
Hari ini Mas Bayu pulang dari Solo. Kemarin sore sebelum berangkat dia meneleponku untuk mengabarkan kepulangannya. Dalam hati aku berkata bodo amat, bukan siapa-siapaku juga. Hahaha.
Ting tung. Bel pintu kostan berbunyi
"Cari siapa?" Teriak Hesti yang sedang menonton televisi
"Rima". Jawab tamu di depan.
Aku yang sedari tadi sedang membaca diktat kuliah langsung meletakkan diktat di atas meja lalu mengambil ponsel Mas Bayu dari dalam laci dan bergegas keluar kamar menuju ruang tamu. Tak kulihat Mas Bayu di ruang tamu, jadi aku berjalan keluar. Ternyata dia duduk di lantai teras kostan. Melihatku datang dia melempar senyum. Lalu melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar aku duduk di sebelahnya.
"Mana oleh-olehnya?". Tagihku padanya setelah aku duduk tepat di sebelahnya.
"Baru juga sampai. Bukannya ditanyain gimana kabanya, capek apa enggak, malah oleh-oleh dulu yang ditanyain". Sungutnya. Aku terkekeh.
"Mau diambilkan minum?". Kataku dengan masih tertawa.
"Gak usah. Aku cuma mau kasihkan ini". Katanya seraya menyerahkan tas kertas berisi sesuatu yang tercium seperti bakpia. Kuintip isinya. Benar dugaanku. Sekotak bakpia dan gantungan kunci dari kayu.
"Makasih ya". Senyumku terkembang. Dia balas tersenyum juga.
"Ya udah, aku pulang dulu ya". Katanya sambil berdiri dan membetulkan reseleting jaketnya. Aku mengangguk.
Gegas dia berjalan keluar pintu pagar dan menghampiri motornya, lalu menstarter motornya dan perlahan motornya pergi menjauh dari pandangan mataku.
Selepas kepergian Mas Bayu aku bergegas masuk ke dalam. Tak sabar membuka oleh-oleh darinya. Berdua dengan Hesti kami menikmati bakpia khas Solo oleh-oleh dari Mas Bayu. Sambil mengunyah bakpia kuambil oleh-oleh lain yang masih tertinggal di dalam tas kertas. Sebuah gantungan kunci dari kayu berbentuk tokoh pewayangan, Arjuna. Aku tersenyum mengamati gantungan itu.
__ADS_1
Setelah kenyang menyantap bakpia, aku bergegas ganti baju dan pergi ke kampus. Hari ini ada praktikum gizi dan dilanjut dengan kuliah sampe sore. Aku sudah membayangkan betapa lelahnya hari ini. Huufftt
****
Setelah praktikum dan kuliah yang melelahkan kemarin, hari ini juga masih dilanjut dengan kuliah maraton dari pagi sampai sore. Lelah sekali rasanya 2 hari ini. Sepulang dari kampus aku sempatkan membeli makan terlebih dulu di warung dekat gang masuk kostanku. Adzan maghrib berkumandang tepat ketika aku sampai di kostan. Aku bergegas mandi, sholat dan makan malam.
Tepat pukul 19.30 selepas sholat isya aku membaringkan tubuh di kasur. Lelah dan kantuk sudah menguasai, namun tak bisa juga aku memejamkan mata dan terlelap. Akhirnya kustel musik dari ponselku berharap aku bisa segera terlelap tidur. Alunan lagu dari yovie n nuno yang berjudul janji suci mengalun syahdu. Alih-alih terlelap aku malah ikut bersenandung pelan sambil memandangi langit-langit kamar kosan yang berwarna putih. Lalu aku teringat dengan gantungan kunci pemberian mas Bayu.
Dengan posisi masih berbaring kuraih gantungan kunci berbentuk tokoh pewayangan yang tadi kugeletakkan di meja samping tempat tidurku. Kuamati gantungan kunci berbentuk tokoh Arjuna yang terbuat dari kayu itu lalu tersenyum. Ya, tokoh ini persis menggambarkan karakter sang pemberi, Mas Bayu. Tampan, disukai banyak gadis dan play boy mungkin. Aku terkikik sendiri.
Alunan lagu yovie mendadak berhenti ketika ada panggilan masuk di ponselku. Kulihat sekilas nama Mas Bayu tertulis di layar. Segera kuangkat telepon.
"Hallo". Sapaku sambil bangun dan mengambil posisi duduk bersila di atas kasur.
"Rim, ke sekret sekarang ya. Kita mau rapat bidang". Terdengar suara Mas Bayu dari ujung telepon.
