
Aku dan Kiana bergegas berlari dari tempat itu dan membawa gadis ini kerumah sakit, setelah sampai kerumah sakit aku langsung menerobos pintu masuk.
"Hah...Hah...Hah" aku berlari secepat mungkin kemeja resepsionis sambil mengendong gadis yang aku selematkan tadi.
"Hm? Ada apa adik kecil
"Cepat beri dia perawatan!"
"Eh!? Anak ini benar-banar terluka parah dan harus ditanganin secepatnya... Akan tetapi...."
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, ayo ikut kakak"
Perawat dimeja resepsionis terlihat ragu-ragu dan berpikir sejenak seperti ada yang membuatnya khawatir.
Akupun membawa gadis itu keruang operasi bersama dengan kiana dan setelah mencapai keruang operasi yang terlihat sangat mewah, gadis yang aku bawa tadi langsung ditangani secepatnya. Kami duapun merasa lega dan menunggu diruang tunggu dekat ruangan operasi.
"Yuh... Untung saja kita bisa membawa gadis itu secepatnya kerumah sakit"
"Apakah dia akan baik-baik saja Yuuya?"
"Entahlah kita hanya bisa berdoa semoga dia baik baik saja"
"Ngomong-ngomong..."
"Ada apa Kiana?"
Kiana terlihat bingung dan selalu melihat sekeliling seperti ada yang tidak beres diruang tunggu ini.
"Tadi saat kita baru masuk dipintu rumah sakit banyak orang yang menunggukan?"
"Ah... Sepertinya begitu"
Benar juga, saat kami baru masuk pintu rumah sakit tadi ada banyak orang yang menunggu diruang tunggu rumah sakit, dan juga perawat dimeja resepsionis yang membawa kami tadi sepertinya lagi sibuk.
"Dan juga ruang tunggu ini berbeda dari yang lain, ini terlihat sangat bagus"
"Benar juga ya..."
Ruang tunggu ini berbeda dari yang lain terlihat dari dekorasinya yang sangat mewah, pemandangan yang sangat indah terlihat dari luar jendela, dan juga kursi yang sangat empuk ini.
Tunggu sebentar... Apa ini benar-benar ruang tunggu? Aku rasa ini seperti ruangan untuk orang Vip saja.
"Yuuya apa ada masalah?"
"Tidak... Aku hanya berpikir ruangan ini seperti..."
Saketika itu bunyi terdengar diruang operasi.
"Huh? Sepertinya orperasinya sudah selesai, ayo kita lihat keadaan gadis tadi Kiana"
"Hmu... baiklah"
Kami berduapun masuk keruangan operasi dan sedikit terkejut melihat orang yang berada diruang operasi menatap kami dengan ekpresi wajah yang terlihat marah, sedangkan untuk perawat tadi terlihat menundukan kepalanya dengan wajah yang sedih. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?
"Hei apakah kau bocah yang membawa gadis ini masuk keruangan ini?"
Seseorang dari dokter mendatangiku dengan nada yang kasar dan terlihat sangat marah.
"Benar... Apakah operasinya berjalan dengan lancar"
Aku menjawabnya dengan santai dan lebih mengkhawatirkan gadis itu.
"Iya sangat lancar semua luka parah yang berada ditubuhnya sudah ditangani dan tinggal biarkan dia beristirihat sampai keadaannya pulih"
"Kalau begitu baguslah"
Aku merasa lega saat mengetahui gadis itu baik-baik saja.
"Akan tetapi!"
"Apakah kau ada uang untuk membayar operasinya!"
"Dokter! Biar aku yang-"
"Kalau itu tentu saja ada, silahkan pindai saja kartuku"
Aku langsung mengeluarkan kartu emas miliku untuk membayar tagihan operasinya.
"Eh...? Kartu inikan..."
Dokter dan perawat yang disitu terkejut dengan kartu yang aku keluarkan, yah aku juga sudah sedikit terbiasa akan itu.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa tuan, silahkan tuan dan nona duduk sambil menikmati teh dan cemilan yang kami sediakan"
Para dokter dan perawat diruangan itu langsung menyediakan kursi, meja, dan cemilan buat kami diruangan operasi. Menjamu kami dengan ramah dan langsung bersikap baik pada kami berdua.
__ADS_1
"Huh?"
Mereka berbaris didepan kami? Sebenarnya ada apa? Wajah mereka juga terlihat sangat serius.
"Tuan dan Nona yang terhomat... Mohon maaf apa yang kami katakan untuk kalian berdua sebelumnya, hamba merasa sangat malu dan sengat menyesal berbicara kasar pada Tuan dan Nona sebelumnya. Kami mohon maaf sebesar-besarnya"
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya!"
