Senja Di Bulan Maret

Senja Di Bulan Maret
Nitip Ponsel


__ADS_3

Sesuai ucapannya semalam di telepon, Mas Bayu benar-benar datang ke kostanku. Dia menunggu di depan pintu gerbang sambil duduk di atas motornya. Dengan memakai jaket dan sarung tangan, tas ransel di punggung, helm serta slayer sebagai penutup setengah muka agar terhindar dari debu, Mas Bayu terlihat keren dengan penampilannya pagi ini. Dilihat dari cara dandanannya menunujukkan kalau dia memang akan touring jauh. Tak kusangka dia akan ke Solo mengendarai motor. Aku masih memakai baju tidur dan belum mandi ketika menemuinya di depan pintu gerbang kostan. Dia membuka kaca helmnya dan menurunkan slayer yang sedari tadi menutupi hidung hingga ke bawah dagunya. Senyumnya terkembang saat kuhampiri dirinya.


"Nih, titp dulu ya. Tolong simpan". Katanya seraya menyerahkan ponsel padaku.


"Hah, ngapain dititipin sama aku? Kenapa gak dibawa aja sih?". Tanyaku bingung.


"Gak papa. Simpan aja. Kalau ada telpon angkat aja. Gak dikunci juga. Jadi kalo ada sms dibacapun gak papa". Katanya santai sambil tertawa.


Aku membolak balikkan benda pipi berwarna putih yang saat ini ada dalam genggamanku. Lalu mengarahkan pandangan pada sosok pria yang masih duduk di atas motor itu.


"Kalo ponsel ini sama aku, Mas Bayu pakai ponsel apa?". Tanyaku

__ADS_1


Tampak Dia sedang mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya lalu menunujukkannya padaku.


"Ini ponselku. Ponsel yang biasa aku pakai". Katanya sambil menggoyang-goyangkan ponsel di depanku.


"Yang itu ponselku juga. Tapi jarang kupakai". Lanjutnya lagi.


"Ponsel nakal ya? Buat godain cewek-cewek?". Ledekku yang disusul tawa terkekeh darinya.


"Ya udah. Aku berangkat. Mau nitip oleh-oleh apa?". Tanyanya padaku sambil memasang slayer kembali dan membetulkan helmnya.


"Iya, naik motor. Tapi sama Mas Rayhan. Nanti gantian nyetirnya sama Dia. Ini aku mau jemput dia di rumahnya".

__ADS_1


Mas Bayu dan Mas Rayhan, pacar Mbak Retno memang akrab. Mas Rayhan juga alumni organisasi kami sejak 3 tahun lalu. Dari organisasi itu juga Mbak Retno kenal dan akhirnya berpacaran dengan Mas Rayhan.


Aku mengangguk mendengar jawaban Mas Bayu. Lalu Dia segera menstarter motornya dan melaju meninggalkan kostanku sambil melempar senyumnya.


Hati-hati. Kataku setengah berbisik ketika motornya sudah melaju keluar gang dan punggungnya sudah tak nampak lagi. Aku segera masuk ke dalam dan langsung mandi untuk bersiap pergi ke kampus. Selesai berganti baju ada pesan masuk di grup WA angkatanku.


Kuliah Gizi kosong hari ini. Kuliah kesling juga kosong diganti besok siang jam 8 pagi. Begitu isi pesan yang dikirim oleh ketua kelas di grup WA. Beberapa teman menanggapi pesan tersebut dengan bermacam-macam emoticon dan balasan pesan. Ada yang bersorak soray, ada yang mengirimkan emoticon menari, dan banyak lagi yang lain yang menunjukkan kalau mereka sangat bahagia seharian ini gak ada kuliah. Aku yang terlanjur sudah memakai baju rapi terpaksa berganti baju lagi. Kaos oblong dan celana pendek, kostum ternyaman ketika di kostan. Pagi ini kostan sepi, karena teman-teman yang lain sedang kuliah. Hesti malah sudah berangkat dari jam 6 pagi tadi. Jadi aku memutuskan untuk rebahan saja.


Kupandangi ponsel dari Mas Bayu yang tergeletak di samping aku merebahkan badan. Sambil tiduran kuambil dan kugeser layar ponsel itu. Jiwa kepoku menggebu-gebu, penasaran dengan isinya. Tapi hatiku berkata aku tidak boleh lancang membuka ponsel orang lain tanpa ijin. Ah, masa bodoh, akhirnya kutelusuri satu persatu isi ponsel itu.


Pertama yang kubuka adalah galery. Hanya ada foto-foto selfie Mas Bayu, foto bersama teman-temanya dan foto bersama keluarganya. Eits, tunggu dulu. Ada satu foto yang kukenal di bagian bawah. Foto gadis manis berjilbab yang aku kenal dari organisasi palang merah juga. Di organisasi dia satu angkatan denganku, tapi tidak aktif karena kesibukan kuliahnya. Ya, itu foto Sinta, yang katanya sudah jadi mantan pacarnya sekarang. Aku mencebikkan bibirku. Masih saja dia simpan foto mantan pacarnya.

__ADS_1


Penelusuran berlanjut ke aplikasi hijau. Ada beberapa pesan dari Sinta. Pesan lama yang mungkin belum sempat Mas Bayu hapus. Belum sempat atau memang tak ingin, entahlah. Isi pesan itu dikirim sebulan lalu. Isinya minta belikan pulsa, pemberitahuan kalo mau pulang ke Magetan - rumah Sinta dan pesan nitip belikan makan. Hanya aplikasi hijau saja media sosial di ponsel itu. Sedangkan sms hanya berisi pesan dari operator. Astaga, kenapa aku jadi sekepo ini. Buru-buru kumatikan layar ponsel itu dan meletakkannya di laci mejaku agar jiwa kepoku tak makin bergejolak.


Tepat sore hari menjelang Maghrib Mas Bayu mengirimiku pesan, mengabarkan kalau Dia dan Mas Rayhan sudah sampai Solo. Mereka menginap di rumah Bude Mas Rayhan di Solo. Eh, by the way, ngapain Dia ngasih kabar ke aku? Saudara bukan, pacar apa lagi. Bukankah selama ini kami hanya berteman biasa saja. Atau jangan-jangan dia suka sama... Stop Rima. Kamu jangan berpikiran ngawur. Hatiku berbicara sendiri. Oke, aku gak boleh berpikiran aneh-aneh. Aku sama Mas Bayu just a friend. Selamanya hanya teman.


__ADS_2