Selebriti Sang Gadis Oplas

Selebriti Sang Gadis Oplas
Episode 5 Gadis oplas Fairli


__ADS_3

Suara bising disekitar Fairli sangat terdengar jelas, beberapa orang-orang berlalu lalang di sekitarnya dengan terburu-buru. Hari ini adalah acara besar-besaran yang pernah ia lihat dimana sekarang adalah hari perlombaan babak pertama.


Kelopak mata Fairli terbuka lebar memandang aula didepan nya, bibir tipis nya bergumam tak henti memuji kemewahan dekorasi aula yang dibangun dalam semalam. Sekolah lamanya dahulu tidak pernah membuat acara sebegitu mewah seperti ini.


"Mewah bukan? katanya para senior dari perusahaan JM.T bakal datang untuk memilih tiga orang di sekolah kita untuk lolos babak pertama itu kenapa kepala sekolah kita mendekorasi aula sebesar ini." Eli tiba-tiba saja bersuara yang dapat menjawab pertanyaan yang sedari tadi membuat Fairli bertanya-tanya.


"Pantes saja. Kira-kira senior dari perusahaan JM.T itu maksud nya apa?" Tanya Fairli sembari menoleh ke arah gadis rambut pirang di samping nya. Ia sungguh tidak paham.


"Senior yang di angkut perusahaan JM.T dan namanya telah terkenal, kau tidak lihat orang-orang yang diluar sana? mereka datang untuk menyambut kedatangan para idola mereka." Eli menatap malas ke arah gerbang dan diikuti mata Fairli untuk menoleh ke arah yang sama, seketika ia terkejut melihat segerombolan orang-orang yang mengelilingi sekolah.


Pantas saja sedari tadi begitu berisik ternyata ada segerombolan masyarakat di luar sana. Namun untung saja tidak ada yang nekat untuk melangkahi pagar yang hanya setinggi dada mereka. Ternyata mereka masih menghargai anak-anak sekolah didalam nya.


"Wahhhhhh...Aaaaa malaikat senior Ceel.... "


Sorakan orang-orang dan para siswa-siswi membuat gendang telinga Fairli hampir pecah. Matanya mengeliat mencari sosok objek yang membuat suasana segini hebohnya.


"Gila senior Ceel ganteng banget, anjirr." Teriak Jessy yang berlari ke arah mereka sembari menunjuk ke belakang.


Fairli dna Eli seketika menoleh, terlihat seorang pria tampan yang keluar dari mobil panjang, melambaikan tangan ke orang-orang yang menyambut kedatangannya.


Mata Fairli terpaku, ia terpesona dengan pandangan pertama kala pria itu tersenyum padanya. Jas hitam, sepatu kulit hitam yang dikenakan nya semakin membuat pria itu terlihat tampan di mata Fairli dan sepertinya makhluk indah didepan nya semakin berjalan mendekat, apa mungkin hanya perasaan Fairli saja?.


"Fairli hey!" Panggilan Jessy dibelakangnya tidak membuat gadis itu terganggu. Hingga sosok tampan berhenti tepat di depannya. Senyum Fairli melebar, berbeda dengan pria di depan Fairli yang menatapnya dengan kening berkerut karena gadis itu menghalangi jalan nya untuk ke aula.


"Tampan banget," tanpa sadar Fairli mengeluarkan suara kata hatinya yang mampu membuat pria yang menatapnya terkejut hanya sekilas, detik berikutnya pria itu menyunggingkan senyum tulus.


"Kamu juga cantik," sebuah elusan lembut mendarat di pucuk kepala Fairli di iringi suara teriakkan orang-orang yang melihat kejadian itu. Fairli mengerjabkan mata beberapa kali, bibirnya seketika tercekat merasakan wangi yang begitu memabukkan kala mahluk tampan yang tadi mengelus rambutnya melangkah melewati Fairli.


"Gilaaaaaaa! demi apa rambut lu di usap sama mahluk indah bernama Ceel? beruntung banget aaaaaa gua iri sama lu." Jessy terpekik, sedikit ber loncat karena bergetan dengan apa yang didapatkan sahabatnya tadi.


Fairli mengulum bibir sembari menyentuh pucuk kepalanya yang sempat di sentuh, ia juga masih tidak percaya.


"Tadi dia ngomong apa sama lu kok bisa rambut lu sampai di usap gitu," tanya Jessy penasaran membuat Fairli berfikir sebentar. Eli yang melihat percakapan mereka hanya memutar bola mata malas, merasa tidak tertarik dengan pembahasan mereka.


"Yaudah Fairli ayok mulai persiapan buat perlombaan." Ajak Eli namun dirinya deluan melangkah ke belakang aula.


