
Fairli yang merasa suara itu mengarah padanya pun berbalik kebelakang. Mata hitamnya menatap lekat gadis yang lebih tua setahun darinya. Lama saling menatap, Fairli dengan cepat menunduk.
Dapat ia lihat gadis didepan nya adalah kakak kelas dari lambang kelas yang tertempel di dada kanannya sudah terlihat sangat jelas. Ia juga tauh namanya Sasya Abarta, kenapa Fairli tauh? tentu saja karena namanya disebutkan saat di perlombaan kemarin.
"Kenapa ya, kak?" Tanya Fairli sopan dan tentunya membuat kakak kelas itu menatap Fairli sinis.
"Jangan mentang-mentang lu udah menduduki peringkat pertama lu jadi sok cantik sekarang? jangan kesenangan dulu, masih ada enam jam lagi untuk menentukan siapa pemenangnya." Semprot Sasya dengan suara yang lumayan besar. Membuat perhatian seluruh kantin mengarah ke arah mereka.
"Kalau gua jadi dia bakal malu sih. Wajar dong Fairli mendapatkan voting tertinggi karena populer, lah dia? pasti merasa tersaingi dianya." Bisik salah satu siswi pada teman di samping nya. Meskipun Fairli tauh suara yang di keluarkan gadis itu tidak hanya dikatakan berbisik.
Semakin lama bisik-bisik di sekitarnya semakin tidak enak. Sasya yang mendengar merasa panas.
"Maaf kak, saya permisi sebentar mau pesan makan." Fairli pamit dari sana. Sekarang bukan saat nya berdebat, perutnya sedari tadi terus minta di isi. Namun baru saja ia melangkah tangannya di tarik dari belakang begitu kuat. Refleks mata Fairli tertutup kala tangan Sasya tepat didepan nya.
"Jadi adik kelas belagu ya lu," teriak Sasya penuh emosi, sedikit lagi tangan nya mendarat di pipi Fairli tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menahan tangannya.
"Arkhhhh. Sakit bego! " Pekik Sasya merasakan tangannya di genggam kuat.
Fairli mendongkak menatap pria tampan yang amat sangat ia kenali. Bukankah dia cowok yang pernah bertemu dengan nya di lift, Farles. Apa dia masih ingat dengan nya?.
"Lu boleh nyari masalah pada siapapun, " Farles menghempaskan tangan Sasya kuat seakan ingin mencopotnya.
"Kecuali dia!"
Jari telunjuk Farles yang mengarah pada Fairli membuat seisi kantin heboh dibuat nya. Bagaimana tidak, pria Idola sekolah mereka yang terkenal anti mengurusi hidup orang lain kini membela Fairli? sang anak baru yang berwajah cantik itu.
"Kita belum selesai," Sasya berbicara pada Fairli yang hanya diam lalu mengarahkan jari tengahnya pada Farles, memperlihatkan wajah ketidaksukaan pada pria itu secara terang-terangan.
Fairli tersentak saat tangannya di tarik menjauh dari kantin. Mata Fairli tertutup saat suara jepretan terdengar, beberapa orang-orang mengabadikan momen langka ini dengan mengambil gambar dua sejoli yang mulai menjauh dari pintu kantin, masih bisa terlihat karena bahan pintunya dari kaca, transparan.
"Jangan dikejar," ucap Eli pada Jessy yang ingin mengejar sahabatnya.
"Lu gila? sahabat kita di bawa Farles gitu aja gua yakin cowok itu mau apa-apain Fairli," Jessy yang ingin kembali beranjak masih di tertahan oleh Eli yang menggengam lengannya erat.
__ADS_1
"Mungkin ada yang ingin di bicarain dengan Fairli. Udah gak usah ikut campur, mana tauh mereka ternyata sepasang kekasih yang diam-diam menjalin asmara. Kan gak lucu kalau kita sebagai sahabatnya gangguin." Eli mencoba menjelaskan pada gadis berambut pendek, Jessy.
Di lihat-lihat sepertinya mereka dekat, tetapi mendengar Fairli yang mengatakan pernah bertemu di lift sekali, itu berarti mereka tidak pacaran. Gak salah dan tidak bukan lagi mereka tengah PDKT-an.
"Kayaknya kalau pacaran gak mungkin, pasti Farles lagi ngedeketin Fairli." Jessy berbicara seakan menyetujui pikiran Eli yang juga berfikir hal yang sama meskipun agak berbeda di akhir.
Tringgg... tringg
Suara handphone milik semua siswa-siswi berdering, masing-masing mengambil benda pipih yang hampir semua merek handphone mereka sama, handphone keluaran terbaru.
"Anjirr, sampai viral gini di media," umpat Jessy melihat postingan beberapa siswa-siswi tentang Farles yang membantu Fairli, yang semakin membuat satu sekolah heboh adalah ketika tangan Fairli di tarik dan di bawa pergi oleh cowok idola sekolah itu entah kemana.
"Baru kali ini sekolah kita seheboh ini. Lu jangan ikut-ikutan ah gua gak suka ama orang-orang yang apa-apa selalu di buat viral gada kerjaan banget." Eli berucap malas, ia udah gedeg dengan siswa-siswi disekolah ini.
