
Hari semakin hari berlalu tanpa sadar ini sudah dua bulan lama nya dari pengoperasian wajah Fairli yaitu hari yang tunggu-tunggu, hari ini adalah hari pengecekan hasil oprasi Fairli yang ia lakukan. Fairli tersenyum di balik balutan perban di wajahnya, ia sudah tidak sabar melihat diri nya yang akan berubah cantik nanti.
"Baik mari kita mulai," dokter wanita yang menangani Fairli selama ini membuka suara. Fairli mengangguk sebagai jawaban.
Dokter wanita mulai membuka balutan perban di wajah Fairli, perlahan-lahan hingga sedikit demi sedikit perban berhasil di buka. Fairli tidak lagi merasakan sakit, baginya masa sakit telah terlewati.
Fairli membuka mata, menatap lurus kedepan dengan pandangan tidak percaya, dirinya terpaku beberapa detik hingga tanpa sadar air matanya jatuh di pipi putihnya, Fairli menyentuh wajahnya sendiri dengan guratan bahagia.
"Ibu! apa bener ini Fairli?" Tanya gadis itu masih tidak percaya dengan tampilannya saat ini.
Cantik sekali! itulah satu kata yang menafsirkan dirinya saat ini, hidung mancung yang normal, gigi yang teratur, lipatan mata yang normal seperti yang lainnya. Tidak ini terlalu sempurna sekali.
Ria tersenyum bahagia, mengusap lembut rambut anaknya. "Ini anak kita," ucap Ria sembari menatap suaminya yang kini juga menatap Fairli cengo.
"Ini beneran anak ayah? kok cantik banget, siapa ini aku tidak mengenalinya." Adam menggeleng takjub sedikit bercanda di akhir kalimat merasa lucu saja melihat ekspresi anaknya yang cemberut. Adam merentang tangan nya dengan senyum lebar membuat Fairli berdiri dari duduknya kemudian menghambur ke pelukan pria tua renta yang menjadi semangat utamanya.
"Ayah, Fairli senang banget," dengan mata sebab Fairli memeluk erat tubuh ayahnya.
"Ayah lebih senang melihat putri ayah satu-satunya makin terlihat cantik sekali." Adam melepaskan pelukan, mengusap lembut pipi anaknya. Di ikuti Ria yang kini berdiri di belakang Fairli sembari mengusap-ngusap pundak anaknya.
Terlihat sekali dari kedua wajah orang tuanya, mereka sangat bahagia dengan perubahan nya sekarang semoga aja kedepannya hal lebih baik terjadi padanya. Fairli hanya ingin hidup tenang tanpa direndahkan lagi.
"Jemputan datang," teriakan seseorang yang baru saja datang membuat tiga orang yang sedang berbahagia menatap ke arah pintu berbarengan.
"Tidak sopan sekali kalian ini mendatangi gadis cantik." Ucap cowok remaja yang baru saja masuk menatap keberadaan seorang gadis di depan orang tua nya, ia berjalan mendekat sembari menggoda Fairli dengan alis yang di naik-turunkan.
"Bagaimana bisa gadis secantik kau bisa berada di samping mereka?" Tanya pria itu lagi sembari menatap Adam dan Ria yang kini menatap ke arah nya dengan menggeleng maklum, sifat anaknya tidak pernah berubah. Berbeda dengan Fairli yang kini menatap tajam.
Bukk!
Tiba-tiba saja tendang tidak terduga dari Fairli membuat tubuh remaja itu terhempas jauh, dapat Fairli denger ringisan dari nya karena Fairli menendang nya tepat di tulang kering, Adam dan Ria membulat kan mata mereka. Sedikit tertawa namun di tahan sekuat mungkin seperti nya di suasana seperti ini mereka harus menahan dulu.
"Lu gila ya!" Teriak remaja itu ketika bangun dari posisinya yang mengganaskan karena mendapatkan tendangan yang tidak terduga-duga.
"Jadi buaya darat boleh! tapi jangan ke aku!" Fairli menatap sengit pada adiknya membuat remaja tadi terdiam dengan mulut terbuka lebar.