"Sifatnya memang gitu, maklumin lah. Idolanya hari ini tidak hadir itu kenapa Eli tidak terlihat menarik." Jessy menepuk bahu Fairli lalu membawa tubuh sahabatnya untuk mempersiapkan diri.

__ADS_1


"Jangan heran kalau dia tidak begitu tertarik dengan ketampanan senior Ceel karena ia hanya mengidolakan dan mengagumi senior Charles pria berwajah tampan yang terkenal dengan sifat kejamnya meskipun begitu dia memiliki fans lebih banyak dari senior Ceel yang mana mereka satu group yang sama." Jessy menjelaskan panjang lebar. Terlihat kepala Fairli mengangguk paham.


"Senior Charles dan senior Ceel adalah satu group yang sama yang dinamakan group C2 yaitu inisial dari nama mereka berdua, mereka memiliki hubungan yang begitu baik hingga membuat para fans betah untuk menemani mereka meskipun begitu sifat keduanya sangat berbeda. Jika senior Ceel adalah malaikat yang memiliki senyum indah maka senior Charles adalah pria yang memiliki senyum mematikan."


Fairli mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari bibir Jessy. Meskipun ia tidak begitu penasaran namun ia mengetahui satu hal bahwa pria yang menarik perhatian nya bernama Ceel.


* * *


Jantung Fairli berdegup kencang, kini ia membawa tubuhnya untuk berjalan ke arah panggung saat beberapa detik yang lalu nama panjang nya di sebut. Fairli memberhentikan langkah nya ketika telah sampai di pojok kiri tepat di samping Eli, sahabatnya. Nama Fairli paling terakhir disebutkan jadi tinggal menunggu MC menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di atas panggung.


"Baiklah para peserta sudah di sini? lumayan banyak yang ingin masuk ke ajang kecantikan yang kami adakan ya." Suara MC wanita terkekeh membuat para hadirin yang menyaksikan bersorak heboh. Dapat Fairli lihat siswa-siswi di sekolahnya hadir di bawah panggung, juga beberapa orang-orang di luar pagar yang bersorak seakan memberi semangat untuk para peserta.


"Seperti yang telah di beritahukan lewat media bahwa babak pertama hanya terpilih tiga orang saja untuk masuk ke babak selanjutnya yang mana ketiga pilihan tersebut akan di pilih langsung oleh para senior yang cantik dan tampan di depan kalian saat ini." MC tersebut memberitahu sambil mengarahkan tangannya ke empat meja yang sudah terisi empat senior yang terkenal.


Seketika Fairli menoleh ke arah meja yang di maksud MC wanita. Terdiri dari dua wanita dan dua pria. Mereka melambaikan tangan ketika para siswa-siswi bersorak heboh, jangan lupakan suara dari luar ikut menghebohkan padahal mereka hanya bisa mendengar suara dari MC saja karena keberadaan mereka di dalam panggung. Fairli tidak habis pikir sebenarnya seberapa terkenal mereka.


"Saya akan memberikan waktu lima menit, untuk kalian berfikir dan setelahnya berbicaralah apa saja untuk memenangkan hati para senior didepan sana agar kalian bisa terpilih ke babak selanjutnya."


Tiba-tiba saja kepala Fairli ngeblank ia menyaksikan teman-temannya yang pada berfikir, Fairli menoleh ke arah Eli yang tenang-tenang saja berbeda dengan dirinya yang kini berkeringat dingin.


Gugup dan bingung menjadi satu. Fairli sudah beberapa kali mencoba untuk berfikir tetapi tidak terlewat satu kalimat pun di pikirannya. Fairli menatap para peserta yang mulai bergumam seakan telah menyiapkan kata-kata.


Ia sangat gugup, sedari tadi ia terus berfikir apa yang terjadi jika ia berbicara didepan banyak orang, ia belum terbiasa berbicara didepan umum.


"Waktu lima menit kalian telah habis. Saya akan sebutkan satu-satu untuk menyampaikan setiap bait kata untuk di sampaikan didepan sini," Suara mikrofon milik MC wanita kembali terdengar di telinga Fairli.


Fairli semakin gugup saja, bingung ingin


menyampaikan apa ketika gilirannya nanti, apa lagi harus di sampaikan didepan teman-temannya sungguh ia tidak dapat berfikir lagi.


Satu persatu telah terpanggil dan memberikan ucapan memuji untuk para senior didepan sana, hingga kini tiba gilirannya. Fairli memejamkan mata ketika nama panjang nya di sebutkan oleh MC.


"Sekali lagi Fairli Anggellina silahkan kedepan," nama Fairli kembali di panggil, matanya melirik ke arah Eli yang kini mengangguk seakan mengatakan padanya untuk percaya diri lalu matanya tidak sengaja menatap Jessy di bawah sana tepatnya di paling depan tengah mengangkat satu tangan kanan yang terkepal sembari tersenyum lebar, Fairli tauh Jessy sedang memberikan nya semangat.


