
Setelah kejadian di toko buku. kini kamar Bian penuh dengan buku yang sudah dikirim Sean untuknya.
Kemarin juga Bian dengan susah payah beralasan tidak ingin Sean mengantarnya pulang. Bian tidak ingin Sean tahu dimana ia tinggal. Itu akan membuatnya semakin sering bertemu dengan Sean . Karena ia tahu Sean pasti akan selalu datang untuk mengajaknya pergi kesekolah atau sekedar mengantarnya pulang.
Sejak pertama kali sekolah di sekolah Bian yang baru. Bian dan Sean selalu terjadi perang dingin. Bian tidak suka tiap kali Sean menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi Sean sering kali mengerjai teman-temannya yang dekat dengannya apalagi lawan jenis. Bian merasa seperti selalu diawasi oleh Sean. Bian tidak tahu banyak tentang Sean yang ia tahu Sean seorang ketua OSIS dengan popularitas yang luar biasa di sekolah. Ia selalu jadi incaran para gadis populer di sekolah. Namun anehnya Sean selalu bersikap dingin kepada mereka yang ingin dekat dengannya, berbeda saat ia dekat dengan Bian. Padahal mereka tidak terlalu dekat di sekolah. Hanya belakangan ini Sean selalu saja mengganggu dan berusaha mendekati Bian dengan terang-terangan. Seolah-olah Sean ingin menunjukkan bahwa Bian hanya miliknya dan Sean ingin menegaskan kalau Bian wanita yang Sean sukai. Makanya tak jarang Bian selalu jadi sasaran empuk para fans Sean yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Meski kenyataanya kedekatan sepihak saja. Hanya Sean yang selalu mendekati Bian.
setiap kali ada Sean Bian terasa seperti di neraka. Bian sama sekali tidak suka cara Sean disekolah yang menegaskan kepada semua para lelaki penghuni sekolah kalau Bian miliknya.
Semua yang Sean lakukan tidak pernah Bian setujui bahkan Sean tidak sungkan untuk bersikap mesra dan berkata manis dihadapan semua penghuni sekolah.
Citra Sean ketua OSIS dingin dan cuek tidak berlaku di depan Bian. Sean seperti cowok bucin yang lebih alay dan lebay bagi Bian.
Maka dari itu Bian berusaha menghindar dan menjadi dari Sean. Meskipun sangat mustahil. Bian sama sekali tidak punya kebebasan berada di sekolah.
Bian tak ingin Sean mengganggunya di luar sekolah. setidaknya Bian bisa bergerak bebas di luar sekolah. Bian berusaha mati-matian menghindar tiap kali Sean ingin mengantarnya pulang.
Tapi tanpa ia sadari Sean sudah tau dimana ia tinggal buktinya semua buku ini sampai dirumahnya dengan selamat. padahal ia belum memberi tahu alamat Kepada petugas toko. (dasarr peak... hahahπ€£...ssttt autor. Jangan sampai Bian sadar ntar cepet tamat ni ceritaπ)
kembali ke cerita yaπ
"Haissttt... pria itu. membuat kamarku seperti perpustakaan" gumamnya saat melihat isi kamarnya yang penuh dengan tumpukan buku.
Beberapa saat kemudian handphone Bian berdering, ia meraihnya dengan malas.
" Kenapa..π€¬!!!" jawab Bian dengan nada ketus.
ternyata yang menghubunginya adalah Sean
(".....")
" Ogah... sapa juga yang mauπ‘." Jawab Bian masih dengan nada ketuanya.
("...)"
" Emang Lo tau peaak..π€¨." Jawab Bian dengan menyunggingkan seutas senyum meremehkan.
("....")
" Gue tungguπ€ͺ." Jawab Bian dan mematikan sambungan telepon tersebut tanpa menunggu aba-aba.
__ADS_1
" Cih... sok tau banget. masih ngotot tau segalanya tentang gue. siap dia cih..π." Gumamnya kesal dan melempar handphone miliknya di sembarangan tempat.
Bian segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia ingin pergi kesuatu tempat untuk meregangkan otaknya yang sedikit lelah.
ππππππππππππππππ
" Wahhh... Lo datang jugaπ?" Tanya bihan saat membuka pintu rumahnya yang beberapa detik yang lalu ada yang mengetuk.
" Iya donkk.. demi adek Loπ." Sahut Sean dengan senyum manisnya yang begitu menawan.
" Bucin karet Lo..π " Ledek Bihan.
" Yang gue bucinin kan juga kesayangan Lo broπ₯°." Sahut Sean yang tak mau kalah dengan Bihan.
Bihan mempersilahkan Sean untuk duduk.
" Mau minum apa Lo." Tanya bihan kepada Sean yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
" Apa aja seikhlas Lo βΊοΈ" Jawab Sean yang mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru rumah mencari sosok yang ingin di temuinya.
" Cih.. gue ikhlas nya racun tikus Lo mauπ." Jawab Bihan seraya melenggang menuju dapur yang tak jauh dari sana untuk membuatkan sahabatnya itu segelas minuman.
