
"Terakhir yang masuk ke babak selanjutnya adalah.. "
Semua yang menyaksikan menahan nafas, menunggu sekiranya nama siapa yang akan terpilih. Berbeda dengan para senior yang sudah tahu tetapi memilih menatap handphone mereka masing-masing.
Fairli masih betah menatap sepatu nya, tadi ia sempat mendongkak setelah ajang tatap menatap dengan senior Ceel tetapi ia kembali menunduk melihat wanita di samping senior itu semakin menatapnya tajam. Sebenarnya ada masalah apa wanita itu?.
"Fairli Anggellina!"
Seketika suara para siswa di ujung sana bersorak heboh, terlihat beberapa para siswa-siswi berlompat dengan senyum lebar, merasa sangat senang ketika idola mereka ternyata masuk ke babak selanjutnya.
Sama halnya dengan Fairli, gadis itu tersenyum melihat orang-orang di bawah sana menyoraki namanya berulang-ulang, apalagi para siswa sudah pasti paling heboh sendiri.
Sungguh Fairli tidak menyangka jika diri nya bakal lolos padahal tadi saja ia tidak ikut mengambil hati para senior, bahkan berbicara didepan mereka Fairli gugup. Apa alasan mereka memilihnya?.
Setelah di rasa sudah lumayan tenang, MC wanita mulai kembali mengarahkan.
"Selamat untuk kalian bertiga yang masuk ke babak selanjutnya yaitu pengambilan voting." Ucapnya yang berunjuk pada Fairli, Eli dan Sasya. Beberapa para peserta tersenyum meskipun mereka tauh ada perasaan sesak.
"Buat yang tidak terpilih jangan berkecil hati, tetap berjuang agar tahun depan perusahaan kami kembali berkerja sama dengan sekolah SMA 1 Garden ini."
Semua peserta kembali berbalik kebelakang begitu juga dengan Fairli yang entah dari mana datang nya Jessy, gadis itu tiba-tiba saja menarik tangannya begitu saja. Dari mana gadis itu datang? Eli yang juga ditarik pun hanya mengikuti langka gadis itu dengan malas.
"Besok kami akan meluncurkan link voting, yang ikut bergabung di perlombaan perusahaan kami nantinya adalah pilihan kalian sendiri jadi untuk kalian yang mengidolakan di antara ketiga peserta yang terpilih tadi bisa mendukungnya. Pemenang voting yaitu orang yang menduduki urutan pertama dan kedua ─ "
Setelahnya Fairli tidak mendengar lagi apa yang di ucapkan MC tersebut karena posisi mereka sekarang lumayan jauh dari aula juga terhindar dari siswa-siswi. Fairli menarik napas sebanyak-banyaknya ketika Jessy melepaskan genggaman nya, tubuh Fairli bersandar di dinding dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Tangan gua sakit anjrot! lu bisa enggak main narik-narik gitu? kalau tangan gua lepas gimana!" Eli berbicara tanpa jeda. Sang empu hanya menampilkan cengiran tak berdosa membuat Eli ingin sekali membunuh gadis itu.
__ADS_1
"Gua sebenarnya cuman mau narik Fairli supaya kagak di kelilingi para siswa." Jessy menjelaskan tujuan membawa kedua sahabatnya ke tempat sepi ini.
"Lagian juga di sana ada Arkan mantan lu, kayaknya mau ajak balikan deh makanya gua narik lu biar kagak sampai ketemu dia," lanjut Jessy pada Eli yang kini membulatkan matanya.
"Lu serius? untung aja gak sampai berpapasan," Eli mengusap dadanya, Arkan adalah mantan pacarnya saat SMP dulu, sudah lama hubungan mereka berakhir tetapi pria itu selalu mengejar-ngejar dan minta balikan.
"Arkan?" Tanya Fairli ulang, memastikan apa yang ia dengar tidak salah. Seputar bayangan buruk tentang nama pria itu membuat tubuhnya terpaku. Tidak mungkin orang yang sama, yang memiliki nama Arkan bukan hanya dia.
"Iyah? mantan gua, lu kenal?" Tanya Eli dengan kening berkerut begitu juga Jessy yang memandang Fairli dengan tanda tanya.
Keringat dingin tiba-tiba saja meluncur di tubuhnya, ia tidak ingin mengingat kenangan buruk yang telah lalu. Sudah tiga bulan terlewati tetapi bayangan itu masih ada.
"Kamu gak apa-apa kan? kok keringat gini," Jessy mengusap kening Fairli khawatir namun gadis itu refleks menepis nya kasar. Jessy agak terkejut melihat perubahan Fairli yang tiba-tiba.
