
Pada hari itu aku tidak sengaja meninggal karena ditabrak truk yang sedang lewat, tetapi aku tidak mati ataupun lenyap melainkan diRenkarnasi dalam tubuh seorang anak laki laki berumur 7 tahun.
Aku bingung saat itu kenapa aku masih hidup dan terlebih lagi aku punya ingatanku ketika Renkarnasi. Disaat aku sadar aku berada didunia yang berbeda, dunia yang teknologinya lebih maju dibandingkan duniaku yang sebelumnya.
Aku melihat dan terus melihat, ketika itu aku langsung menyadari sesuatu kalau aku berada didunia yang aku kenal meskipun tidak terlalu menyakinkan, tapi aku tahu ini dunia apa.
Disaat aku tahu ini dunia apa sebenarnya, disaat itu aku mulai menyadari ini adalah kesempatanku untuk menyelamatkan mereka dari benang takdir yang kejam dan penuh dengan penderitaan.
Disaat yang sama dan dihari yang sama ketika aku mulai mau melakukan tujuanku, disaat itu aku tidak sengaja melihat seorang gadis kecil dikerjar oleh sesuatu. Aku memperhatikanya dan melihat bahwa sebenarnya aku kenal dengan gadis yang dikerjar itu, akupun mengikutinya dari atas sampai akhirnya gadis itu terpojok.
aku berpikir mau menyelamatkannya, tetapi seketika itu mucul pertanyaan dalam diriku_"apakah aku punya kekuatan untuk menyelamatkanya?" pertanyaan itu terus terniang di kepalaku dan itu membuatku menjadi lemah dan juga membuatku ketakutan.
Ketika aku dalam keraguan untuk menyelamatkan gadis itu atau tidak, pada saat yang sama aku mendengar sebuah suara.
"Aku harus hidup..."
Suara itu bukan dari manapun melainkan dari gadis yang terpojok itu, mendengar gadis itu berkata seperti itu membuatku mengingat akan sesuatu yang pahit dan juga membuatku ingat akan tujuan awalku.
Seketika itu juga tanpa keraguan akan pilihanku, aku melopat dari tebing dan menebas musuh yang dibawah. Beberapa menit kemudian pertarungan telah berakhir, aku tidak tahu ini keberuntunganku atau tidak tapi hanya satu yang aku tahu, aku telah menyelamatkannya.
Pada saat pertarungan telah berakhir aku mendatangi gadis itu dan mengulurkan tanganku diatas kepalanya. Pada saat itu aku telah menyadarinya ketika aku mengulurkan tanganku kearahnya yang artinya pada saat itu dan dihari itu ceritaku telah dimulai.
******
2 hari kemudian setelah aku menyelamatkan Kiana.
Dalam dua hari sebelumnya aku dan Kiana pergi menemui kedua orang tua Kiana yang telah meninggal dikarenakan oleh robot mecha yang sebelumnya. Dalam dua hari itu, aku dan Kiana membuat makam untuk orang tuanya diatas sebuah tebing bukit tenpa aku melompat sebelumnya untuk menyelamatkan Kiana, karena tempat itu mempunyai pemandangan yang indah dan juga bagus.
Ini seperti yang aku pikirkan Kiana sangat sedih akan kedua orang tuanya yang meninggal, meskipun aku hanya lihat tetesan air matanya yang keluar, tapi aku tahu kalau sebenarnya ia merasa sangat sedih dihatinya dan ia hanya tidak mau mengungkapkan nya kepadaku.
Dua hari telah berlalu dan kiana masih dimakam orang tuanya begitu juga aku. Aku tidak bisa meninggalkan Kiana sendiri dimakam ini jadi aku memutuskan untuk menemaninya, meskipun terkadang-kadang aku pergi untuk melihat keadaan sekitar dan juga untuk mencari makanan.
Melihat keadaan Kiana aku tahu masih butuh beberapa waktu lagi untuk menerima semua ini, tetapi kita tidak punya banyak waktu lagi sudah dua hari kami disini, kami harus segera pergi supaya tidak ada robot mecha dalam jumlah yang banyak mengejar kami.
Akupun berdiri dan ingin membilangkan apa yang aku pikirikan kepada Kiana yang masih duduk didepan makam kedua orang tunya, meskipun itu akan membuat Kiana merasa sakit karena berpisah dengan makam kedua orang tuanya.
"Kiana maaf telah mengganggu, tapi kita harus..."
"Ayah...Ibu..."