"..." Aku memandangi mereka balik dengan wajah yang serius.
Mereka sampai bersujut seperti itu... Orang kaya memang sangat menakutkan.
"Yuuya mereka kenapa? Sampai bersujut seperti itu?"
"Itu karena... Hmm...Baiklah aku memaafkan kalian"
Aku tidak bisa menjelaskan ke Kiana sekarang takutnya dia salah paham.
"Huff..."
Mereka semua bernafas lega.
"Tapi, kenapa kalian memerahi perawat yang membawa kami kemari?"
Aku menatap tajam kearah mereka semua.
"Hii!!!"
"Kami mohon maaf! Kami akan segera mempromiosikan jabatannya dan memberi dia gaji yang tinggi"
"Baiklah... (tersenyum) aku memaafkan kalian"
"Tuan... Aku..."
"Terima saja kakakkan sudah membantu kami jadi terimalah saja"
"Baik! Terimakasih"
Perawat yang membawa kami menangis gembira, melihatnya seperti itu aku jadi ikut senang. Akan tetapi, berakting seperti tadi susah juga, merepotkan sekali menjadi orang kaya.
"Kalau begitu tuan, kami akan membawa nona ini keruangnya, silahkan mari ikut kami"
"Baiklah"
Aku dan Kiana mengikuti para dokter dan perawat yang membawa gadis itu keruangan yang telah disiapkan untuknya.
**********
"Kamu anak yang tak berguna, sudah beban keluarga malah jadi seorang Senkai lagi! Mau membawa mencana kekeluarga ini?"
Sambil dipukul dan terus dimarahi, aku terus-menerus menahan sakit yang begitu dalam dari perkatan orang tuaku terhadap diriku baik sekarang ataupun sebelumnya, bahkan mereka lebih kejam lagi terhadapku setelah mengetahui aku adalah seorang Senkai, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selaian menerima pelakuan mereka terhadapku.
"Maaf...Maafkan aku..."
Aku selalu memojok dan terus menangis dikamarku, tidak ada yang peduli terhadapku setelah kematian nenek. Aku selalu bertanya kenapa ini terjadi padaku? Apa alasanku hidup didunia ini? Apakah untuk menerima pelakuan ini dari orang tuamu sendiri?
"Aku benar-benar tidak tahu"
Dalam kesendirian dan keputusasaan terhadap hidup yang aku jalani, aku mendengar suara angin berhembus melewati jendela kamarku.
"Uh...!? Jendelanya terbuka"
Aku berjalan kearah jendela itu dan ingin menutupnya, akan tetapi saat aku mau menutup jelendelanya, ada sepotong daun sakura jatuh didepan mataku.
"Huh!?"
Bukan hanya satu tapi banyak bunga sakura jatuh dan berterbangan didepan jendela kamarku.
"Ini... Hm!?"
Pada saat aku melihat bunga sakura yang berjatuhan itu, aku jadi teringat akan sesuatu yang pernah nenek katakan padaku dan juga kenapa aku jadi seperti ini.
3 Tahun yang lalu saat aku berumur 4 tahun, pada saat itu aku masih bahagia, ayah dan ibuku masih sangat baik dan sayang kepadaku. Kami berjalan-jalan ketaman bermain, pinik bersama, dan juga bersenang-senang disemua tempat yang menyenangkan. Ayah juga pada saat itu sering membelikan aku mainan, dan ibu juga sering memasak makan yang enak untukku.
Aku sungguh sangat bahagia saat itu, namun kebahagiaan itu hanya sementara karena ada satu insiden yang tidak sengaja terjadi, yaitu saat aku sedang bermain diluar halaman tempat ayahku bekerja. Saat itu ayahku sedang berbisnis dengan seseorang dan mereka bertemu diluar kantor untuk menikmati bunga sakura yang berjatuhan sambil membicarakan bisnis yang tidakku mengerti.
"Kalau begitu jaga data ini jangan sampai jatuh ketangan orang lain, pada saatnya nanti aku akan mengambilnya kembali"
"Baik saya mengerti"
"Ayah!"
"Eh! Renne?"
Aku mendatangi ayahku dan memeluknya sehingga membuatnya terkejut.
"Ah!? Datanya!"
Karena aku membuatnya terkejut data yang dipegang ayah jatuh bersamaan dengan itu, teh yang ada diatas meja juga ikut jatuh karena tidak sengaja kakiku menyenggol mejanya sehingga terguncang, itu membuat data yang jatuh tadi terkena air teh dan menjadi erorr.
__ADS_1
"Aaaaaa! Datanya!"
Ayahku langsung teriak histeris karena data yang diberikan tadi menjadi erorr dan rusak.
