
Januari, 2016
Namaku Rima, aku mahasiswi semester 4 fakultas kesehatan masyarakat di sebuah universitas negeri ternama di kotaku. Selain sibuk kuliah aku juga lumayan aktif di organisasi palang merah yang ada di kampusku. Sebenarnya jarak rumah dan kampusku tak terlalu jauh. Tapi memakan waktu 1 jam dari rumah ke kampus. Karena ibu tak mengijinkanku mengendarai motor maka aku dianjurkan untuk tinggal di tempat kost yang dekat dengan kampus. Urusan memilih kost ini juga atas persetujuan ibu. Harus kost khusus putri yang ibu kostnya juga tinggal menjaga kostan tersebut. Tempat kost harus ada jam malam dan tak sembarangan tamu pria bisa bertamu dan masuk ke dalam kost. Ya, itu adalah syarat rumah kost yang dikehendaki ibu untuk aku bisa tinggal di dalamnya. Aku adalah anak bungsu, perempuan satu-satunya, kedua kakakku laki-laki, membuat kedua orang tuaku menjadi over protectif terhadapku. Aku juga dilarang pacaran, makanya sampai usia hampir 21 tahun sekarang aku masih jomblo. Hehehe. Tapi aku memilih untuk nurut pada peraturan yang dibuat oleh orang tuaku. Toh itu semua untuk kebaikanku juga.
Aku terbangun dari tidur siangku ketika mendengar bunyi notifikasi dari ponselku. Susah payah aku membuka mata karena kantuk masih menguasaiku. Sambil menguap dan mengucek-ucek mata sebelah kiri aku bangun dan duduk di pinggiran kasur. Kuraih benda pipih itu dari atas meja rias di samping tempat tidurku. Dengan malas kuusap layar ponsel dan membaca pesan yang tertulis dari aplikasi berwarna hijau.
"Jangan tidur aja, buruan mandi". Tertulis pesan dari pengirim yang ku kenal. Mas Bayu yang mengirimkan pesan itu. Dia adalah senior di organisasi palang merah kampus yang aku ikuti.
Aku tak langsung membalas. Mataku masih berat. Kuputuskan untuk berbaring kembali di kasur dan memejamkan mata namun ternyata aku tak bisa terlelap kembali. Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul 13.30, lalu aku baru ingat belum menunaikan sholat dzuhur. Aku terkesiap dan langsung beranjak berdiri dan berjalan kedepan meja rias dekat kasurku. Gegas kuikat rambut panjangku ke atas dan dengan cepat pula kuambil kapas, kutuang cairan pembersih wajah di sana dan kuusapkan cepat ke wajah dan leherku. Setelahnya aku langsung keluar kamar dan segera masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Segar yang kurasakan ketika guyuran air ini mengenai ujung kepala hingga kakiku. Rasa kantuk seketika pergi digantikan rasa segar yang membuat kantukku hilang. Tak perlu waktu lama untuk mandi, aku segera mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi. Setelah berganti baju kutunaikan sholat dzuhur dengan khusyuk. Setelah selesai sholat kulepas mukena dan meletakkannya di sandaran kursi kamar kost yang sudah kutempati sejak 2 tahun lalu itu.
Selesai menunaikah sholat aku berbaring kembali di atas kasur. Lelah dan kantukku sudah hilang. Tapi kakiku terasa ngilu, kelelahan sepertinya. Ya, 2 hari lalu aku dan ke 3 temanku, Anita, Riska dan Adi bertugas menjadi tim medis di kegiatan ospek fakultas pertanian. Kegiatan ospek diadakan di area perkebunan kopi di kota kami. Jadi kami juga ikut menginap di rumah dinas perkebunan yang terletak di lereng gunung dengan udara yang cukup dingin namun aku suka suasananya. Bangunan perumahan peninggalan belanda berdiri di area perkebunan. Hampir semua rumah yang ada di sini adalah peninggalan belanda. Rumah-rumah ini ditinggali oleh para pekerja perkebunan bersama keluarganya.
Selama 2 hari 3 malam aku bersama ke 3 teman dari organisasi palang merah bertugas menjadi tim medis di sana dan baru tadi pagi kegiatan selesai dan aku kembali ke kostan. Kegiatan menjadi tim medis di sana cukup melelahkan, makanya sesampainya di kostan aku langsung tertidur seperti orang pingsan tanpa mandi terlebih dahulu.
Sibuk dengan pikiranku sendiri tiba-tiba aku teringat pesan yang dikirim Mas Bayu di aplikasi hijau. Langsung kuambil benda pipih itu dan kuusap layarnya. Kucari pesan yang dikirim oleh Mas Bayu. Aku membacanya kembali sekilas dan tersenyum. Kuketik cepat pesan balasan untuknya.
