Senja Di Bulan Maret

Senja Di Bulan Maret
Tim Medis


__ADS_3

Tim Medis Ospek


Sore ini aku bersama Adi dan Fatma bertugas menjadi tim medis kegiatan ospek ruang Fakultas Pertanian. Ketika ada kegiatan kampus seperti ospek, upacara atau kegiatan lain organisasi kami memang selalu ditugaskan untuk menjadi tim medis. Tentu saja kami sudah dibekali pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama pada waktu diklatsar dan juga latihan rutin setiap 2 minggu sekali setelah kami resmi menjadi anggota.


Tepat pukul 5 kami sudah berkumpul di sekret. Tampak Fatma sudah ditemani oleh Mas Fandi, pacarnya. Fatma sebenarnya masih lelah setelah baksos kemarin, namun tetap kupaksa ikut menjadi tim medis karena anggota lain masih sibuk kuliah. Adi juga sudah bersiap dengan tas merah berlogo palang merah berisi perlengkapan P3K. Mas Fandi juga anggota organisasi palang merah. Dia satu angkatan dengan Mas Bayu. Dari awal kami ikut diklatsar Mas Fandi sudah naksir sama Fatma, dan mereka sudah jadian sejak 6 bulan yang lalu. Sementara Mas Bayu cintanya juga sudah berlabuh pada Sinta sejak pertama kali Ia mendaftar di organisasi ini. Sinta, gadis manis berjilbab asal Magetan yang terkenal pintar di kampusnya, tapi sayang dia jarang aktif di organisasi ini karena kesibukan kuliahnya. Mas Bayu langsung katakan cinta pada Sinta setelah diklatsar berakhir dan Sinta menerimanya. Namun sayang, kabarnya kisah cinta mereka sudah berakhir beberapa bulan yang lalu.


"Eh Rim, aku ikut tim medis ya". Kata Mas Fandi begitu melihatku datang.


"Boleh. Makin rame makin seru kan". Aku mengiyakan.


"Ya udah, kita berangkat sekarang yuk. Nanti sholat maghrib di masjid Faperta aja". Kata Fatma sambil menepuk pundak Mas Fandi.


"Oh iya, kamu boncengan sama Adi ya Rim". Lanjut Fatma lagi. Aku mengangguk.


"Gak usah, Rima biar aku aja yang antar". Mas Bayu tiba-tiba muncul dari dalam ruangan sekretariat. Tampak dia juga sudah menggenggam kunci motor. Aku yang kaget melihat dia tiba-tiba muncul.


Dia berjalan melewati Adi yang duduk terbengong di atas motor.


"Ayok buruan. Gak lama lagi Maghrib". Ucap Mas Bayu sambil naik ke atas motornya. Aku buru-buru duduk di belakangnya dan membenarkan posisi dudukku. Jujur, ini pertama kalinya aku dibonceng olehnya.


Motor Mas Bayu langsung melaju meninggalkan halaman sekret disusul oleh motor Mas Fandi dan Adi. Sayup-sayup ku dengar suara shalawat dari Masjid kampus pertanda sebentar lagi Adzan Maghrib berkumandang. Karena jarak sekret dan kampus Faperta cukup dekat, hanya memerlukan waktu tidak sampai 5 menit untuk sampai kesana.


"Nanti pulangnya kabarin ya". Kata Mas Bayu setelah aku turun dari motornya. Aku mengangguk dan langsung berbalik badan bersiap menyusul Fatma, Mas Fandi dan Adi yang sudah berjalan di depan. Tapi langkahku terhenti ketika tangan Mas Bayu menarik tas punggungku tiba-tiba. Aku terpaksa berbalik badan menghadapnya lagi.

__ADS_1


"Jangan malam-malam pulangnya. Ingat, kostan kamu tutup jam 10 malam". Aku tersenyum mendengar ucapan Mas Bayu.


"Trus gak usah Tepe-tepe sama siapa tuh namanya, si Andika. Ya, Andika yang ketua panitia ospek itu". Sekarang aku tertawa ngakak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Mas Bayu.


"Hahaha..Apaan sih Mas". Aku masih tertawa.


"Ya pokoknya gak boleh". Lanjutnya lagi.


"Udah kayak Bapakku aja kamu tuh Mas. Banyak banget pesan-pesannya. Udah ah, aku masuk ya". Ucapku meninggalkan Mas Bayu dan berjalan menyusul ketiga temanku.


Adzan Maghrib berkumandang tepat setelah kami masuk ke ruangan tempat ospek. Panitia menyambut kami dengan ramah, termasuk Andika, ketua panitia ospek. Kami bersalaman lalu pamit sebentar untuk menunaikan sholat Maghrib sebelum memulai tugas sebagai tim medis.


