Selebriti Sang Gadis Oplas

Selebriti Sang Gadis Oplas
Episode 4 Gadis oplas Fairli


__ADS_3

"Anda lulus," baru saja Fairli menduduki pantatnya di kursi setelah di minta asisten Yuxio ia sudah mendengar kabar yang tidak ia bayangkan sebelum nya.


"Begitu saja?" Fairli dibuat bingung, merasa apa yang ia dengar sungguh aneh.


Bagaimana tidak, dirinya di nyatakan lulus tanpa interview terlebih dahulu, bahkan ia belum saja ditanya perihal perlombaan.


Mata Fairli menatap asisten Yuxio di depan sana, seakan meminta pria itu untuk menjelaskan padanya


"Begini nona Fairli. Kami menerima karena kriteria anda sudah memenuhi syarat meski begitu anda belum bisa bergabung dengan yang lainnya yang akan memenangkan lomba ajang kecantikan yang didirikan perusahaan, anda perlu bersaing dengan teman-teman anda di sekolah terlebih dahulu untuk bisa mulai berlombaan yang lebih serius." Yuxio menjelaskan panjang lebar.


Fairli sedari tadi membuka mulut nya lebar ketika mendengar pria didepan nya mulai menjelaskan. Sungguh ia tidak paham maksud dari asisten Yuxio.


"Maksudnya saya perlu bersaing lagi dengan teman-teman sekolah saya untuk bisa masuk ke perlombaan yang di maksud anda?" Tanya Fairli dengan suara yang sedikit menaik.


Ia pikir setelah diterima disini Fairli langsung bisa bersaing untuk memenangkan perlombaan perusahaan ini nyatanya ia perlu berlomba terlebih dahulu dengan teman-teman sekolah nya.


Kalau tauh begitu lebih baik Fairli tidak perlu interview di sini kalau ia harus bersaing dulu dengan teman-teman sekolah nya ia sudah kalah telak deluan. Fairli seperti ini karena ia tauh siswi di SMA 1 Garden memiliki kecantikan di atas rata-rata melebihi dirinya.


"Benar sekali karena yang mendaftar bukan hanya anda," asisten Yuxio mengambil kertas di laci kemudian menyimpan nya di atas meja, memperlihatkan ke arah Fairli sederetan nama siswi yang mendaftar diperlombaan.


"Begitu banyak yang mendaftar dari sekolah yang sama dengan anda, interview telah selesai untuk penjelasan lebih lanjut akan kami kabari kembali."


Fairli menghela nafas panjang, niat ingin mendapatkan uang dengan kecantikannya harus gagal.


"Baiklah terimakasih asisten Yuxio," Fairli menunduk untuk menghormati pria didepan nya kemudian berjalan kearah pintu dengan lesu.


"Sepertinya aku tidak perlu ikut lomba," gumam Fairli diiringi anggukan kepala seolah pikiran dan tubuhnya bekerja sama karena bagaimanapun ia akan kalah sebelum memulai.


"Jangan patah semangat nona Fairli saya melihat aura kesuksesan didiri anda saat ini," suara asisten Yuxio dibelakang sana membuat Fairli berbalik.


Kesuksesan? terlihat di dirinya? jangan gila, tentu saja seperti itu karena kedepannya ia akan sukses untuk membahagiakan orang tuanya.


"Bukan itu maksud saya, anda akan lebih sukses ketika telah masuk kedalam perusahaan kami. Anda di minta langsung oleh pak Zan untuk di interview bukan?" Yuxio kembali menjelaskan ketika melihat wajah gadis di depannya yang sangat mudah ia tebak.


"Pak Zan? saya tidak kenal," ucap Fairli setelah beberapa lama terdiam dengan kening berkerut mengingat-ingat apa sekiranya ia kenal dengan nama yang disebutkan asisten Yuxio dan ternyata tidak.


"Dia yang meminta anda untuk interview ke sini."


Oh jadi pak Zan adalah tangan kanan perusahaan JM.T. Fairli mengangguk-angguk paham.


