
Fairli menoleh ke samping, keningnya berkerut masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan pria ini.
"Maaf saya tidak mengerti, bisa anda memperjelas?" ucap Fairli sopan karena memang ia tidak paham dengan tawaran yang diberikan.
"Saya tangan kanan dari perusahaan JM.T perusahaan kami membuka cabang group kecantikan jenjang SMA saya tertarik untuk mengangkut mu untuk masuk. Kami akan membantu kamu untuk menjadi terkenal dan menghasilkan banyak uang," pria itu berbicara panjang lebar dengan senyuman dibibirnya berharap gadis ini menerima tawaran yang tidak pernah ia kasih kesiapa pun.
"Sangat di sayangkan kau memiliki wajah cantik tetapi tidak mengikuti group kami. Saya yakin banyak yang akan menyukai artis SMA yang memiliki wajah cantik seperti mu."
Fairli terpaku mencerna kata-kata yang keluar dari bibir pria yang katanya tangan kanan perusahaan JM.T Fairli sedikit tertarik ketika mendengar kata 'menghasilkan banyak uang'.
Apa benar ia bisa menghasilkan uang hanya dengan mengandalkan kecantikannya? Fairli menoleh ke kedua temannya untuk meminta tanggapan, mereka tengah membulatkan kedua mata seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar.
"Bukan kah itu tangan kanan perusahaan JM.T yang terkenal?" Tanya Jessy pada Eli yang kini mengangguk antusias.
"Benar. Begitu beruntung Fairli di minta tangan kanan perusahaan nya langsung," Elis menambah kan. Sungguh mereka sangat iri dengan hidup Fairli sekarang.
Jessy dan Eli mengangguk ketika Fairli meminta pendapat mereka. Tentu saja mereka setuju hanya orang bodoh yang menolak kesempatan emas seperti ini.
"Baiklah, saya coba untuk masuk. Bagaimana info lebih lanjut nya." Putus Fairli pada akhirnya setelah mendapatkan pendapat dari dua teman yang mungkin akan menjadi sahabat pertama di sekolah pertamanya.
Pria tangan kanan perusahaan JM.T memberikannya kartu nama pada Fairli yang langsung di terima gadis itu.
"Disitu tertera alamat perusahaan utama kami, datanglah untuk interview terlebih dahulu."
Fairli hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia menyimpan kartu nama tersebut kedalam sakunya lalu membungkuk sedikit. "Kalau begitu saya langsung ke kelas. Saya permisi pak," pamit Fairli pada Pak kepala sekolah dan pria yang menjadi tamunya.
"Gila! ini sih harus foto dulu buat tempel di mading sekolah biar semua orang tahu anak baru yang memiliki wajah cantik terpilih menjadi selebriti kecantikan di jenjang SMA." Celoteh Jessy bersama bayang-bayang yang ia pikirkan. Eli memukul pelan gadis itu.
"Belum terpilih tetapi diminta, ini seperti konteks, Jes kalau Fairli menang baru di katakan selebriti. Menjadi terkenal tidak semudah itu." Ucap Eli yang mampu membuat senyum kaku Fairli terlihat.
"Eli ada benarnya juga? aku tidak yakin menang," balasnya tidak percaya diri, ia hanya mencoba saja siapa tahu benar bisa menghasilkan banyak uang untuk keluarganya.
"Sepertinya lu harus pergi sekarang deh! hari ini perusahaan utama mereka bakal tutup jam sembilan pagi. Lu harus daftar secepatnya masalah absen lu biar gua yang urus," heboh Jessy sembari mendorong tubuh Fairli untuk berjalan ke luar gerbang.
Fairli merasa gugup. Haruskah hari ini? "Tidak apakah aku pakai seragam sekolah?" Fairli memastikan, apa ia tidak terlihat aneh memakai seragam untuk masuk ke perusahaan terkenal?.
"Tidak apa-apa, Li. Buruan lu harus pergi sekarang, disana lu di interview tentang kecantikan jenjang SMA bukan bahan masak dapur." Kesal Jessy melihat Fairli yang tidak percaya diri padahal gadis itu memiliki 100 persen kelebihan yang tidak orang lain miliki bahkan ketika memakai seragam sekolah seperti ini dia terlihat lebih cute and beautifull.