" Biasa paling masih dikamar mungkin bebenah. Salah Lo buat kamarnya penuh dengan buku.π" Jawab Bihan yang masih sibuk membuat segelas minuman untuk Sean dan dirinya.
Sean tersenyum saat mengingat kejadian di toko buku. Ia sengaja melakukan itu untuk membuat gadis itu kesal dan tentunya sedikit perhatian padanya.πππ
πππ
Setelah selesai dengan ritual mandinya Bian berganti pakaian hari ini ia ingin pergi bersama dengan sahabatnya. Sekedar membuang penat dan cuci mata.π
Setelah siap Bian turun menuju dapur untuk sarapan karena perutnya sudah memberontak untuk segera diisi.
Betapa terkejutnya Bian saat melihat Sean yang sudah duduk dengan pakaian cool nya sedang asih berbincang ria dengan kakak lebay nya.
" Sejak kapan Lo disiniπ€¨? tau rumah gue dari siapa? trus kenapa lo kenal sama kakak gue?π§ ada hubungan apa Lo sebenarnnya?π dan siapa Lo sebenarnya sih?" cerocosnya yang membuat Bihan dan Sean hanya ternganga mendengar celotehan Bian yang tak ada jedanya. Bagaikan bajaj rem blong.
" Wee... peaak nanyak tuh satu- satuπ . Kayak reem blonk Lo" umpat Bihan kesal.
" Lo gak usah ikut campur jegongπ‘.. ini urusan gue sama si ketos sok cakep nih." Jawab Bian yang tak kalah sengitnya dan melemparkan tatapan tak suka dengan Sean yang masih memasang wajah gantengnya dengan senyum yang terukir jelas di bibirnya. Itu malah semakin membuat Bian murka bagaikan gunung api yang siap meledak.π€―
__ADS_1
" Jelas gue harus ikut campur Lo udah membuat tamu gue nggak nyaman peak"π Kesal Bihan lagi
" What tamu Lo. Sejak kapan Lo kenal ni ketos?π trus Lo kenal dimana? sejak kapan? kok gue nggak pernah tau klo Lo temenan sama ni ketos. padahal gue kan adik..El..."π€¬Kata Bian terhenti saat tangan Bihan dengan cepat menutup mulut Bian yang seperti kereta api itu. Membombardirnya dengan pertanyaan.
" Elo diem deh... gue mau gila denger Lo ngomong apa lagi Lo nanyak kayak penyidik kepolisian tau gak.."π΅ Jawab Bihan dan kemudian Bian dengan cepat melepaskan tangan kakaknya yang sedang menutupi mulutnya.
" Makanya elo jelasin sama gue. elo kenal ni binatang dimana?" Kata Bian dengan tatapan sinis kearah Sean.
" Gila Lo anak orang Lo bilang binatang gak ada sopan-sopannya Lo. π"Kesal Bihan yang sedang menoyor kepala Bian
" Ya klo gak binatang trus apa dia Dateng gak di undang tiba-tiba aja nongol. π€ͺ" Cercanya lagi.
" Mulut cabe lo"π‘ Kesal Bihan
" Biar Wee..."π€ͺ
Sementara itu Sean hanya diam menyaksikan pertempuran sengit kedua saudara itu. Sena hanya tersenyum simpul melihat Bian begitu terkejut ia berada di rumahnya. Padahal selama ini Sean tau kalau Bian menghindar untuk diantar pulang selalu saja beralasan pergi bersama teman-temannya, atau pergi kesuatu tempat. Sean paham, tapi dengan rasa sayang yang Sean rasakan untuk gadis itu ia tidak pernah masalah. karena baginya melihat senyum Bian dan Bian merasa nyaman didekatnya itu sudah cukup. meskipun kenyataanya sean dan Bian selalu adu mulut bisa sudah bersama. namun Sena selalu menikmati momen itu.
Sean mulai angkat bicara untuk menengahi pertengkaran Meraka.
" Gue sama Abang Lo. gue punya kuasa atas Lo Bian Margaretha Bastian.π" Ucap Sean yang membuat Bian semakin melotot sementara Bihan hanya tertawa kecil melihat adiknya seperti itu.
" Maksud Lo apa ahh?π‘" Kesal Bian
" Lo itu calon tunangan gue.π₯°" Jawab Sean dengan percaya diri
" PD amat Lo π‘jadi orang. sejak kapan Lo jadi tunangan gue. dan gue mau gitu... ngggggaaakkk"π€¬ Jawab Bian semakin kesal.
" Lo tunggu aja yang jelas Lo tunangan gue. Gue punya semuanya yang ada di Lo,dan sebentar lagi acara tunangan kita"βΊοΈ
" hisshh... mimpi kali Lo."π€ Jawab Bian dan segera melenggang pergi.
" Ehhh... peak kemana Lo?"π€¨Umpat kesal Bihan
" Kesurga.... ikut!!" π€ Kesal Bian seraya menghentakkan kakinya dan melangkah pergi.
Sean hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Gadis yang selama ini selalu mengisi tiap inci dihatinya. Entah sejak kapan rasa sayang itu ada.
πcinta seperti jailangkung. datang tak pernah di undang pergi pun tak bilang...π€£π
__ADS_1