
"Gimana Rim, udah siap semua? Tenda, perijinan, konsumsi?". Tanya Mas Bayu padaku di depan sekret. Sementara teman-teman yang lain tampak sibuk memasukkan tenda dan peralatan memasak ke dalam mobil. Fatma juga sedang sibuk mengabsen dan menghitung anggota yang akan ikut kegiatan hari ini.
"Udah Mas, beres semua". Jawabku sambil memasukkan bahan makanan ke dalam bagasi mobil Mas Deni.
Kami bersiap sejak pukul 3 sore di sekret. Selepas Ashar baru meluncur ke Papuma. Kami membawa bekal nasi dan lauk pak yang sudah matang untuk di bawa ke sana. Juga beberapa jagung dan sosis untuk di bakar di tepi pantai. Gak seru kalo ke pantai gak ada acara bakar-bakar, bakar-bakar makanan maksudnya. Hehehe.
Kami berniat menginap satu malam di Papuma. Karena pihak pengurus papuma mengizinkan , kami memilih hari Sabtu malam Minggu untuk mengadakan kegiatan refreshing bagi pengurus dan anggota organisasi palang merah. Mobil Mas Deni sudah full berisi tenda dan perbekalan makanan juga peralatan memasak. Anita dan Riska naik mobil Mas Deni. Sementara 10 orang lainnya berboncengan dengan motor. Adi dengan Nadia, Ayu dengan Mas Hafidz, Fatma dengan Mas Fandi, Wawan dengan mba Vina, sementara aku sudah pasti dibonceng Mas Bayu. Sementara Mbak Eni, Mbak Ratna, Mas Rayhan dan Mbak Reni nyusul nanti, karena mereka kebetulan lagi di rumah mbk Reni yang lokasinya dekat dari Pantai Papuma.
"Yang mau sholat Ashar silakan ya, habis itu kita langsung berangkat". Ucap Mas Bayu kepada kami yang sedang duduk-duduk di depan Sekret setelah terdengar Adzan berkumandang. Lalu kami bergantian mengambil wudhu dan sholat berjamaah di dalam sekret.
Kami sudah selesai menunaikan sholat Ashar ketika waktu menunjukkan pukul 4 sore. Mas Bayu bergegas mengunci pintu sekret dan mengajak rombongan untuk segera berangkat. Butuh waktu 1 jam untuk sampai ke Papuma, dan supaya tidak kesorean sampai Papuma kami langsung berangkat setelah semuanya siap dan anggota lengkap. Satu persatu motor kami meninggalkan halaman sekret, disusul mobil Mas Deni yang paling belakang.
"Gak ada yang ketinggalan kan Rim?". Tanya Mas Bayu sambil menoleh padaku yang duduk di belakang boncengannya.
"Aman Mas". Jawabku sambil membetulkan helm.
Ini adalah kali kedua aku dibonceng Mas Bayu, tapi entah kenapa aku masih canggung. Pikiran bahwa selama ini yang duduk diboncengan motornya adalah Sinta sungguh sangat mengganggu pikiranku saat ini.
Motor kami terus melaju meninggalkan kota dan telah sampai di pedesaan yang asri. Tampak anak-anak kecil tengah bermain bola di lapangan yang luas. Beberapa ibu-ibu ada yang terlihat sedang mengambil jemuran. Kami juga melewati kerumunan anak-anak yang sedang mengantri membeli cilok di depan masjid.
Matahari sudah semakin condong ke barat, membuat terik siang hari tadi berganti dengan udara yang lebih sejuk. Sesekali Mas Bayu menoleh ke belakang dan mengajakku ngobrol, memastikan aku tidak mengantuk diboncengannya. Makin lama perjalanan ini membawa kami menjauhi area pemukiman penduduk menuju jalanan yang lebih sepi dan jarang penduduk.
Dari jalan raya motor kami berbelok ke jalan kecil dengan pemandangan sawah di kiri kanannya. Tanaman padi yang masih hijau membuat pandangan mata jadi sejuk dan segar. Makin masuk ke dalam jalanan aspal berganti dengan jalan tanah berbatu. Pemandangan sawah yang ditanami padi juga telah berganti dengan pemandangan pohon-pohon besar pinggir hutan. Sepertinya kami sudah dekat dengan pantai.
