
Episode 1. Berubah
"Alani, apa yang kau lakukan?" tanya Alina saat mengetahui ada yang berubah dari kembarannya itu.
"Ini jalanku Alina, jadi ku mohon jangan ikut campur," balas Alani dingin.
Alina tahu apa yang sedang Alani rasakan. Dia mencoba mendekat, sekali lagi untuk mengingatkan. Bukan mengingatkan sekali lagi, tapi tugas ini akan Alina lakukan setiap hari.
"Kembaranku itu cewek, bukan cowok seperti ini," ucap Alina sambil menunjuk wajah Alani di cermin.
"Entah siapakah aku, yang jelas panggil aku Alan mulai saat ini."
Alani segera meraih tas sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah SMA. Perubahan derastis yang memang Alani inginkan di saat dia masuk sekolah baru.
"Aku benci sekolah lamaku. Cowoknya gak punya hati," desisnya.
"Lani..." panggil Alina.
"Apaan sih!!" Alani sudah sewot setengah mati.
"Aku tahu, kamu emang dilecehkan oleh mereka. Tapi ku mohon, perubahanmu seperti ini bukanlah jalan yang tepat."
"Inilah hidupku Lin, jadi ku harap jangan urusi hidupku. Jika kamu nyaman dengan keadaanmu sekarang, ya udah jalanin aja. jangan tengok keadaanku. Kamu gak tahu gimana rasanya? Mereka mengintimidasi ku dengan wajah penuh mesumnya tanpa memperdulikan betapa sakitnya aku."
Alani menatap ke langit, tapi pikirannya masih terpaku pada kejadian beberapa waktu silam.
"Tapi Lani, meskipun begitu kodrat kita adalah seorang perempuan," balas Alina dengan lirih.
"Aku gak mau dilecehkan lagi Na. Uwes cukuplah aku sengsara. Mentalku gak kuat Na, gak kayak mentalmu."
Alani sudah pasrah. Mungkin perubahan seperti ini adalah yang terbaik buat dirinya.
"Iya Lani. Maafkan aku yang belum bisa pahamin kamu. Iya uwes yok, kita berangkat sekarang."
Alina mencoba untuk berdamai dengan keadaan Alani saat ini. Karena cuma ada mereka dan sang bibi yang mengurusi mereka. Hanya sebagai keponakan, mana mungkin diperhatikan lebih. Bahkan jangan pernah berharap diperhatikan sedikit pun kalau bisa.
Sebenarnya, kedua gadis kembar ini dulunya begitu sempurna. Memiliki wajah cantik, keluarga berada dan selalu membuat iri teman-teman bahkan tetangganya. Tapi kejadian suram akibat pelecehan seksual, membuat Alani begitu trauma dan memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi tomboi seperti sekarang ini.
***
"Loh, Lina! Lani!"
Meskipun ini sekolah baru, tapi sialnya Alani masih bertemu dengan teman lamanya. Teman SMP yang mungkin mengetahui jati diri dia seperti apa.
"Ck, udah sekolah jauh dari tempat sebelumnya... Ternyata masih mempertemukan ku dengan cecunguk seperti mereka," desis Alani kesal. Ntah, Alani moodswing banget setelah kejadian tak mengenakkan itu.
"Gila, lu ngerubah diri lu jadi tomboi Lan?" tanya Tasya dengan mulut menganga. Pasalnya beberapa hari yang lalu, Alani masih biasa aja. Ya walaupun sering menyendiri, gak seperiang dulu.
"Ini hidup gue. Gue mau berubah kayak gimanapun, gue rasa ini bukan urusan elu," balas Alani dengan sinis.
"Ya tapi kan-----"
"Gue harap, elu gak memperkeruh keadaan," sahut Alina.
__ADS_1
"Eh, sowwy Lin. Gue gak ada maksud." Tasya merasa bersalah. Tapi Tasya tak serta merta merasa bersalah. Dia justru berulah. Diam-diam, Tasya mencari teman untuk membully Alani.
"Gue kok dilawan? Gak akan selamat hidup kalian!" ucapnya sambil menyeringai.
"Hei guys!" Tasya menghampiri teman-temannya. Berkenalan lalu pura-pura dekat hingga dia langsung membawa nama Alani ke sebuah topik pembicaraan mereka.
"Kalian tahu gak guys?" ucap Tasya penuh semangat.
"Tahu apa ya?" tanya Meta. Dia anak terkepo musim ini.
"Itu loh, cewek tomboi yang ngakunya Alan." Tasya sangat penuh semangat.
"Hooh, tahu-tahu. Kenapa emangnya?" tanya Meta peanasaran.
"Dia itu kembarannya Alina."
"Hooh terus?" Meta sudah sangat tak sabar.
"Padahal dia itu cantik lho, secantik Alina. Tapi kok milih tomboi gitu ya?" ucap Tasya.
