Selebriti Sang Gadis Oplas

Selebriti Sang Gadis Oplas
Episode 1 Gadis oplas Fairli


__ADS_3

Seorang gadis dengan kaca mata besar yang bertengger di kedua bola mata coklatnya menatap kedepan dengan ragu, ia meremas jari-jemari nya merasa sangat gugup. Hari ini ia telah memberanikan dirinya untuk meminta seorang idola sekolah untuk datang di lapangan basket, siapa yang mengira jika cowok itu membawa beberapa temannya untuk menyaksikan apa yang ia lakukan sekarang.


"Lu ingin ngomong apa?" Tanya seorang cowok remaja yang sedang duduk di salah satu kursi.


"Dia mau confess kali," kekeh salah satu teman di samping nya sembari menatap gadis didepan nya meremehkan. Orang-orang yang ikut berkumpul di sana juga cekikikan merasa bahwa gadis buruk rupa itu berani sekali ingin mengungkapkan perasaan nya.


Fairli Anggellina nama lengkap gadis yang kini jantung nya berpacu kencang, ia ingin mengatakan perasaannya sekali ini saja karena ia telah menyimpan perasaannya selama dua tahun. Fairli memejamkan matanya kuat, mungkin inilah waktu yang tepat.


"Aku suka sama kamu! aku ingin kita pacaran!" Ucap Fairli lantang membuat suasana lapangan menjadi sunyi. Hembusan angin menerpa wajah Fairli beriringan dengan suara gelak tawa yang memekikkan telinga. Fairli membuka matanya, meringis saat seseorang melemparkan nya telur busuk yang mana aroma tidak sedap tiba-tiba saja tercium.


"Gadis buruk rupa yang tidak tahu diri!" Bentak seorang gadis cantik sembari menatap Fairli sinis.


"Sudah jangan cemburu gitu dong sayang kasian muka nya," suara tawa yang lumayan keras itu terdengar menyakitkan. Suara itu adalah suara yang ia tujukan pada ucapannya tadi.


Fairli mendongkak menatap cowok dengan pakaian yang berantakan didepan nya. Biasa saja sebenarnya namun entah kenapa ia menyukai nya tetapi perasaan itu sepertinya telah hilang melihat aura meremehkan terlihat jelas di kedua bola mata pria yang ia sukai begitu lama.


"Arkhhh..." Fairli teriak kesakitan ketika rambut nya di jambak begitu kuat.


"Lu tauh malu gak? wajah lu aja bentuknya kayak gini! berani banget ngomong suka ke cowok gua!" Gadis yang tadi membentak nya kini mengencangkan jambakannya membuat kulit kepala Fairli seakan ingin lepas. Air matanya mengalir deras, ia tidak pernah tauh jika ternyata pria yang ia cintai telah memiliki pacar. Fairli menutup wajahnya, malu dan sedih campur aduk.


"Lola, kasian banget si buruk rupa itu lu jambak," seorang gadis yang tidak lain sahabat dari Lola menatap Fairli sinis. Tangannya terangkat menghempas tangan Fairli sehingga nampak terlihat jelas wajah nya yang tidak berbentuk.


"Cantik gini kok di tutupi sih," Lola tersenyum sinis dengan wajah di buat-buat sedih. "Meskipun wajah lu rata," lanjut nya lagi dengan tawa keras di sambut ketawa dan tepuk tangan yang ricuh oleh orang-orang yang melihat kejadian langka hari ini.


Bukk!


Tubuh Fairli di dorong dari belakang sehingga dirinya tersungkur tepat wajahnya mengenai tanah, darah segar mengalir deras di pelipis, bibirnya bergetar ketika membuka mata ia melihat sepatu seseorang terpampang di depannya.


Srekk!


Dagu Fairli di cengkram kuat, kepalanya di paksa mendongkak ke atas sehingga mata mereka beradu, air mata gadis itu mengalir membasahi pelupuk matanya.


"Lu liat dia!" Ucap Lola yang kini masih setia mencengkram dagunya bahkan semakin lama semakin kuat hingga terasa sakit. Bibir Fairli bergetar ia tetap menurut menatap ke arah pandang gadis yang tercantik di sekolah itu. Matanya terdiam, di sana terlihat jelas senyum meremahkan di tujukan padanya, pria yang telah ia cintai diam-diam selama ini ternyata memiliki pacar. Fairli meringis ketika rambutnya kembali di tarik kencang.


