
Bukankah dia pria yang mengetahui rahasia besarnya? dia Satu-satunya pria yang tauh bahwa ia oprasi pelastik dalam sekali memandang.
"Lu gak bosen ngikutin perintah pak tua itu? gua udah bilang berapa kali sama lu kalau gua gak mau pulang!" Teriak Farles sembari menatap nyalang teman ngobrol nya namun, ucapannya tidak di balas sama sekali selain tatapan datar yang dilayangkan pria itu.
Fairli menatap keduanya bergantian, apa yang terjadi di sini sebenarnya? apa mereka berdua saling kenal?. Fairli terus menatap pria didepan sana tanpa berkedip, seolah ada magnet tersendiri untuk meminta Fairli memandang terus menerus.
Fairli tersentak saat matanya berada pandangan dengan sepasang mata tajam di sana. Tubuh nya melekit ketika mendapatkan tatapan tidak suka pria itu.
Ia tidak terkejut, sudah pasti orang akan menatap nya jijik, tidak suka atau membenci ketika mengetahui dirinya yang oprasi pelastik begitu juga dengan pria di sana sekarang.
"Pulang atau motor itu tidak akan pernah kau lihat lagi!" Satu kalimat sederhana yang mampu membuat tubuh Farles menegang. Ia mengeraskan rahang nya menatap pria yang berbeda delapan tahun dengan nya yang kini mulai memasuki mobilnya kembali.
Mobil itu tidak jalan, hanya diam seakan menunggu seseorang untuk masuk ke dalam. Farles menghela nafas panjang ia sangat tauh ancaman itu selalu membuat dirinya akan mengikuti tanpa membatah sedikitpun.
Bagaimana tidak, motor kesayangan nya di jadikan jaminan jika dirinya menolak untuk pulang, pria itu selalu melakukan semaunya. Sungguh menyebalkan.
"Maaf kali ini aku harus pergi karena urusan mendadak. Sebagai gantinya aku akan menuruti keinginanmu untuk permintaan maafku." Tanpa menunggu jawaban Fairli cowok remaja itu pergi lalu memasuki mobil hitam didepan.
Fairli memandangi mobil Ferari itu melaju membelah jalanan yang sepi. Gadis itu menghela nafas panjang, sekarang apa yang akan ia lakukan di tengah jalan seperti ini? baiklah ia akan memesan ojek online tetapi, Fairli menatap motor besar di samping nya, masih ada kunci yang menancap di sana.
Bagaimana jika ada yang mencurinya? Fairli berdecak kesal, kenapa tidak di bawa saja sekalian, kalau begini kan ia takut kalau motor ini hilang. Orang pertama yang akan di cari itu sudah pasti dia.
Dengan berat hati Fairli memilih menunggu di trotoar jalan, menunggu Farles datang untuk mengambil motor nya. Terus memandang jajanan yang terlihat sepi, ada beberapa mobil dan motor yang lalu lalang namun, tidak ada kendaraan yang berhenti di depan nya yang mungkin saja Farles atau keluarga nya yang datang mengambil motor ini.
Jam semakin berputar, langit telah terlihat kemerahan namun, belum ada tanda-tanda Farles akan datang untuk mengambil motor miliknya.
Beberapa kali Fairli mundar-mandir kesana kemari, ia semakin panik saat matahari mulai menenggelamkan cahayanya. Farles tidak berniat mengambil motornya? atau meminta siapa gitu untuk mengambil?.
* * *
__ADS_1
Seorang pria dengan karakteristik di atas rata-rata baru saja keluar dari mansion utama keluarga Saa. Ia berhenti melangkah ketika handphone di saku nya berdering.
"Ya?" Ucapnya ketika benda pipih itu telah ia tempelkan di telinga kanan.
"Motor gua ― lu simpan di mana? gua gak mau sampai motor itu lecet sedikitpun." Suara remaja yang amat sangat ia kenali terdengar disebrang sana.
Ia berfikir sebentar, motor? pria itu berdesis pelan. Ia sampai lupa perihal motor milik remaja yang tengah meneleponnya ini. Tanpa menjawab ia mematikan telpon nya secara sepihak lalu berjalan mengambil mobil silver Ferari miliknya. Tidak menunggu lama mobil itu melaju meninggalkan perkarangan mansion utama yang terlihat besar dengan beberapa penjaga berbaju hitam di sekitar rumah itu.
"Motor Farles sudah kau urus?" Tanyanya ketika telah memencet nomor seseorang di benda pipih miliknya dan menghubungkan melalu earphone.
Seseorang yang di tanya di sebrang sana mengerutkan kening lalu seperkian detik berikutnya terdengar suara kekehan.
"Maaf aku melupakan nya, terlalu padat pertemuan rapat kali ini. Kau yang benar saja sudah memintaku menggantikan mu di rapat para anggota kini kau dengan seenak jidat menyuruh mengambil motor Farles?" Dengan satu tarikan nafas suara dari sebrang sana menggerutu kesal.
"Kau tinggal menjalankan keduanya, apa sesulit itu?"
