Senkai Impact New Origin

Senkai Impact New Origin
Chapter 4 - Story Of Kiana Kaslana Part 1


__ADS_3

30 menit yang lalu sebelum ledakan terjadi.


"Hah, hah, hah...." SFX : Suara nafas terengah-engah.


SFX : Suara orang berlari.


"Kiana Awas"


"Dorr" SFX : Suara tembakan.


"Hampir saja"


"Kalen, ayo cepat mereka masih mengejar"


"Hmu, ayo Kiana"


Mereka melanjutkan berlari.


Namaku adalah Kiana Kaslana, berumur 7 tahun, dan seorang putri dari keluarga yang biasa. Seperti yang dilihat aku dan orangtuaku sekarang lagi berlari dan dikejar oleh sebuah organisasi dikarenakan sesuatu hal yang terjadi padaku atau lebih tepatnya dalam tubuhku.


Pada awalnya kami hanyalah seorang keluarga biasa yang hidup normal dan damai sampai hari itu terjadi, seorang berjas hitam dari suatu organisasi datang kerumah kami mengatakan kalau aku adalah seorang Senkai. Mendengar itu kedua orangtua ku merasa kalau dunia mereka telah hancur.


"Kami beri waktu 3 hari untuk menyerahkannya"


"Ba..Baikkk"


Ayahku mengatakan itu dengan penuh ketakutaan dan gemetaran, dan disampingnya ibuku menangis dengan sedihnya.


Beberapa saat kemudian orang berjas hitam itu pergi, aku mendatangi ayah dan ibu diruang tamu dan mulai bertanya tentang kejadian tadi.


"Ibu Ayah apa yang terjadi, Siapa orang berjas hitam tadi..."


Dengan polosnya aku bertanya tanpa tau situasi yang mereka alami.


"Tidak ada apa-apa kiana"


Dengan senyuman yang lembut ayahku berkata seperti itu sambil memegang kepalaku, dia tau aku cemas dan dia tidak memberi tahukan apa apa tentang itu.


"Benarkah?, kalau begitu aku tidak akan cemas"


Dengan polosnya aku percaya dengan kata ayahku dan membuat kejadian tadi seperti seakan tidak pernah terjadi, dan itulah ke tidak tahuanku hari itu yang membuat keluargaku dalam bahaya.


Keesokan haripun tiba, aku seakan terbawa terguncang-guncang dan itu membuat tidurku terganggu dan pada saat membuka mataku perlahan, aku berada dipunggung ayahku.


"Hm!?"


"Ayah?"


"Kiana sudah bangunnya, kalau mau tidur lagi tidak apa-apa kok"


"Huh?, apa yang ayah katakan"


Aku berkata dengan santainya dan menggosok mataku karena aku bangun tidur.


"Tidak apa-apa kok kiana kalau mau tidur lagi"


Ibu berkata seperti itu sambil memegang mengelus kepalaku dengan senyumnya.


"Ibu?"


Disampingku juga ada ibuku yang berjalan disebelah ayah mengikutinya sambil membawa tas yang penuh dipunggungnya seperti mau pinik disuatu tempat.


"Huh? Ibu kenapa membawa tas?"


"Apakah mau pinik?"


Seketika itu aku bertanya dan seketika itu juga aku tersenyum gembira mengira apa yang dilakukan ibu dan ayahku membawaku untuk piknik.


"Eh!?"


Pada saat itu juga ayah dan ibuku terkejut dengan apa yang aku katakan dan seperti yang dilihat aku tidak menyadari bahwa mereka terkejut, setelah itu merekapun tersenyum.


"Iya itu benar Kiana kita akan piknik"


"Eh, benarkah Horee"


Dengan polosnya aku percaya dengan kata ayahku dan senang gembira sampai sampai mengangkat kedua tanganku.


"Tapi Kiana, kamu harus bersabar karena tempat pikniknya lumayan jauh"


"Benarkah? baiklah aku akan bersabar"


"Duarr" SFX : Suara ledakan


Tiba tiba ada suara ledakan yang mencul dari suatu tempat, suara ledakan yang terjadi itu membuatku merinding seakan-akan sesuatu yant buruk akan terjadi.


"Ayah suara ledakan apa itu" dengan takutnya aku bertanya.


