Sepenggal Kisah Alani

Sepenggal Kisah Alani
Mabar


__ADS_3

***


Alani merebahkan dirinya di kasur. Dia menatap cahaya yang masuk melalui celah jendela kamarnya. Air mata itu menetes tanpa sebab apapun. Tak ada suara selain suara yang keluar dari hidungnya. Alani memejamkan matanya. Air mata itu terasa asin di bibirnya. Bukan rasa air mata itu yang membuatnya menangis, tapi hidupnya. Dia ingin kembali, tapi dia terlanjur mantap untuk merubah jati dirinya. Sulit rasanya untuk kembali ke posisi yang semula.


Dirasa lega. Alani mengusap air matanya dengan telapak kanannya. Seenggaknya, menangis adalah pilihan yang tepat saat ini.


Alina? Sudah banyak Alani merepotkan Alina. Mungkin mulai saat ini, dia harus berusaha mandiri. Biarkanlah dia melalui tanjakan ini sendirian. Ini beban hidupnya, tak boleh seorangpun ikut merasakannya termasuk Alina.


"Lani!!" seseorang memanggilnya dari luar. Alani tahu kalau itu Alina.


Segera Alani memiringkan tubuhnya. Memejamkan matanya rapat. Berpura-pura tidur agar Alina tak curiga.


"Lani!" panggil Alina lagi. Dia berjalan begitu pelan agar tak membangunkan Alani.


Sebuah nampan kecil yang di atasnya ada sepiring nasi dan segelas air putih, Alina siapkan untuk makan sore Alani.


"Ini makanan kanggo sampean. Kalau udah bangun, dimaem yo?" kata Alina sambil menatap Alani. Lalu dia pergi begitu saja.


Melihat Alina sudah pergi. Alani segera merubah posisinya. Dia duduk sambil bersandar. Menatap makanan yang Alina sajikan tanpa minat sama sekali.


Alani beranjak dari tempat tidurnya dan menatap dirinya di cermin. Dia memegang pipinya yang masih cubby. Masih terlihat seperti perempuan meskipun wajah itu tanpa ia make up sedikitpun.


Setelah berniat menjadi tomboi, Alani tak pernah merias dirinya meskipun itu sebatas bedak maupun lipstik. Alani benar-benar ingin berubah dirinya agar tak dikenali orang lain.


Ting!!


Alan, gimana keadaan lu sekarang?


Sebuah pesan WhatsApp dari Jessi telah diterima oleh Alani. Tapi kali ini Alani tak ingin membalasnya. Dia hanya ingin menyendiri beberapa saat tanpa ada yang menganggunya.


Ting!!!


Jangan lupa makan. Gue gak mau elu sakit


Lagi, Alani mengabaikan pesan itu. Dia memilih untuk kembali merebahkan diri. Dan tak lama kemudian, dia tertidur dengan pulas.


***


Seperti kemarin. Jessi menemui Alani dan menanyakan tentang pesan yang gak dibales sama sekali oleh Alani.


"Kenapa sih, chat gue selalu dianggurin?" tanya Jessi dengan wajah sebal.


"Gue sibuk Jes. Lagian gue juga gak pegang HP selama 24 jam. Buktinya sekarang aja, mana ada gue bawa HP ke sekolah," balas Alani jujur. Ya meskipun kesibukannya adalah kebohongan. Tapi kalau fakta yang lain adalah kejujuran.


"Hmm, kuno banget sih lu. 2022 masih gak pegang HP," sindir Jessi. Tapi nadanya seperti kekesalan.


"Ya kuno gak kuno. Emang gunanya HP apa sih?" tanya Alani dengan polos. Sejauh ini, dia tak menemukan keistimewaan dari sebuah benda yang bernama HP selain buat tugas sekolah ataupun berkomunikasi dengan temannya.


Benar-benar kurang berfungsi untuk Alani.

__ADS_1


"Lu gak pernah main game?" Jessi balik bertanya.


Jangankan main game. Sepertinya Alani banyak merenung setelah kejadian kemarin. Jadi tak ada waktu buat main game atau nonton reels dan sejenisnya.


Alani hanya membalasnya dengan gelengan.


"Gak pernah nonton drakor?" tanya Jessi.


"Enggak!" balas Alani santai.


"Drachin?"


"Gue gak tahu," balas Alani dengan penuh penekanan.


Buang-buang waktu.