"Ya baguslah dia tomboi. Jadi saingan kita buat dapetin cowok jadi berkurang," sahut teman yang lain.
"Klo menurut gue sih, mungkin dia punya kelainan. Suka sesama jenis mungkin," celetuk Meta sekenanya.
"Hiii, amit-amit jabang bayi deh. Gak bisa bayanginnya gue. Apa iya dia begitu?" Tasya tak menduga.
"Kan bisa jadi."
"Ya udah, mulai sekarang kita jauh-jauh aja sama dia. Takut ntar kita jadi targetnya," sahut Tasya takut.
"Hah, elu penasaran?" tanya Tasya dan Meta secara bersamaan.
"Ya, setomboi apa dia?" jawab Jessi enteng.
***
Di dalam kelas.
"Kamu gak mau ke kantin Lan?" tanya Alina.
Dari tadi diawasi, tapi sikap Alani semakin diam. Mungkin sekarang adalah cobaan terberat buat Alani. Bersikap tomboi malah membuat dia diolok-olok di dalam kelas.
Sebagai kembaran, tentu Alina gak tega. Tapi ya gitulah, Alani sangat keras kepala. Dia sekolah di asrama putri, tapi dandanan malah kayak cowok.
"Kamu gak pengen nge-es?" tanya Alina sekali lagi.
"Lagi males. Kalau kamu mau ngantin, ngantin aja. Gak usah ngajakin aku," balas Alani dengan ketus.
"Tapi aku gak bisa tinggalin kamu sendirian Lan."
"Udahlah Lin, aku bukan anak kecil lagi. Ku rasa di sini aman, gak ada cowok bajingan kayak di kelas kita dulu," sahut Alani dengan tajam.
Ya iyalah, ini kan asrama putri. Mana ada cowoknya?
__ADS_1
"Yakin kamu gak pa-pa?" tanya Alina memastikan.
"Aku gak pa-pa Lina!! Plis deh!" Alani mulai kesal. Hidupnya yang kelam tambah rumit gara-gara dia pilih jalan seperti ini. Tapi apa boleh buat. Terlanjur makan, ya telan saja. Ngapain diludahkan. Mungkin seperti itulah pilihan Alani yang seperti maling tertangkap basah.
"Ya udah iya, aku tinggal dulu ya?" Dan akhirnya Alina meninggalkannya seorang diri di dalam kelas.
Kepergian Alina membuat Tasya dan kawan-kawannya berulah. Tasya masuk ke dalam kelas disusul Meta dan Jessi.
"Woi lah, anak tomboi sendirian di kelas," celetuk Tasya dengan santainya.
Tasya duduk di bangku depan, tepatnya berhadapan langsung dengan Alani.
"Lu tomboi, ngapain nyari sekolah yang isinya cewek doang? Pengen dianggap paling keren dan tampan kan lu?" tuding Jessi sekenanya.
'Apaan sih mereka, gaje banget,' batin Alani yang mulai merasa terusik.
"Apa gue bilang? Dia ini punya kelainan seksual. Lu suka sesama jenis kan?" Si Meta mulai memfitnah.
Tapi Alani diem aja. Dia males banget ngeladenin 3 cewek yang ada di depannya ini. Kayaknya gak guna banget. Makin diladenin, yang ada mereka makin berulah, pikirnya.
"Napa lu diem aja? Ngerasa ya kalau lu itu emang menyimpang?" Meta mulai memanas-manasi.
"Udah jelas itu. Orang yang gak mau ngaku, berarti dia adalah pemain," sahut Tasya.
"Lu gak punya mulut? Atau gak punya telinga?" Jessi mendekat ke meja Alani.
Alani menatap ke 3 cewek ini secara bergantian. Kesel banget. 'Apa sih mau mereka? Didiemin malah ngelunjak,' batinnya.
"Kalian mau apa hah!" Alani berdiri dari tempat duduknya. Menyedekapkan tangan, seolah-olah hal ini adalah bukanlah hal buruk.
"Gue mau tahu, apa alasan lu sekolah di sini!" Jessi merapat kan wajahnya ke wajah Alani.
Gila.
Alani memundurkan wajahnya. "Alasan gue? Ck." Alani menjeda suaranya sesaat.
"Gue mau sekolah di manapun, itu adalah hak gue. Elu siapa yang harus gue kasih tahu alasan gue buat sekolah di sini atau tidak!" Alani mencibirkan bibirnya.
Sumpah, Alani sangat tampan kalau begini. Tapi juga cantik secara keseluruhan.
"Kurang ajar ya lu!!" Jessi hampir saja menampar wajah Alani.
"Apa yang kalian lakukan pada kembaranku?" Alina berlari dan menatap ke 3 nya dengan garang.
Semua yang ada di sana langsung menatap Alina. 'Sial!!' batin Tasya sebal.
Bersambung...
Alani dan Alina.
__ADS_1
Alani tomboi.