"Saya mendapatkan telpon dari pak Zan sebelum anda masuk, dengan begitu saya jadi yakin bahwa anda benar-benar bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi selebriti. Sekedar info perusahaan JM.T tidak segan-segan menjadikan siapa saja yang memiliki keinginan besar untuk mendapatkan nama yang dikenal banyak oran."


Fairli terdiam, apa benar ia bisa berkesempatan untuk menang lomba nanti? tidak, saingannya terlalu berat-berat. Dari sekolahnya saja semua siswi disana pada menang segalanya apalagi ia mulai bersaing lebih serius dengan yang lainnya.


"Terimakasih meski begitu aku tetap tidak perlu melanjutkan lagi," Fairli menunduk, berniat melanjutkan langkah nya.


"Jika menang anda akan mendapatkan uang tunai sebesar 100 juta dolar Amerika Serikat juga berkesempatan menjadi bintang yang dikenal banyak orang, belum juga anda akan mendapatkan tiket resmi untuk liburan dengan salah satu senior papan atas dari perusahaan JM.T sesuai pilihan yang anda mau," Yuxio menerangkan. Fairli tersentak mendengar hadiah yang akan ia dapatkan ketika menang nanti.


"Kenapa anda mengatakan lebih dulu hadiah pemenang pada saya padahal belum tentu saya bisa masuk untuk bersaing di ajang kecantikan yang di adakan perusahaan ini." Benar Fairli di buat bingung dengan ucapan asisten Yuxio sedari tadi, pasalnya pria ini seakan tidak ingin membiarkan ia lepas begitu saja.


Bibir Yuxio terangkat membentuk sebuah senyuman lebar.


"Sepertinya terlalu terlihat ya kalau saya sangat ingin anda masuk ke lomba ajang kecantikan yang di adakan perusahaan ini. Kecantikan yang anda miliki sungguh di atas kriteria, wajah yang anda miliki sekarang ini akan membawa nama anda melejit tinggi," terlihat Yuxio menyilangkan kakinya sembari menatap intens gadis didepan nya yang masih diam seakan mencerna kata-kata yang barusan dia dengar.

__ADS_1


Apa benar keberuntungan akan berpihak padanya? menjadi selebriti adalah keinginan semua orang, bohong kalau Fairli tidak menginginkan itu.


Hadiah yang dijanjikan tidak main-main, uang tunai sebesar 100 juta dolar? gila aja ia bisa menjadi kaya raya hanya dengan menang dalam satu konteks kecantikan. Sebenarnya sekaya apa perusahaan ini? bagaimana bisa mengeluarkan uang sebesar itu untuk pemenang.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Mohon doa nya agar saya menang untuk bersaing dengan teman-teman sekolah saya," Fairli menunduk, berbalik lalu berjalan melangkahkan kaki jenjang nya meninggalkan ruangan asisten Yuxio.


"Tentu saja."


Di sana Yuxio terus mengembangkan senyumnya, gadis itu benar-benar menarik. Tangannya perlahan mengambil Handphone di atas meja guna menelepon seseorang yang mungkin saja sedari tadi menunggu telpon nya.


"Bagaimana?" Suara dari sebrang sana terdengar, Yuxio tau apa yang perlu ia jawab untuk membalas nya.


"Sepertinya aku tauh kenpa kau tadi menelpon untuk memintaku melihat langsung. Dia memiliki bakat besar yang terpendam untuk perusahaan, bukan begitu pak Zan?" Yuxio bertanya meskipun ia sudah sangat yakin dengan jawaban dari pertanyaannya sendiri tetapi, ia ingin mendengar langsung.


Terdengar suara tawa dari sebrang, "Menyebalkan. Kau sungguh tauh segalanya."


* * *


Di hari seperti biasanya, kini Fairli datang kembali kesekolah di hari kedua sebagai murid baru di SMA 1 Garden. Sedari masuk tadi Fairli di sungguhi kehebohan satu sekolah tentang dirinya yang masuk di ajang kecantikan.


Saat ini Fairli, Jessy dan Eli tengah makan di meja kantin yang posisinya terletak di paling ujung. Suara bisikan tetangga yang ia dengar di sekeliling membuat Fairli keringat dingin.


