasa sedih membuat air mata Cika kembali mengalir deras membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Alex, kenapa kamu tidak pernah mau mendengar penjelasanku. aku benci kamu...benci Alex. apa begini bentuk rasa sayangmu padaku. aku salah menduga jika kamu akan melindungi dan mempercayaiku dari pada bukti-bukti yang tidak jelas itu, aku menyesal mengenal kalian yang hanya ingin menyakiti diriku." rutuk Cika.


"Sekarang tidak akan ada lagi Cika yang lemah dan cengeng, aku harus berubah dan kuat demi bayiku."


Cika merentangkan Kedua tangannya, sambil memejamkan mata. menikmati rasa damai seiring hembusan angin yang membuat rambut panjangnya tergerai indah. suara deru ombak yang saling mengulung kejar-kejaran, hingga membasahi kaki putih bersihnya.


"Sudah lama aku tidak merasakan kedamaian seperti ini, pemandangan alam yang lepas dan sangat indah." puji Cika yang teringat pada masa kecilnya, dulunya Cika hampir setiap hari menghabiskan waktu di pantai bersama ayah dan ibunya.


"Ahhhh...aku kembali merindukan masa-masa itu, meskipun keadaannya sudah jauh berbeda." tiba-tiba raut wajah Cika berubah sedih teringat sang ayah. namun seketika dia mengusap air matanya.


"Cika sudah banyak menunjukkan perubahan, maafkan ibu nak gara-gara penyakit ibu, kamu harus menagung beban seberat ini."


***


Hari-hari menyenangkan kembali dimulai Cika, tanpa terasa, seiring berjalannya waktu kehamilan Cika sudah semakin membesar.

__ADS_1


"Aku bukan Cika yang dulu, sekarang aku merasa sudah memiliki harga diri dan martabatku kembali." bathinnya.


"Cika, kamu jangan terlalu banyak gerak nak, nanti bisa berpengaruh terhadap kehamilanmu."


"Ibu, aku merasa kuat, bahkan bayiku tidak pernah membuatku kerepotan. sepertinya dia begitu memahami kondisi mommynya." Cika mengelus perutnya dan kembali melanjutkan membantu ibu membuat kue-kue pesanan melalui jualan online, dimana pesanan yang datang terus meningkat dari hari ke hari.


Cika mengusap sayang perutnya, sambil membayangkan bagaimana bahagia mendapatkan seorang bayi sesuatu yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya, meskipun semula dia sempat dibuat syok dan sangat panik, begitu mengetahui jika dia hamil anaknya bersama Alex, tapi sekarang dia begitu bersyukur dan selalu berdoa semoga anaknya sehat dan kuat hingga melahirkan nanti.


"Anaku, rasanya mommy sudah ngak sabaran lagi menunggumu terlahir di dunia ini, kamu adalah anugrah terindah yang pernah mommy dapatkan, sayang."


"Cika, kamu sama persis dengan ibu sewaktu hamil kamu dulunya, tidak sabaran menunggu hari kelahirannya." ujar ibu tersenyum.


"Ibu, siang ini aku ingin membeli peralatan bayi, untuk persiapan menyambutan kelahiran bayiku nantinya."


"Boleh, tapi ibu temani ya. ibu kawathir membiarkan kamu pergi sendirian."

__ADS_1


"Iya ibu."


__ADS_2