Ayahku melihat kearah ledakan itu dengan paniknya begitu juga ibuku seperti mereka tau apa yang terjadi dan apa maksudnya itu.


"Tidak apa apa Kiana"


Dengan gemetarannya ayahku memegang kepalaku untuk menenangkan ku, tapi seketika itu gemetaran dari tangan ayahku hilang, sepertinya dia menghilangkan gemetarannya untuk membuatku tenang dan tidak takut dengan apa yang terjadi tadi.


Setelah menenangkanku ayahku menatap ibuku memegang tangannya dan lekas berlari sambil mengedongku disebuah jalan menuju hutan.


*******


"Hmm, mereka kaburkah" sesorang lekaki berbicara sendiri.


"Aku sudah menduga ini terjadi, jadi aku membawa unit untuk berjaga ternyata mereka bergerak lebih cepat" Lelaki itu tiba tiba tersenyum.

__ADS_1


"Unit 7 Anloid F-15 cepat bergerak cari Senkai itu, dan bunuh orang yang bersamanya juga" Lekaki itu tersenyum jahat dan berkata seperti itu tanpa belas kasihan sama sekali.


*******


Beberapa hari kemudian lebih tepatnya 3 hari setelahnya.


"Kiana apa enak?"


"Hmu, enak sekali ibu"


Saat ini aku berada dihutan dekat pinggiran sungai, disini aku, ayah, dan ibuku sedang makan Ikan.


"Ayah ibu sampai kapan kita dihutan dan kaoan kita akan sampai tempat pikniknya"


Karena sudah tidak sabaran akupun bertanya seperti itu, dan melihat respon orang tuaku sepertinya mereka juga tidak tahu sampai kapan ini terjadi dan seketika itu juga mereka langsung cemas raut sedih dimuka mereka langsung muncul.


"Kiana ini sebenarnya..."


Ayah ingin mengatakan sesuatu pada ku dengan raut wajah sedihnya begitu juga ibu, tetapi ketika ayahku mau merbicara sesuatu mulai muncul dari semak-semak.


"Huh!?"


Ayah dan ibuku sangat terkejut dengan apa yang tiba tiba muncul dari semak-semak dan itu membuat mereka gemetaran dan ketakutan.


"Eh?, Apa itu"


Dengan polosnya aku bertanya, aku tidak tahu apa itu mucul secara tiba tiba berbentuk seperti seorang manusia tapi sebenarnya itu robot.


"Kiana ayo lari"


Setelah melihat itu ayah langsung memegang tanganku dengan panik dan berlari sekuat tenaga bersama ibuku.


Disitulah awal dari perlarian kami yang dikerjar oleh sebuah robot, walaupun sebenarnya pelarian kami sudah dimulai dari ledakan yang sebelumnya tapi aku tidak menyadari itu.


Kembali pada cerita awal.


"Hah,hah,hah..." SFX : Suara terengah-engah karena berlari


"Ibu sampai kapan kita terus berlari"


"Kenapa kita dikerjar"


Aku bertanya pada ibuku yang dengan paniknya bersama ayahku sambil dikejar oleh robot.


"Kiana kami melakukan semua ini untuk melindungimu"


Ibu mengatakan semua itu dengan senyum diwajahnya.


"Eh!?"


"Itu benar Kiana, tenang saja apapun yang terjadi ayah tidak akan membiarkan mereka membawamu"


Dengan wajah semyuk bangga nya ayah mengatakan itu padaku sambil berlari, tentu saja aku bingung dengan apa yang mereka katakan dan aku tidak ada pilihan selain menerima apa yang mereka katakan.


Pada saat aku berlari, aku tidak sengaja terkena batang kayu dan terjatuh didekat sebuah jalan menuju sebuah lebah.


"Kiana!!!"


Bersamaan saat aku jatauh robot-robot mecha itu sudah sangat dekat dengan kami, melihat keadaan itu ayahku berdiri lantang dibelakangku mengahadap robot-robot mecha itu.


"Pergilah bersama Kiana, aku akan menghadang mereka"


"Sayang"


"Huh? ayah?"


"Baiklah, ayo Kiana"


"Tapi bagaimana dengan ayah"


Ketika ayah mengatakan itu aku sangat kwatir dengannya.


"Kiana tidak perlu kwatir"


Ayah dengan jempol dan senyumnya yang lebar dia berkata seperti itu, dan seketika itu juga ibu menarik tanganku belari dengan penuh tangisan diwajahnya.