"Dia pacar gua sebelum lu nyatain cinta ke dia lihat dulu pacar nya siapa! jadi lu ngaca sebelum nembak yang ganteng!" Lola menghempaskan kepala Fairli sehingga tubuh mungil itu kembali tersungkur di lantai, pelipis nya terasa nyeri sekali. Ia sudah biasa diperlakukan seperti ini sampai rasa sakit yang Fairli rasakan sekarang tidak lagi menjadi keterkejutan untuk nya.


"A-ku gak tauh kalau Ar-kan u-udah punya pacar," ucap Fairli terbata-bata, matanya memerah, wajahnya yang buruk semakin tidak terbentuk.


"Gua kasian sama lu, tapi ngeliat lu kek gini gua seneng!" Kekeh teman Lola yang juga sedari dulu membully orang-orang lemah seperti Fairli sekarang, gadis itik buruk rupa yang hidupnya sungguh kasian. Orang-orang yang menyaksikan itu tertawa lepas seakan melihat keadaan Fairli sekarang adalah suatu lelucon bagi mereka.


Fairli berusaha berdiri dengan tertatih-tatih, mengacuhkan rasa nyeri dan darah yang mengalir deras di keningnya, bau busuk sangat tidak enak tercium di tubuh nya membuat yang lain menutup hidung mereka karena merasa sangat bau.

__ADS_1


"Heh cewek monster! pulang sana bau banget gua gak tahan. Gua gak mungkin suka sama lu dengan bentukan wajah kayak gitu? anjir serem banget jangan liatin gua bangsat!" Pria dengan baju berantakan berteriak keras sembari mendelik ngeri ketika mata mereka beradu.


Mata Fairli semakin memerah, air matanya semakin mengalir deras. Entah kenapa mendengar ucapan yang keluar di bibir cowok yang ia cintai jauh lebih menyakitkan ketimbang Lola yang menghancurkannya secara fisik. Fairli berlari meninggalkan kerumunan seketika tawa menggelegar mengiringi langkah nya sampai menuju gerbang sekolah.


Berlari sekuat mungkin meninggalkan lingkungan sekolah, membawa kakinya menuju jalanan yang terlihat sepi karena di lingkungan sekitar sini sedikit kendaraan yang berlalu lalang, Fairli memejamkan matanya, tiba-tiba saja hujan turun membasahi tubuh nya.


"Kenapa hidupku begini! kenapa aku gak terlahir cantik!" Fairli berteriak keras, air hujan tidak mampu menghentikan rasa sakitnya. Ia lelah terlahir buruk rupa seperti ini, memiliki wajah yang rata tidak terbentuk, di kenal sebagai monster. Tidak bisakah Tuhan berbaik hati untuk mengubah wajahnya menjadi cantik.


Fairli capek di bully, ia juga ingin di hargai seperti yang lainnya. Menjadi jelek bukanlah keinginannya bukan maksud tidak bersyukur ia hanya merasa dunia tidak ada yang mencintai nya dengan wajah seperti ini, mungkin jika menjadi cantik ia bisa merasakan di hargai dan di cintai orang lain.


Tubuh Fairli merosot kebawah, menangkup dirinya sendiri, menangis sejadi-jadinya, merasakan hembusan angin dan langit yang tertutupi awan hitam, suara guntur dan kilatan cahaya kilat membuat dirinya semakin terlihat kasian.


"Aku benci diriku sendiri," tubuh bergetar, kedinginan mulai merasuki dirinya namun tidak mampu menepiskan rasa sesak dan kesedihan yang ia alami sekarang.


Fairli terdiam ketika seseorang memakaikannya jaket, ia tidak merasakan hujan mengenainya. Mendongkak, melihat orang baik mana yang melakukan hal seperti ini padanya. Dapat ia lihat seorang pria berdiri di depannya dengan payung hitam di tangannya.


Fairli berdiri dari duduknya, menunduk sedikit untuk menyembunyikan wajahnya, berjalan mundur ke belakang "Terimakasih jaketnya, aku akan mengembalikan nya ketika kita bertemu lagi," Fairli membungkukan tubuh setelahnya berlari menjauh meninggalkan pria yang memandang kepergian gadis itu dengan pandangan yang sulit di artikan.


* * *


Brakk!