Ia tidak percaya bakal mendapatkan perhatian publik kembali namun yang pasti nya dengan keadaan yang berbeda. Kalau dulu ia mendapat hampir semua berisi kritikan tetapi kali ini banyak yang menyanjung dirinya.


"Berita tentang lu yang di minta langsung oleh tangan kanan perusahaan JM.T terkenal se intro sekolah," heboh Jessy dengan senyum merekah, tidak heran jika Fairli bakal terkenal karena gadis itu memiliki wajah yang begitu cantik.


"Gua gak kaget sih, lu kan kalau masalah nyebarin apa-apa pasti bakal banyak yang tauh. Namun dari pada itu sosok Fairli sudah pasti bakal terkenal." Elis menyeruput teh jus di tangannya dengan santai.


"Bisa aja," kekeh Jessy.


"Eli juga mendaftar untuk ikut konteks kecantikan jenjang SMA yang di adakan perusahaan JM.T," Teriak Jessy heboh, seketika Fairli menoleh ke arah Eli seakan menanyakan apa perkataan Jessy saat ini benar.


"Iyah," kekeh Eli sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak enak dengan Fairli karena kedepannya mereka akan bersaing.


Fairli bingung ingin berkata seperti apa, rasanya aneh saja jika ia harus bersaing dengan teman yang sekarang telah menjadi sahabatnya.


"Lu mikir apaan, Li?" Jessy menepuk punggung Fairli ketika gadis itu hanya diam saja.


"Hah? enggak mikir apapun, aneh aja kalau aku bersaing dengan sahabatku sendiri," Fairli mengusap pelan tenguknya, tertawa kaku ketika kedua memandangnya.


"Maaf banget ya, gua ngerasa enggak enak sama lu," Eli menundukkan wajahnya dan langsung saja Fairli menahan punggung gadis itu ia menggeleng sebagai jawaban.


"Tidak, aku yang harusnya minta maaf. Gara-gara aku kamu jadi bersaing dengan ku." Fairli menatap sendu ke arah gadis berambut panjang di depannya.


"Gua―"


"Boleh foto bareng enggak?"


Fairli tersentak ketika benda pipih keluaran terbaru terpampang tepat di wajahnya. Mata Fairli mendongkak menatap pemilik handphone tersebut.


"Wah siapa nih yang tiba-tiba motong pembicaraan gua? Fairli lu baru dua hari sekolah di sini udah populer aja," goda Eli di akhiri kekehan, Tidak lupa ia tersenyum pada sang pria yang tiba-tiba saja memotong ucapannya seenak jidat.


"Ini mungkin sudah hal wajar terjadi. Mungkin saja di sekolahnya yang lama justru lebih banyak ketimbang di sisi, senangnya memiliki teman yang cantik." Jessy menangkup pipinya sendiri, pandangan nya ke arah Fairli terlihat jelas bahwa gadis itu begitu mengagumi nya.

__ADS_1


Jessy saja seorang wanita begitu senang memandang wajah Fairli apalagi seorang pria.


Berbeda dengan Fairli yang kini tersenyum kaku. Terlihat jelas senyumnya yang mampu membuat bola mata gadis itu tertutup. Sungguh sangat manis sekali, begitulah kira-kira yang di artikan pria blasteran china-belanda didepan Fairli.


"Boleh kok," mengangguk perlahan, Fairli mengambil benda pipih yang di sungguhi untuknya, di sana tampilan kamera seketika terlihat, tentunya sang pemilik telah menyalakan terlebih dahulu sebelum di berikan pada Fairli.


"Maksud gua cuman kita berdua saja." Pria itu menggaruk tenguknya yang tidak gatal saat gadis yang ia idolakan berbalik ke belakang untuk mengambil foto alhasil Jessy dan Eli juga ikut dalam tampilan kamera tersebut.


Fairli terdiam, ia menatap kedua sahabatnya. Perasaan tidak enak tiba-tiba saja hinggap di hatinya. "Maaf kalau tidak dengan kedua temanku aku tidak bisa," Fairli membungkuk beberapa kali, ia merasa tidak enak menolak tetapi ia lebih merasa tidak enak lagi jika kedua sahabatnya tidak di ajak berfoto bersama.