Aku berlari dengan ibu dan ketika sudah jauh dari ayah kita berhenti didekat tempat masuk lebah dihutan.


"Sepertinya ayahmu tidak bisa menahan terlalu lama"


Ketika ibu mengatakan itu, ibu langsung menatapku dengan wajah yang serius dan langsung menunduk untuk menyamai ketinggiannya denganku.


"Kiana kamu harus terus berlari dan berlari untuk hidup, jangan biarian pengorbanan ayah dan ibu menjadi sia-sia"


"Apa maksud ibu?"


Dengan kebingungan dan sedih aku melihat ibu.


"Kiana, inilah yang hanya bisa dilakukan ayah dan ibu untukmu"


"Huh?"


Mendengar ibu mengatakan itu aku merasa sangat sedih dan entah kenapa ada perasaan aku tidak bisa melihat mereka lagi dan ini terakhir kalinya.


"Kiana..."


Ibu langsung memegang kepalaku dan tersenyum kearahku dengan lembut dan berkata seperti untuk yang terakhir kalinya.


"Setelah ini kamu harus berjuang untuk menemukan kebahagiaan"


"Tidak peduli sesakit apa kejadian yang kamu alami setelah ini, tidak peduli jalan yang kamu lewati, tidak peduli seperti apa orang yang melukaimu..."

__ADS_1


"Temukanlah bahagiaan, jangan hidup untuk balas dendam tapi hiduplah untuk orang yang penting bagimu, seperti halnya ibu dan ayah"


"Ibu..."


Aku menatap ibu dengan sedihnya dan mendengar apa yang dia katakan itu membuatku mau mengeluarkan airmata.


SFX : Suara semak-semak


"Mereka datang..."


"Kiana pergilah, larilah, jangan sampai tertangkap, tetaplah hidup dan temukan kebahagiaanmu"


"Ibu, aku..."


Perlahan airmata ku keluar dari mataku melihat ibuku ingin mengorbankan dirinya untukku seperti ayah, itu membuat hatiku sakit sampai sampai aku tidak mau meninggalkan ibuku tetapi.


"Kiana Ibu menyayangimu begitu juga dengan ayah, jadi tetaplah hidup untuk kebahagiaanmu dan kami"


Ibuku perlahan memelukku dengan lembut diiringi dengan tangisan diwajahnya, begitu juga aku airmataku mulai menetes dengan derasnya.


"Jadi kiana pergilah..."


Ibu mendorongku perlahan dan tersenyum dengan tangisan diawjahnya, melihat semua dan pengorbanannya untuku, aku memenuhi harapan ibu dan ayah dan akupun berbalik dan berlari dengan tangisan diwajahku.


Ketika aku berlari aku melihat sekila kebelakang, melihat ibuku berdiri dengan senyum diwajahnya, melihat itu aku tidak tahan dan ingin kembali tetapi aku tidak bisa, aku harus memenuhi harapan ibu dan ayah untuk hidup.


"Duaar" SFX : Suara ledakan


"Hm!?"


"Suara ledakan apa itu"


Setelah aku menjauh aku mendengar suara ledakan, Tapi aku tidak memperdulikannya dan terus berlari.


Beberapa saat kemudian aku telah menjauh dari ibu dan masuk lumayan jauh didalam lebah dekat lereng gunung, aku berhenti sebentar karena kelelahan dan kakiku sakit dan bersender dekat pohon.


"Ayah ibu..."


Aku mengatakan itu dan tangisan airmata mengalir diwajahku, melihat apa yang ayah dan ibu lakukan untuk membuatku tetap hidup dan tidak tertangkap oleh robot, itu membuatku sangat sakit.


"Kenapa ibu dan ayah tidak menyerahkan aku saja dengan begitu mereka tidak akan..."


Dengan penuh penyesalan aku berender dengan sedih sambil memeluk kedua paha kakiku untuk menutup wajahku yang dipenuhi dengan airmata, dan ketika itu juga aku melihat sebubah bayangan dengan jumlah yang banyak.


Akupun mulai ketakukan dan berlari lagi tidak peduli aku kelelahan ataupun kakiku sakit, aku berlari dan terus berlari untuk hidup.