"Lu⎯" Aksa menelan ludahnya kasar, ia kaget bukan karena mendengar bentakan Fairli tetapi suara gadis itu yang amat sangat ia kenali, karena⎯
"Lu Fairli?" Teriak Aksa heboh, ia memutari tubuh Fairli, mengucek matanya beberapa kali, mulut nya masih terbuka lebar merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Apakah bener ini kakaknya? kenapa sangat berbeda sekali. "Ini lu? kok cantik? maksudnya kok bisa⎯" Aksa memijit pelipisnya kuat, ia beralih menatap ayah dan ibunya yang kini mengangguk seakan mengerti arti dari tatapan anaknya.
"Gua masih gak percaya, tapi kalau ini beneran lu," masih dengan pandangan takjub. "Lu cantik banget sumpah! sini cium dulu kakak tercinta." Aksa memonyongkan bibir nya 50 centimeter. Belum beberapa menit dengan posisi seperti itu tangan seseorang memukul bibirnya kuat.
"Sakit banget anj⎯" Aksa kembali mengatup bibir nya ketika ibunya kini berdiri di samping nya dengan tatapan tajam.
"Bercanda ibuku sayang," kekeh Aksa sembari memeluk ibunya erat namun Ria malah mencubit pinggang anaknya keras membuat sang empu kesakitan, di belakang Fairli tersenyum puas melihat adiknya menderita.
"Ibu masa Fairli ngetawain Aksa!" Rengek Aksa sembari menunjuk Fairli yang kini mengubah wajahnya menjadi biasa saja ketika ibunya menoleh.
"Gak usah nyalahin kakak kamu terus! harusnya kamu yang jaga sikap gak boleh kebiasaan minta cium apalagi kakak kamu," marah Ria sembari memukul Aksa yang menghindar dari cubitan nya.
Aksa beralih menuju Adam yang sedari tadi melihat kelakuan mereka, Aksa yang ingin mengeluarkan suara seketika menggantung melihat tangan ayahnya yang terangkat seakan mengatakan tidak ingin membantu.
"Buna ampun!" Teriak Aksa sembari menghindar ketika ibunya ingin menggapai kuping nya.
"Sudah Ria kasian dia. Lebih baik kita pulang sekarang sepertinya Fairli butuh istirahat, " ucap Adam pada Ria, membuat Ria dan Aksa menatap ke arah Fairli.
"Kenapa? ngapain pada ngeliatin?" Tanya Fairli, mengeryit bingung ketika melihat keluarganya menatapnya intens.
"Tidak, sekarang kita kedatangan tamu cantik yang akan kembali tinggal bersama kita." Adam tersenyum lembut ia mendekati Fairli kamudian membawa anaknya menuju pintu keluar di ikuti Ria dan aksa di belakang.
* * *
__ADS_1
Senin pagi yang cerah, matahari mulai naik menampakkan dirinya, di salah satu rumah sederhana yang terlihat sangat bising sekali karena keributan di dalamnya. Terutama seorang gadis remaja yang tengah mengobrak-abrik lemari di ruang tengah mencari benda sepasang yang sangat penting untuk ia kenakan sekarang.
"Fairli! jika kau tidak membereskannya aku akan memintamu mencuci pakaian," teriak Ria sembari berjalan membawa lauk-pauk untuk menyimpan nya di atas meja makan. Fairli memutar bola matanya.
"Ada Aksa yang beresin bu," jawab Fairli sembari beranjak dari duduknya ketika telah menemukan barang yang is cari. Aksa yang ingin mencari sesuatu di dalam lemari yang sama seketika melongo menatap kepergian Fairli. Apa katanya? Aksa menatap ibunya yang kini tengah menatap dirinya lekat seakan mengatakan 'jika kau tidak bereskan, lihat saja'.
"Aksa baru aja mau nyari loh! minta Fairli dong yang beresin kan ini ulah dia," Semprot Aksa tidak terima dengan takut-takut, pasalnya wajah ibunya saat ini sungguh menyeramkan.
