Senja Di Bulan Maret

Senja Di Bulan Maret
Semilir Angin Malam dan Cerita yang Mengalir


__ADS_3

Adi meninggalkan kami berdua yang hanya saling diam tanpa sepatah kata. Masih di tempat yang sama kami berdiri mematung sambil sesekali saling melihat tapi malah jadi salah tingkah setelahnya.


"Pulang yuk, udah malam". Akhirnya Mas Bayu membuka suara. Aku mengangguk lalu berjalan beriringan di sebelahnya,


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.20 malam. Area kampus sudah terlihat lengang karena sudah tidak ada aktifitas mahasiswa lagi, kecuali di Fakultas Pertanian yang masih melangsungkan kegiatan ospek. Semilir angin malam berhembus membuat tubuhku menggigil kedinginan. Aku memasukkan tangan ke dalam saku jaket untuk mengurangi dingin yang menusuk badan.


"Kok jalan kaki, motor kamu mana?". Kali ini aku yang membuka suara.


"Dipinjam Sinta". Jawabnya sambil melihat lurus ke depan. Aku mengangguk-anggukkan kepala. Rupanya mereka masih sering ketemu meskipun sudah putus. Pikiran itu tiba-tiba terlintas di kepalaku.


"Kamu gak suka kalo aku jemput jalan kaki?". Kali ini Dia bertanya sambil melihat ke arahku.


"Ya gak papa. Aku kan cuma tanya". Aku membuang pandangan ke arah lain.


"Tadi Sinta bilang mau ke rumah temennya ngerjain tugas kuliah. Trus dia minta tolong aku suruh anterin karena motornya lagi di bengkel. Tapi aku nolak karena lagi sibuk ngerjain skripsi juga. Akhirnya aku taruh aja motorku di kostan dia, biar dia pake". Jelasnya panjang lebar.


"Oohh". Cuma itu jawabanku.


"Kok cuma oh sih?". Mas Bayu protes mendengar jawabanku.


"Terus aku harus jawab apa?". Aku terkekeh melihatnya protes.


Kami terdiam kembali. Kami telah sampai di depan gedung rektorat. Tampak beberapa petugas penjaga malam sedang duduk di tempat penjagaan dekat pintu gerbang masuk rektorat. Mas Bayu menyapa salah satu dari mereka saat kami berjalan melewati 4 orang penjaga yang sedang duduk-duduk sambil menikmati kopi. Setelah melewati gedung rektorat kami terus berjalan sampai di depan masjid kampus. Lampu di halaman masjid memberikan cukup penerangan untuk kami yang berjalan melewatinya.


"Gimana tadi, ada Andika juga gak?". Aku langsung memalingkan muka ke arah Mas Bayu mendengar pertanyaannya.


"Ya iya lah, dia kan ketua panitia". Jawabku


"Oohh". Hanya itu yang keluar dari mulut Mas Bayu.


"Kamu suka ya sama Andika?" Pertanyaan Mas Bayu sontak membuat tawaku pecah.


"Gosip dari mana?". Aku masih terkekeh.


"Anita cerita kemarin. Katanya Andika itu mirip pacar kamu waktu SMA. Atau jangan-jangan sampai sekarang kalian masih pacaran ya?". Selidik Mas Bayu


Aku menatap Mas Bayu lalu menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Bukan pacar Mas. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan". Ucapku lirih.


"Jadi, kamu nolak dia?". Pertanyaan Mas Bayu terdengar semangat sekali.


"Aku punya temen deket sejak SMA, namanya Rendy. Kami selalu bareng, bahkan waktu ikut tes masuk perguruan tinggi dulu kami bareng-bareng. Trus gak tau kenapa beberapa bulan terakhir aku tiba-tiba suka dia, tapi diam-diam dia sudah pacaran sama temen kampusnya. Jadi, ya gitu deh". Aku memutar bola mata. Malas sebenernya menceritakan kisah ini. Seperti membuka kembali luka lama. Tsaahh.


"Oohh, jadi kamu yang ditolak nih?". Mas Bayu tampak mengulum senyum. Aku diam saja tak menjawab. Malas menjawab lebih tepatnya.


"Trus pas tim medis ospek lapang faperta kapan hari tuh aku ketemu Andika yang mirip banget sama Rendy. Jadi aku keinget lagi deh. Trus aku curhat deh sama Anita. Rupanya dia ember, malah cerita ke Mas Bayu". Aku melipat tangan ke dada, sebal. Tawa Mas Bayu malah pecah.


"Tapi si Andika kayaknya naksir kamu deh. Waktu dia antar surat permintaan tim medis itu dia nitip salam buat kamu. Dia minta kamu yang datang jadi tim medis hari ini. Kebetulan waktu itu aku yang terima suratnya di sekret". Ucap Mas Bayu antusias. Tapi aku sudah malas menanggapi.


Kutarik tangan kiriku yang sedari tadi kumasukkan saku jaket, lalu kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 09.40 malam. Sebentar lagi kostanku tutup. Sepulang dari sini aku berencana membeli makan dulu karena perutku belum terisi dari sore tadi. Tapi sepertinya waktunya gak cukup. Takut pintu gerbang kostan keburu ditutup sama Pak Slamet, penjaga kostanku. Masak aku harus panjat pagar sih.


"Gelisah amat sih". Sepertinya Mas Bayu menangkap kegundahanku.


"Iya, bentar lagi kostanku tutup". Jawabku sambil memasukkan kembali tangan kiriku ke dalam saku jaket.