"Maaf aku gak bermaksud. Aku gak apa-apa kok tadi nama yaang kamu sebutkan sama dengan pria yang aku sukai di sekolah lamaku. Karena teringat kenangan buruk tentang dia jadi tanpa sadar aku menepis tanganmu. Aku minta maaf," Fairli membungkuk beberapa kali, sungguh ia tidak sengaja.
"Lagian lu juga pakai ngebahas dia, Fairli jadi gak nyaman gini kan." Eli menepuk bahu gadis berambut pendek dengan gemas.
"Mana gua tauh, udah jangan minta maaf harusnya gua yang minta maaf sama lu. Pasti cowok bernama Arkan benar-benar membuat kenangan paling buruk di hati lu. Jangan sedih masih ada fans cowok lu satu sekolah kan sekarang lu populer banget," Jessy menangkup wajah Fairli dengan ekspresi tengilnya, Fairli hanya terkekeh menanggapi. Menarik tubuh Jessy untuk memeluk gadis berambut pendek itu.
"Gua dilupain? it's okay," Eli menatap kesal kedua gadis didepan nya yang malah asik berpelukan tanpa dirinya.
Fairli yang sadar pun menarik leher Eli yang lumayan tinggi untuk berpelukan bersama mereka. Ketiganya mendekap satu sama lain dengan sudut bibir yang membentuk sebuah senyuman tulus.
Ini pertama kali Fairli merasakan bersahabat yang sesungguhnya. Merasakan pelukan tulus dari seorang teman, selama ini ia hidup dalam orang-orang yang selalu memandang dirinya rendah.
Setitik air mata kembali jatuh di ujung matanya. Ingin rasanya ia cepat-cepat sampai kerumah untuk menceritakan pada ibu dan ayahnya bahwa ia telah memiliki sahabat baik sekarang.
__ADS_1
* * *
Fairli telah sampai di rumah sekitar jam lima sore. Aksa yang melihat kakanya yang nongol tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu berdecak kesal, ia yang tengah melipat pakaian terakhir terkejut.
"Lu kalau gak tauh lagi caranya ngetuk pintu bilang!" ucap Aksa kesal. Fairli tidak membalas bahkan tubuh gadis berakhir hilang dari balik pintu.
"Gua udah selesai tinggal bagian lu yang rapiin." Aksa berdiri dari duduk, berbicara lumayan keras agar Fairli dapat mendengar nya, merenggangkan otot-otot tangan miliknya hingga menghasilkan bunyi yang lumayan keras.
"Bisa encok gua lama-lama," gumamnya sembari berjalan ke arah kamar.
Sedari pulang sekolah ia sudah di sungguhi pakaian yang menggunung, seakan bundanya sengaja menumpuk pakaian untuk ia lipat, padahal masalahnya hanya terlambat pulang karena harus singgah di warnet terlebih dahulu. Tidak dua kali ia terlambat lagi, hukuman dari bundanya sangat ekstrim.
"Buna kemana?" Kepala Fairli nongol di pintu kamar bertanya pada adiknya yang kini menoleh ke arahnya. Aksa menguap lalu menunjuk samping Fairli menggunakan delikan mata, setelahnya Aksa masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat.
"Kenapa? mau bantu nyapu?" Suara wanita paruh baya terdengar tajam di telinga, Fairli menoleh ke samping, di sana, tidak terlalu jauh tempat ibunya berdiri dengan wajah sangarnya.
Fairli menggeleng kuat, dengan cengiran kuda miliknya. "Tidak, Fairli cuman nanya aja. Yaudah Fairli mau mandi dulu." Setelahnya Fairli menutup pintu cepat.
Bisa gawat kalau ia di minta nyapu, Fairli kapok mengiyakan untuk membantu bunda sebab ketika masih sekolah menengah pertama dulu bundanya meminta Fairli menyapu tetapi ternyata setelah itu ia di minta mengepel lalu menyiram tanaman, mencuci pakaian, melipat baju, nyabut rumput dan berakhir ia yang mengerjakan semuanya.
Tubuh Fairli tersungkur di atas kasur, menenggelamkan kepala kedalam bantal lalu memejamkan mata. Sekelebat bayangan tentang pertemuan dengan senior Ceel melintas di pikirannya. Tiba-tiba kedua pipi gadis itu memanas.
"Apa kita bakal ketemu lagi?" Gumam Fairli, sudut bibirnya terangkan membentuk sebuah senyuman. Bayangkan tentang kepalanya yang di usap tadi masih teringat jelas. Apalagi kalimat yang di ucapkan pria itu untuk nya.
"Kamu juga cantik!" Pekik Fairli mengulangi kata senior Ceel untuk nya. Suaranya sengaja ia berat-beratkan seolah mahkluk tampan siang tadi mengulangi ucapannya sekarang.
Gadis itu menghentakkan kakinya di atas kasur, sungguh ia bisa gila muda kalau terus memikirkan kejadian tadi siang.
__ADS_1