"Fairli!" Teriak Ria keras membuat suaranya menggelegar seisi rumah.
"Udah berangkat kesekolah barunya." Adam berbicara tanpa menoleh pada Ria karena ia masih fokus membaca koran di tangannya.
"Kau ini! bukannya menyuruh Fairli makan dulu malah kau biarkan dia berangkat," Ria menarik koran dari tangan suami nya, mendudukkan dirinya di atas kursi. Adam melongo, menghela nafas kasar padahal ia baru membaca setengah berita pagi ini.
"Biarkan saja, ini pertama kali ia masuk sekolah kalau dia terlambat kan bahaya juga." Adam berucap, mengangkat bahunya, menyendok telur goreng kemudian menyimpan nya di piring.
"Kau mau kemana? sudah kau beresin belum!" Teriak Ria ketika melihat anak laki-laki nya yang berlari menuju pintu keluar.
"Nanti ibu sayang. Aksa langsung berangkat udah telat ini," Aksa menggoyang kan tangannya sebagai tanda pamit, meninggalkan Ria yang kini menahan amarah.
"Kenapa dengan anak-anak kita! pagi ini sangat membuat ku kesal sekali, awas jika mereka pulang nanti!" Ria nenggertakan giginya, Adam melihat itu hanya tersenyum simpul.
"Sudahlah, jika setiap hari kau marahin mereka terus-menerus kasian juga." Adam memasukkan satu sendok nasi kedalam mulut.
"Bagaimana aku tidak marah! kau lihat kelakuan mereka!" Ria menunjuk lemari yang terbuka lebar dengan beberapa barang yang telah di susun rapi oleh Ria beberapa hari yang lalu malah kembali berantakan.
"Kan kau bi⎯"
Brakk!
"Kalau begitu kau yang bersihkan!" Ria menggebrak meja kemudian berjalan menuju dapur, melihat rebusan sop dagingnya yang telah mateng.
Di sana Adam masih terdiam, menelan ludahnya beberapa kali melihat isi lemari yang berantakan. Kenapa bisa se berantakan ini? kalau begini yang bersihkan harus orang yang menyebabkan ini semua.
Adam mengambil secangkir kopi lalu membawanya ke teras rumah, menatap jalanan yang terlihat sepi. Adam mengulum senyum, tinggal bersama anak dan istri nya di tempat sederhana dan ketenangan seperti ini adalah sesuatu yang paling ia sukai.
* * *
SMA 1 Garden yang terkenal di Kota ini adalah sekolah baru Fairli, sangat jauh berbeda sekali dengan sekolah miliknya yang lama. Menurut berita sekolah ini isinya orang terpandang semua dan di huni orang yang berkualitas tinggi yang mana tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam sini.
Fairli memelankan langkah nya ketika melihat semua pasang mata menatap ke arahnya. Jantung Fairli berdetak kencang, apa sekarang ia akan di bully lagi? apa ia semakin terlihat aneh?.
"Lu anak baru? gila cantik banget," ucap seorang gadis yang memiliki rambut sebahu berlari kecil menghampiri nya.
Diam dan bingung itulah yang Fairli alami, ia tidak pernah di ajak berbicara deluan seperti ini apalagi melihat gadis didepan nya sangat lah cantik.
"Hey! lu denger gua ngomong kan?" Gadis itu kembali bersuara, menggoyangkan tangannya didepan Fairli karena merasa dari tadi ucapannya tidak di jawab.
"Ah iyah, denger kok." Ucap Fairli dengan senyum kikuknya. Ia meremas kuat jemari nya ketika semua pasang mata masih lekat menatap nya, tiba-tiba sebuah jemari lentik menggandeng tangan Fairli lembut.
"Jangan gugup! maklum lah murid-murid di sini gak pernah santai kalau kedatangan siswi yang bening dikit,"
Fairli menoleh, menatap gadis yang tengah menggandeng nya. Gadis ini memiliki rambut yang panjang, hidung mancung dan baby face.
