Selebriti Sang Gadis Oplas

Selebriti Sang Gadis Oplas
Episode 7 Gadis oplas Fairli


__ADS_3

Setelah jam istirahat berbunyi, segerombolan siswa-siswi menyerbu kantin yang letaknya tidak terlalu jauh dari kelas Fairli berada. Gadis itu terlihat berjalan beriringan dengan kedua sahabatnya yang ternyata mereka satu kelas yang sama, suatu kebetulan yang bagus.


"Ramai banget pada ngeliat apaan sih," gumam Jessy pada orang-orang yang berlomba-lomba melihat isi handphone milik seorang siswi dan yang seperti Fairli ingat gadis itu adalah gadis yang masuk ke babak selanjutnya dalam perlombaan kemarin selain dirinya dan Eli.


"Ngapain pada ngeliatnya ke gua sih! kalian kan punya handphone sendiri, pakai milik kalian dong!" Pekik Sasya menatap orang-orang di sekitarnya yang kini terdiam, suara yang tadi ribut seketika hening. Seakan mereka tersadar, masing-masing membuka handphone dan berteriak heboh ketika apa yang mereka cari ada di sana.


"Aaaaa itu Fairli," teriak salah satu siswi yang melihat keberadaan dirinya yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri


Hampir semuanya yang tadi mengelilingi Sasya beralih berlarian ke arah Fairli. Masing-masing memperlihatkan handphone mereka.


"Kami sudah voting. Pokoknya lu harus mengikuti lomba yang di adakan perusahaan JM.T!" ucap satu siswa pada Fairli yang masih agak terkejut di kelilingi banyak orang, ia pun tersenyum hangat.


"Terimakasih, apa kalian bisa memberiku jalan?" Fairli membungkuk sedikit untuk berterimakasih. Sungguh ia tidak nyaman di kelilingi seperti ini, ia belum terbiasa.


"Tentu saja."


"Fairli manis banget sih."


"Panggilan nya aku-kamu berasa lagi ngomong sama pacar."


"Perasaan tadi dia enggak ngomong 'kamu' dah."


"Ribet lu. Pokoknya Fairli pacar gua."


Setelahnya Fairli tidak mendengar mereka berbicara apa karena tangannya di tarik Eli untuk menjauh dari mereka. Kini mereka duduk di salah satu meja kantin paling pojok.


"Panas gua di kelilingi mereka." Ucap Eli sebal karena kehadiran mereka make up yang ia kenakan luntur.


"Lagian lu pakai make up merek apa sih kok bisa sampai luntur cuman karena keringat." Jessy mengambil tisu untuk mengusap keringat yang berada di setiap permukaan wajahnya.


Hening, Eli tidak menjawab, gadis itu menatapnya lekat dengan tubuh yang tegang. Jessy yang bingung pun mengernyit aneh.


"Kenapa kok tegang gitu?"


"Hah? enggak lah gua ngeliat wajah lu kok bisa cakep gini." Eli mengalihkan pembicaraan. Jessy yang di puji pun bersemu merah membuat Eli menatap kesal.

__ADS_1


"Nyesel gua ngomong gitu, wajah lu sampai malu-malu segala. Jessy jangan buat gua geli ya," Eli menepuk kepala gadis itu.


Fairli hanya menggeleng kepala, apa mereka berdua selalu berdebat? entah kenapa ia merasa Eli mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Jessy yang tadi, apa mungkin cuman perasaan Fairli saja.


"Gimana voting kalian? katanya voting akan di tutup setelah 24 jam." Tanya Jessy sembari menatap kedua sahabatnya yang kini menatap ke arah gadis itu dengan pandangan berbeda, Fairli dengan senyum maklum dan Eli yang terlihat kesal.


"Gimana apanya, peluncuran voting baru di kasih tadi. Belum ada apa-apa lah, besok baru kita lihat," suara Eli naik satu aktof.


"Santai jangan ngegas juga bunda."


Jessy mengambil handphone miliknya, membuka link voting yang tadi membuat orang-orang heboh. Seketika mata gadis itu membulat sempurna, tidak percaya dengan yang ia lihat sekarang.


"Kenapa, Jes? " Tanya Fairli dan Eli berbarengan. Entah apa yang dia dilihat, bikin keduanya penasaran saja.


"Gila Fairli! belum apa-apa, yang voting lu udah sebanyak ini? orang cantik emang beda ya." Jessy menggeleng kepala, Eli yang penasaran pun ikut melihat kemudian melirik Fairli dalam diam.


"Di urutan pertama ya," gumam Eli pelan, ia mengetuk meja kantin sembari mengangguk-angguk.