Dengan ragu, kaki jenjangnya melangkah mendekati MC wanita yang mungkin berumur dua puluh ke atas, masih sangat muda dapat ia lihat dari wajahnya yang terawat.


"Jangan gugup, percaya diri lah." Bisik wanita itu tepat di telinga Fairli sembari memberikan mic padanya. Apa sangat terlihat jelas bahwa ia sedang gugup sekarang? bahkan sebelum memulai ia merasa tidak akan terpilih.

__ADS_1


"S-saya." Fairli menghela nafas, sungguh ia tidak bohong, ia benar-benar sangat gugup. Matanya memandang orang-orang yang diam, seakan menunggu kalimat yang ingin ia ucapkan.


Fairli tersenyum kaku. "Sa-saya di sini bingung ingin menyampaikan apa─"


"Tidak perlu di lanjutkan, sebelum mendaftar harusnya kau belajar berbicara terlebih dahulu." Suara wanita dari mikrofon terdengar nyaring, Fairli menatap kedepan tepat ke arah senior wanita yang menatap tidak suka ke arahnya. Haruskah terang-terangan seperti itu? bagaimana ini Fairli sangat malu.


"Maaf," hanya itu yang bisa Fairli ucapkan. Sungguh dugaan nya benar, ia akan kalah di awal. Jika harus berbicara didepan umum ia akan mundur deluan.


"Baiklah sepertinya Fairli sangat gugup sekali, semangat masih ada peluang untuk terpilih jangan patah semangat ya cantik para fans mu di bawah sana selalu mendukung mu." Suara MC membuat para siswa-siswi mendesah lesu.


Fairli tidak tauh saja bahwa ia memiliki banyak fans, mereka semua sedari tadi mendukungnya dan berharap Fairli masuk ke babak selanjutnya. Mendengar kritikan dari salah satu senior sudah pasti idola mereka tidak akan lolos, meskipun begitu mereka tetap bersorak.


"Semangat Fairli! kami di sini ada untuk lu," teriakan orang-orang di bawah sana terdengar nyaring. Entah suara siapa yang paling besar Fairli tidak perduli kini air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.


Rasanya sangat bahagia, kebahagiaan yang tidak bisa ia jelaskan, perasaan ini adalah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelum nya. Jadi seperti ini rasanya di cintai teman-teman.


"Wah Fairli pasti primadona sekolah SMA 1 Garden ya? banyak banget nih yang dukung. Baiklah sekarang para juri bisa mendiskusikan siapa dari dua puluh siswi didepan sini yang terpilih," ucap MC wanita yang langsung di sambuti seruan dari penonton sebab kalimat pertama wanita itu.


Setelahnya keempat senior di meja sana mulai berdiskusi beberapa kali wanita yang tadi mengritik nya melirik ke arah Fairli seketika ia menunduk takut, tatapannya begitu tajam.


Beberapa menit berlalu, terlihat para senior mulai duduk rapi tanpa ada yang berbicara lagi menandakan diskusi mereka telah selesai. Yang menjadi MC wanita mendekat untuk menerima selembar kertas yang telah di siapkan telah terisi tiga siswi yang terpilih oleh mereka.


"Baiklah sekarang sudah ada tiga siswi yang terpilih di tangan saya. Harap tenang saya akan sebutkan dari atas terlebih dahulu."


Jantung Fairli berdetak kencang, sama halnya para peserta yang juga gugup di buat nya. Menunggu sekiranya siapa tiga di antara mereka yang bakal lolos.


"Sasya Abarta!"


seketika para siswi mengheboh di bawah sana lalu gadis berwajah blasteran berjalan kedepan sembari melambaikan tangannya.


"Elisabeth Zaa!"


Seketika Fairli menoleh ke arah Eli dengan senyum merekah, Eli telah lolos ke babak selanjutnya, tidak mengapa jika ia tidak terpilih toh Eli lolos ia sudah senang. Yang ia takutnya hanya ketika dirinya lolos dan sahabatnya tereliminasi.


Fairli menatap MC wanita yang mulai mengarahkan mic ke bibirnya untuk membacakan orang terkahir yang terpilih.


Beralih Fairli menatap ke depan, seketika tatapannya terpaku memandang pria yang terlihat bersinar didepan sana. Keduanya saling pandang beberapa menit lamanya hingga Fairli yang menunduk, mematahkan tatapan mereka dengan senyum tertahan, merasakan kedua pipinya yang memerah.

__ADS_1


Hanya ditatap seperti itu saja sudah membuat nya salah tingkah, sungguh pesona senior Ceel menggoda imam.


__ADS_2