"Kenalin gua Eli dan yang gandeng lu tiba-tiba itu sahabat gua namanya Jessy. Maklumin juga dia anaknya emang rada⎯ahhsss," ucapan Eli terpotong, meringis ketika tangan mungilnya di tabok kuat oleh Jessy yang kini wajah sang empu terlihat kesal.
"Rada apa! jangan ngomong aneh-aneh gua orang nya baik-baik." Jessy memancing matanya membuat Eli mencibirkan bibirnya sembari mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Mana ada yang baik suka main nabok,"
"Yah itu karena lu ngadi-ngadi ngasih info tentang gua ke orang baru," sengit Eli tanpa rasa bersalah.
Fairli yang dari tadi menyimak pertengkaran mereka hanya terkekeh pelan, lucu juga, mereka terlihat sangat akrab sekali. Eli menatap Fairli yang dari tadi tidak bersuara kemudian mata sipit nya menjalar sekeliling. Hampir semua mata melihat kearah mereka, kenapa ia baru menyadari gadis ini sungguh sangat cantik sekali, pesonanya tidak diragukan.
__ADS_1
"Mau gabung dengan kita?" Eli berucap dengan senyum manisnya. Jessy menoleh ke arah sahabatnya. Aneh! tentu saja tidak biasanya dia mau mengajak seseorang bergabung dengan mereka namun, kali ini kenapa?Jessy menepis pikiran itu sejauh mungkin.
"Bener, belum nemu teman kan? lu bisa sama kita dulu jadi kalau ada yang lu gak tauh di sini bisa nanya gua atau Eli," tambah Jessy dengan sangat antusias, terlihat dari wajahnya ia sangat senang bisa memiliki satu teman akrab lagi.
Fairli terdiam, mengulum bibirnya ragu, tangannya keringat dingin. Ini pertama kalinya orang mengajak nya berteman tetapi, apakah ia pantas bersama mereka? jika di lihat-lihat keduanya memiliki kecantikan natural berbeda dengan nya yang melakukan oprasi pelastik terlebih dahulu.
"Sepertinya tidak buruk!" Fairli mengulurkan tangan nya "Aku Fairli," senyum Fairli terbit di bibirnya, ia menatap ke arah Eli dan Jessy bergantian.
"Aku?" Ucap Eli dan Jessy berbarengan, kedua mulut mereka terbuka lebar. Di jaman sekarang masih ada orang yang berbicara dengan sebutan 'aku'.
Fairli mengernyit bingung "Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku?"
"Tidak salah cuman gua baru nemu aja orang yang ngomong sesama kita pakai sebutan 'aku' gitu." Eli berucap sembari menggaruk tenguk nya yang tidak gatal.
"Nah iyah rada aneh aja gua dengernya soalnya baru lu." Jessy mengiyakan ucapan Eli. Fairli yang merasa paham ketika mendengar penjelasan mereka pun tersenyum kecil.
"Maaf kalau buat kalian merasa aneh. Aku jarang bergabung dengan orang-orang jadi tidak terbiasa untuk berbicara bahasa gaul," ucap Fairli sopan.
"Kenapa jarang gabung gitu?" Tanya Eli dengan kening berkerut.
"Tentu saja yang mengajaknya berteman harus berfikir dua kali karena melihat model Fairli kek gini udah insecure deluan mereka buat sekeder menyapa," Jessy berucap cepat dan langsung di angguki Eli, yang di katakan Jessy ada benarnya juga.
"Pasti lu risih ya kita dari tadi mencoba akrab sama lu. Tapi serius deh kita ngajak lu berteman benar-benar tulus," Eli menekukan bibir nya kebawah, melihat itu Fairli menggeleng kuat.
"Bukan begitu, emang dulu gak ada yang mau berteman sama aku, tadi bukannya risih aku malah merasa gugup karena ada orang yang mau mengajakku berbicara deluan." Perjelas Fairli sebelum temannya berfikir yang tidak-tidak.
"Tidak ada yang mau?" Teriak Eli dan Jessy berbarengan. Mereka tidak salah dengar kan? bagaimana bisa model secantik Fairli ini tidak ada yang mengajaknya berteman, tidak bisa dipercaya.