"Santai jangan berkecil hati, lu ada di urutan kedua." Lanjut Jessy ketika melihat posisi kedua di duduki Eli, sahabatnya.


Pekikan para siswi membuat ketiganya mengalihkan tatapan ke arah pintu kantin, terlihat seorang pria tampan berjalan ke salah satu meja yang berisi teman-teman nya.


"Kak Farles tampan banget," gumam Jessy pelan, menatap idola sekolah mereka tanpa berkedip.


"Nafas, Jes nafas jangan sampai lupa." Eli memperingatkan.


"Oh iyah nafas," seakan tersadar gadis itu menghirup nafas sebanyak-banyaknya.


Berbeda dengan Fairli, gadis itu mengernyitkan kening, merasa seperti pernah melihat pria itu disuatu tempat. Sekelebat bayangan tentang pertemuan nya di lift perusahaan JM.T kemarin terlintas di pikirannya. Ah iyah dia cowok pakaian seragam yang menanyakan dirinya yang sekolah di sini.


Pantas saja dia bertanya seperti itu ternyata mereka satu sekolah. Kemarin ia tidak begitu melihat dengan teliti karena Fairli sedikit terburu-buru untuk bertemu asisten Yuxio meskipun harus terlambat karena bertabrakan dengan pria aneh yang mengetahui rahasia nya. Mengingat tentang pertemuan dengan pria itu membuat Fairli kesal.


"Gitu banget natapnya." Jessy menyenggol bahu Fairli karena sedari tadi gadis itu terus memandang ke arah Farles.


"Mana sambil melamun lagi, hayo mikirin apa." Goda Eli dengan senyum kecilnya.

__ADS_1


Fairli yang sadar pun menegakkan tubuhnya kembali. Kedua pipinya memerah di ejek kedua sahabatnya.


"Gak! siapa yang mikirin aneh-aneh. Aku pernah satu lift berdua sama di ─"


"Apa kalian berduaan di lift!" Pekik Jessy membuat sebagian siswa-siswi di sekitar memandang mereka sembari berbisik.


"Gak gitu juga lu nyimpulin nya, Jes." Eli gergetan sendiri bagaimana tidak dari sekian banyaknya yang harus di tanyakan gadis itu malah menyimpulkan hal yang terdengar ambigu.


"Harusnya lu nanya, kok bisa kalian satu lift? emang dimana?" Lanjut Eli yang kini pertanyaannya berunjuk pada Fairli. Eli dan Jessy memajukan wajah mereka untuk mendengarkan jawaban gadis itu.


"Kita bertemu di dalam lift perusahaan JM.T saat itu aku menuju ruangan asisten Yuxio untuk di interview." Fairli menjelaskan pada kedua sahabatnya yang kini mengernyit bingung. Jessy dan Eli saling tatap.


"Ngapain Farles ke perusahaan JM.T?" Jessy bertanya-tanya.


"Lah? aku pikir dia juga ikut lomba ajang kecantikan kemarin." Ucap Fairli yang mampu membuat sebuah pukulan mendarat mulus di kepalanya.


"Farles itu cowok! kalau ngomong di pikir dulu bikin gergetan saja!" Jessy tidak kuat berhadapan dengan kepolosan sahabatnya ini.


Fairli mengusap tenguknya, ia tidak kepikiran sampai di sana. "Atau mungkin dia ngikutin lomba lain gitu."


"Perusahaan JM.T hanya mengadakan perlombaan ajang kecantikan saja." Eli yang mengikuti perusahaan itu pun mengangkat bicara.


"Jadi kira-kira dia ngapain?" Jessy berfikir keras, apa sekitarnya yang di lakukan Farles di sana.


"Gak usah di pikirin. Mending pesan makanan, kalian mau apa?" Fairli berdiri dari duduknya, Jessy dan Eli menekuk bibir mereka kebawah merasa terharu dengan kebaikan gadis itu sekarang.


"Ngikut lu aja." Ucap Jessy dan Eli berbarengan setelahnya mereka saling tatap.


"Lu jangan ngikutin gua mulu," Jessy menatap Eli dengan kesal.


"Enak aja. Lu yang ngikutin gua," elak Eli tidak terima.


Fairli berlalu begitu saja membiarkan kedua gadis itu berdebat. Baru tiga hari ini mereka bersama, ia sudah tauh sifat keduanya. Tetapi melihat mereka berkelahi ia merasa terhibur, meskipun ia tauh perkelahian mereka tidak benar-benar serius.


"Oh ini anak baru yang menduduki urutan pertama voting terbanyak!" Suara seseorang dari belakang Fairli terdengar angkuh.

__ADS_1


__ADS_2