"Hmm, mabar (main bareng) yuk?" ajak Jessi yang dengan sengajanya merangkul lengan Alani.


Alani melotot dan langsung melepaskan tangan Jessi.


"Kenapa?" tanya Jessi kecewa.


"Gak enak kalau dilihat orang," balas Alani mengingatkan.


"Emang kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Jessi lagi. Dia tak suka penolakan, meskipun itu hanya sekedar berpegangan tangan.


Aaarrhg!


Rasanya kepala Alani mau pecah memikirkan hal yang diluar nalar seperti ini.


"Alan!! Dicariin Bu Widia," ujar Lina yang baru muncul.


Ah, Lina memang tercipta sebagai penolong Alani saat ini.


Bu Widia adalah guru ekonomi. Mungkin karena Alani kemarin gak mengerjakan tugas sekolahnya. Jadi hari ini dia kena panggilan.


"Bentar ya Jes. Gue ke ruang guru dulu," pamit Alani.


"Terus mabar kita?" tanya Jessi sedikit berteriak.


"Kapan-kapan aja," balas Alani tak kalah teriak.


"Kalian mau mabar?" tanya Alina penuh selidik.


"Iya, mau ikut?" tawar Jessi pada Alina.


"Emang game apa?" tanya Alina lagi. Jiwa keingin tahuannya meningkat 10 kali lipat.


"Apa aja, ML maybe," balas Jessi dengan enteng.

__ADS_1


"Itu mainan cowok. Emang lu bisa?" tanya Alina memastikan.


"Bisa, kenapa? Lu ngeremehin gue?"


Alina terdiam. Dia cuma main game itu-itu aja. Candy soda crush, buka tik tok. Ya cuma itu aja. Dia gak mengenal game mobile legends atau sejenisnya. Jadi, dia hanya sekedar tahu. Tapi gak pernah terjun secara langsung.


"Enggak, gue gak ngeremehin elu. Gue gak bisa main game kayak gituan," jujur Alina.


"Astaga. Kalian ini hidup jaman kapan sih? Ya udah, main bareng yuk?" tawar Jessi lagi.


"Enggak deh. Gue ke kelas dulu," pamit Lina sambil meninggalkan Jessi.


"Apa-apaan si Lina. Main ninggalin aja. Si Alan juga. Hmm. Btw, kapan ya gue bisa berduaan ma Alan?" gumam Jessi sambil menatap lantai sekolah yang mendadak menjadi hitam.


***


"Kamu beneran mau download game yang Jessi maksud?" tanya Alina pada Alani.


Posisi keduanya tengah duduk di teras rumah. Hitung-hitung buat ngerefresh otak. Jenuh juga tiap waktu di kamar melulu atau gak di dalam rumah melulu.


"Aku belum ada nafsu main game," balas Alani sambil melamun.


"Yakin?" Alina memastikan.


"Iya," balas Alani datar.


"Ya syukurlah kalau gitu. Lebih baik gak usah nge game. Buang-buang waktu aja," ujar Alina penuh dukungan.


"Hmmm." Alani berdehem. Matanya menatap kosong ke udara. Dia seperti orang yang tak hidup. Dia butuh orang yang seperti Alina sebagai supportnya. Tapi sekarang, Alina bagai hilang begitu saja. Pikirannya justru tak karuan. Entah apa yang masih Alani pikirkan. Tapi sepertinya Alina paham.


"Eh eh, Lani!" teriak Alina dan ternyata berhasil mengejutkan Alani.


"Apaan sih Lin?" protes Alani sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Ngelamun aja sih?"


"Eh, mau kemana?" lanjut Alina bertanya.


"Ke kamar mungkin," jawan Alani dingin.


"Jangan! Mending main bareng sama aku yuk?" ajak Alina lagi. Dia bersikap seperti itu, supaya kesedihan Alani berkurang.


"Main apaan?" tanya Alani. Sepertinya dia tertarik dengan ajakan Lina barusan.


"Kita main sudoku yuk? Ngisi nomor kayak dulu. Inget gak? Waktu SD kita main itu," ucap Lina penuh semangat.


Rupanya Alani tak setega itu untuk berkata tidak. Diapun mengangguk. "Ayok, aku inget kok mainan itu," ucapnya yang membuat Alina lega. Alina tertawa senang. Seenggaknya Alani tidak berpikiran yang tidak-tidak lagi tentang hidupnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2