Sepenggal Kisah Alani

Sepenggal Kisah Alani
Gak Biasa


__ADS_3

***


Alani dan Alina keluar dari pekarangan rumahnya. Keduanya hendak berangkat sekolah. Tapi tanpa disengaja, keduanya berpapasan dengan Hendra.


"Kak Hendra?" Sapa Alina terlebih dulu.


"Kamu Lina kan?" tanya Hendra menunjuk wajah Alina.


"Iya kak," balas Alina.


"Terus ini?" Nunjuk wajah Alani.


Merasa tak dikenali, Alani berjalan meninggalkan Lina sama Hendra.


"Aku duluan!" pamit Alani sedikit kesal.


"Lah kok?" Hendra bingung.


"Dia Lani kali kak," protes Alina pura-pura kesal.


"Hah? Lani? Kok dia berubah kayak gitu?" tanya Hendra keceplosan.


"Itu pilihan dia kak, jalan dia," jelas Alina.


'Jadi yang ku lihat kemarin itu Alani? Ku pikir dia cowok, tetangga baru,' batin Hendra kaget.


"Kenapa kak?" tanya Alina.


Meskipun hanya sebatas kakak kelas SD, nyatanya si Hendra lebih akrab dengan Alina.


"Gak apa-apa Lina. Ya udah, susulin tuh kembaranmu. Nanti dia marah lagi," canda si Hendra sambil cengengesan.


"Oke kak." Alina segera berlari dari hadapan Hendra.


"Hati-hati, gak usah lari!" Nasehat Hendra, namun terabaikan.


"Kenapa ya, si Lani bisa berubah kayak gitu?" ucap Hendra yang masih penasaran.


***


Alani berjalan menuju ke kelasnya. Tiba-tiba seseorang menghadang jalannya. Alani menatap wajah yang kini juga tengah menatapnya dengan culas.


"Mau apa loe?" tanya Alani saat tahu siapa orang itu?


Tasya.


"Loe sama Jessi ada hubungan apa?" tanya Tasya sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada.


"Maksud loe?" Alani menegakkan kepalanya. Memberanikan diri untuk mendekat tentunya.


"Cih! Gak usah bertele-tele. Jawab aja, lu sama Jessi punya hubungan apa?"


Tanpa ada kabel penyahut, si Meta langsung menyahut begitu saja. Ya, perempuan gitu. Bibirnya dua kan?

__ADS_1


"Kalian kepo? Wahahaha." Alani tertawa renyah. Baru kali ini dia melihat musuhnya sekepo itu.


"Emang kenapa kalau gue ada hubungan se-su-a-tu sama Jessi?" Alani mancing. Dia mengucapkan secara satu persatu kalimat sesuatu yang membuat Tasya dan Meta kebakaran jenggot.


"Gila lu! Tinggal jawab elu punya hubungan apa sama Jessi? Apa susahnya sih?" Si Tasya sewot.


"Ya ngapain gitu kalian nanya ma gue? Kalian bisa nanya ke Jessi juga kan? Gak harus gue!!" balas Alani melawan.


'Disuruh jahat, gue juga bisa,' batin Alani kesal. Mumpung moodnya jelek, bisa jadi 2 orang yang ada di depannya ini bakal jadi pelampiasannya.


"Songong amat lu!" Tasya kesel dan langsung menendang kaki kiri Alani.


"Aaarhg!" Alani teriak kesakitan.


"Heh!! Ngapain kalian?" tegur Lina yang baru saja sampai.


"Sial. Cabut Met, buru!" Tasya ketakutan dan segera berbalik arah sambil berlari.


"Ya Allah Alan. Kamu kenapa?" tanya Lina sambil mengelus pundak Alani.


"Kaki ku Lin, kaki ku!" Alani merintih kesakitan. Tendangan yang Tasya layangkan ke kakinya tepat mengenai tulang depannya. Alani benar-benar gak kuat untuk berdiri. Linu, mungkin juga memar.


"Ya udah, kita ku UKS aja," ajak Alina.


Jessi yang baru datang langsung melotot melihat Alani yang kesusahan berjalan.


"Ada apa dengan Alan?" tanya Jessi pada siswi lain.


Tapi siswi itu hanya berbisik-bisik tanpa mau memberi tahu .


"Loe apaan sih Jes! Gak usah nanya sama kita, tanya aja sendiri sama si Alan. Dia temen lu kan?" ucap si siswi yang bernama Siska itu.


PLAK!!!