"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Ria, ia sangat bingung, kenapa hujan begini anaknya sudah pulang kerumah apalagi jam sekarang masih menunjukkan jam masuk belajar. Ria membawa anaknya untuk duduk di kursi di bantu Adam, ayah dari Fairli yang sangat terlihat jelas guratan kekhawatiran nya.


"Fairli lu kenapa astaga!" Tanya sang adik yang panik melihat kakak nya yang terlihat sangat mengganas kan dengan pelipis nya yang terlihat berdarah meskipun tertutupi rambut ia masih bisa melihat darah segar di sana dengan cepat ia berdiri mengambil kotak P3K di dalam lemari kemudian mengeluarkan betadine dan mulai mengobati luka yang lumayan besar itu.


"Astaga sayang, kenapa kau bisa terluka seperti ini? siapa yang telah melakukan hal ini padamu?" Tanya Adam sembari mengelus lembut rambut anaknya namun, Fairli masih saja diam tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun.


"Kamu obatin cepat, Sa" Aksa menoleh pada ibunya dengan pandangan kesal apakah dirinya terlihat seperti sedang meratapi luka Fairli? Ia sedari tadi sedang mengobati meskipun begitu Aksa tetap mengangguk.


"Aku lelah dengan diriku seperti ini" Lirih Fairli membuat tiga orang yang sedang mengelilinginya memandangnya dengan tanda tanya. Apa yang terjadi kenapa gadis ini mengatakan hal yang tidak biasanya? Kira-kira seperti itulah pikiran mereka.


"Aku benci diriku yang kenapa terlihat tidak sempurna seperti yang lainnya," teriak Fairli sambil menggaruk kuat wajahnya membuat Ria, Adam dan Aksa kaget melihat nya dengan cepat Aksa menahan tangan kakaknya dengan mata yang memerah menahan amarah.


"Lu gila hah! dengan cara lu nyakar wajah lu semuanya bakal berubah? lu harus nya mikir gak semua orang sempurna ada yang lebih tidak sempurna dibanding lu!" Aksa menyentak kuat pundak Fairli, matanya memerah. Ia tidak habis mikir dengan perubahan kakaknya saat ini.


Bibir Fairli bergetar, ia mendongkak menatap Aksa dengan pandangan berkaca-kaca, ia sulit untuk melihat karena daging bagian matanya sedikit menutupi pelupuk matanya.


"Aksa kamu bisa ngomong gitu karena kamu lahir sempurna, aku juga mau kalau di lahirkan mirip ayah yang tampan mungkin aku bakal bersyukur atau aku bakal lahir cantik mirip ibu aku gak bakal seperti sekarang ini!" Fairli menatap tiga orang didepan nya yang kini menatap nya dengan pandangan berkaca-kaca.


"Tapi aku gak bisa kayak kamu, Sa." Lirih Fairli dengan air mata yang kini membanjiri matanya, ia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga sehingga wajahnya terlihat jelas. Wajah yang tidak simetris, rata, hidung yang kebesaran yang bahkan tidak berbentuk seperti hidung pada umumnya. Ia terlihat seperti monster untuk orang-orang.

__ADS_1


"Aku beda! aku gak mirip ayah ataupun ibu! aku seperti anak monster yang mungkin saja ditakdirkan dengan wajah seperti⎯"


Ria dan Adam memeluk tubuh Fairli erat, tangis Fairli pecah di pelukan orang tuanya, sungguh ia benci dengan dirinya yang sekarang yang tidak pernah bersyukur. Fairli tidak menyalahkan siapapun ia hanya merasa benci kehidupannya yang tidak memihak pada wajah buruk rupa seperti nya karena semua orang selalu menghargai orang-orang yang terlihat sempurna.


"Ibu ngerti sayang, katakan semuanya pada ibu, kau jangan pernah lupa di saat kamu merasa dunia tidak berpihak padamu masih ada ibu dan ayah yang menjadi kekuatan utama kamu sekarang jangan lupakan seorang adik yang siap selalu berada di sampingmu," usapan lembut dari ibunya membuat Fairli sesenggukan sembari mengangguk kecil. Adam memukul tangan anak laki-laki nya yang selalu saja berbicara tanpa filter pada kakaknya.


"Sekarang ceritakan kenapa kamu seperti ini, apa ada yang melukaimu?" Adam bertanya ketika Fairli melepaskan pelukan ibunya. Fairli menatap lurus kedepan, ia mulai menceritakan apa yang terjadi padanya di sekolah tadi hingga ia merasa sangat membenci hidup nya. Awalnya ia masih bisa menerima bully-an ini karena di bully setiap hari adalah makannya selama mulai memasuki masa sekolah tetapi sekarang Fairli sudah tidak kuat.