"Sungguh kejadian yang tak terduka dan itu juga yang membuatnya menjadi akhir untukmu Tuan Kousaki"
Orang yang berbicara kepada ayah tadi langsung menatapnya dengan tatapan yang dingin dan segera pergi dari tempat ini.
"Saya mohon beri saya kesempatan lagi!"
Ayah langsung menghampiri orang itu dan menundukan kepalanya untuk memberinya kesempatan lagi.
"Apa kau tahu seberapa penting data itu, aku tidak perlu jelasankan lagi bukan?"
"Ahh... Itu...."
"Nikmatilah masa terakhirmu bekerja dan setelah hari ini kau tidak akan bisa bekerja dimana-mana lagi, semoga harimu menyenangakan Tuan Kousaki"
"Tidak mungkin..."
Ayahku langsung terduduk dan pasrah terhadap apa yang terjadi, mukanya juga menunjukan kalau ini adalah akhir dari hidupnya.
"Ayah ada apa? Apakah ada hal buruk yang terjadi?"
"ARG!!! INI SEMUA SALAHMU! KALAU SAJA KAU TIDAK MENGGANGGU AYAH TADI HAL INI TIDAK AKAN TERJADI!"
"Aaah... Ayah...?"
"MULAI SEKARANG JANGAN SEBUT AKU AYAHMU LAGI AKU TIDAK PUNYA ANAK PEMBAWA BENCANA SEPRTIMU"
Aku hanya terdiam dan terkejut dengan apa yang dikatakan ayahku, bahkan saat aku sudah pulang kerumah dan ibuku mengetahui hal itu.
"Dasar anak pembawa bencana kenapa kau melakukan hal seperti itu! JANGAN PERNAH MENGANGGAP AKU IBUMU LAGI!"
Ibu menampar wajahku dan memarahiku saat mengetahui hal itu, mulai hari itu orang tuaku tidak sayang lagi kepadaku dan terus melakukan hal hal kejam kepadaku, dan hanya neneklah yang membela ku.
"Itukan tidak sengaja jangan sakiti anakmu seperti ini karena hanya masalah itu"
"Karena hanya masalah itu bilang Ibu? Apa Ibu tau aku sekarang tidak bisa mencari pekerjaan lagi, dan tidak bisa menafkahi keluarga ini"
"Tapi itu tidak bisa menjadikan alasan kamu kejam terhadap anakmu sendiri"
"Cih! Anak pembawa bencana ini sudah merusak masa depan keluarga ini, jadi apa salahnya kejam terhdapnya"
"DIAM KAU! bisa-bisanya kau berkata seperti itu kepada anakmu sendiri"
Ayah dan nenek terus-menerus bertengkar sedangkan Ibu menatapku dengan penuh amarah dan kekecewaan seperti dia melihat aku ini hanyalah seorang anak tak berguna yang hanya membawa bencana terhadap mereka.
Aku merasa seperti anak buangan yang tidak ada gunanya untuk hidup, aku berharap tidak dilahirkan saja kedunia ini, akan tetapi...
"Hik...Hik..."
"Renne janganlah sedih dan menangis"
"Huh? Nenek?"
Pada saat itu nenek menghampiruku yang duduk dan menangis dihalaman belakang rumah nenek yang dipenuhi pohon sakura yang berjatuhan.
"Renne kamu harus tau kalau hidup itu panjang dan indah, banyak hal didunia ini yang buruk begitu juga hal yang baik"
"Hm? Apa maksud nenek?"
"Aku tau sekarang kamu mengalami kejadian buruk dalam hidupmu dan pasti berharap untuk tidak terlahir saja didunia ini"
"Eh! Itu..."
"Renne kamu harus tau, kalau pasti ada sinar yang akan menerangi kita"
"Sinar yang akan menerangi kita?"
"Iya, itu benar... Nenek sudah menemukan sinar itu dan hanya menunggu waktunya saja untuk menyusulnya"
"Ahhh..."
"Renne suatu saat kau pasti akan menemukan sinar itu...... Jadi tunggulah dia"
*********
"Nenek..."
Huh? Dia menangis? Apakah dia memimpikan sesuatu yang buruk?
"Yuuya kenapa dia menangis?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia memimpikan sesuatu yang buruk"
"Memimpikan sesuatu yang buruk?"
"Iya, dari apa yang telah dia alami tadi pasti dia memimpikan sesuatu yang buruk, aku hanya berharap kedepannya dia akan baik-baik saja"
__ADS_1
Kalau dilihat baik-baik aku pernah melihat dia, tidak... Aku merasa sering melihatnya tapi dimana? Atau mungkin hanya perasaanku saja? Tapi perasaan familiar terhadap gadis ini sebenarnya apa?