"Sekarang kau berfikir menggunakan otak jenius mu wahai tuan Charles Diendrik! kau tadi meminta ku rapat untuk menggantikan mu tentu sudah pasti aku tidak mungkin mengambil motor itu jika belum pulang dari sini. Nyonya menambahkan makan malam bersama. Aku harus bergabung dengan yang lain, kali ini kau kerjakan sendiri."
Charles menancap gas dengan kecepatan naik satu tingkat, kalau begitu ia lah yang harus mengambilnya. Setelah melewati perjalanan yang lumayan menguras bensin, mobil Charles berhenti tepat di samping trotoar jalan, dimana ia bisa melihat motor merah yang akan ia bawa masih di depan sana.
Mengambil handphone lalu menelepon asistennya untuk membereskan semuanya.
* * *
Tukkk... tukkk..
Fairli mengetuk kaca mobil yang berhenti di depan motor milik Farles. Akhirnya setelah beberapa jam, ada mobil yang berhenti di sini. Bagaimana jika mobil Ferari silver ini bukan datang untuk mengambil motor yang sedari tadi ia jaga?.
Persetan, ia akan mengetahui nya setelah bertanya terlebih dahulu. Namun mobil itu seakan tidak berniat terbuka, apa tidak ada orang di dalam? tidak mungkin ia baru saja melihat mobil silver ini berhenti.
__ADS_1
Fairli mendekati wajahnya, untuk melihat dengan jelas di dalam sana namun, sedikit lagi ia bisa melihat. Perlahan kaca mobil itu mulai terbuka menampakan seorang pria dengan tatapan tajam miliknya tengah memandang tepat di manik mata Fairli. Tidak ada ekspresi yang ia harapkan, bahkan yang bisa ia lihat pria itu memandangi nya sinis.
"Jangan menyentuh yang bukan milikmu!" Tajam dan menusuk, itulah yang Fairli rasakan. Aura pria itu begitu mencengangkan. Apa lagi tatapan yang di tujukan untuk nya seakan memandangnya rendah.
What the hell? apa ia terlihat sebegitu menjijikkan? tanpa sadar Fairli menggertakkan giginya kesal. Ia hanya ingin melihat apa ada orang atau tidak di dalam mobil, jika tidak ingin barangnya di sentuh, kenapa tidak membuka kaca mobilnya setelah mendengar ia mengetuk kaca mobil tadi.
"Kau yang tadi membawa Farles kan?" Tanya Fairli, memberanikan diri mengeluarkan suara. Tidak ada jawaban, bahkan pria itu beralih menatap handphone di tangan nya.
"Kamu datang untuk mengambil motor itu kan? kebetulan aku―"
"Minggir lah jika kau tidak ingin di tabrak." Ucapan Fairli terpotong dengan satu kalimat yang membuat Fairli menjauh namun, belum saja mobil itu ingin melaju. Gadis itu berlari kedepan dan menghadang.
Bagaimana bisa masih ada orang yang tidak tauh berterimakasih seperti ini? ia sedari tadi menunggu seseorang datang.
Bayangkan sedari jam empat sore sampai tembus jam tujuh, ia duduk sendiri di sini dengan perasaan panik hanya agar motor merah itu tidak sampai di ambil orang. Melihat dari harga dan badan motor yang bersih sudah pasti sangat mahal atau motor kesayangan milik Farles? maybe.
"Aku menunggu di sini empat jam lamanya dan kau tidak merasa bersalah atau setidaknya berterimakasih lah padaku!" Teriak Fairli sekencang mungkin, ia sama sekali tidak takut bahkan ketika sorot lampu kuning itu menyoroti nya.
"Tidak ada yang memintamu menunggu! minggir lah aku tidak suka berurusan dengan bocah berwajah dua seperti mu," apa dia mau mati? Charles membunyikan klaksonnya beberapa kali agar gadis itu menjauh dari depan sana.
Apa katanya berwajah dua? Fairli memejamkan mata, menahan perasaan kesalnya. Berwajah dua seperti apa maksudnya? apa karena ia oprasi pelastik jadi dia seenaknya memanggil seperti itu?.
"Aku juga tidak ingin menunggu, jika sedari awal aku tauh bahwa yang mengambil motor ini model seperti mu. Lebih baik aku tinggal saja tadi!" Kesal, marah, benci jadi satu. Sungguh ia benci dengan pria itu. Bagaimana bisa masih ada manusia sepertinya di muka bumi ini.
"Kalau kamu ingin meminta Farles mengikuti mu lagi ketika dia sedang mengendarai motor ingatkan dia untuk mengambil kunci motor nya terlebih dahulu!" Fairli melemparkan kunci motor yang sedari tadi ia pegang tepat di wajah pria itu.
Fairli tidak peduli, jika wajahnya benjol atau terluka. Sungguh ia berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan nya. Ia terus melangkah menyusuri trotoar sembari memesan ojek online di aplikasi handphone.
Di sana Charles masih memandangi Fairli dengan tatapan yang sulit di baca, apa dia menunggu selama itu? haruskah ia berterimakasih? baiklah ia tidak akan beranjak dari sana atau sekeder menawari gadis itu tumpangan. Pria itu hanya diam di mobil sampai motor ojek online yang di pesan Fairli berhenti dan membawanya pergi.
__ADS_1
Setidaknya ia sudah menunggu sampai gadis itu mendapati tumpangan.