Krucuuuukkk. Aduh, perutku malah berbunyi. Malunya aku. Mas Bayu tertawa. Aku semakin malu. Pengen rasanya kututupin kepalaku pakai kresek.


"Laper?". Tanyanya dengan wajah masih tertawa. Aku memalingkan muka ke arah lain, tak menjawab pertanyaan Mas Bayu.


"Cuma snack aja". Lanjutku lagi.


"Pantesan. Kamu mana kenyang kalo cuma makan snack". Olok Mas Bayu. Aku memanyunkan bibirku sebal.


"Rencananya sepulang dari tim medis aku mau mampir beli makan, tapi gak sempat deh kayaknya. Takut keburu dikunci pintu pager kostannya". Kataku akhirnya.


"Udah, gak usah kuatir. Nih udah aku belikan nasi goreng babat 2 porsi buat kamu. Aku tau kamu makannya banyak tapi susah gendut kan". Tawa Mas Bayu pecah sambil mengangkat bungkusan kresek hitam berisi 2 bungkus nasi goreng. Aku hanya tersenyum tertahan mendengar ucapannya.


"Makasih". Aku mengambil bungkusan itu sambil tersenyum girang.


Kami sudah sampai di jalan besar. Tak seperti di dalam area kampus, jalan besar di sekitar kampus masih tampak ramai meskipun hari sudah mulai malam. Kami menyebrang ke seberang jalan dan terus berjalan menuju kostanku.


"Oh iya, gimana kegiatan baksos kemarin?. Aku lihat postingan Anita di facebook seru deh kayaknya. Nyesel aku gak ikut". Aku bertanya pada Mas Bayu.


"Seru banget. Pada semangat banget itu anak-anak SD di sana. Guru-gurunya juga. Laris manis si Deni banyak yang ngajakin foto bareng". Mas Bayu semangat menceritakan kegiatan baksos sambil sesekali terkekeh kala menceritakan tingkah laku anak-anak SD di sana. Sampai tanpa terasa kami telah sampai di depan kostanku.

__ADS_1


"Alhamdulillaah belum dikunci". Pekikku mendapati pintu pagar yang masih terbuka. Biasanya Pak Slamet sudah menunggu di depan pintu bersiap mengunci pagar. Tapi kali ini tak kulihat Pak Slamet berdiri di sini.


"Kalo dikunci pun nanti pasti aku bantu lompat pagar". Mas Bayu terkekeh.


"Apaan sih. Emangnya aku wanita apapun, apakah, apabila". Mas Bayu makin terkekeh mendengar jawabanku.


"Ya udah sana buruan masuk". Suruhnya padaku.


Tapi aku seperti enggan berpisah. Untuk beberapa waktu aku berdiri mematung di depan Mas Bayu.


"Hmm, Mas Bayu masih sering ketemu Sinta ya?". Entah kenapa pertanyaan tak masuk akal ini meluncur begitu saja dari mulutku. Mas Bayu tersenyum. Dan seperti biasanya, senyumnya selalu tetlihat manis dan memikat.


"Kadang-kadang". Ya, hanya itu jawaban yang kudengar dari Mas Bayu. Entah jawaban seperti apa yang ingin aku dengar darinya. Aku hanya diam menunduk sambil memainkan kerikil di atas tanah dengan sepatu.


"Rimaaaa, buruan masuk. Habis sudah darahku dihisap nyamuk nih gara-gara nungguin kamu". Terdengar teriakan Hesti dari dalam rumah lalu berjalan keluar menuju pintu pagar sambil berkacak pinggang. Kaget mendengar teriakan Hesti aku langsung mendongakkan kepala mencari sumber suara.


"Iya, iya, bawel". Aku memonyongkan bibirku setelah mendapari Hesti sudah berdiri di dekat pintu pagar.


"Ya udah, aku pulang ya". Pamit Mas Bayu padaku sambil tersenyum, lalu langsung berjalan ke luar gang. Aku juga langsung masuk ke dalam kostan sementara Hesti masih memasang gembok pintu pagar. Aku menunggu Hesti di ruang tamu, tak lama kemudian Hesti juga masuk dan mengunci pintu ruang tamu.


"Nih, pengganti darah yang dihisap nyamuk. Nasgor babat 1 porsi". Kataku sambil mengangkat bungkusan nasi goreng di dekat wajah Hesti. Senyumnya langsung mengembang.


"Tau aja kamu kalo aku lagi pengen nasi goreng". Katanya sambil mengambil bungkusan nasi goreng dari tanganku.


"Apa sih yang aku gak tau dari temanku yang paling baik dan cantik ini". Aku merayunya, dia malah mencebikkan bibirnya.


"Udah lama nunggunya?" Tanyaku pada Hesti sambil berjalan masuk ke dalam dan langsung mengambil piring di dapur.


"Ya lumayan, setengah jam kali. Habisnya tadi Pak Slamet mau jalan jadi mau cepet-cepet kunci pintu pagar. Jelas Hesti.


"Duuhh, maaf ya". Kataku kembali merayu Hesti. Tapi tampaknya dia sudah tidak marah lagi gara-gara sogokan sebungkus nasi goreng.


Setelah mencuci muka, wudlu dan sholat aku menemani Hesti menyantap nasi goreng babat favorit Hesti sambil nonton TV. Lalu ponselku menyala ada notifikasi dari aplikasi hijau.


Selamat istirahat Rim. Semoga kamu segera melupakan cerita tentang Rendy, seperti aku yang mencoba menghapus kenangan tentang Sinta.


Aku tersenyum tersipu membaca pesan itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2