"Secantik apa teman-teman lu sampai spek bidadari kayak lu gini gada yang ngajak berteman! itu pasti mata mereka belekan!" Jessy mengguncang tubuh Fairli gemas, ada orang yang tidak ingin berteman dengan gadis secantik Fairli? Jessy sangat yakin teman-teman sekolah Fairli yang lama memiliki gangguan pada mata mereka.
Fairli hanya tersenyum. Jika saja mereka mengetahui wajahnya yang dulu mungkin sikap mereka tidak akan jauh berbeda dengan sikap teman sekolahnya dahulu.
"Mau jadi pacar gua?"
Ketiga gadis yang tengah asik berbicara menoleh ke belakang. Tepat ketika Fairli berbalik, setangkai bunga mawar terpangpang didepannya.
Kedua bola mata Fairli membulat, ini pertama kalinya seorang pria mengutarakan cinta padanya, tanpa sadar buliran air mata jatuh di kedua pipinya. Ia tidak terharu ia hanya merasa kehidupannya kali ini terasa lebih baik dari pada yang dulu, ternyata begini rasanya di lirik semua orang. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa ia jelaskan.
Tetapi ia bukanlah gadis yang berpacaran tanpa rasa sedikitpun. "Maaf, aku tidak bisa!" Setelah mengucapkan itu Fairli berlalu meninggalkan pria yang tengah berjongkok, menunduk malu. Bagaimanapun jika perasaan di tolak rasanya sungguh menyakitkan dan malu dalam waktu bersamaan.
"Gila aja lu nembak spek bidadari. Ngaca brader! jangan sampai gua beliin lu kaca besar," nyinyir seorang pria yang berwajah blasteran kemudian beranjak dari sana diikuti suara kegaduhan yang lain sembari menyerukan pria yang dengan berani menyatakan perasaan pada gadis cantik yang menjadi bagian dari sekolah mereka mulai saat ini.
Di tempat lain Fairli, Eli dan Jessy tengah berdiri di depan pintu transparan yang memperlihatkan kepala sekolah mereka yang tengah berbicara dengan seorang tamu yang mungkin saja penting.
"Apa tidak masalah aku masuk kedalam? di lihat-lihat kepala sekolah lagi sibuk bange⎯"
Brakk!!
Fairli hampir saja terhuyung kedepan kalau saja Jessy tidak menahan dengan menarik lengan seragamnya. Kaget! tentu saja, Jessy mendorong nya tiba-tiba bagaimana jantung nya tidak panik coba? dua pasang mata menatap ke arah mereka bertiga. Mulut Fairli tercekat, senyum kaku terlihat jelas di wajahnya.
"Selamat pagi, pak. Maaf mengganggu waktu nya saya anak baru dengan nama lengkap Fairli Anggellina ingin menanyakan kelas saya kira-kira di mana?" Tanya Fairli memberanikan diri.
Pak Andi selaku kepala sekolah mengembangkan senyum nya. "Sini nak. Tanda tangan dulu nanti bisa datangi bu Nia untuk mengetahui kelas kamu di mana." Fairli mendekat, menatap kedua teman barunya yang kini mengangguk seperti meminta Fairli untuk mengikuti kata kepala sekolah mereka.
"Gila cantik banget, iri banget gua," Jessy ingin menangis rasanya. Fairli terlihat sangat cantik ketika berjalan apalagi menunduk sembari menyampirkan rambut nya kebelakang telinga. Eli memutar bola matanya malas.
"Tiada hari tanpa insecure heran juga gua," cibir gadis itu, merasa capek sendiri mendengar keluhan sahabatnya yang selalu tidak pernah bersyukur.
"Tanda tangan kedua di sini," pinta Pak Andi, Fairli hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa terduga seorang pria yang merupakan tamu dari kepala sekolah sedari tadi memperhatikan Fairli terus menerus. Ia seperti mendapatkan berlian indah yang perlu ia angkut.
"Apa kau berminat masuk ke group kecantikan jenjang SMA?kebetulan kami sedang mencari bibit unggul."
__ADS_1