Tak lama kemudian laut sudah terlihat di depan mata kami. Tampak riuh sorak sorai rombongan yang tampak bersemangat melihat laut. Tapi kami belum sampai di tempat tujuan. Laut yang baru saja kami lihat ini adalah watu ulo. Sementara tujuan kami, pantai Papuma masih berjarak beberapa kilo meter lagi dari pantai watu ulo. Kami masih harus berbelok ke Kanan dan melewati jalan menanjak.
"Pegangan Rim". Ucap Mas Bayu sambil menoleh ke arahku. Alih-alih berpegang ke badannya, aku malah berpegang pada bagian belakang boncengan motornya.
Saat melewati jalan yang menurun aku makin menguatkan pegangan tanganku pada belakang motor. Sambil berpegangan di belang motor aku juga sangat takjub dengan pemandangan laut yang terhampar di depan mata. Hatiku sudah bersorak gembira tak sabar ingin cepat sampai dan bermain pasir di sana.
Tiba-tiba Mas Bayu mengerem mendadak yang membuat peganganku terlepas dan helmku beradu dengan helmya. Refleks kupukul keras bahunya. Dia mengaduh lalu minta maaf.
"Sorry Rim, ada monyet lewat". Katanya meminta maaf karena sudah membyarku terkejut.
Mas Bayu lalu memarkir motornya di tempat parkir di bawah pohon besar yang rindang. Diikuti oleh rombongan motor lainnya. Sementara mobil Mas Deni memilih tempat parkir di area yang lebih luas. Fatma dan Nadia langsung berlari menuju pantai sambil bersorak riang. Sementara di sana juga tampak Mba Ratna dan Mas Rayhan yang sudah lebih dulu sampai. Mba Eni dan mba Reni lebih memilih duduk di bawah pohon sambil mengambil beberapa gambar menggunakan kameranya.
Mas Bayu dan Mas Deni menurunka tenda yang ukurannya agak besar dari bagasi mobil dan mulai mendirikan tenda tersebut. Sementara aku, Anita beberapa teman lainnya juga ikut mendirikan tenda kami masing-masing. Kami membawa tenda berukuran kecil yang hanya muat untuk 3 orang. Petugas penjaga pantai tiba-tiba mendatangi kami dan menawarkan pinjaman meja panjang untuk kami. Tanpa berpikir panjang kami langsung mengiyakan. Mas Fandi dan Adi langsung mengikuti petugas pantai tersebut untuk mengambil meja dan segera kembali dengan menggotong meja. Lumayan, buat tempat meletakkan makanan, karena tidak mungkin semua ditaruh di bagasi mobil Mas Deni. Wawan dan Ayu langsung memindahkan sebagian bahan makanan ke meja panjang. Sementara alat pemanggang ditaruh di bawah. Setelah beres mendirikan tenda beberapa dari kami langsung berlari ke pantai untuk menikmati sunset, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore, matahari segera terbenam. Mas Bayu dan beberapa teman laki-laki masih asyik mengobrol di depan tenda sambil menyalakan api memakai kayu bakar.
__ADS_1
Aku, Fatma dan Anita duduk bertiga di bibir pantai. Menikmati ombak yang datang dan pergi silih berganti. Sesekali kaki kami juga basah terkena percikan air laut. Matahari perlahan tenggelam diiringi deburan ombak yang menghantam karang dan meninggalkan rona senja yang indah melukis langit. Tak kusadari Mas Bayu sudah duduk di sampingku. Saat aku menoleh ke samping kananku dia sudah duduk dan menatapku sambil melempar senyum ke arahku. Salah tingkah dengan kehadirannya yang tiba-tiba aku langsung memalingkan muka ke arah Anita yang duduk di samping kiriku. Angin laut membelai wajahku yang saat ini mungkin sudah memerah. Aku mengambil karet rambut dari saku celana dan langsung mengikat rambutku yang sedari tadi diterpa angin. Mas Bayu masih mengamatiku yang kali ini sedang mengikat rambut.
"Bagus ya langitnya". Mas Bayu membuka percakapan.
"Pemandangan kayak gini ini cocoknya dinikmati berdua bareng pacar, bukannya bareng kalian". Celetuk Anita.
"Mas Bayu kok gak ajak Sinta sih. Duduk berdua sambil ngobrol berdua di sini sama Sinta dijamin kalian pasti balikan. Kayaknya Mas Bayu masih berat kan pisah sama Sinta". Tambahnya lagi. Entah kenapa aku malah nyesek mendengarnya.