Jessy menatap sahabatnya intens. Entah kenapa ucapan Eli saat ini seperti mengarah ke artian lain atau cuman perasaannya saja. Gadis itu menggeleng beberapa kali untuk menghilangkan pikiran anehnya. Eli yang melihat Jessy yang menggeleng menatap jengah seolah berbicara 'gak jelas banget'.
* * *
"Tunggu di sini."
"Naik!" Pinta Farles pada gadis yang ia bawa tadi, saat ini Fairli menampilkan wajah cengo nya. Naik? maksudnya ia naik ke atas motor besar dengan rok sependek ini.
"Maaf kak, saya lapar saya harus kembali ke kantin lagi. Kalau ada yang mau kakak tanyakan silahkan tanya di sini saja." Ucap Fairli yang tidak mau aneh-aneh.
"Kamu lapar kan? sekalian kita cari makan diluar," keukeuh Farles, ia tetap ingin Fairli bersamanya. Entah kenapa mendengar gadis itu yang menggunakan aku-kamu dalam berbicara, ia jadi mengikutinya.
"Aku makan di kantin saja. Teman-teman ku sudah menunggu di sana." Fairli menolak dengan halus, sungguh tidak enak rasanya menolak apalagi pria yang sedang ia ajak bicara sekarang adalah idola sekolah. Ia kapok berurusan lagi karena kejadian di sekolah lamanya.
"Tadi aku bantuin kamu dari Sasya. Gak mau berterimakasih? sederhana saja temanin aku makan."
Fairli yang sudah berbalik menjauh mendadak berhenti melangkah mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan Farles di belakang sana.
Perasaan gak enak kembali hinggap di hatinya. Sebenarnya ia bukan tidak mau, hanya saja ia belum terbiasa jalan berdua dengan pria yang sialnya begitu tampan. Dulu boro-boro ada yang mengajaknya makan bersama, seorang pria jalan beriringan dengan nya ke kantin saja mereka enggan.
__ADS_1
Ia tidak bisa makan bersama Farles sekarang, rasanya ia tidak cocok saja bersama. Lagian ini masih jam pelajaran.
"Kenapa tidak orang lain saja? aku gak pantas naik di atas motor mewah seperti itu." Fairli berbalik menatap pria yang masih stay di atas motornya. Tatapan mereka beradu, entah kenapa setiap melihat tatapan sendu gadis itu membuat perasaan Farles menghangat.
"Kamu pantas! itu kenapa aku mengajakmu," Farles melepaskan jaket di tubuh nya, turun dari atas motor mendekati Fairli lalu melilitkan lengan jaket di pinggang rampingnya.
"Bentar lagi mau bubaran, sekalian habis makan aku antar pulang." Farles menyentuh pergelangan Fairli kemudian membawa tubuh mungilnya ke samping motor yang mesinnya masih menyala.
"Ayok naik! mau makan gak nih," kekehnya, menoleh ke arah Fairli yang kini menyunggingkan senyumnya, perlahan gadis itu mengangguk. Fairli naik ke jok belakang dengan ragu di bantu Farles dengan memegang tangannya.
Setelah pantatnya mendarat sempurna di jok belakang, motor Farles perlahan mendekat ke arah gerbang, di sana pak satpam membukakan pintu untuk mereka.
Motor merah milik Farles melaju kencang meninggalkan sekolah. Fairli menatap sekeliling bangunan yang terlihat mewah, tanpa sadar senyum indah merekah terbit di bibir tipisnya.
Farles yang melihat Fairli dari kaca spion pun ikut tersenyum. Gadis itu sangat manis sekali. Namun detik berikutnya matanya membulat melihat mobil hitam yang amat sangat is kenali mengikuti mereka.
"Peluk Fairli!" Teriak Farles sembari mempercepat kecepatan motor nya. Fairli yang kaget dengan motor pria ini yang melaju kencang, memeluk erat tubuh Farles dari belakang. Bukan apa-apa ia hanya takut jatuh saja.
"Kenapa harus laju-laju? pelan sedikit aku takut jatuh," ucap Fairli lumayan keras agar Farles dapat mendengar suaranya.
"Di belakang ada mobil yang mengikuti kita."
Mengikuti? siapa? apa pacar Farles? yang benar saja. Apa sekarang mereka seperti tengah tertangkap selingkuh.
"Pacar? berhenti saja nanti aku yang berbicara."
"Lebih dari itu."
Setelah itu laju motor Farles semakin kencang, Fairli memejamkan matanya sembari memeluk pria di depannya kuat. Sangat kuat sampai Farles sendiri dapat merasakan kuku panjang gadis itu mengenai perutnya.
Ckiiiitttttt....
Fairli tersentak merasakan motor yang tiba-tiba berhenti. Farles lengah, mobil yang mengejar mereka berhenti tepat di depan sana. Alhasil ia ngerem mendadak.
__ADS_1
"Gada kerjaan banget." Farles membuka helm nya, lalu menatap ke arah pria yang baru saja keluar dari mobil hitam itu dengan tatapan kesal.
Karena penasaran Fairli turun dari motor, melihat siapa yang telah mengikuti mereka sedari tadi. Mata Fairli membulat melihat pria mapan yang baru saja turun dari mobil.