Terlihat pria itu menatap ke segerombolan teman-teman nya yang sedari tadi memperhatikan mereka, salah satu temannya mengatakan untuk berfoto saja, mau bagaimana lagi jika itu keinginan sang pujaan hati.


"Yaudah foto bersama-sama."


Fairli tersenyum, mengarahkan kamera ke arah mereka berempat kemudian dengan sekali jepretan. Hasilnya begitu sempurna.


"Gila Fairli cantik banget!" Teriak pria itu sembari membawa handphone nya ke arah teman-teman nya yang kini bersorak senang.


"Aaaa gua terharu sama lu." Jessy menekukkan bibirnya kebawah sembari memeluk tubuh Fairli. Sang empu mengangguk antusias.


"Lu bukan merasa kasihan sama kita kan?"


Fairli dan Jessy menatap ke arah Eli secepat kilat, Fairli menggeleng kuat. Bagaimana bisa gadis itu berfikir seperti itu.


"Sungguh aku bahkan tidak pernah berniat berfikir begitu."


"Benar, tolong deh hilangin sifat lu yang aneh itu dengan sahabat lu sendiri." Jessy tidak habis pikir dengan pemikiran yang di simpulkan Eli dari perlakuan Fairli tadi.


Setelahnya suara tawa Eli menggema di seisi kantin, Fairli dan Jessy yang mendengar itu pun mengeryit aneh.


"Gua bercanda elah." Eli menepuk bahu kedua gadis di sampingnya.


"Lu ngadi-ngadi anj." Ucap Jessy dengan umpatan yang tertahan.


"Bikin khawatir aja tauh."


Eli hanya tersenyum menanggapi balasan sahabat nya, ia mengatur duduknya lalu menatap kedua gadis yang masih memandang dirinya.


"Gua liat jadwal, besok para senior perusahaan JM.T bakal datang buat memilih kandidat dari sekolah kita untuk menentukan siapa yang akan masuk ke lomba ajang kecantikan dari perusahaan mereka."


"Benarkah?" Eli bertanya pada Jessy yang baru saja mendapatkan notifikasi dari jadwal mengenai lomba yang katanya sedang viral hampir di seluruh dunia, tentunya bakal banyak yang ingin masuk ke lomba ajang kecantikan yang didirikan perusahaan JM.T yang mana orang-orang yang masuk ke sana namanya bakal terkenal dan besar. Itu kenapa Eli sangat ingin masuk kedalamnya.


"Dan info baru saja di kabarkan lewat media mereka bahwa kalian harus bersaing terlebih dahulu, satu sekolah hanya boleh memiliki dua perwakilan saja. Bisa bayangin kalau di antara kalian berdua harus bersaing?"


Fairli tidak kaget lagi ketika Jessy mengatakan bahwa mereka harus saling bersaing terlebih dahulu karena ia telah mengetahuinya dari asisten Yuxio kemarin. Berbeda dengan Eli yang kini terkejut setengah mati.


"Bersaing terlebih dahulu? berarti―"


"Benar sekali, kalian harus ikhlas jika di antara kalian tidak sampai terpilih," potong Jessy padahal Eli belum menyelesaikan ucapannya.


kring... kringg.. kringgg


Suara bel tanda jam pelajaran masuk terdengar, Jessy menarik tangan Fairli dan Eli untuk secepatnya masuk ke kelas mereka karena kali ini pelajaran matematika yang mana guru mapel tersebut selalu datang tepat waktu dan akan menghukum siapa saja yang terlambat di mata pelajarannya meskipun hanya sedetik. Seram sekali bukan?.

__ADS_1


Pikiran Fairli berkelana, membiarkan tangannya ditarik semuanya oleh gadis berkabut sebahu itu. Entah kenapa saat ini pikirannya bimbang, ketika salah satu sahabat nya ikut masuk dalam perlombaan ini ia jadi ragu untuk melanjutkan.


Ia takut kalau nanti nya Eli tereliminasi dan ia juga takut kalau nantinya ia yang akan terpilih untuk bersaing dengan orang-orang terpilih dari sekolah lain. Bukan terlalu percaya diri Fairli hanya takut hal itu benar-benar terjadi dan pasti sangat sulit untuk nya.


__ADS_2