"Kenapa harus sama Sinta kalau ada yang lain. Hehehe". Jawab Mas Bayu sambil memandang ke depan. Ke arah matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya.
"Maksud Mas Bayu Rima. Ciyeeee". Celetuk Anita yang membuat tanganku langsung mencubit lengannya. Dia meringis kesakitan. Sedangkan Mas Bayu hanya menyunggingkan senyum tipis mendengar kalimat Anita.
"Udah, udah, bubar. Sholat Maghrib. Cinta-cintaan mulu". Sahut Fatma sambil berdiri dan mengebas-ngebaskan pasir yang menempel di celananya. Lalu dia segera melangkahkan kaki meninggalkan kami bertiga yang masih duduk.
"Tunggu Fat". Anita berlari menyusul Fatma.
Sekarang tinggalah aku dan Mas Bayu. Berdua saja dengannya membuat suasana menjadi canggung. Jadi aku memutuskan menyusul Fatma dan Anita untuk menunaikan sholat Maghrib.
"Sholat dulu Mas". Kataku pada Mas Bayu sambil berdiri.
***************
Suasana Pantai Papuma malam ini cukup ramai karena kedatangan kami. Selain kami juga ada beberapa orang yang mendirikan tenda untuk camping. Tapi gerombolan kami yang nampak ramai karena kami berjumlah 16 orang. Kami sedang sibuk menata nasi dan lauk ke atas tikar yang digelar di tengah-tengah beberapa tenda yang kami dirikan. Total tenda yang kami dirikan ada 6. Aku, Fatma dan Anita berada dalam satu tenda yang sama. Kami sengaja mendirikan tenda yang jaraknya cukup dekat dengan mushola dan kamar mandi. Beberapa teman cowok sedang sibuk membakar jagung dan sosis, sementara Anita sibuk mengomentari jika ada jagung yang mulai gosong. Dasar Anita, paling cerewet dan ceplas ceplos. Mas Rayhan, Mas Deni dan Adi tampak bersenandung riang dengan iringan gitar Mas Bayu menyanyikan lagu Dewa 19, cinta kan membawamu kembali.
Kami semua bahagia, menikmati kebersamaan di malam minggu di Pantai Papuma.
Setelah meletakkan jagung dan sosis yang sudah selesai di bakar di atas tikar kami ber 16 duduk melingkar mengitari makanan yang sudah tersaji. Mas Hafidz memimpin doa sebelum makan sebelum akhirnya kami menyantap makan malam ini dengan sangat lahap. Sesekali salah satu dari kami melontarkan candaan yang kemudian di sambut oleh gelak tawa yang lainnya. Sungguh malam minggu yang ceria. Seperti tujuan diadakannya kegiatan refreshing ini, untuk menjalin kekompakan diantara pengurus dan anggota organisasi.
Selesai makan malam, kami menunaikan sholat isya berjamaah di mushola. Setelah itu kami kembali duduk berkeliling di atas tikar. Ada yang saling bertukar cerita, ada yang memainkan gitar dan bernyanyi, ada yang bermain ponsel, ada juga yang saling pijit bergantian. Kami duduk bersantai di bawah sinar rembulan dan temaramnya lampu petromak.
"Temen-temen, kita main games yuk". Adi tiba-tiba membuka suara.
"Boleh, boleh, biar gak ngantuk". Nadia menyetujuinya.
"Kita bagi 2 kelompok. Trus bergantian nyanyi lagu 'makan apa'. Yang terakhir gak bisa jawab nanti dikasih pertanyaan yang harus dijawab jujur oleh kelompok itu. Gimana?". Adi menjelaskan aturan main games malam ini.
"Setuju". Anita menyahut.
__ADS_1
"Ya udah langsung aja. Rima, Anita, Fatma, Mbak Reni, Mbak Ratna, Mas Deni, Aku sama Wawan kelompok 1. Mas Bayu, Mas Rayhan, Mbak Eni, Vina, Nadia, Mas Fandi, Mas Hafidz dan Riska kelompok 2. Oke, silakan bergabung dengan kelompok mading-masing". Instruk Adi pada kami yang langsung kami laksanakan.
Masing-masing kelompok sekarang sudah duduk berhadapan. Adi meminta salah satu perwakilan kelompok untuk maju ke depan dan suit. Mbak Reni maju mewakili kelompok kami, sedangkan kelompok Mas Bayu di wakili oleh Vina. Mbak Reni menang suit. Jadi kelompok kami yang nyanyi duluan.