Berapa saat kemudian ketika aku berlari, aku melihat jalan didepanku buntu, aku terpojok dan tidak bisa kabur.


Sesaat aku terpojok aku melihat kalau robot-robot mecha itu sudah mulai mendekat, dan disaat itu juga aku gemetaran ketakutan, tetapi walaupun begitu aku tetap ingin hidup demi ayah dan ibuku.


"Aku harus hidup..."


Akupun mulai berkata-kata dengan nyaringnya.


"Ayah dan ibu telah berkorban untukku, aku tidak boleh mati..."


Aku berkata seperti itu karena aku ingin hidup dan menepati kata-kata ibuku, walaupun sekarang tidak ada yang menolongku tapi aku tidak ingin mati, aku masih belum menemukan kebahagiaan yang ibu bicarakan dan juga tujuan ku berada didunia ini, karena itu aku ingin tetap hidup"


"Aku..."


Aku memejam mataku, karena tidak tahu apa yang aku lakukan, aku ketakutan, aku gemetaran, tapi apa yang harus aku lakukan.


"Sling..." SFX : Suara pedang


"Huh!?"


Aku mendengar suara seperti pedang dan itu membuatku perlahan membuka mataku, ketika aku membuka mataku aku melihat seorang laki-laki yang seumuran dengan ku berdiri didepanku memegang sebuah pedang dan disebelahnya ada dua robot mecha yang terbelah menjadi dua.


"Siapa dia" berbicara dalam hati


Aku mulai gemetaran lagi ada seseorang yang tiba tiba datang dan membelah dua robot mecha itu dengan mudahnya, tetapi entah kenapa aku merasa diselamatkan dan merasa aman ketika lekaki itu datang.


Beberapa saat kemudia semua robot mecha itu telah dikalahkannya termasuk robot yang membunuh ayah dan ibuku, aku merasa lega karena sudah aman tapi pada saat itu juga aku merasa kosong.


Aku telah kehilangan semua yang berharga bagiku, aku diselamatkan dan berhasil hidup, tetapi aku merasa sakit sekali dan sedih, orang tuaku telah berkorban untukku dan aku kehilangan mereka, aku telah kehilangan duniaku.


Pada saat itu akupun merasa hampa seakan-akan diriku hampir dimakan kekosongan yang dalam, dan itu membuatku berpikir untuk apa aku hidup dan untuk apa pegorbanan orang tuaku.


Ketika aku dalam kehampaan, laki-laki yang menyelamatkan aku tadi memelukku secara perlahan dan itu membuatku merasa hangat.


"Tidak apa..."


"Kalau kamu mau mengangis, mengislah tidak apa..."


Kata laki-laki itu menghangatkan ku dan itu membuat aku mengingat hari-hariku bersama orang tuaku, itu membuat air mataku mulai mengalir dan setelah itu akupun langsung menagis dengan kecangnya.


"Fwuaaaa,fwuaaa..." SFX : Suara tangisan gadis menangis


"Sudah tenang?"


Akupun mengaguk kepalaku untuk mengatakan iya dudepannya, seketika itu juga laki-laki itu memandnag aku dengan sedihnya seakan-akan dia juga pernah mengalami apa yang aku alami sekarang ini.


"Mulai aku akan bersama mu dan menjadi keluarga mu, tidak peduli bahaya atau masalah apa yang datang aku akan melindungimu dan akan selalu bersama mu suka maupun duka"


"Huh!?"


Aku terkejut dengan apa yang dikatakan laki-laki itu, dan aku mulai kebingunan dengan apa yang terjadi sekarang, tetapi entah kenapa perasaanku mengatakan kalau aku sangat ingin laki-laki itu menjadi keluargaku ataupun lebih dari itu, padahal kita baru saja bertemu.


"Jadi tidak perlu kwhatir lagi..."


Laki-laki itupun mulai memegang kepalaku dengan lembutnya dan mulai menatapku dengan senyumannya.

__ADS_1


"Namaku Zetsu Yuuya Aku disini untuk melindungimu, Kiana"


Diringi dengan sinar matahari laki-laki itu berkata seperti itu, dan itu membuatku merasakan kehangatan mengisi kekosongan dalam diriku, dan aku mulai menyadarinya bahwa setelah ini dia akan menjadi cahayaku yang baru yang selalu menghangatkanku dan selalu bersamaku.


__ADS_2