Fairli mengulum bibir tipis nya, berjalan ke arah gerbang untuk mencari taxi agar sampai ke perusahaan utama JM.T tidak lebih dari jam sembilan.
__ADS_1
Jessy melambaikan tangan sebagai penyemangat, melihat itu Fairli menggeleng kepalanya. Memiliki sahabat seperti Jessy seru juga. Berbeda dengan Eli yang sekarang menatap Fairli yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
* * *
Fairli menatap gedung di depan nya dengan bibir yang terbuka lebar. Apa benar ini alamat perusahaan JM.T? ia tidak berhenti bergumam dan menatap takjub bangunan yang menjulang tinggi dengan beberapa orang-orang berlalu lalang di bawahnya.
Kaki jenjang nya memasuki area pintu masuk, melangkah masuk kedalam. Ia di sungguhkan pemandangan yang begitu mewah. Perusahaan besar dan luas yang pernah ia lihat, selama ini ia kemana saja.
Mata Fairli menatap salah satu resepsionis yang berjaga didepan, dengan langkah mantap ia mendekati meja yang akan menentukan kemana tujuannya.
"Maaf kak, s-saya mau tanya ruangan interview nya dimana?" Tanya Fairli ketika telah sampai di depan meja resepsionis.
"Silahkan bertemu dengan asisten Yoxi, ruangannya ada di lift nomor lima." Ucap resepsionis itu ketika telah membaca data-data pengunjung.
Fairli menunduk sedikit untuk mengucapkan terimakasih lalu kembali melangkahkan kaki jenjang miliknya untuk masuk kedalam lift.
Menekan tombol lima untuk ke tujuan nya, pintu lift pun tertutup perlahan. Namun, saat pintu ingin benar-benar tertutup rapat, sebuah tangan terulur didepan nya membuat Fairli terkejut dengan pekikan tertahan.
"Huffttt... " Seorang pria yang baru masuk menghela nafas legah, akhirnya ia tidak sampai ketinggalan kalau tidak ia akan terlambat.
Fairli sedikit mundur ke belakang, refleks menundukkan wajah ketika pria itu menoleh kearahnya.
Ia belum terbiasa dengan kehidupan barunya, dulu ia sangat takut jika berpapasan dengan orang lain di satu ruangan yang sama karena semua orang memandangi nya dengan tatapan tidak suka, benci dan aneh dalam waktu bersamaan. Ternyata kehidupan yang berubah tidak membuat kebiasaan diri Fairli yang dulu hilang sepenuhnya.
Fairli mendongkak. "Ah maaf, aku belum terbiasa." Balasnya dengan senyum merekah.
Terlihat guratan keterkejutan dari pria di depan nya saat Fairli berbicara dengan bahasa yang berbeda, tidak seperti anak seumuran pada biasanya.
"Dari sekolah SMA 1 Garden juga?"
Belum saja Fairli ingin membalas pintu lift terbuka menandakan ia telah sampai di tujuan. Ia menunduk untuk pamit pergi pada pria yang baru saja ia temuin karena pria itu masih stay berada di dalam ia terus melangkah keluar, mungkin saja tujuan mereka berbeda.
Sepatu putih milik Fairli menapaki keramik kaca yang mana ia dapat melihat aktifitas yang lainnya dibawah sana. Sungguh perusahaan yang begitu penuh kejutan, suasana terlihat sepi tetapi begitu bising karena suara-suara yang terdengar dari bawah sana. Terlalu fokus menatap ke bawah tanpa sadar seseorang berjalan berlawanan ke arahnya.
Bukkk!!
Tubuh Fairli terhuyung ke belakang, tersungkur di atas lantai dengan ganasnya. Pantat gadis itu terasa nyeri, mata Fairli mendapati sebuah sepatu kulit didepan nya, mendongkak menatap pria yang menjulang tinggi di atasnya.