Aksa terdiam tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi, ia memeluk erat tubuh kakaknya, ia tidak tauh jika kakak yang selama ini terlihat biasa saja ternyata menyimpan begitu banyak luka. Adam ikut memeluk anaknya merasa sedih ketika mendengar cerita yang tidak pernah ia tauh selama ini.


"Ayok kita pindah sekarang!" Ria berdiri dari duduknya membuat ketiga orang yang sedang berpelukan mendongkak dengan kening berkerut.


"Kita pindah, ibu ingin kamu melakukan oprasi wajah di dokter spesialis beda plastik kenalan ibu dia bekerja di kota sebrang. Jadi kita harus pindah⎯"


"Kamu apa-apaan! oprasi wajah gimana? jangan aneh-aneh kamu merubah wajah anak gadis ku satu-satunya!" Adam menatap Ria tajam, pasalnya kata yang baru saja keluar dari bibir istri nya membuat darahnya mendidih.


"Tidak ada cara lain! memang apa yang harus kita lakukan. Apa kau senang melihat anakmu di tindas teman sebayanya? seharusnya seorang gadis di usia 17 tahun mendapatkan teman dan menikmati masa sekolah nya anakku malah di hancurkan mental dan fisiknya begitu saja!" Ria berupa dengan nafas memburu, menatap Fairli yang kini memejamkan matanya.


"Anakku cantik! dia akan tetap cantik dimataku lebih cantik dari anak siapapun!" Ucap Adam tidak mau ngalah. Aksa yang sedari tadi diam ikut mengangguk kepala "Lagian oprasi pelastik tidak dengan uang yang sedikit."


Fairli mengangguk menyetujui ucapan adiknya, bagaimanapun juga mereka adalah keluarga sederhana mana mungkin bisa membayar dokter.


"Apapun akan aku lakukan untuk membuat anakku tidak dijatuhkan lagi, jika kau berfikir cara membayar nya kau tidak perlu khawatir. Biar itu menjadi urusan ibu," ucap Ria menatap anaknya dengan pandangan berkaca-kaca, air matanya jatuh, di ikuti Fairli yang kini menangis hebat. Fairli berdiri dari duduknya, memeluk tubuh tua renta yang masih bisa mengatakan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelum nya.


"Tidak Fairli tauh ibu tidak memiliki uang, jangan memaksa keadaan kita, Fairli akan berhenti sekolah dengan begitu Fairli akan merasa bersyukur dengan diri Fairli saat ini!" Ria menggeleng kuat, ia melepaskan pelukan mereka, mengusap rambut anaknya sayang.


"Jangan berhenti sekolah, tetap wujudkan mimpi kamu! ayah akan mendukung ucapan ibumu. Meskipun ayah tidak rela wajah cantiknya ayah di ubah nantinya tetapi tidak mengapa." Adam tersenyum lembut, ia ikut menghambur memeluk anaknya.


"Jangan lupain Aksa dong, " protes Aksa sembari ikut melakukan sesi peluk-memeluk itu. Setelahnya mereka beberes-beres untuk pindah ke rumah baru mereka di kota sebrang. Mereka akan melupakan kota ini untuk membawa Fairli menjauh dari pandangan manapun dan memulai kehidupan baru lagi di sana.


* * *


"Kau sudah siap?" Tanya Ria sembari menatap anaknya yang sedari tadi menangis, Ria mengecup kedua pipi Fairli.


"Fairli takut ibu," lirih Fairli, Ria menggeleng ia menangkup kedua pipi anaknya, menatap bola mata yang sama dengan miliki nya dengan pandangan mengabur.


"Kau bisa! tunjukkan pada dunia bahwa kau juga bisa seperti yang lainnya, memiliki wajah cantik yang di inginkan semua gadis."


Setelah sekian lama terdiam mendengar kata ibunya, Fairli mengangguk. Ia harus bisa melewati ini semua, menjadi cantik adalah keinginannya sedari dulu, ia harus kuat.


Ria membawa anaknya keruangan oprasi, membiarkan anaknya masuk kedalam. Tubuh Ria bergetar, bagaimana ini terakhir kalinya ia melihat wajah asli anaknya, semoga cara ini mampu membuat kehidupan anaknya tidak lagi di rendahkan dan berubah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2