Satu tamparan keras melayang tepat di pipi Siska. "Awas loe!!" tunjuk Jessi emosi.


Di saat seperti ini, tapi mereka malah kayak gitu. Tentu Jessi marah. Sebab, hal ini bersangkutan dengan Alani. "Gue gak akan biarin orang lain menyakiti Alan. Kalaupun Alan sakit, sebabnya harus gara-gara gue," gumam Jessi sambil meninggalkan tempat itu. Dia menyusul Alani yang sedang dibawa ke UKS tadi.


***


Setibanya di UKS.


"Alan, lu kenapa?" Kekhawatiran Jessi begitu terlihat jelas.


Alani tak bisa berkata apa-apa, begitu juga dengan Alina. Dia sebagai kembaran Alani saja merasa kalah saing dengan perhatian yang Jessi berikan.


"Mana yang sakit Lan? Siapa yang udah ngelakuin ini ke elu?" Jessi menangis.


Alina diam tak berkutik. Dia yang sedari tadi ada di samping Alani berasa seperti tak berguna sekarang.


"Katakan Alan. Siapa yang udah nyakitin elu. Biar gue yang hadepin dia!" ujar Jessi lagi. Jessi meraih tangan Alani, namun dengan segera Alani menjauhkan tangannya dari jangkauan Jessi.


Alani menatap Alina yang tengah berdiri melamun.

__ADS_1


"Lin," panggil Alani.


Alina segera menoleh dan mendekat di samping Jessi. "Iya Alan, ada tanya?" tanya Alina dengan nada yang berat.


Alani tahu kok, kalau Alina pasti cemburu akan perlakuan yang gak biasa dari Jessi barusan. "Kamu temenin aku di sini ya?" pinta Alani yang membuat Jessi menganga.


Apa-apaan itu?


"Lan, ada gue di sini," ucap Jessi.


"Dia maunya sama gue Jess," sahut Alina dengan tegas.


"Tapi Lan, gue juga standby di sini kalau lu butuh gue." Sepertinya Jessi benar-benar tak menyerah.


"Mending lu masuk kelas deh Jes," suruh Alani sambil memalingkan wajahnya.


Rasanya dada Alani sesak kalau melihat wajah sedih Jessi kayak sekarang ini. Alani gak kuat, ingin menangis tapi dia tahan. Dia gak mau kalau Jessi makin perhatian ke dia. Soalnya mereka berdua bukan siapa-siapa. Berteman? Maybe seperti itu. Hanya sebatas teman. Tapi perhatian Jessi melebihi dari teman pada umumnya.


***


"Lin, kaki kembaranmu kenapa?" tanya Hendra yang ternyata sudah berada di belakang mereka.


"Kak Hendra pulangnya jam segini juga ya?" tanya Alina saat mendapati pakaian yang dikenakan Hendra adalah seragam sekolah pada umumnya.


"Ya seperti yang lu lihat lah Lin," jawab Hendra.


"Jarang ketemu, jadi mana gue tahu kak," sahut Alina sambil cekikikan.


Lagi?


Alani sangat risih dengan kedekatan Alina dan Hendra.


"Aku duluan Lin. Lanjutkan aja ngobrolnya," pamit Alani sambil berusaha berjalan pincang menjauhi keduanya.


Alani bukannya cemburu atau marah pada Alina. Tapi lebih tepatnya, Alani berusaha menghindari sejauh mungkin dengan yang namanya kaum Adam.


'Mereka semua hanya mencari apa yang mereka inginkan,' batin Alani kesal.


"Eh Lani!!" cegah Alina kasihan.


"Sini biar gue bantu!" tawar Hendra yang berusaha berlari dan mencoba menawarkan tangannya untuk Alani. Tapi, belum apa-apa Alani sudah menepis tangan Hendra dengan kasar. Bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun.


Hendra kaget. 'Kenapa sih dengan cewek ini? Aneh,' batinnya.


Alina yang melihat penolakan kasar dari Alani segera minta maaf pada Hendra. "Maaf ya kak, mood Lani sedang gak bagus," katanya meminta maaf.


"Ah, gak pa-pa Lin. Rawat dia ya, gue balik duluan."


"Iya kak, makasih atas pengertiannya," balas Alina sambil meninggalkan Hendra.


"Sama-sama Lina," jawab Hendra yang masih senantiasa menatap punggung Alani yang kini sudah hilang di balik pintu rumahnya.


'Hm, ada masalah apa sih sama gadis itu?'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2