Tampan. Satu kata yang Fairli simpulkan kala melihat wajah pria di atasnya, tinggi yang sempurna, baju yang bermerek dan kaca mata hitam yang bertengger di hidung pria itu sudah menjelaskan bahwa posisinya di perusahaan ini sangat istimewa. Apakah dia bosnya? kalau iyah berarti saat ini habislah sudah.
__ADS_1
Fairli bangun dari posisinya, sedikit mengeryit karena pria itu masih terus menatap nya tanpa berbicara apapun, apa mungkin marah?. Fairli menunduk untuk menghormati pria didepan nya lalu pamit pergi dari sana, sekarang tujuan utamanya adalah menemui seseorang yang bernama asisten Yoxi.
"Tunggu!"
Langkah Aina terhenti kala suara bariton milik seseorang di belakang nya terdengar, Fairli menoleh kebelakang, pria yang tadi menabrak nya menatap ke arahnya dengan padangan yang tidak bisa ia baca. Mau sampai kapan terus menatap seperti itu?.
"Kenapa? maaf aku tadi terlalu fokus menatap ke bawah jadi tidak melihat jalan dengan benar, maaf sekali lagi." Fairli menunduk berkali-kali, ia sangat takut jika pria itu akan marah padanya.
"Oprasi pelastik pada wajah?"
Degg!!
Aliran darah Fairli seakan berhenti, nafasnya tercekat, bola mata gadis itu membola dengan sempurna, tanpa sadar setitik air mata jatuh di pelupuk matanya.
Bibir Fairli terbuka lebar. Apa begitu terlihat? bagaimana bisa seseorang mengetahui dirinya yang oprasi pelastik pada wajah, apa pria ini pernah bertemu dengannya? tetapi tidak mungkin ada yang tauh, kalau pun dulu dia tauh wajah asli Fairli seharusnya tidak dapat mengenalinya begitu saja.
Adiknya yang notabene sebagai keluarga Fairli saja tidak mengenalinya tetapi, kenapa pria ini bisa tauh.
"Bagimana bisa kamu tauh, apa dulu kita pernah bertemu?" Tanya Aina pelan juga hati-hati. Terlihat wajah pria di ujung sana terkejut hanya sekilas karena detik berikutnya ia menormalkan ekspresi nya kembali.
"Aku tidak mengatakan itu kau tetapi, mendengar jawaban mu sepertinya benar."
Mendengar itu jantungnya berdetak kencang, Fairli menutup bibirnya, apa-apaan pertanyaan yang menjebak seperti itu? apa sekarang dunia nya telah berkahir? ia baru saja merasakan hidup enak tanpa di pandang rendah. Apa sekarang akan berakhir kembali?.
"Kenapa jika aku oprasi pelastik?" Fairli berjalan mendekat, bibirnya bergetar.
"Apa menjadi cantik dengan oprasi wajah sebuah kesalahan?" Lanjut Fairli dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.
Pria itu terdiam, tatapannya masih sama. Fairli tidak dapat mengartikan apa arti dari pandang itu saat ini.
"Tidak juga." Jawabnya kemudian berbalik kebelakang, melangkah untuk menuju pintu lift.
"Tolong rahasiakan ini, aku baru saja ingin interview di ajang kecantikan jenjang SMA. Aku ingin menghasilkan uang untuk keluarga ku, tolong jangan katakan pada siapapun." Fairli bersuara keras sebelum pintu lift yang di tumpangi pria itu di tutup, menyatukan telapak tangan memohon.
Ia sangat berharap pria itu tidak mengatakan pada orang lain tentang wajahnya yang oprasi pelastik.
"Tidak minat," ucap pria itu singkat, setelahnya pintu lift benar-benar tertutup.
Tubuh Fairli merosot kebawah, sekujur badannya terasa lemas seketika. Mendengar dua kata yang keluar dari bibir pria tadi membuatnya tenang. Setidaknya ia tidak berniat mengatakan rahasia nya pada orang lain.
__ADS_1
Apa dia bisa dipercaya? seharusnya begitu, mungkin saja orang tadi salah satu orang yang interview di perusahaan ini, sama hal dengannya.