"Iya. Aku tunggu ya". Sahutnya lagi.
"Tapi ini udah malam. Jam 10 kosanku udah dikunci. Gak bisa besok aja? Fatma dateng juga?". Aku mencoba menegosiasi.
"Iya, ini Fatma udah di sini. Aku tunggu ya". Langsung dia mematikan sambungan telepon.
Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur. Sebal, malas sekali rasanya harus ke sekret malam-malam. Kenapa sih gak besok aja. Dasar Mas Bayu resek. Rutukku dalam hati.
5 menit berjalan kaki dari kosanku aku sudah sampe di depan sekret. Karena malas datang akhirnya aku hanya dandan dan memakai baju sekenanya saja. Kaos dan celana jins lalu jaket. Rambut hanya kuikat asal saja. Kulihat Mas Bayu sedang duduk di teras sambil memainkan gitar. Tak kulihat Fatma di sana. Aku dan Fatma ada di bidang yang sama di organisasi ini dengan Mas Bayu sebagai ketua bidangnya. Sebelumnya aku dan Mas Bayu tidak terlalu akrab. Namun sejak berada dalam satu bidang kami jadi lebih sering beretemu dan melakukan kegiatan bersama.
__ADS_1
"Lhoh, Fatma mana?". Tanyaku setelah berada tepat di depan Mas Bayu. Dia hanya melemparkan senyum khasnya. Senyum buaya darat aku menyebutnya. Senyum yang bisa membuat para gadis terpesona, tapi tidak denganku.
"Duduk dulu di sini". Katanya sambil menarik tanganku sehingga sekarang aku sudah duduk tepat di sampingnya.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Ku dengar suara teman-teman yang lain di dalam sekret tapi tak ku dengar suara Fatma. Hanya ada 3 orang yang duduk di teras sekretariat pencak silat yang bangunannya tepat di samping sekretariat organisasi kami. Jadi, bangunan di sini khusus tempat sekretariat UKM yang ada di kampus. Bermacam-macam UKM ada di sini.
"Jadi rapatnya?". Tanyaku lagi. Lagi-lagi Mas Bayu hanya mengulas senyum. Aku mulai kesal.
"Fatma gak bisa datang. Kecapekan katanya habis praktikum sampe sore". Jawab Mas Bayu sambil memetik dawai gitarnya.
"Ya sama dong. Aku sama Fatma kan satu kelas. Jadi ya sama aja. Aku juga capek". Darahku mulai mendidih.
"Harusnya tadi dibatalin aja dong rapatnya. Tunda besok kan bisa". Lanjutku sambil melepas ikatan rambut lalu dengan gerakan cepat menyisir rambut dengan jari-jari lalu mengikatnya lagi. Udara malam ini cukup gerah ditambah kejadian malam ini rasanya tambah gerah. Tapi Mas Bayu hanya tersenyum, sesekali terkekeh.
"Ya udah, aku pulang aja". Aku sudah beranjak berdiri dan bersiap pulang namun tangan Mas Bayu menahanku dan membuatku terduduk kembali.
"Pulang nanti aja. Ngobrol di sini dulu". Katanya sambil meletakkan gitar yang sedari tadi dipegangnya.
"Buat apa kita rapat kalo Fatma gak ada". Ketusku sambil beranjak berdiri kembali.
"Udah sampe sini, pulangnya nanti aja". Dia masih ngeyel dan makin membuat aku kesal.
Aku lelah seharian karena kuliah dan praktikum. Saat aku sudah bersiap untuk istirahat Mas Bayu menelepon ngajak rapat. Eh sekalinya aku sudah di sekret ternyata malah gak jadi rapat. Orang ini mau ngerjain atau gimana sih. Gak lucu tau bercandanya.
Aku langsung berjalan keluar halaman sekret dengan perasaan dongkol. Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tapi entah kenapa aku malah berharap Mas Bayu mengejarku atau memanggilku. Aku sudah sampai di jalan raya namun Mas Bayu tetap membiarkanku pergi.
__ADS_1
Eh, ngapain juga aku berharap dia mengejarku. Aku menggelengkan kepala cepat, malu dengan isi kepalaku sendiri.
Sesampainya di kosan aku langsung masuk kamar dan berbaring dengan selimut menutup muka dan seluruh badanku. Jantungku masih berdegup kencang akibat berjalan cepat dari sekret ke kostan. Ditambah sambil menahan sebal membuat jantungku makin berdegup kencang. Aku menutup mata meredam kejengkelan akibat kejadian barusan. Sampai tak terasa aku tertidur hingga pagi.