"Udah. Tidurnya juga udah cukup". Kukirimkan pesan itu untuk Mas Bayu.
__ADS_1
"Gimana tim medis kemarin? Aman? " Balas Mas Bayu lagi.
"Aman. Tapi aku masih capek bgt. Kurang tidur aku selama di sana. Banyak peserta yang pingsan karena hipotermia".
"Ada yang kesurupan gak?".
"Gak ada. Takut setannya sama Adi. Hahaha". Balasku.
Adi, temanku yang berbadan tambun memang sering jadi bahan olok-olokan kami. Tapi dia tidak pernah marah. Dalam setiap kegiatan tim medis dia selalu ditugaskan karena dia cukup cekatan menangani orang pingsan atau terluka.
"Gimana kelanjutan acara refreshing?" Balas Mas Bayu lagi beberapa menit kemudian
"Jadi. Bulan depan. Pantai Papuma". Balasku cepat.
"Rim, kamu udah makan? Beli makan yuk, aku lapar". Terdengar suara Hesti di luar kamarku. Aku bangun dari kasur dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ya ampuuun Rimaaa. Berapa hari sih kamu pergi tim medis? Lihat, kucel sekali mukamu. Kamu pasti lupa pakai sun block. Itu mata kamu kenapa hitam berkantung begitu? Pasti lupa pakai cream mata ya? Percuma kamu beli banyak skin care kalo gak dipake Rim". Hesti mulai nyerocos. Dia memang sering mengomel padaku kalau aku sudah terlalu sibuk di kegiatan organisasi. Aku hanya manyun mendengarkan Hesti mengomel.
Hesti masuk ke dalam kamar lalu duduk di kursi dekat tempat tidur. Aku mengikutinya dan duduk bersila di atas kasur.
__ADS_1
"Aku lapar. Beli makan yuuukk". Ajak Hesti kemudian. Aku juga baru ingat belum makan siang. Terakhir tadi pagi aku sarapan hasi bungkus yang disiapkan panitia ospek.
"Kita pesan aja yuk, malas aku jalan keluar". Jawabku
"Oke lah. Aku pesan di aplikasi aja kalau gitu. Aku mau beli ayam bakar. Kamu mau apa?". Tanya hesti sambil mengusap-usap layar ponselnya mencari menu ayam bakar di aplikasi pesan antar makanan.
"Samain aja deh. Tambah es jeruk ya". Kataku pada Hesti yang masih sibuk mengusap-usap layar ponselnya.
20 menit kemudian makanan yang kami pesan datang dan kami langsung menyantap ayam bakar sambil menonton acara infotainment di TV di ruang tengah kostan kami. Selesai makan kami bergegas mersihkan piring bekas makan kami dan lanjut menonton acara infotainment di TV.
Ting tung. Tiba-tiba bel pintu kostan berbunyi.
"Cari siapa?" Teriak Hesti dari ruang TV. Bel pintu kostan terletak di depan pintu ruang tamu. Sedangkan jarak ruang tamu dan ruang TV dipisahkan oleh tempat parkir motor. Jadi harus berteriak ketika bel pintu berbunyi.
"Rima". Jawab tamu yang baru saja memencet bel pintu. Aku dan Hesti saling berpandangan. Tapi aku hafal betul pemilik suara dari orang yang baru saja memencet bel.
"Bentar ya Hes". Kataku menepuk bahu Hesti.
"Ciyee, siang-siang ada yang ngapelin". Ledek Hesti saat aku berjalan setengah berlari ke arah ruang tamu.
__ADS_1
Pintu kostan kami memang selalu terbuka. Jadi setiap tamu yang datang bisa langsung masuk dan duduk. Dan sekarang aku tengah melihat sosok pria yang sedang duduk di kursi panjang ruang tamu kostanku. Aku berdiri terpaku melihat pria yang sedang melempar senyum kepadaku. Sosok pria bertubuh tinggi, hidung mancung, yang ketika tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang berjajar rapi. Rambutnya selalu jatuh menutupi sebagian dahinya.
Deg. Aku masih berdiri mematung menatap sosok pria yang sedang duduk di ruang tamu kostanku sambil memamerkan senyum manisnya. Ya, dia Mas Bayu. Seniorku di organisasi kampus. Pria yang dicap playboy dan jadi primadona gadis-gadis di organisasi, terutama anggota baru. Tumben dia ke kostanku. Mau ngapain dia? Aku bertanya-tanya dalam hati.