"Makan apa, makan apa, makan apa sekarang. Sekarang makan apa, makan apa sekarang?". Senandung kelompok 1, kelompok kami.
"Makan jagung, makan jagung, makan jagung sekarang. Sekarang jagung apa, jagung apa sekarang?". Jawab kelompok 2 yang juga dengan nyanyian.
"Jagung manis, jagung manis, jagung manis sekarang. Sekarang manis apa, manis apa, manis apa sekarang?". Balas kelompok 1 lagi.
Kelompok 2 tampak bisik-bisik berunding, dan karena terlalu lama memberikan jawaban akhirnya mereka dinyatakan kalah.
"Oke, pertanyaan dari kami adalah. Kapan Mas Rayhan ngelamar Mbak Ratna?". Kalimat dari Adi terlontar begitu saja yang disambut tepuk tangan heboh dari dua kelompok.
Mbak Reni cuma senyum malu-malu, begitu juga Mas Rayhan. Tapi akhirnya Mas Rayhan berdiri di tengah-tengah dua kelompok sambil berdehem-dehem.
"Tunggu Ratna lulus kuliah, insyaallah". Jawab Mas Rayhan akhirnya yang disambut tepuk tangan dan suitan teman-teman.
"Mbak Ratna, cepetan lulus ya kuliahnya. Karena si abang sudah siap meminang". Kelakar Adi yang disambut tepuk tangan meriah kembali.
"Oke, lanjut lagi ya. Kelompok 1 nyanyiiii". Lanjut Adi. Dan kami melanjutkan bermain game bersahutan bernyanyi dan menjawab memakai lagu 'makan apa', hingga akhirnya kelompok kami yang kalah. Kali ini Mas Deni yang mengajukan pertanyaan.
"Baik, pertanyaannya adalah, kapan Rima dan Bayu jadian?". Sorak sorai kembali terdengar, tapi aku malah menunduk malu. Tak menyangka akan mendengar pertanyaan ssmacam ini. Awas aja kamu Mas Den. Rutukku dalam hati.
"Eehh, Rima gak boleh jadian sama Mas Bayu. Rima udah suka sama cowok lain". Anita tiba-tiba bersuara. Aku yang dari tadi menunduk malu langsung mengangkat muka.
"Rima sukanya sama anak pertanian. Ya kan Rim?". Kali ini Anita menatap ke arahku sambil tersenyum. Aku jadi ikutan tersenyum terpaksa. Kulirik Mas Bayu yang sekarang tampak tertunduk lesu sambil melingkarkan tangan di kedua kakinya. Tidak ada suara suitan ataupun tepuk tangan. Semua terdiam.
"Padahal aku ngarep banget mereka jadian lho. Gemes banget lihat Mas Bayu pedekate terus sama Rima tapi gak cepet-cepet jadian". Terdengar komentar Adi yang membuat mukaku jadi merah karena malu.
"Jadian, jadia, jadian". Dipandu oleh Mas Deni teman-teman malah bersorak sorai. Kulirik Mas Bayu yang kali ini menyunggingkan senyum padaku. Aku makin malu.
"Udah, istirahat aja udah ya. Lanjut besok pagi kita lihat sunrise". Seru Mbak Eni.
Bersyukur Mbak Eni segera mengakhiri permainan ini. Kami segera masuk ke dalam tenda masing-masing. Tapi masih ada yang bertahan duduk di atas tikar sambil menikmati kopi. Aku merebahkan badan di atas karpet empuk yang digelar di dalam tenda. Kutarik resleting jaketku sampai menutupi leher karena makin malam udara makin terasa dingin. Sebentar saja Anita dan Fatma sudah terlelap. Mungkin mereka kelelahan karena perjalanan tadi sore. Tapi aku masih sulit memejamkan mata. Terdengar dengkuran halus dari Anita yang makin mrmbuatku sulit terlelap. Kuputar pelan musik dari ponselku berharap kantuk segera menghampiri. Tapi segera kumatikan, karena dari luar tenda ku dengar petikan gitar dan suara Mas Bayu bersenandung menyanyikan lagu Yovie n Nuno, janji suci. Kudengarkan lagu itu sambil mengulum senyum di bibir hingga akhirnya aku terlelap.
Bersambung...
__ADS_1