Selesai sholat Maghrib kami duduk meleseh di belakang tempat duduk peserta dekat pintu masuk dengan beralaskan karpet. Di sebelah kami duduk juga ada kasur untuk berjaga-jaga jika ada peserta yang sakit. Menjadi tim jedis ospek ruang tentu berbeda dengan menjadi tim medis ospek lapang. Di lapangan lebih banyak tantangannya. Peserta biasanya mudah jatuh sakit akibat kedinginan atau dehidrasi. Beberapa bahkan diare karena perutnya tidak terbiasa makan makanan yang panitia sediakan di lapangan. Belum lagi yang kesurupan. Aduuuhh, di luar kuasa tim medis sih kalo ini. Hehehe...


"Mbak, Mas. Ini sambil ngemil-ngemil. Maaf adanya cuja ini". Andika datang mengahampiri kami sambil meletakkan beberapa kotak snack. Dia juga ikutan duduk meleseh bersama kami berempat.


Kulirik sekilas wajah Andika. Ya, cowok manis yang sekarang duduk di depanku ini bener-bener sopan dan baik sejak pertemuan pertama kali kami di ospek lapang beberapa waktu lalu. Dia juga selalu cekatan ikutan menolong ketika ada peserta ospek yang jatuh sakit. Selain itu dia juga selalu tepat waktu mengantar makanan untuk kami tim medis meskipun sudah ada sie konsumsi di sana. Dan entah kenapa waktu itu aku jadi inget Rendy, cinta monyetku waktu SMA. Cinta monyet yang bertepuk sebelah tangan tepatnya. Hahaha.. Wajahnya mirip banget sama Rendy. Sopan dan baiknya pun sama. Aku juga sempat cerita sama Anita tentang Rendy dan kemiripannya dengan wajah Andika. Makanya setelah tim medis berakhir kadang dia suka ngolokin aku di kampus.


"Iihh, sumpah, Andika tuh baik banget lho Rim. Aku doain kamu jodoh sama dia". Begitu ucapan Anita kala menggodaku.


"Salah doanya Nit. Harusnya kamu doain supaya aku berjodohnya sama Rendy. Kan aku sukanya sama Rendy". Protesku.


"Diiihh, masih ngarep ya sama Rendy. Punya orang dia tuh Rim. Kayak gak ada cowok lain aja. Mau jadi pelakor kamu ya". Anita mulai sewot, dan aku hanya tertawa.

__ADS_1


"Rima, kok ngelamun sih?". Ucapan Andika mengagetkanku.


"Eh, iya, enggak kok". Aku berkilah.


"Waduuuh, bisa-bisa nanti yang kesurupan bukan peserta ospeknya nih, tapi tim medisnya". Mendengar ucapan Andika sontak kami berlima tertawa.


Kegiatan ospek malam ini alhamdulillaah berjalan aman, hanya ada satu orang peserta yang mengeluh pusing. Setelah kami memberikan obat pereda sakit kepala dan menyuruhnya istirahat sebentar tak lama kemudian dia sembuh dan kembali mengikuti kegiatan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.15 malam. Kegiatan ospek sudah hampir selesai dan kami berpamitan untuk pulang terlebih dulu. Andika mengantar kami sampai depan pintu gerbang kampus lalu segera kembali ke dalam setelah kami berempat naik motor.


Aku sengaja tidak mengabari Mas Bayu dan lebih memilih pulang diantar Adi. Ngapain juga aku kabarin dia. Kurang nyaman juga rasanya satu motor dengannya. Canggung. Ya, itu istilah yang tepat untuk menggambarkan perasaanku ketika berboncengan dengannya. Sementara dengan Adi, kami satu angkatan di organisasi ini. Kami juga biasa jalan ramai-ramai bersama teman yang lain. Dia juga yang biasa antar aku pulang ke kostan kalau ada rapat malam di sekret.


Baru beberapa meter motor Adi pergi meninggalkan kampus pertanian tiba-tiba kulihat sosok Mas Bayu sedang berjalan kaki ke arah berlawanan dengan motor Adi. Refleks Adi mengerem motornya dan berhenti. Sementara Mas Fandi dan Fatma meneruskan laju motornya.


"Mau kemana Mas malam-malam jalan kaki?". Adi bertanya pada Mas Bayu.


"Jemput Rima". Jawab Mas Bayu singkat. Agak sengit.


"Lhoh, kamu kok gak bilang sih kalo di jemput Mas Bayu Rim?". Aku diam tak menjawab pertanyaan Adi.


"Ya udah, kamu turun gih". Lanjut Adi menyuruhku turun dari motornya. Aku jadi terpaksa turun dari boncengan motor Adi dan berdiri tepat di depan Mas Bayu.


"Ya udah, aku duluan ya Mas, Rim". Adi berpamitan dan langsung tancap gas mrninggalkan kami berdua yang hanya saling diam.


Bersambung...

__ADS_1


*Faperta \= Fakultas Pertanian


*TePe \= Tebar Pesona


__ADS_2