__ADS_1
"Eh!?"
Pada saat aku ingin mengatakan apa yang aku pikirkan kepada Kiana, aku mendengar Kiana berbicara setelah dua hari berlalu dan juga aku melihat airmata nya mulai mengalir lebih banyak dari pada yang sebelumnya.
"Ayah...Ibu... Maaf karena Kiana tidak bisa melindungi Kalian, Maaf karena menjadi Kiana menjadi masalah yang menimpa Kalian..."
"Huh!?"
"Kiana.."
Aku melihat Kiana yang penuh dengan airmata memeluk batu makam kedua orang tuanya, penuh dengan kesedihan, penderitaan karena kehilangan orang yang berharga, dan juga penyesalan karena tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat Kiana aku merasa seperti aku melihat diriku yang dulu diduniaku yang sebelumnya.
"Kiana.."
Ketika aku mengulurkan tanganku untuk menenangkan Kiana, tiba tiba saja Kiana mengeluarkan kata kata dan seketika itu juga aku mengehentikan tanganku.
"Kiana memang lemah, Kiana memang tidak berguna hanya menjadi beban untuk kalian berdua..."
"..."
"Tapi..."
"Oleh karena itu Kiana..."
Kiana mulai melepas pelukannya dimakan dan orang tuanya dan setelah itu tiba tiba ia langsung berdiri, diringi dengan tetesan airmatanya yang keluar.
"Kiana akan terus hidup.... Hidup sesuai harapan ayah dan ibu dan juga menemukan apa yang pernah ibu katakan pada Kiana"
"Huh!?"
Di Iringi dengan mentari pagi yang muncul ditepi tebing, aku melihat wajah Kiana dengan expresi yang serius dan juga tetesan airmata yang masih mengalir. Itu membuatku sangat terkejut bergitu juga kagum dengan apa yang dengar dan juga apa yang aku lihat.
"Dug..dug..Dug" SFX : Suara detak Jantung
Melihat itu semua, entah kenapa jantungku berdedup kencang dan tanpa pikir panjang tiba tiba aku mengatakan apa yang aku pikirkan.
"Om, tante..."
Tiba-tiba saja aku memegang tangan Kiana seperti memegang tangan kekasih sendiri tanpa sadar dan Kiana terkejut akan itu.
__ADS_1
"Hm!?
"Aku Berjanji pasti akan menjaga Kiana dan pasti membuatnya bahagia..."
"Eh!?"
"Jadi Kalian tenang saja, aku pasti akan melindungi Kiana meskipun itu harus mengorbankan nyawaku, jadi kalian tidak perlu kwatir..."
"Aku pasti akan menjaga Kiana dan bersamanya sampai akhir"
Dengan menggengam tangan Kiana dengan erat aku berkata seperti itu dengan senyum percaya diri yang tinggi diwajahku sambil memandang makan kedua orang tua Kiana.
Setelah mengatakan semua yang aku pikirkan, aku melihat kearah Kiana dan juga masih menggengam tangannya.
"Huh?"
Setelah aku menghadap kesamping ingin melihat wajah Kiana, tiba-tiba saat aku memandanginya wajahnya menghadap kebawah dan tangannya juga gemetaran.
"Kiana? Apa kau baik-baik saja?"
"Huh!?"
Secara tiba-tiba Kiana terkejut dan juga setelah itu ia langsung memandangiku dengan wajah yang memerah dan juga dengan raut wajah yang aneh.
"Kiana ada apa? Wajahmu memerah, apa kau sakit?"
Secara reflek aku melepas tanganku yang menggengam kiana dan meletakannya didahi nya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Pada saat aku memegang dahinya, pada saat yang sama muka Kiana tambah memerah dan juga seperti ada asap yang keluar dari kepalanya. Seketika itu juga Kiana langsung menurunkan tanganku dengan cepat.
"Tidak ada apa-apa"
Dengan keadaan yang panik Kiana mengatakan itu dan seketika juga ia langsung berbalik kebelakang dan pergi menjauh dariku.
"Eh? Kiana?"
Aku hanya bisa kebingungan dengan sikap yang Kiana tunjukan padaku dan juga aku jadi ingin bertanya; kenapa wajahnya tiba tiba memerah tadi? Jadi yang hanya bisa kulakukan adalah kebungungan dengan tingkah Kiana yang tiba-tiba berubah.
( ^ Seorang Penyendiri yang tidak peka dengan apa yang dikatakannya ^ )
__ADS_1